BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 62 (Saling memaafkan)


__ADS_3

Gavin langsung memutar balik mobilnya, setelah menelpon istrinya. Kini pikirannya jadi was-was jika sampai istrinya ngambek atau marah. Gavin nggak pingin semuanya akan jadi salah faham.


Kecepatan mobilnya sangatlah tinggi, karena dia tidak mau istrinya menunggu lama-lama karena hari sudah mulai petang. Sekitar tiga puluh menit akhirnya mobil Gavin sampai juga di kampus istrinya.


Mobilnya langsung dimasukan ke pelataran kampus. Dia menghentikan mobilnya disisi kiri halaman. Dilihatnya masih banyak mobil yang masih banyak terparkir disitu. Berarti masih banyak yang didalam.


Baru saja Gavin hendak membuka pintu, tiba-tiba istrinya sudah berjalan menghampirinya. Wajah Bu Ratih kelihatan lelah, mungkin karena seharian berkutat dengan urusan pekerjaannya.


Gavin seketika membuka pintu dan menyambut istrinya untuk menebus rasa bersalah yang tadi nggak sempat membaca pesannya. Bu Ratih masih diam saja, mungkin dia kesal sama sikap suaminya.


"Sayang, maaf banget, tadi ponselku aku taruh tas kerja. Jadi, maafkan aku ya, sayang.?" ucap Gavin sambil memohon memegangi tangan istrinya.


Bu Ratih masih terdiam dan dia langsung masuk mobil tanpa menghiraukan rengekan suaminya. Gavin semakin panik dan takut kalau istrinya benar-benar marah sama dirinya.


"Ayo kita pulang.!" ajak Bu Ratih dengan suara datar.


Gavin mengikuti aja apa yang diutarakan Bu Ratih. Dia langsung masuk mobil dan berada dibelakang kemudi. Mobil berjalan pelan sekali karena Gavin masih menata hatinya untuk mulai bicara.


"Sayang, kamu masih marah?" tanya Gavin seraya melirik istrinya. Yang dilirik justru tatapannya lurus kedepan tanpa menoleh kearah dirinya sedikit pun.


"Nggak.!" jawabnya ketus.


"Tapi, kamu kok gitu mukanya ditekuk.?" ucap Gavin.


"Enggak, biasa saja.!" kembali Bu Ratih menjawab dengan singkat dan sedikit ketus.


Gavin mencoba untuk tidak melanjutkan bicaranya, karena situasi sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia melajukan mobilnya dengan sedikiit cepat. Tak lama kemudian mereka sampai juga dirumah.


Gavin langsung memarkirkan mobilnya digarasi. Kini Bu Ratih turun mobil tanpa menunggu suaminya. Dia masuk rumah sendiri dengan tetap diam seribu bahasa.


Diruang tengah dilihatnya ada mertuanya yang lagi duduk nonton TV. Dia langsung menyalami kedua mertuanya itu.


"Kok malam pulangnya, Nak?" tanya Bu Hesty.


"Iya, Ma. Tadi dikampus ada rapat sama Dekan, jadi harus pulang telat." jawabnya dengan senyuman.


"Ya sudah, sana bersih-bersih dulu, nanti Mama tunggu buat makan malam." sahut Bu Hesty.


"Baik, Ma. Ratih keatas dulu, ya Ma, Pa?" jawabnya.


Kedua orang tua itu hanya mengangguk dan tersenyum melihat menantunya itu. Kemudian disusul Gavin yang dengan tergesa-gesa masuk dari luar. Dia menyalami orang tuanya lalu cepat melangkah ke atas.


Pak Indra dan Bu Hesty hanya saling pandang dan mengangkat bahu tanda mereka nggak ngerti dengan sikap anak dan menantunya barusan.


Didalam kamar, Bu Ratih langsung masuk kamar mandi guna membersihkan badannya. Saat memasuki kamar, Gavin sudah tidak mendapati istrinya. Mungkin dia langsung mandi, Bathinnya.

__ADS_1


Gavin duduk ditepi pembaringan dan kemudian melepaskan semua pakaian kerjanya. Mulai dari dasi, sepatu sampai baju dan celananya. Kini dia hanya memakai kaos dalam dan celana pendek doang.


Tak lama kemudian Bu Ratih keluar kamar mandi dengan memakai handuk kimono. Gavin memandangi istrinya yang masih saja diam. Kini, dia tak mau lagi melewatkan kesempatan untuk kembali meminta maaf sama istrinya.


"Sayang, kamu jangan diem begini terus, dong.! aku kan sudah minta maaf.?" ucap Gavin sambil memegangi tangan istrinya.


"Aku sudah memaafkan kamu, kok. Sudah sana mandi, bau tahu!" jawabnya singkat.


"Benar nih, sayang. Kamu sudah nggak marah.?" ucap Gavin seraya meraih pundak istrinya hendak dipeluk. Tapi, Bu Ratih buru-buru menepis dan duduk di meja rias.


Gavin melepaskan tangannya lalu menuju kamar mandi. Kini Bu Ratih sendiri sibuk berias dan berganti baju. Dia memakai celana pendek selutut dan kaos oblong santai. Setelah selasai dia duduk ditepi ranjang menunggu suaminya untuk makan malam.


Gavin keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dibagian bawah saja. Sedangkan tubuh bagian atas terlihat begitu kekar dan atletis. Bu Ratih membathin kalau memang benar adanya bahwa suaminya adalah sosok pria idola para kaum hawa.


Gavin memergoki istrinya saat melirik kearah dirinya. Dia tersenyum sedikit lega, mungkin istrinya kini mulai bersikap seperti biasanya.


Setelah selesai, mereka turun ke meja makan karena orang tuanya sudah menunggunya.


Sesampainya dimeja makan semua kumpul. Pak Indra dan Bu Hesty saling pandang karena melihat sikap anak dan menantunya ini kok nggak seperti biasanya. Mereka banyak diam.


"Ratih, kamu mau makan apa, Nak?" tanya Ibu mertuanya.


"Ratih, mau nasi sama rendang aja, Ma. Tapi, biar Ratih ambil sendiri." ucap Bu Ratih.


Kemudian Bu Ratih mulai mengambilkan nasi untuk suami dan dirinya, sedangkan Ibu mertuanya nggak mau diambilkan karena dia sudah ambil sendiri lebih dulu.


"Gimana kerjaanmu, Vin. Lancar kan?" tanya Pak Indra.


"Lancar, Pa. Gavin sudah mulai terbiasa." ucap Gavin.


"Emm.., syukurlah kalau begitu. Semangat terus kerjanya, ya?" ucap Papanya.


"Siap, Pa!" jawab Gavin.


"Nak Ratih, mulai sekarang kamu harus banyak makan sayur dan buah, ya? karena buat wanita yang ingin cepat dikasih momongan harus banyak-banyak mengkonsumsi sayur dan buah-buahan." jelas Bu Hesty.


"Iya, Ma. Ratih akan sering makan sayur dan buah." jawabnya.


"Kalau mau minta dimasakin sayur yang kamu suka, tinggal bilang ke Bibi, ya. Biar nanti Bibi yang masakin buat kamu." ucap Bu Hesty.


"Baik, Ma." jawab Bu Ratih.


Kini makan malam sudah selesai. Gavin dan Bu Ratih pamit langsung keatas. Bu Hesty dan Pak Indra mengangguk dan memperhatikan kedua pengantin baru itu naik keatas.


Sesampainya diatas, Bu Ratih nggak langsung ke tempat tidur, dia menuju balkon kamar. Dia duduk dikursi yang ada disitu. Gavin mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Sayang, tolong dong, jangan begini terus., aku bingung lho kalau kamu begini terus." ucap Gavin sambil duduk bersila dihadapan istrinya yang duduk diatas kursi.


Bu Ratih jadi nggak enak kalau menghukum suaminya sampai begini. sebenarnya dia tak tega juga kalau melihat suaminya begini terus.


Dia menatap suaminya lalu menyentuh tangannya guna menyuruhnya untuk duduk diatas.


Gavin tersenyum melihat sikap istrinya yang sudah mulai melunak. Bu Ratih kemudian menghadap kearah suaminya dan memulai membuka suara.


"Sayang, sebenarnya apa yang kulakukan ini bertolak belakang apa yang ada dihatiku. Tapi, aku juga wanita biasa punya rasa sakit, kawatir bahkan curiga. Saat pesanku nggak kamu balas dan telponku juga nggak kamu angkat, sudah banyak pertanyaan yang ada dikepalaku. Kawatir kamu kenapa-kenapa, takut terjadi sesuatu, dan takut kalau kamu melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Bukannya aku nggak percaya sama kamu, tapi itu bentuk rasa cintaku ke kamu, jadi selalu ada rasa kawatir yang berlebihan jika kamu seperti tadi." jelas Bu Ratih sambil matanya yang sudah mengembun dan mau tumpah.


Gavin yang melihat istrinya seperti itu langsung meraih tubuhnya dan menenggelamkan dalam pelukannya. Bu Ratih mulai terisak saat suaminya memeluknya. Dia membalas pelukan suaminya dengan erat. Kedua anak manusia itu akhirnya mulai tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Gavin merenggangkan pelukannya dan mengusap pipi istrinya yang penuh dengan air mata. Kemudian dia tersenyum ke arah wanitanya itu.


"Sayang, sebenarnya tadi itu ada masalah sedikit dikantor. Aku kan sudah tahu kalau kamu bakal pulang telat karena ada rapat, rencanaku itu aku sengaja menunggu kamu dikantor, sengaja aku lembur. Terus ada sekretaris baru Papa yang sombong itu keruanganku menawarkan minuman ke ruangan biar nggak ngantuk. Tapi, aku langsung menolaknya karena aku nggak mau, dan bilang kalau nggak usah repot-repot, karena sudah ada Kasih yang akan mengantarkan kopi buatku. Akhirnya aku berhasil menolak dan dia keluar dari ruanganku. Bersamaan itu Kasih masuk mengantarkan kopi buatku. Setelah aku diruangan sendirian, lama-lama aku jenuh dan bosan, lalu aku putuskan untuk pulang biar aku tunggu kamu dirumah, tapi, diluar aku melihat Kasih yang berdiri sendirian menunggu angkot. Aku kasihan, sayang. Akhirnya aku tawarkan untuk mengantarkannya pulang dan awalnya dia nolak, karena aku yang maksa sebab jam segitu angkot kan susah. Akhirnya dia mau. Jadi, aku mengantarnya pulang dulu dan itupun nggak sampai kerumahnya, dia minta diturunkan di apotik karena mau beli obat untuk Ibunya." jelas Gavin sambil memegang terus tangan istrinya.


Bu Ratih menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dia mulai memunculkan senyuman yang dari tadi enggan keluar.


"Aku percaya sama kamu, sayang. Kamu dari dulu memang baik sama Kasih lantaran dia dulu pernah menolongmu saat kecelakaan. Tapi, aku masih penasaran dengan sekretaris Papa itu?" ucap Bu Ratih.


"Iya, sayang. Aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri. Dia tulang punggung keluarganya. Oh iya, maksud kamu penasaran gimana, ya?" ucap Gavin.


"Itu si sekretaris baru, berarti nantinya dia kan jadi sekretaris kamu juga." ucap Bu Ratih dengan mukanya kembali ditekuk.


"Ya ampun, istriku cemburu, nih!" seru Gavin sambil mencubit hidungnya.


"Kan pasti dia cantik, masih muda serta--" Bu Ratih nggak sampai meneruskan ucapannya karena Gavin sudah menyambar mulut istrinya dengan mulutnya. Sesaat suasana menjadi hening. Kini Bu Ratih memejamkan matanya dan mulai menikmati suasana yang membawanya ke dimensi yang berbeda.


Gavin masih sibuk dengan keasyikan yang membawa keduanya lupa akan salah faham yang terjadi. Kini mereka benar-benar dibuat terlena hingga tak menyadari kalau kini dia tengah dilihati oleh bintang-bintang diatas sana.


Gavin kemudian melepaskan ciumannya. Kini dahi mereka menyatuh satu sama lain. Dia masih melihat kilatan bibir istrinya bekas ulanya tadi.


"Sayang, kamu nggak usah kawatir soal masalah tadi, aku tidak akan pernah punya niatan untuk macem-macem. Percaya sama suamimu ini.!" tukas Gavin seraya memegang kedua pipi istrinya.


"Baiklah aku percaya sama kamu, dan aku juga minta maaf karena telah membuatmu menungguku dikantor." ucap Bu Ratih sambil mengelus pipi suaminya.


"Sayang.!" seru Gavin.


"Hemm.," jawab Bu Ratih.


"Kita lanjutin disana, yuk." ucap Gavin seraya menunjuk ke arah tempat tidur dengan mengedipkan matanya.


Bu Ratih mengangguk pelan dengan wajah yang malu-malu.


-----------------------------------

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2