
Seketika keduanya langsung masuk ke kamar mandi. Mereka mendapati majikannya itu duduk sambil menangis histeris. Bu Ratih memegangi perutnya sambil melihat darah yang mengalir kebawah kakinya.
Bibi dan Kasih dengan sigap langsung mengangkat majikannya itu. Diambilnya handuk untuk menutupi badan Bu Ratih yang hanya memakai pakaian dalam aja.
Ketika diatas tempat tidur, Kasih dengan telaten membersihkan darah itu. Bibi keluar minta bantuan Pak Satpam.
"Pak Joni, Bapak kan bisa nyetir mobil kan? tolong antarkan Non Ratih ke rumah sakit.!" seru Bibi.
"Iya bisa, Bi. Siap!" jawabnya.
"Ya sudah, keluarkan mobil Pak Gavin." ucap Bibi.
"Tapi, mobil Pak Gavin kan mobil sport yang muat buat berdua saja. Gimana Bi?" tanya Satpam itu.
"Ya ampun saya nggak mikir sampai gitu. Kalau gitu panggil taksi. Kalau nunggu Pak Gavin lama." tukas Bibi.
"Oke Bi.!" jawabnya.
Kemudian Bibi masuk lagi ke kamar Bu Ratih. Dia kini sudah berpakaian lengkap. Kasih mencoba menghubungi Gavin tapi tidak berhasil.
"Nggak diangkat, Bu. Mungkin dalam perjalanan pulang, sekarang kan jam pulang kantor." ucap Kasih.
"Saya sudah suruh Pak Joni panggil taksi didepan." seru Bibi.
"Baiklah kita tunggu taksi." jawab Kasih.
Bu Ratih masih meringis kesakitan. Dia mengeluhkan pada perutnya. Kasih mencoba menenangkannya.
Tak lama kemudian Joni masuk memanggil Bibi untuk kasih tahu kalau taksinya sudah datang.
Kemudian Bu Ratih diangkat keluar menuju taksi. Kasih ikut kedalam untuk mengantarkan ke rumah sakit. Lalu meluncurlah taksi yang membawa Bu Ratih itu.
Tak selang lama, mungkin sekitar lima belas menit kemudian, mobil Gavin datang. Tapi, buru-buru Pak Joni menghampiri Gavin.
"Maaf Pak Gavin, sebaiknya Pak Gavin langsung ke rumah sakit. Bu Ratih pendarahan Pak, sekarang dibawah Mbak Kasih ke rumah sakit pake taksi." ucap Joni dengan antusias.
"Apa?! Baiklah Pak Joni. Makasih.!" seru Gavin.
Kemudian Gavin masuk kembali kedalam mobilnya lalu keluar lagi. Dalam perjalanan pikirannya kacau dan kemana-mana. Dia kembali terngiang dengan ucapan Dokter tadi pagi.
Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi supaya bisa menyusul taksi yang membawa istrinya. Mungkin dia ke rumah sakit yang biasanya. Kemana lagi kalau bukan ke rumah sakit itu.
Sampai dirumah sakit, Gavin akhirnya bisa menyusul Bu Ratih. Dia tahu kalau istrinya dibawa masuk. Gavin melihat Kasih.
Akhirnya Gavin berada didepan UGD dimana Kasih menunggu. Melihat kedatangan majikannya itu Kasih langsung menoleh.
"Pak Gavin. Bu Ratih Pak.!" seru Kasih sambil matanya berkaca-kaca.
"Ada apa sebenarnya, Kasih!" seru Gavin sambil mengguncang pundak Kasih.
"Tadi, waktu Bu Ratih mandi, seperti biasa saya menungguinya diluar. Tapi, belum sampai luma menit Bu Ratih teriak sambil menangis histeris. Lalu saya manggil Bibi minta bantuan buat mendobrak pintu. Setelah itu, kami melihat Bu Ratih duduk lantai kamar mandi sambil menangis. Saya pikir jatuh, ternyata dia pendarahan Pak." jelas Kasih.
Gavin mendengar penjelasan Kasih langsung mukanya pucat dan menciut. Telapak tangannya menutup mukanya sambil menarik nafas panjang. Ini pasti ada hubungannya dengan perkataan Dokter tadi pagi.
"Pak Gavin, sabar ya. Bu Ratih pasti tidak apa-apa." ucap Kasih.
"Makasih Sih...," ucap Gavin.
__ADS_1
Gavin dan Kasih menunggu diluar UGD, Bu Ratih masih diruangan untuk ditangani. Gavin sudah menghubungi Mamanya dan Mertuanya.
Kasih melihat majikannya begitu panik dan kawatir, dia kasihan melihat Gavin. Istrinya tak henti-hentinya mengalami musibah. Kasih mencoba menenangkan majikannya itu. Dia memberikan air mineral pada Gavin.
"Pak, sebaiknya Pak Gavin minum dulu." ucap Kasih dengan menyodorkan sebotol air mineral.
"Terima kasih, Sih." jawab Gavin sambil menerima botol minuman itu.
"Pak Gavin sudah menghubungi Nyonya dan Mamanya Bu Ratih.?" tanya Kasih.
"Sudah, Sih." jawab Gavin.
Tak lama kemudian, Dokter keluar menemui Gavin.
"Maaf, keluarga pasien.?" tanya Dokter itu.
"Saya suaminya, Dok.!" seru Gavin.
"Oh kebetulan kalau gitu. Begini Pak, dengan berat hati saya sampaikan kepada Bapak. Istri Bapak harus segera dioperasi, karena rahimnya ada masalah. Mau nggak mau rahimnya harus diangkat." ucap Dokter dengan menatap Gavin.
"Apa.! Rahim istri saya diangkat, berarti dia nggak bisa hamil lagi?" tanya Gavin dengan muka menciut.
"Iya, Pak. Dengan berat hati ini harus saya sampaikan kepada, Bapak. Itu demi kesehatan istri Bapak kedepannya." jelas Dokter sambil memegang pundak Gavin.
"Baiklah Dok, kalau memang itu jalan yang terbaik buat istri saya." jawab Gavin.
"Iya, Pak. Saya juga ikut prihatin atas apa yang menimpa istri Bapak." ucap Dokter.
Gavin langsung lemas dan duduk dilantai sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis atas yang menimpa istrinya. Dia nggak habis pikir, kenapa ada saja cobaan yang menimpa keluarga kecilnya.
Kasih yang melihat majikannya itu ikut prihatin. Dia menghampiri Gavin yang duduk dilantai. Dia mencoba menenangkan majikannya itu.
Gavin menoleh kearah Kasih. Dia tersenyum lalu kembali mukanya tertunduk.
"Makasih, Sih." jawab Gavin tanpa menoleh kearah Kasih.
Tak lama kemudian seorang Perawat mendatanginya dengan membawa kertas.
"Suami pasien, tolong, Anda isi data berikut ini dan surat pernyataan persetujuan atas operasi pasien." ucap Perawat sambil memberikan kertas itu.
Gavin menerima kertas itu dengan tangan yang gemetar, dilihati dan dibacanya kertas itu. Matanya berkaca-kaca disaat membaca isi dari kertas itu.
Kemudian tak lama lagi datanglah Bu Hesty dan Pak Indra. Mereka lalu mendekati Gavin yang memegangi kertas itu. Pak Indra mengambil kertas yang masih dipegang oleh anaknya. Lalu dibacanya.
Pak Indra menghela nafas panjang, kemudian mengembalikan lagi kertas kepada Gavin.
"Kamu yang sabar, Vin. Papa percaya kalau kamu pasti bisa menghadapi ini semua. Kamu harus kuat, ya?" ucap Pak Indra sambil memegangi kedua pundak anaknya.
Gavin lalu memeluk Papanya, dia menangis tersedu-sedu dipelukan Papanya. Bu Hesty tidak bisa membendung air matanya kemudian dia ikut memeluk suami dan anaknya.
Kasih yang dari tadi menyaksikan itu. Dia juga nggak bisa membendung air matanya. Dia prihatin dengan apa yang menimpa keluarga majikannya itu.
Dokter menghampiri dimana Gavin sekeluarga berada. Kasih yang melihat itu mencoba menghampiri Gavin.
"Pak Gavin, Dokter menanyakan surat pernyataan persetujuan operasi." ucap Kasih.
"Oh iya." ucap Gavin.
__ADS_1
Kemudian langsung menanda tangani surat itu, lalu dia memberikan ke Dokter itu.
"Baiklah, Pak. Hari ini saya jadwalkan langsung diambil tindakan." jawab Dokter.
"Iya, Dok." jawab Gavin.
Kemudian Dokter itu melangkah meninggalkan mereka. Gavin kini duduk dikursi ditemani kedua orang tuanya. Kasih masih berdiri agak jauh dari mereka.
Tak lama kemudian ponsel Gavin berdering. Lalu diangkatnya dia berdiri untuk mengangkat telpon itu. Tak lama kemudian dia balik.
"Mamanya Ratih tidak bisa kesini dulu, karena Mbak Irene sudah kontraksi mau melahirkan." ucap Gavin.
"Ya sudah nggak apa-apa, kan ada Mama disini." jawab Bu Hesty.
Kemudian perawat membawa Bu Ratih ke ruangan operasi. Mereka mengikutinya dari belakang. Setibanya diruangan operasi, Perawat itu memberitahukan agar keluarga pasien menunggu diluar.
Gavin mondar-mandir seperti nggak tenang. Bu Hesty dan Pak Indra hanya saling pandang. Mereka iba melihat anaknya.
Kurang lebih sekitar tiga sampai empat jam mereka menunggu Bu Rtaih didepan ruang operasi. Tak lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah Dokter tadi yang mengoperasi Bu Ratih.
Gavin seketika menghampiri Dokter itu.
Dokter membuka maskernya kemudian menghela nafas panjang. Gavin semakin cemas karena melihat wajah Dokter itu.
"Gimana operasinya Dok? apa baik-baik saja?" tanya Gavin.
"Operasinya lancar dan sekali lagi saya minta maaf karena berkali-kali bilang kepada Bapak soal ini. Mulai sekarang istri Bapak tidak mempunyai rahim lagi, dan keinginan untuk punya keturunan pupus sudah. Jadi Bapak yang sabar, ya. Pasti ada jalan untuk masalah ini." terang Dokter.
"Iya, Pak." jawab Gavin datar.
Kemudian Dokter itu melangkah meninggalkan Gavin dan keluarganya. Gavin kembali meneteskan air matanya. Bu Hesty dan Pak Indra mendekati anak bungsunya itu lalu memeluknya.
"Sayang, kamu yang sabar, ya. Mama yakin dibalik semua ini pasti ada hikmahnya." ucap Bu Hesty sembari mengelus wajah anaknya.
"Iya, Vin. Papa yakin setelah ini pasti ada jalan untuk kamu dan istrimu memecahkan masalah ini." ucap Pak Indra.
"Makasih Pa, Ma...," jawab Gavin.
Gavin melangkah menuju tempat yang sepi, dia menyendiri lalu duduk dengan wajah yang masih sedih. Orang tuanya kembali duduk dikursi yang sebelumnya.
Kasih masih bingung, dia nggak tahu harus ngapain. Sementara ini dia masih berdiri ditempat semula. Dia melihat Gavin yang duduk menyendiri sambil sesekali terlihat masih menangis. Ingin rasanya menghibur majikannya itu, tapi dia takut tidak tepat waktunya.
Akhirnya dengan keberanian, Kasih mulai berjalan dan mendekati majikannya itu. Dia masih berdiri disamping Gavin yang duduk dengan wajah tertunduk. Kasih memberanikan duduk disamping Gavin.
Kemudian Gavin menyadari kalau ada seseorang didekatnya. Dia menoleh ke orang itu. Dilihatnya Kasih yamg tersenyum sambil menepuk pundaknya.
"Pak Gavin yang sabar, ya? Kasih yakin Pak Gavin dan Bu Ratih pasti bisa melewati ini semua." ucap Kasih.
Dengan masih menatap Kasih yang duduk disebelahnya, Gavin tiba-tiba saja langsung memeluk Kasih dan menangis sejadi-jadinya dipundak asistennya itu. Kasih seketika kaget dan bingung. Dia nggak bisa menolak karena Gavin mencengkeram pundaknya dengan erat. Dia hanya bisa menangis melihat sikap majikannya itu.
"Kasih., aku sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Padahal aku dan istriku mengharapkan kehadiran seorang anak. Apalagi orang tuaku. Pasti dia menginginkan keturunan dari aku." ucap Gavin sambil menangis dengan posisi masih memeluk Kasih.
"Sabar, ya Pak. Pasti ada jalan buat Pak Gavin dan Bu Ratih." jawab Kasih dengan memberanikan diri untuk membalas pelukan Gavin.
Pak Indra dan Bu Hesty saling pandang dengan apa yang dilakukan Gavin. Mereka hanya terdiam melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
---------------------------------
__ADS_1
Bersambung....