BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 128 (Kelahiran)


__ADS_3

Gavin terkejut ketika Perawat bilang jika Kasih drop. Seketika mereka yang hadir dirumah sakit jadi tegang dan kawatir.


"Permisi, Pak. Saya akan melihat kondisi istri Bapak sekarang." ucap Dokter itu sambil melangkah kedalam ruangan.


Bu Ratih dan Gavin saling pandang. Ibunya Kasih dari tadi nangis terus ditemani Bu Hesty. Pak Indra masih berdiri dengan muka yang masih tegang.


"Sayang, gimana nih. Apakah Kasih nggak akan kenapa-kenapa?" ucap Gavin dengan memegang tangan Bu Ratih.


"Aku juga belum tahu, sayang. Kita tunggu saja, ya?" jawab Bu Ratih.


Setelah menunggu sekitar kurang lebih sejam. Dokter tadi keluar lagi dengan tersenyum.


"Syukurlah Pak, istri Bapak sudah melewati masa kritisnya. Tadi sempat kejang-kejang. Sekarang tekanan darahnya sudah kembali normal, Tapi, pasien masih tidur." ucap Dokter itu.


"Tapi, dia akan baik-baik saja, kan Dok?" tanya Bu Ratih meyakinkan.


"Selama tekanan darahnya bisa dikontrol, saya rasa tidak apa-apa." jawab Dokter.


"Syukurlah kalau gitu, Dok." kini Gavin bersuara.


"Iya, Pak. Yang dialami istri Bapak ini namanya PEB (Preeklamsia Berat). Bisa kejang-kejang saat melahirkan. Tapi, untung saja cepat teratasi." jelas Dokter.


"Terima kasih banyak, Dok." ucap Gavin sembari menyalami Dokter tersebut.


"Iya, Pak. Sama-sama." jawabnya.


Akhirnya Dokter itu meninggalkan mereka semua. Gavin dan Bu Ratih serta yang lainnya bernafas lega karena Kasih tidak apa-apa.


Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Kasih. Aku nggak bisa ngebayangin sama sekali. Batin Gavin.


(***)


Keesokan harinya, Kasih sudah dibawah keruang rawat inap. Dia juga sudah siuman, yang disitu tinggal Bu Laksmi, Gavin dan Bu Ratih. Pak Indra dan Bu Hesty semalam sudah pulang kerumah.


Sekitar pukul enam pagi, Kasih mengeluh masih pusing. Bu Ratih memanggil Dokter biar dilihat kenapa dengannya. Tapi, setelah diperiksa, katanya nggak apa-apa mungkin efek obat bius semalam saja.


"Kamu jangan banyak gerak dulu, istirahat saja." ucap Gavin.


"Iya, Mas. Terus anak kita mana?" tanya Kasih sambil mencari sesuatu.


"Anak kita masih diruangan bayi. Mungkin sebentar lagi diantar kesini karena waktunya dikasih Asi." jawab Gavin.


"Iya, Sih. Selamat ya, anak kamu laki-laki sehat dan normal." sahut Bu Ratih.


"Iya, Mbak, Makasih. Itu juga anak Mbak Ratih. Anak kita bertiga." ucap Kasih sambil memegang tangan Gavin dan Bu Ratih.


"Iya, Sih. Makasih, ya!" jawab Bu Ratih seraya memeluk Kasih dengan matanya berkaca-kaca.


Tak lama kemudian masuklah perawat mengantarkan bayinya untuk dikasih Asi. Kasih melihati anaknya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian sama perawatnya dikasihkan sama Kasih.


"Kamu ganteng sekali, Nak. Semoga jadi anak yang Sholeh." ucap Kasih sambil membelai wajah bayinya.


Bu Ratih yang melihat pemandangan didepannya itu langsung meneteskan air mata. Kasih sekarang sudah menjadi seorang Ibu, dia berhasil memberikan suaminya seorang anak laki-laki.


Gavin melirik kearah Bu Ratih, dan langsung merangkul pundak istrinya itu. Kasih yang melihat itu hanya tersenyum, karena dia sudah mengerti, dan nggak boleh cemburu.

__ADS_1


Bayinya masih menyusu Ibunya. Bu Ratih sangat senang sekali melihat makhluk kecil tak berdosa ini. Gavin pun demikian, dia sangat senang sekali karena sekarang dia punya jagoan kecil.


"Kalian sudah siapkan nama untuk bayi ini?" tanya Kasih.


Gavin dan Bu Ratih langsung saling pandang. Untuk nama memang mereka belum siap, kenapa sampai kelupaan. Padahal perlengkapan serta kebutuhan bayi semuanya sudah siap.


"Kami belum siap, Sih. Maaf, ya?" ucap Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, kok Mbak." jawab Kasih.


"Biar Papa aja yang kasih nama!" seru Pak Indra dari luar.


Suara Pak Indra mengagetkan semua yang ada dikamar. Gavin dan Bu Ratih langsung menyalami Pak Indra.


"Papa pagi-pagi kok sudah disini?" tanya Gavin.


"Iya, Papa sudah gak sabar ingin melihat cucu Papa." jawab Pak Indra.


Bu Ratih dan Gavin serta Kasih tersenyum melihat orang tuannya kali ini. Memang benar kalau Pak Indra sebenarnya juga pingin cucu dari Gavin. Itu terlihat dari antusiasnya saat menyambut kehadiran cucunya.


Kasih memberikan bayinya kepada Bu Ratih untuk digendong, karena sudah selesai menyusu. Bu Ratih sangat senang sekali saat menggendong malaikat kecil di gendongannya kini. Matanya berkaca-kaca melihatnya.


"Papa akan kasih dia nama RAKA KAINDRA PUTRA WIJAYA. Gimana?" ucap Pak Indra.


"Bagus, Pa. Gavin setuju." jawab Gavin.


"RAKA (RAtih KAsih) KAINDRA (KAsih Gavindra) sedangkan putra wijaya itu memang nama wajib dari keturunan Indra Wijaya. Biar anak ini merasakan dan kalau dia besar nanti akan bangga karena mempunyai orang tua seperti kalian." jelas Pak Indra.


"Iya, Pa. Ratih juga setuju." sahut Bu Ratih.


"Gimana, Sih. Kamu setuju dengan nama yang Papa berikan?" tanya Pak Indra.


"Syukurlah kalau semuanya setuju." jawab Pak Indra.


"Coba Papa lihat jagoan kecil Papa. Raka anak Ganteng." ucap Gavin sambil melihati anaknya yang digendong Bu Ratih.


"Aku memang ganteng kan, Pa. Ganteng kayak Papa." ucap Bu Ratih sambil mendekatkan bayi itu kepada Gavin.


Kasih yang melihat pemandangan itu hatinya seneng campur terharu. Kini dia telah bisa memenuhi janjinya pada Bu Ratih. Anak laki-lakiku akan jadi penerus dari perusahaan besar. Batin Kasih.


(***)


Seminggu setelah kepulangan Kasih dan bayinya dari rumah sakit. Ibunya Kasih sementara ikut pulang sama Kasih dirumah Gavin untuk membantu merawat bayinya serta Kasih.


Semuanya itu atas persetujuan Pak Indra dan Bu Hesty. Karena mereka sendiri lebih sering berada dirumah Mahendra. Maka dari itu, untuk sementara Bu Laksmi ikut membantu Kasih sampai dia bisa sendiri merawat bayinya.


Seperti halnya hari ini, setelah semua pergi beraktivitas, Kasih dengan dibantu Ibunya untuk menyusui anaknya. Dia sementara memakai kamar Mahen yang dulu. Disitu disetting untuk kamar bayi. Jadi sementara Kasih ikut tidur dikamar itu, yang bersebelahan dengan kamar utama nya Pak Indra dan Bu hesty.


"Sih, rumahnya Nak Gavin benar-benar besar, ya. Ibu bingung disini. Banyak pintu juga." ucap Bu Laksmi yang kini duduk dikursi.


Kasih hanya tersenyum sambil menyusui anaknya. Dia dulu juga begitu. Saat pertama kali masuk rumah ini, baru kali ini dia masuk rumah sebesar ini. Batinnya.


"Ya sudah, Bu. Jangan dibahas lagi. Sekarang Ibu makan dulu sana. Nanti bantu Kasih lagi." ucap Kasih.


Hari-hari Kasih selama pasca melahirkan memang masih seputar tugas seorang Ibu. Pekerjaan yang biasanya dia lakukan sekarang diambil alih oleh Ibunya. Dia hanya fokus menyusui Raka dan menemani dia dikala tidur.

__ADS_1


"Bu, kakiku kok jadi bengkak gini, ya?" ucap Kasih heran.


"Mungkin efek kamu habis melahirkan, Nak." jawab Bu Laksmi.


"Tapi, waktu hamil bengkaknya nggak begitu besar gini. Tapi, ini kok beda, ya Bu?" ucap Kasih lagi.


"Ya kalau pas kontrol, kamu tanyain sama Dokternya. Kalau menurut Ibu sih mungkin efek pasca melahirkan." jawab Bu Laksmi.


.


.


.


Hari semakin gelap, jam kantor sudah habis. Gavin menjemput Bu Ratih dari kampusnya. Dia segera pingin pulang karena pingin lekas ketemu anaknya.


Setibanya dikampus, Bu Ratih juga menunggu jemputannya. Tak lama kemudian dia masuk mobil lalu pulang. Gabin menjalankan mobilnya sedemikian cepatnya. Karena pingin ketemu jagoan kecilnya.


Ketika sampai rumah. Dia dan Bu Ratih langsung turun dan masuk kedalam rumah. Dia mendapati Raka dioangku Kasih yang duduk diruang tengah. Gavin dan Bu Ratih langsung cuci tangan dulu ikut menggoda si kecil.


"Itu, Nak. Papa sama Mama Raka sudah pulang bekerja." ucap Kasih.


"Ih anak ganteng sudah mandi." ucap Bu Ratih.


"Iya, Ma. Raka ganteng kayak opa!" seru Kasih sambil nahan tawa.


"Hahaha..kayak opa, ya Nak. Bukan kayak Papa. Berarti Papa nggak ganteng, dong." jawab Bu Ratih.


"Hmm..mentang-mentang Raka punya dua Ibu. Jadi Papanya ditawur." ucap Gavin sambil cemberut.


"Bukan dua Ibu, Pa. Tapi, satu Ibu dan satu Mama." jawab Kasih.


"Emang nanti panggil kamu Ibu, gitu?" tanya Gavin.


"Iya, Mas. Biar manggil aku Ibu, dan manggil Mbak Ratih Mama." jawab Kasih sambil melirik kearah Bu Ratih.


"Terserah kamu aja lah, Sih. Yang jelas kalau panggil aku dengan sebutan Papa bro.." jawab Gavin sembar tertawa lepas.


"Kok Papa bro,!" tanya Bu Ratih.


"Iya, kalau dirumah panggil Papa. Tapi, kalau pas jalan-jalan berdua di Mall panggil aku dengan sebutan My bro," jawab Gavin sambil tertawa terbahak-bahak.


Bu Ratih dan Kasih spontan ikutan tertawa. Ada-ada aja ulah Bapak satu ini. Masak ngajari anaknya gitu.


Kebahagiaan mereka memang tidak ada yang mengira, kalau awalnya itu melalui proses yang luar biasa susahnya. Dengan ketegaran hati Bu Ratih, ketulusan hati Kasih dan keikhlasan Gavin menerima Kasih jadi istri kedua. Maka sekarang terbayar semua dengan hadirnya RAKA KAINDRA PUTRA WIJAYA.


Disaat kebahagiaan yang mereka rasakan. Tiba-tiba mata Gavin tertuju pada kaki Kasih yang kelihatan berbeda.


"Kasih, kakimu kenapa. Kok bengkak-bengkak gini!" seru Gavin sambil memegangi kaki istrinya.


"Aku juga nggak tahu, Mas. Udah dari tadi pagi" jawab Kasih.


"Sebaiknya kita telpon Dokter saja, sayang." ucap Bu Ratih.


Serta merta Gavin menelpon Dokter keluarga untuk datang kerumahnya. Gavin panik karena Kaki Kasih jadi seperti itu.

__ADS_1


------------------------------


Bersambung...


__ADS_2