
Gavin seketika jadi kaget dan nggak percaya. Jadi selama ini dia bekerja sama dengan perusahaan milik Kasih. Lalu pas dia menyumbangkan darah buat ponakan Pak Fajar saat itu, berarti itu anaknya Kasih. Batin Gavin.
"Oh iya, Pak Fajar. Saya permisi kembali ke meja saya, ya. Saya doakan supaya masalahnya cepat kelar." ucap Gavin sambil meninggalkan Pak Fajar sendiri.
Ketika sampai di meja dimana keluarga besarnya masih ngumpul, Gavin mendaratkan tubuhnya dikursi. Setelah itu dia menghela nafas panjang. Disitu tinggal Papa Mamanya, Bu Ratih serta Budhe Rahayu dan suaminya. Susi dan anak-anak main ditaman ditemani Santo.
"Kadang dunia ini memang selebar daun kelor. Aneh memang?"
"Kenapa, Vin?" tanya Pak Indra.
"Kalian tahu nggak, ini rumah makan adalah milik mertuanya Kasih. Tadi, yang datang marah-marah itu adalah Ibu dan selingkuhannya Rahman suami Kasih. Ceritanya dia meminta pertanggung jawaban kepada suami Kasih untuk menikahi anaknya itu. Suami Kasih punya anak dari wanita itu tadi. Awalnya hanya di janjiin saja, tapi setelah ditunggu sampai anaknya umur satu tahun kok belum muncul juga, akhirnya mereka melabraknya ke sini. Tadinya mereka ke rumah Ibunya Rahman, tapi kan Ibunya banyak memghabiskan waktunya di rumah makan ini. Jadi mereka menuju kesini." jelas Gavin.
"Apa.,!" seru Pak Indra.
"Ya ampun, kok sampai punya anak gitu.?" kini Bu Hesty menimpali.
"Oh iya, Pa. Lalu kelanjutannya gimana,?" sahut Bu Ratih.
"Aku sendiri juga nggak tahu, Ma. Aku nggak enak kalau disitu terus. Intinya mereka menuntut pertanggung jawaban atas anaknya yang sekarang sudah berumur satu tahun." jelas Gavin.
Bu Ratih dan Bu Hesty saling pandang. Mereka baru tadi siang membahas soal Kasih. Ternyata kini mereka melihat dan mendengar langsung apa permasalahan Kasih yang sebenarnya.
"Kasihan, Kasih. Dia pasti menderita batinnya." ucap Bu Ratih.
"Mungkin saja begitu, Ma. Padahal Kasih adalah wanita baik." jawab Gavin sambil matanya menatap kosong kedepan.
__ADS_1
"Gini saja, memang Kasih itu sudah bukan bagian dari keluarga kita lagi, tapi bagaimanpun juga dia adalah Ibu kandung dari anakmu. Sekiranya dia memang perlu pertolongan, ya nggak apa-apa kita bantu semampu kita. Tapi, kalau sebaliknya jika dia bisa menyelesaikan sendiri permasalahan keluarganya, ya sudah. Kita nggak usah ikut campur, cukup mendoakan saja." ujar Pak Indra.
"Iya, Vin. Kalau Mama setuju apa yang dikatakan Papamu barusan. Kita pantau saja perkembangan selanjutnya." sahut Bu Hesty.
"Oh iya, Pa. Berarti anak kecil keponakan Pak Fajar waktu itu kecelakaan yang Papa ikut menyumbangkan darah, itu anak Kasih?" timpal Bu Ratih meyakinkan.
"Iya, Ma. Semuanya memang serba kebetulan. Selama ini hotel kita sering bekerja sama dengan perusahan Kasih. PT KARAGA GARMENT ternyata milik Kasih." ucap Gavin.
"Ya ampun, Pa. Padahal selama ini kita sering membahas perusahaan itu, dan Papa selalu menyebut Karaga garment, ternyata itu milik Kasih." sahut Bu Ratih lagi.
"Iya, Ma. Kita selama ini memang sering membahas itu. Lantaran perusahaan itu tiap tahun mengadakan event pagelaran busana." jawab Gavin.
"Oh iya, Mama pingin cerita mumpung kita disini lagi bahas Kasih. Tadi Mama juga sudah banyak ngobrol dengan Ratih. Kapan hari memang Kasih sempat kerumah tanpa sengaja. Waktu Mama menemani Bibi membersihakan halaman, pintu pagar memang kebuka lantaran Bibi perlu membuang sampah ke depan. Mama lihat ada mobil berhenti pas didepan pagar rumah kita. Lalu keluar wanita pakai busana muslimah lengkap plus cadar. Setelah cadarnya dibuka, Mama kaget dan ternyata itu Kasih. Dia baru saja ketemu Pak Darma tetangga kita yang kerja di Depnaker itu. Ceritanya lagi bahas buat pesenan batik untuk seragam di kantornya. Akhirnya Mama ajak masuk ke dalam. Lalu dia cerita perihal rumah tangganya. Suaminya sekarang kena stroke dan hanya duduk di kursi roda saja." jelas Bu Hesty.
"Ya ampuun, Mama kok nggak cerita sama Papa kalau Kasih kerumah.?" ucap Pak Indra.
Gavin terdiam dan pandangannya kedepan. Dia seperti memikirkan sesuatu. Bu Ratih yang melihat suaminya mukanya yang tiba-tiba seperti itu, langsung bisa menebak kalau suaminya itu pasti lagi memikirkan Kasih.
Pak Indra yang juga memperhatikan sikap Gavin yang tiba-tiba diam dan pandangannya kosong seperti itu pasti lagi memikirkan Kasih. Dia mengerti apa yang dirasakan anaknya itu.
Kemudian Pak Indra melihat kearah Bu Ratih yang juga lagi memperhatikan Gavin. Sepertinya dia tahu apa yang ada dalam pikiran menantunya itu setelah melihat perubahan sikap Gavin.
"Gavin,!" seru Pak Indra.
"Em, eh iya, Pa." sahutnya terbata.
__ADS_1
"Soal Kasih kita sudahi saja bahasannya. Papa mau dengar langsung ceritanya soal perkembangan resort kamu yang baru." timpal Pak Indra mengalihkan topik pembicaraan kali ini.
"Oh bagus, Pa. Gavin senang banget." jawab Gavin singkat.
Bu Ratih mengerti, bahwa suaminya ini pikirannya masih di Kasih. Berhubung Papanya mengajak lnya membahas soal hotel, mau nggak mau Gavin harus mengikutinya.
"Pa, aku tahu pikiranmu saat ini penuh dengan Kasih. Aku memaklumi akan hal itu. Mungkin kamu kasihan dan pingin menyelamatkan Kasih dari masalah ini. Karena aku melihat ada rasa cinta dalam matamu saat ini." ucap Bu Ratih dalam hati.
"Ratih, gimana perkembangan pembangunan sekolahan yang kamu dirikan?" tanya Pak Indra.
"Em, iya Pa. Semuanya lancar dan tinggal kita resmikan saja. Kelas dan ruangan yang sudah selesai sudah cukup. Tinggal menambah kelas baru yang masih dalam tahap pengerjaan. Guru-guru serta petugas lainnya kebetulan sudah lengkap.
Promosi ke semua lapisan masyarakat juga sudah berjalan sejak awal pembangunan gedung itu dilakukan. Dan Alhamdulilah juga peminatnya lumayan. Sasaran kita memang buat masyarakat ekonomi menengah kebawah, lantaran sekolah ini saya gagas buat keluarga yang kurang mampu.
Tapi, tidak menutup kemungkinan juga buat keluarga yang mampu juga bisa masuk sekolah ini. Karena kualitas belajar mengajar juga tidak akan kalah dengan sekolah yang lainnya." jelas Bu Ratih panjang lebar.
"Bagus, bagus sekali konsepnya. Aku salut sama kamu, Tih." ucap Pak Indra sambil mencungkan jempol buat Bu Ratih.
"Iya makasih, Pa. Ini semua juga tak lepas dari bimbingan Papa soal strategi bisnis. Ratih memang yang punya ide dan konsep, tapi Papa yang mengarahkan bagaimana mencari mangsa dan sasaran agar masyarakat percaya dan mau mendaftar ke sekolah ini." jawab Kasih.
"Iya, sama-sama. Otak memang harus selalu fresh kalau mau menghasilkan ide yang brilian. Jangan stres, tetap pada tujuan utama, dan yang penying teyap berdoa minta petunjukNYA." ucap Pak Indra.
Bu Ratih mengangguk sambil tersenyum. Dia bertekad akan mengabdikan dirinya di bidang pendidikan sesuai dengan profesinya. Dia ingin di masa tua nanti dia bisa melihat generasi penerus bangsa ini dibekali ilmu-ilmu yang bermanfaat serta kecerdasan pada diri anak-anak sekolah.
---------------------------------
__ADS_1
Bersambung...