
Semua yang hadir diruangan itu sontak melongo. Mereka semua kawatir kalau-kalau dirinya lah yang akan kena rotasi. Pak Alex menampakan wajah yang kurang suka dengan Gavin. Itu terlihat disaat Gavin berbicara seperti itu dia langsung mencebik.
Sedangkan Pak Fajar disebelahnya otomatis menoleh disaat Pak Alex seperti itu. Dia memang nggak senang dengan sepak terjang Pak Alex selama dia menjabat sebagai menejer restoran.
"Sampai disini apa ada yang ditanyakan atau merasa keberatan dengan keputusan saya.?" tanya Gavin.
Kemudian ada salah satu orang yang duduk dijajaran staf divisi mengacungkan tangannya.
"Maaf, Pak Gavin. Kalau memang selama ini ada karyawan atau staf yang mungkin kerjanya bagus dan nggak bermasalah, apa mereka juga akan kena dampak rotasi tersebut?"
"Saya akan melakukan penawaran sama dia. Jika masih ingin kerja ditempat yang sama nggak apa-apa. Tapi, jika dia ingin mencari suasana baru, akan saya ijinkan untuk minta rolling." jawab Gavin.
"Oh berarti nggak semuanya, ya Pak.?"
"Enggak,! dari awal saya kan sudah bilang. Kebijakan itu hanya teruntuk esdeem yang kerjanya sudah nggak produktif. Buat yang nggak bermasalah tidak akan kena rolling. Tapi, kalau memang dari pribadi orang itu minta rolling karena satu alasan tertentu. Maka akan saya ijinkan." jawab Gavin.
"Oh iya, Pak. Makasih penjelesannya."
"Sama-sama. Ada lagi yang bertanya, masih saya tunggu?" ucap Gavin.
Semua yang hadir nggak ada yang bertanya sesuatu. Kemudian Gavin melirik kearah Pak Alex. Yang lain merasa ada yang aneh kenapa Gavin segitunya saat melirik Pak Alex. Sedangkan yang bersangkutan nggak sadar kalau lagi diperhatikan Gavin.
"Baiklah, saya anggap nggak ada lagi pertanyaan. Maka sekarang saya akan bacakan siapa-siapa yang akan dapat jatah perollingan tersebut.
Pertama, Saudara Alex dari restoran yang di Semarang, akan saya tarik untuk mempimpin restoran yang disini. Lalu Pak Arman akan saya tarik untuk pegang Hotel yang disini. Sedangkan restoran yang di Semarang akan saya pilih lagi siapa yang layak menempati posisi tersebut.
Kedua, Saudara Dody akan saya kasih tugas baru mengurus resort yang segera saya dirikan. Tempatnya nggak jauh dari Hotel kita ini. Setelah saya perhatikan letak Hotel kita ini sangat bagus dan menyatu dengan alam. Makanya akan saya manfaatkan lahan yang nganggur tersebut untuk saya jadikan sebuah resort dan yang akan pegang semua itu adalah Pak Dody.
Tujuan saya merolling seperti itu lantaran semuanya bisa merasakan atsmorfir dimasing-masing Hotel dan Resto tersebut. Secara menejemen dan program hampir sama. Keduanya saling berkesinambungan dan saling mendukung. Sama-sama bergerak dibidang wisata." jelas Gavin panjang lebar.
Suasana ruangan rame karena keputusan Gavin barusan. Semuanya nampak lega karena dari kesekian yang hadir hanya Pak Alex dan saja yang dipindah tempat. Raut muka Pak Alex sesikit memerah. Dia nggak menyangka kalau akan ditempatkan di Jogja yang notebene pusat dari perusahaan Hotel N' Resto milik Gavin.
Disela-sela meeting, ada yang tiba-tiba menanyakan sesuatu sama Gavin.
"Maaf, Pak Gavin. Apa kami dari jajaran staf berhak mengikuti seleksi untuk menempati pimpinan restoran yang di Semarang itu?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Karena memang saya akan mencari dari karyawan saya sendiri. Karena saya merasa mereka lebih berpengalaman dan lebih tahu soal seluk beluk restoran kita seperti apa." jawab Gavin.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama. Tapi, ingat. Saya akan tetap melakukan seleksi dan kalian yang berminat silahkan hubungi Pak Fajar selaku Asisten saya dan penanggung jawab perusahaan. Dan kalian harus bersaing secara positif jangan licik. Oke?" tukas Gavin.
"Oke, siap, Pak.!!" mereka serempak menjawab.
Setelah itu meetingnya dilanjut dengan makan siang. Gavin dan Pak Fajar kini lagi berbincang berdua. Yang lainnya membaur untuk melakukan makan siang di restoran.
Pak Alex terlihat lagi memegang ponselnya sambil serius menelpon seseorang.
"Hallo, Christy. Gawat ini. Aku dipindahkan di Jogja?" ucap Pak Alex ditelpon.
"Apa,! berarti nanti kamu bakal ketemu si Fajar terus dong?" jawabnya diujung telpon.
"Bukan hanya itu, jelas Pak Gavin sering disini, secara kan ini head office nya."
"Terus gimana, dong?"
"Kita lihat perkembangan selanjutnya saja. Nanti aku kabari lagi."
Pak Alex kembali menutup ponselnya, Gavin dari jauh memperhatikan gerak-gerik Pak Alex. Tapi, dia tidak tahu dengan siapa Pak Alex menelpon.
.
.
.
Ditempat lain, Kampus Bu Ratih begitu gaduh. Ternyata baru saja ada kejadian yang sedikit menyita perhatian penghuni kampus. Ada salah satu mahasiswa dari strata 1 mau percobaan bunuh diri dari atas gedung H. Tapi, akhirnya bisa diselamatkan para petugas keamanan.
Bu Ratih yang mendengar kejadian itu dari temannya langsung kaget. Kenapa anak muda jaman sekarang begitu sempit pikirannya sampai mau melakukan percobaan bunuh diri segala.
Ketika Bu Ratih lagi ngobrol sama temannya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Budhe Rahayu menelpon.
__ADS_1
"Hallo ada apa, Budhe?" ucap Bu Ratih ditelpon.
"Kamu pasti masih dikampus, ya." ucap Budhe dari ujung telpon.
"Iya, Budhe. Ada apa?"
"Kira-kira ada Nak Didit, nggak?"
"Nggak Budhe, Pak Didit nggak bersama Ratih. Ada apa, ya?"
"Nanti kalau pulang dari kampus, tolong kamu bareng aja sama Nak Didit. Karena Budhe mau ngomong sama kamu soal Nak Didit sama Ifa."
"Oh iya, Budhe."
Bu Ratih kembali menutup telponnya. Kini dia semakin penasaran kenapa tiba-tiba Budhe Rahayu mau bicara soal Pak Didit dan Mbakyu Ifa. Jangan-jangan mereka mau dijodohkan. Secara Mbakyu Ifa kan sudah lama menjanda. Batin Bu Ratih.
Semenjak ditinggal suaminya meninggal ketika usia pernikahannya baru berjalan satu tahun, sampai sekarang Ifa masih sendiri dan sibuk urus usaha kost dan kontrakannya itu. Padahal Budhe Rahayu sudah menyuruhnya untuk berumah tangga lagi. Tapi, tetap saja Ifa nggak mau. Mungkin saking cintanya dia sama mantan suaminya.
.
.
.
Jarum jam sudah menunjukan setengah tiga sore. Bu Ratih sudah mau pulang kuliah. Dua mencari Pak Didit karena mau nebeng ke rumahnya Budhe.
"Pak, Tadi Budhe Rahayu menyuruh saya bilang ke Pak Didit kalau Pak Didit disuruh ke rumah Budhe." ucap Bu Ratih.
"Oh iya, kapan hari memang saya sempat membicarakan sesuatu sama beliau. Mungkin sekarang saya disuruh kerumahnya untuk membicarakan hal itu lagi." jawab Pak Didit.
"Tapi, saya disuruh ikut, Pak." ucap Bu Ratih.
"Oh iya, nggak apa-apa. Ayo monggo silahkan." jawab Pak Didit.
Pak Didit dan Bu Ratih akhirnya oulang bareng. Bu Ratih sebelumnya sudah hubungi Gavin kalau dia mampir kerumah Budhe Rahayu bareng Pak Didit. Gavinpun mengijinkan istrinya pulang bareng Pak Didit.
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung...