
Gavin diantar Pak Fajar menemui Dokter karena bermaksud mau menyumbang darah buat Gazi. Setelah menemui Dokter, kemudian Dokter beserta suster mengajak Gavin ke ruangan Gazi.
Gavin masuk ruangan Gazi, tapi dia nggak tahu persis wajahnya karena memang ada perban. Gavin trenyuh melihat anak kecil itu terbaring sakit, seolah dia melihat Raka anaknya. Akhirnya dia mulai diperiksa dan ditangani Dokter.
Pak Fajar diluar menunggu sama orang tua Rahman. Mereka panik dan bingung kenapa Kasih juga nggak kembali-kembali. Untung saja ada Gavin yang mau mendonorkan darahnya.
Setelah lama menunggu, akhirnya Gavin keluar karena sudah selesai dan mengajak Pak Fajar menjauh dari kedua orang tua itu. "Pak Gavin, apa Bapak kuat setelah ini menyetir sendiri?"
"Sudah nggak apa-apa, kok." jawab Gavin.
"Ya sudah, sekali lagi makasih, ya Pak.?" ucap Pak Fajar.
"Tapi, saya ngga bisa lama-lama. Karena saya sudah janji sama anak dan istri saya." ucap Gavin.
"Jangan lupa, nanti jangan bilang kalau saya yang membantu keponakan kamu. Yang penting jangan sebut nama saya." ucap Gavin.
Akhirnya Gavin mendekati orang tua Rahman pamitan sama mereka. Pak Fajar mengantarkan Gavin sampai parkiran. Setelah itu Pak Fajar kembali masuk ke rumah sakit.
Saat mobil Gavin keluar, berpapasan dengan ambulans masuk ke rumah sakit. Saat Pak Fajar kembali, orang tua Rahman bertanya.
"Bram, siapa nama bos kamu tadi, dia baik banget." ucap Bu Sari.
"Dia nggak mau sebutin namanya, Budhe. Karena dia nggak mau nanti kalau keluarga ini merasa utang budi sama dia." jawab Pak Fajar.
"Oalah, baik banget. Ya mudah-mudahan dia sekeluarga selalu dalam lundungan Tuhan yang Maha Esa." sahut Pak Budi.
Ketika mereka lagi ngobrol-ngobrol Kasih berjalan dengan tergesa-gesa sambil menangis.
"Kenapa kamu menangis, Nak?" tanya Bu Sari.
"Bu, maaf Kasih nggak jadi bisa ambil darah. Tadi, sudah sampai sana, ternyata keduluan sama orang. Orang itu juga butuh darah banyak karena Ibunya kritis. Kasih bingung, akhirnya Kasih sama suster kembali pulang." ucap Kasih sambil menangis terisak.
"Sudah tenang, anakmu sudah selamat, dia sudah dapat pendonor, kok." jawab Bu Sari.
"Apa,! Alhamdulilah..," ucap Kasih.
"Iya, Mbak. Tadi bos aku yang mendonorkan darah buat Gazi." jawab Pak Fajar.
"Ya ampun, siapa nama bos kamu, Bram. Saya mau berterima kasih." tanya Kasih.
"Nggak usah, Mbak. Orangnya nggak mau disebutkan namanya. Karena nanti keluarga Mbak akan merasa utang budi sama dia. Pesannya tadi gitu." ucap Pak Fajar.
__ADS_1
"Subbanallah, kok masih ada orang baik seperti itu. Ya sudah kalau gitu, siapapun dan dimanapun dia berada, saya doakan semoga beliau sekeluarga selalu dalam lindungan Allah." ucap Kasih.
"Iya, Mbak. Memang baik orangnya." jawab Pak Fajar.
Akhirnya dirumah sakit keadaannya sudah sedikit tenang. Gazi sudah mendapat pendonor yang baik. Keluarga sangat senang karena Gazi telah melewati masa kritisnya.
.
.
.
Sekitaran jam tiga sore, Gavin baru sampai rumah. Bu Ratih dan Raka menunggu dirumah. Setelah Gavin masuk dia mendapati anak istrinya menunggunya diruang tengah.
"Kok baru pulang, Pa." tanya Bu Ratih.
"Iya, tadi keponakan Pak Fajar mengalami kecelakaan. Lalu butuh donor darah, Ibunya sudah mau ambil ke PMI tapi lama nggak balik-balik. Akhirnya Pak Fajar ditelpon saudaranya itu suruh mencari siapa yang golongan darahnya sama dengan keponakannya itu. Ternyata golongan darahnya sama dengan golongan darahku, ya sudah Papa bantu. Ternyata keponakannya itu masih kecil, Ma. Sekitaran dua tahun dibawa Raka mungkin." jelas Gavin.
"Ya ampun, Pa. Kasihan banget anak itu. Tapi, kenapa kok nggak diambilkan darah dari Ayah atau Ibunya, ya Pa?" tanya Bu Ratih.
"Papa juga nggak tahu, Ma. Lagian Papa nggak sempat nanya gituan, saat itu keadaan panik, Papa sama Pak Fajar lagi di cafe, lalu dia ditelpon Pakdenya soal donor darah itu." jawab Gavin.
"Pa, nanti kita jadi jalan-jalan, kan?" sahut Raka.
"Iya, Nak. Nanti malam kita jadi jalan-jalannya." jawab Gavin.
"Asyiiik..,!" seru Raka kegirangan.
Bu Ratih dan Gavin saling pandang dan tersenyum melihat tingkah laku Raka yang masih kayak anak kecil. Gavin merasa kebahagiaannya adalah melihat anak istrinya bahagia.
.
.
.
Malam harinya sekitar habis Maghrib Gavin mengajak Anak dan istrinya jalan-jalan. Mereka menuju sebuah tempat dimana banyak warung tenda semacam wisata kuliner.
Bu Ratih memutuskan memilihnwarung nasi gudeg yang deretan pinggir jadi nggak begitu banyak orang. Gavin dan Raka mengikuti Bu Ratih kemudian mereka duduk di lesehan.
Bu Ratih memesan makanan setelah itu dia membaur bersama anak dan suaminya. Tak lama kemudian Raka pamit melihat orang jualan mainan disebelah warung pas.
__ADS_1
"Jangan jauh-jauh mainnya, Nak?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Ma."
"Ma, nggak terasa ya Raka sudah segede itu. Nanti kalau sudah besar, menikah, kita pasti ditinggalkannya berdua saja, Ma." ucap Gavin tiba-tiba.
"Kamu ini mikirnya kejauhan, Pa. Dia saja belum lulus sekolah dasar." jawab Bu Ratih.
"Ya jelas lah, Ma. Papa kan hanya mengumpamakan saja. Ritme kehidupan kan memang seperti itu." ucap Gavin.
"Ya juga, sih. Tapi, aku ingin nantinya Raka tetap sama-sama kita meakioun dia sudah menikah. Kita ganti yang menjaga anak-anaknya." seloroh Bu Ratih.
"Iya, ya Ma. Berarti kita sudah tua dong, hehehe." sahut Gavin sambil tertawa.
"Kamu itu selalu mikirnya jauh." jawab Bu Ratih.
Tak selang lama, pesanan makanan medeka sudah datang, Raka akhirnya dipanggil oleh Gavin. Kemudian dia datang dan ikut makan bareng orang tuanya.
Mereka menikmati makanan khas Jogja yaitu nasi gudeg. Raka sangat senang dengan makanan itu apalagi ditambah dengan telor dan tempe bacem. Makanan khas Jogja itu memang tak lekang oleh jaman.
"Pa, lihat tuh, anakmu. Makannya lahap sekali. Senang aku melihatnya." ucap Bu Ratih sambil memperhatikan Raka makan nasi gudeg.
"Mirip siapa ya kalau gitu.?" ucap Gavin.
"Ya mirip kamu lah, ingat nggak dulu waktu kita jalan ke taman, lalu makan es cream. Kamu sampai habis tiga cup, sedangkan aku satu cup saja nggak habis." tukas Bu Ratih.
"Cie..cie.., yang dulu kencannya ketaman beli es cream." jawab Gavin meledek.
"Kamu itu apaan sih, Pa. Malu tahu ada anak kita." ucap Bu Ratih malu-malu.
"Kenapa malu, Ma. Kan memang gitu." sahut Gavin sambil menyeruput wedang jahe.
"Sudah-sudah, kita lanjut makannya. Nanti kesedak, lho." ucap Bu Ratih.
Ketika ada pengamen wanita dengan anak kecil, Raka melihati terus tanpa kedip. Lalu dia memberinya uang kepada pengamen itu. Tak lama wanita pengamen itu berkata.
"Kamu anak keci baik sekali. Kamu besok kalau sudah besar bakal jadi orang sukses.!"
----------------------------------
Bersambung.....
__ADS_1