
Akhirnya mereka pulang dari makan-makan itu. Kini sesampainya dirumah, Gavin langsung masuk kamar lalu berbaring sejenak melepas lelah. Sedangkan Bu Ratih masih sibuk dengan Cantik yang dari tadi agak rewel.
Gavin masih memikirkan keadaan Kasih yang harus merawat suaminya yang sudah menghianatinya. Dalam diri Gavin sedikit rasa sakit kalau mendengar kabar bahwa Kasih seperti itu. Mungkin dia merasakan itu karena bagaimanapun juga Kasih adalah mantan istrinya dan sekaligus Ibu dari anaknya.
Dia mulai mencari akal supaya dia bisa membantu Kasih. Tapi, membantu seperti apa. Secara dia sendiri masih belum tahu dia tinggal dimana.
"Kasih, kamu dimana. Aku bisa saja menanyakan alamat kamu lewat Pak Fajar. Tapi, dia akan curiga. Apa aku harus ke Jakarta untuk mencari kamu untuk membantu masalah kamu. Tapi, aku sudah nggak berhak apa-apa sama kamu." ucap Gavin dalam hati.
Gavin bingung harus berbuat apa. Hatinya ingin dia membantu Kasih. Tapi, raganya nggak memungkinkan untuk itu. Kemudian dia bangkit dari tepat tidurnya lalu melangkah keluar kamar dan bergabung dengan yang lain di ruang tengah.
"Vin, kamu dari mana kok baru nongol?" tanya Mamanya.
"Gavin dari kamar, Ma."
"Pa, Raka barusan pamit ke rumah Adi di sebelah, katanya ada tugas sekolah yang harus dikerjakan bareng." sahut Bu Ratih.
"Iya, Ma. Lalu Cantik mana, Ma.?"
"Dia sama Susi di teras."
"Oh iya, Vin. Soal peresmian sekolah istrimu, nanti Papa akan hadir karena Papa juga akan undang rekan bisnis Papa dulu yang ada disini." sahut Pak Indra tiba-tiba.
"Iya, Pa. Siap.,!"
"Kapan itu rencananya, Tih?" tanya Pak Indra.
__ADS_1
"Kalau nggak ada halangan, pertengahan bulan depan, Pa." jawab Bu Ratih.
"Oke,!"
"Oh iya, Pa. Ratih mau pertimbangan Papa. Kemarin Ratih dapat tawaran untuk mengajar di kampus yang sekarang Ratih kuliah. Kalau menurut Papa sendiri gimana?" tanya Bu Ratih.
"Sebenarnya itu tawaran yang bagus, secara semua aktivitas kamu dan Gavin semuanya disini. Tapi, apa kampus kamu yang dulu mengijinkan?" tanya Pak Indra.
"Belum tahu juga, Pa. Ratih belum memberitahu pihak kampus yang lama. Misal nggak boleh gimana, apa Ratih harus mengundurkan diri dulu, baru menerima tawaran ini." ucap Bu Ratih.
"Kalau menurut hati kamu, sebenarnya kamu sudah sreg dan nyaman disini, ya sudah terima saja tawaran itu. Tapi, kamu harus melepaskan kampus yang lama." ujar Pak Indra.
"Iya, Pa. Ratih sudah sreg dan nyaman. Secara Gavin kerjanya disini." jawab Bu Ratih.
"Sayang, apa kamu sudah mantap dan yakin dengan keputusan kamu ini?" tanya Gavin.
"Kalau gitu kamu harus mengundurkan diri dulu dari kampus yang lama." ucap Gavin. Bu Ratih mengangguk kemudian tersenyum.
Mereka kini melanjutkan ngobrol-ngobrolnya lagi. Pak Indra menceritakan bahwa dulu saat dia membangun usaha Hotel dan Resto di Jogja ini berawal dari kesukaan Pak Indra yang melihat pemandangan kota ini yang begitu indah dan sejuk.
Sampai akhirnya dia mendirikan usaha ini bersama Pak Robby. Dulu dia kan sering bepergian ke luar kota dan menginap di hotel. Maka dari itulah dia berupaya untuk bisa mempunyai hotel sendiri.
Gavin dan Bu Ratih begitu serius mendengarkan cerita Pak Indra. Cerita yang nantinya bisa dijadikan pengalaman mereka berdua.
Tak terasa hari semakin larut dan waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Bu Ratih menyuruh Santo lihat Raka kok belum pulang. Dan tak lama kemudian ternyata Raka pulang sendiri.
__ADS_1
"Kok sampai malam, Kak?" tanya Bu Ratih saat Raka masuk rumah.
"Iya, Ma. Tadi nungguin Adi dulu. Soalnya dia nggak ada temannya, Papa dan Mamanya keluar bentar. Ini tadi sudah pulang, langsung aja Raka pamit pulang." jelas Raka.
"Iya, Nak. Nggak apa-apa. Takutnya tadi kamu main kemana gitu. Sekarang langsung tidur, ya sayang." jawab Bu Ratih.
"Iya, Ma."
Akhirnya Raka keatas masuk kamarnya, Bu Ratih sendiri juga masuk kamarnya. Sedangkan Pak Indra dan Bu Hesty sudah masuk kamar duluan.
Didalam kamar Bu Ratih nggak langsung bisa tidur, dia masih bingung memikirkan soal karirnya saat ini. Satu sisi dia masih cinta sama kampus yang di Jakarta. Kampus itu adalah salah satu kampus swasta unggulan di Jakarta.
Sedangkan sekarang semua aktivitas ada di Jogja. Apalagi dia sudah mendirikan sebuah sekolah yang sudah menjadi impianannya sejak dulu. Mungkin saat ini lah waktunya untuk Bu Ratih mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.
Peristiwa yang dialami Bu Ratih saat ini menjadikannya dilema dalam hidupnya. Saking cintanya dia dengan dunia pendidikan, sampai pada akhirnya mengantarkan Bu Ratih pada sebuah preatasi yang luar biasa.
Sejak dia memutuskan untuk terjun dalam dunia pendidikan khususnya sebagai Dosen. Dia bertekad akan terus belajar dan belajar guna menggapai cita-citanya.
Dia mewarisi darah Kakeknya yang dulunya sebagai Guru. Selama sekolah dulu dia juga tergolong murid yang pintar dan berprestasi. Ternyata hal itu masih dia alami sampai sekarang meskipun sudah menjadi Dosen.
Nggak terasa jarum jam sudah menunjukan hampir jam dua belas malam. Bu Ratih sampai nggak sadar dia dari tadi hanya tiduran tapi matanya nggak bisa terpejam karena memikirkan soal karirnya. Sedangkan Gavin disampingnya sudah tidur terlelap.
"Aku harus benar-benar bisa memutuskan yang terbaik untuk masalah karirku ini. Aku harus lebih bijak dalam hal ini dan nggak bolek egois. Karena dibelakangku sekarang ada keluarga kecilku yang juga harus aku prioritaskan. Karena merekalah aku masih bisa bertahan dalam urusan keluarga dan karir." ucap Bu Ratih dalam hati.
----------------------------------
__ADS_1
Bersambung..