BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 122 ('Menikah 2')


__ADS_3

Kasih masih terdiam dan belum berani menjawab pertanyaan Penghulu itu. Bu Ratih sedikit kawatir kenapa Kasih nggak lekas menjawabnya. Kemudian Bu Ratih mendekatinya dan mencoba memberi kekuatan supaya Kasih bisa segera menjawabnya.


"Kasih, Pak Penghulu bertanya sama kamu. Tolong, dijawab, ya?" ucap Bu Ratih seraya memegang pundak Kasih.


Kasih menoleh dan masih dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian dia membalas memegang tangan Bu Ratih yang masih menempel di pundaknya. Lalu dia mengangguk dan tersenyum kearah Bu Ratih.


"Baiklah, Pak. Saya bersedia." jawab Kasih pelan tapi tegas.


Akhirnya Pak Penghulu melanjutkan acara ijab qobulnya. Kini dia memegang tangan Gavin dan menunutun dia untuk mengucapkan ijab qobul. Setelah itu Gavin mengucapkan ijab qobul dengan cepat dan lancar.


"Sah,!"


"Sahh.!" semua yang ada diruangan itu serempak menjawabnya.


"Alhamdulilah, akhirnya selesai juga ijab qobulnya." batin Bu Ratih.


Acara kemudian dilanjutkan dengan menyematkan cincin untuk masing-masing pengantin sebagai tanda ikatan suci. Bu Ratih melihat pemandangan itu seolah membawanya ke kejadian dua tahun yang lalu saat itu dia lakukan dengan Gavin.


Pak Indra yang menyaksikan itu perasaannya bercampur aduk. Senang karena Gavin sebentar lagi bisa mendapatkan keturunan secara dia akan punya generasi penerus. Tapi, disisi lain dia terharu dengan kejadian ini. Karena ada hati yang terluka yaitu menantunya. Meskipun ide ini juga andil dari menantunya itu, tapi dia yakin kalau dihati menantunya itu pasti ada luka meskipun sedikit.


Kemudian kedua pengantin itu menyalami kedua orang tua Gavin, lalu dilanjut ke Pak Firman. Yang terakhir mereka menyalami Bu Ratih. Gavin memeluk istrinya erat sekali seolah nggak mau melapaskan. Dia menangis dipelukan istrinya demikian juga dengan Bu Ratih dia tidak bisa menahan air matanya untuk menetes.


Kejadian itu tidak berlangsung lama, karena Bu Ratih ingat kalau sekarang ada Kasih yang harus dijaga hatinya. Bu Ratih kemudian merentangkan tangan satunya dan merengkuh tubuh Kasih dalam pelukannya. Kini Gavin dan Kasih dipeluk oleh Bu Ratih. Semua yang hadir diruangan itu sangat terharu dan nggak bisa menahan air matanya.


Bu Hesty yang sebelumnya sikapnya keras banget bahkan menentang pernikahan ini, kini dia seolah luluh dengan kejadian barusan. Betapa luasnya hati menantunya ini yang bisa menerima pernikahan kedua suaminya, yang sejatinya untuk mewujudkan keinginan semua biar suaminya mendapatkan keturunan.


Bu Hesty tidak bisa menahan air matanya jatuh di pipinya. Dia menangis tersedu-sedu melihat anaknya menikah untuk yang kedua kalinya. Pak Indra yang mendapati istrinya menangis langsung memeluknya.


Akhirnya selesai juga acara akad nikah nya. Pak penghulu dan Pak Firman sudah diantar pulang. Kini dirumah tinggal keluarga inti saja. Bu Ratih mengantar Kasih ke kamarnya untuk membantu melepaskan semua aksesoris dan bajunya.


"Bu, sekali lagi maafin Kasih, ya. Sekarang Kasih sudah menjadi istri Pak Gavin." ucap Kasih sembari memegang tangannya Bu Ratih.


"Iya, Kasih. Saya berterima kasih sama kamu yang telah bersedia menyerahkan jiwa raga serta masa depan kamu untuk memenuhi semua permintaan saya." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Saya akan berusaha memenuhi semua yang Bu Ratih inginkan." jawab Kasih sembari matanya berkaca-kaca.


Setelah selesai membantu Kasih, kini Bu Ratih turun dan menuju kamarnya. Setelah dia memasuki kamar, dia dikejutkan dengan suaminya yang menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Bu Ratih yang mendapati suaminya histeris, langsung merangkul dan menenangkannya.


"Sayang, maafin aku, ya. Aku nggak bermaksud menyiksamu seperti ini. Semua ini aku lakukan murni untuk kebaikan kita semua. Sekali lagi, maafin aku, ya?" ucap Bu Ratih sambil mengelus rambut suaminya.

__ADS_1


"Aku nggak sanggup, sayang. Aku nggak bisa melanjutkan semua ini." ucap Gavin sambil menenggelamkan kepala didada istrinya.


"Sssttt.,! jangan seperti ini, ya sayang. Tenangkan diri kamu dulu. Aku akan temani kamu disini." jawab Bu Ratih.


"Beneran, kamu akan disini. Jangan pernah tinggalkan aku, sayang." sahut Gavin dengan wajah yang sedikit menunjukan keceriaan.


"Iya, sayang. Sekarang kamu istirahatlah. Aku akan menemani kamu." jawab Bu Ratih.


Akhirnya Gavin tidur didampingi Bu Ratih. Dia seolah nggak mau kehilangan istrinya yang cantik ini. Meskipun ini hari pertama dia menikah dengan Kasih, tapi dia masih belum siap untuk menjalankan tugasnya sebagai suami Kasih.


Hari memang masih siang, Bu Ratih membiarkan suaminya yang tertidur pulas. Kemudian Bu Ratih keluar kamar dan sudah mendapati Kasih yang tengah sibuk membantu Bibi beberes dan menyiapkan makan siang.


"Kasih, kenapa kamu malah disini, istirahat saja. Biar ini saya dan Bibi yang melanjutkan." ucap Bu Ratih.


"Enggak apa-apa, Bu. Ini sudah biasa. Saya nggak enak kalau nganggur." jawab Kasih.


"Hei, sekarang kamu sudah bukan lagi sebagai asisten saya, jadi nggak usah panggil BU lagi, panggil saja Mbak biar lebih enak didengar. Dan ingat, sekarang kamu juga sama seperti saya dirumah ini, sebagai menantu Indra wijaya. Jadi ingat, jangan panggil BU lagi, ya?" jelas Bu Ratih.


"Baik, Bu.. eh, Mbak Ratih. Saya akan bersikap seperti yang Mbak Ratih bilang." jawab Kasih.


.


.


.


"Kasih, sebenarnya kamu nggak usah menyiapkan seperti ini lagi. Kamu sekarang sudah bukan asisten lagi dirumah ini, melainkan menantu kami." ucap Pak Indra.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya nggak biasa kalau berdiam diri saja. Biarkan saya melakukan pekerjaan seperti biasa meskipun saya sudah menjadi menantu Bapak dan Ibu." jawab Kasih sambil menundukan wajahnya.


"Baiklah kalau begitu, kami menuruti apa yang kamu inginkan. Tapi, jangan panggil kami Bapak dan Ibu lagi. Panggil kami seperti Ratih memanggil kami" jawab Pak Indra.


"Iya, Sih. Mama juga minta maaf sempat nggak menyetujui pernikahan kamu dengan Gavin. Dulu Mama dibutakan dengan cerita Pak Handoko kalau Tiara adalah anak yang baik. Tapi, setelah suami saya meceritakan semua kejadian dikantor, saya jadi menyesal karena telah bersikeras menjodohkan Gavin dengan Tiara. Jadi mulai sekarang panggil saya, Mama, ya?" ucap Bu Hesty.


"Baiklah, Bu.. eh, Ma!" sahut Kasih.


"Ya sudah, tolong, panggil Gavin sama Ratih untuk makan malam bareng." titah Pak Indra.


"Baik, Pa." jawab Kasih.


Kemudian dia menuju kamar Bu Ratih dan mengetuk pintunya. Tak lama kemudian Gavin membukakan pintunya. Dia terkejut karena yang membuka pintu justru Gavin yang tak lain kini sudah resmi menjadi suaminya.

__ADS_1


"Maaf, Pak Gavin. Disuruh ngumpul dimeja makan. Waktunya makan malam." ucap Kasih sambil menunduk.


"Oh iya, baiklah. Saya panggil istri saya dulu." jawab Gavin.


Kemudian Kasih balik ke meja makan dan bergabung dengan Pak Indra dan Bu Hesty. Sebelum menjadi istri Gavin pun, Kasih selalu makan bareng dimeja makan. Tak lama kemudian Gavin dan Bu Ratih muncul dan bergabung dengan mereka.


"Wow sudah siap semua, nih!" seru Bu Ratih.


"Iya, Nak. Ayo makan. Gavin, kenapa mukamu kok ditekut, gitu." tanya Bu Hesty.


"Oh iya, Ma. ini tadi habis Ratih marahi. Masak katanya nggak mau mandi. Kan jorok?" jawab Bu Ratih bohong untuk menetralkan suasana.


"Iya, kamu ini apaan, sih Vin. Masak dari tadi pagi nggak mandi." sahut Bu Hesty.


"Iya, Ma. Ini Gavin sudah mandi, kok!" jawab Gavin.


Akhirnya mereka memulai makan malamnya, Kasih seperti biasa meladeni Bu Ratih dan Gavin, lalu berikutnya Pak Indra Dan Bu Hesty. Awalnya Bu Ratih menolak, tapi setelah dia memintanya, akhirnya dia mau juga.


"Sayang, nanti kamu tidur sama Kasih, ini kan malam pertama buat kamu dan Kasih." ucap Bu Ratih seraya melirik kearah suaminya.


"Uhuuk..uhuk...(anggap aja batuk) Apaan sih, bahas ini disini?" jawab Gavin.


"Hmm..ya udah, maafin aku." jawab Bu Ratih.


Setelah selesai makan malam, Bu Hesty dan Pak Indra menuju ke depan buat duduk-duduk diteras. Kemudian Kasih masih membantu Bibi membereskan bekas makan malamnya itu. Gavin mengikuti Bu Ratih ke kamarnya seperti anak kecil yang nggak mau ketinggalan Ibunya.


Malampun beranjak larut, udara semakin dingin. Gavin masih mondar mandir dikamarnya. Sedangkan Bu Ratih dikamar mandi. Saat dia keluar kamar mandi, langsung kaget kenapa Gavin masih dikamar ini.


"Sayang, kenapa masih disini. Ayo lakukan tugasmu sebagai suami yang baik." ucap Bu Ratih dengan mengelus pundak suaminya.


"Tapi, sayang. Aku masih belum bisa. Aku takut menyakiti hati kamu." jawab Gavin.


"Sayang, sudah berapa kali aku bilang. Aku nggak apa-apa. Ayo, naiklah. Kasih pasti sudah nungguin kamu." ucap Bu Ratih sembari melempar senyum pada suaminya.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan tunaikan kewajibanku sebagai suami Kasih. Aku mencintaimu, sayang. Maafkan aku, ya sayang?" jawab Gavin sambil menciumi pipi istrinya kanan dan kiri.


"Iya, sayang. Aku juga mencintaimu. Lakukanlah." ucap Bu Ratih sambil mengecup bibir suaminya.


Akhirnya Gavin keluar kamarnya dan menuju kamar Kasih. Dia melangkah keatas dengan hati berdebar. Langkahnya terasa berat sekali, ketika hampir sampai didepan pintu kamar Kasih. Tangannya mengetuk pintu kamar tersebut.


"Tok...tok...tok..!"

__ADS_1


-----------------------------------


Bersambung....


__ADS_2