BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 94 (Perang dingin)


__ADS_3

Gavin terkejut dengan kalimat yang barsa saja keluar dari mulut istrinya itu. Dia nggak habis pikir dengan sikap istrinya ini. Dia mendekati istrinya dan menatap dalam-dalam wajah istrinya itu.


"Apakah kamu sudah tidak mencintaiku, lagi.!" ucapnya sambil memegang kedua bahu istrinya.


"Justru aku itu sangat mencintaimu, kenapa aku tadi bilang seperti itu." jawab Bu Ratih lirih.


"Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu suruh aku untuk menikah lagi.!" tukas Gavin.


"Sayang, memang sebagian besar wanita nggak rela jika suaminya menikah lagi. tapi, kalau yang menginginkan itu justru dari pihak sang istri, itu pasti ada alasannya. Dan ini adalah bentuk cintaku sama kamu, karena aku sadar karena aku tidak bisa mengasih kamu anak. Pada awalnya memang aku nggak mau. Tapi, kalau aku nggak mau, berarti aku egois." jelas Bu Ratih.


Gavin melepaskan bahu istrinya. Kemudian dia duduk ditepi pembaringan sambil memegang kepalanya. Bu Ratih mendekati suaminya kemudian mengusap punggungnya.


"Maafin aku, sayang. Jika perkataanku tadi menyinggung perasaanmu." ucap Bu Ratih.


Gavin memegang tangan istrinya yang tadi mengelus punggungnya laku meletakannya dipangkuan istrinya. Kemudian dia beranjak keatas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya tanpa mengeluarkan sepatah kata.


Bu Ratih membiarkan suaminya beristirahat. Kemudian dia keluar kamar dan menemui Tiur. Nggak enak kalau dia meninggalkan tamunya lama-lama.


Saat dia keluar kamar, diruang tengah sudah tidak ditemui seorang pun. Lalu dia melangkah keruang tamu, juga nihil. Diteras juga sama, nggak ada siapa-siapa.


Kemudian dia kembali kedalam menuju dapur. Yang ada Bibi lagi bersih-bersih.


"Bi, tadi teman saya apa sudah pulang?" tanya Bu Ratih.


"Oh sudah, Non. Barusan saja dia pulang. Nyonya juga baru saja masuk kamar." jawab Bibi.


"Lalu, Kasih mana, Bi?" tanya Bu Ratih.


"Mbak Kasih tadi pamit sama Bibi mau ke minimarket bentar, katanya mau beli sabun muka." jawab Bibi.


"Ya sudah, biar saya tungguin Kasih diteras saja." jawab Bu Ratih.


"Iya, Non." jawab Bibi.


Kemudian Bu Ratih kembali ke depan. Memang sudah malam, tepatnya jam sembilan. Kenapa Kasih berani keluar sendirian. Memang letak minimarketnya dekat sih, sekitar seratus meter. Tapi, kan dia perempuan. Batinnya.


Akhirnya Kasih pulang juga, dia kaget mendapati Bu Ratih masih didepan. Dengan langkah cepat dia memasuki rumah.


"Kok, Bu Ratih belum tidur?" tanya Kasih.


"Saya belum ngantuk, Sih.!" jawabnya.


"Saya temani, ya Bu?" tanya Kasih sambil duduk dikursi didepan Bu Ratih.


"Iya, nggak apa-apa. Memang saya disini tadi nungguin kamu. Aku bingung, Sih." ucap Bu Ratih.


"Bu Ratih masih memikirkan omongan Bu Hesty, ya Bu?" tanya Kasih lagi.


"Itu salah satunya. Tapi, bukan hanya itu. Saya tadi juga telah bilang sama suami saya, kalau memang dia mau menikah lagi, saya ihklas." jawab Bu Ratih.


"Apa,! Bu Ratih serius bilang begitu, kenapa Ibu bisa bicara seperti itu. Apa Bu Ratih nggak kasihan sama Pak Gavin, dia kan cinta mati sama Ibu." tukas Kasih.

__ADS_1


"Saya mengerti, Sih. Tapi, kalau dipikir memang saya harus siapkan mental jika suatu saat suamiku ingin menikah lagi. Jadi mulai sekarang saya harus belajar untuk itu." jawab Bu Ratih.


"Iya juga sih, Bu. Posisi Bu Ratih dan Pak Gavin memang terjepit. Secara Pak Gavin sebenarnya adalah anak tunggal."ucap Kasih.


"Sejak saya mendengarkan obrolan Mama sama Papa tempo hari, saya sudah menduga, kalau Mama sebenarnya menginginkan suami saya untuk menikah lagi." ucap Bu Ratih.


"Bu Ratih yang sabar, ya?" ucap Kasih.


"Iya, makasih sih..," jawab Bu Ratih.


"Bentar, ya Bu. Saya kedalam. Tunggu disini bentar.!" titah Kasih.


Bu Ratih diam saja melihat kelakuan asistennya itu. Mau ngapain kedalam. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa dua cangkir wedang jahe panas.


"Kamu ini ada saja, Sih." ucap Bu Ratih.


"Ini cocok buat udara dingin seperti sekarang, Bu. Biar bisa relax." ucap Kasih.


"Kamu memang baik sekali, Sih. Saya beruntung sekali punya asisten seperti kamu." sahut Bu Ratih.


"Ah, Ibu bisa saja. Sudah berapa kali Bu Ratih bilang seperti itu. Kasih kan jadi malu." jawabnya pelan.


Mereka ngobrol begitu lama, tak terasa jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk kamar masing-masing.


Bu Ratih masuk kamar pelan-pelan supaya tidak sampai membangunkan suaminya. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, kemudian dia membaringkan tubuhnya pelan-pelan disamping suaminya.


(****)


Pagi harinya Gavin dan Bu Ratih melakukan aktivitas seperti biasa. Gavin bicara seperlunya sama istrinya. Bu Ratih memaklumi saja sikap suaminya itu.


Dalam mobil pun Gavin berbicara sedikit banget. Bu Ratih dari tadi diam saja ketika melihat sikap suaminya yang cuek terhadap dirinya. Kini Bu Ratih mencoba mengawali pembicaraan.


"Sayang, nanti pulang kerja anterin aku ke apotik, ya.?" ucap Bu Ratih.


"Mau beli apa?" tanyanya singkat.


"Mau beli vitamin, kebetulan vitamin yang dari Dokter sudah habis." jawab Bu Ratih.


"Ya sudah nanti aku antarin. Pulang seperti biasa, kan?" tanya Gavin.


"Iya, hari ini aku full." jawab Bu Ratih.


Tak terasa akhirnya sampai dikampus, Vu Ratih kemudian mencium punggung tangan suamunya dengan takzim. Lalu Gavin melajukan mobilnya menuju kantor.


Sesampainya dikantor, Gavin berjalan menyusuri koridor lalu menuju ruangannya. Di lift saat naik ke lantai tiga, dia bertemu dengan Bu Yolanda sekretaris yang resek itu. Gavin hanya tersenyum bentar, lalu dia mengarahkan pandangannya kearah lain.


Setelah sampai diruangannya, dia kemudian duduk seperti biasa. Gavin nggak fokus sama kerjaannya. Kini dia kembali memikirkan omongan istrinya. Mungkin kakau ditelaah lagi, omongan Bu Ratih memang nggak ada yang salah. Cuma bagi Gavin ini nggak murni dari hati Bu Ratih. Bisa juga karena omongan Mamanya.


Seharian Gavin hanya diruangannya, dia nggak keluar, bahkan untuk makan siang pun dia juga menyuruh Pak Firman untuk membelikannya diluar seperti biasa.


Kemudian masuklah Pak Firman yang membawa nasi untuk atasannya.

__ADS_1


"Makasih Pak Firman.!" seru Gavin.


"Iya, Pak. Ini kembaliannya." ucap Pak Firman sambil menyerahkan uang kembaliannya.


"Udah, buat Pak Firman saja." jawab Gavin.


"Tapi, Pak Gavin sudah sering mengasih uang kembalian buat saya." ucap Pak Firman.


"Ya, kalau gitu nanti buat jajan anak Pak Firman saja." jawab Gavin sambil menyantap makanannya.


"Makasih Pak..," sahut Pak Firman.


"Sama-sama."


Kemudian Pak Firman keluar dan membiarkan atasannya melanjutkan makan siangnya sendiri diruangannya.


Rak lama kemudian dia selesai juga makan siangnya. Kini dia duduk sambil memainkan ponselnya.


.


.


.


Ditempat lain, kini Bu Hesty dan Pak Indra lagi duduk- duduk membahas soal masalah dimeja makan semalam.


"Ma, sebenarnya Papa nggak mau bersikap seperti itu lagi." ucap Pak Indra.


"Papa masih mempermasalahkan soal ucapan Mama semalam.?" tanya Bu Hesty.


"Bukan mempermasalahkan, Papa hanya mengingatkan supaya Mama tidak mengulanginya lagi." jelas Pak Indra.


"Iya maaf, Pa." jawab Bu Hesty pelan.


"Sekarang Mama bisa rasakan sendiri, akibat dari perkataan Mama kemarin Sikap Gavin sama kita jadi beda. Dia lebih banyak diam." ucap Pak Indra.


"Tapi, Mama nggak salah kan, Pa. Jika menginginkan anak dari Gavin. Apa Papa sendiri juga nggak pingin.!" tanya Bu Hesty.


"Ya pingin lah, tapi, kan Papa masih memikirkan perasaan Ratih.!" jawab Pak Indra.


"Nah, itulah tugas kita untuk mencarikan jalan keluar supaya tidak terlalu menyakiti hatinya Ratih." tukas Bu Hesty.


"Emang jalan keluar apa yang tidak menyakiti hatinya.?" tanya Pak Indra.


"Kita carikan istri buat Gavin yang sekiranya Ratih juga mengenalnya, mungkin.?" usul Bu Hesty.


"Apa itu tidak menambah sakit hatinya Ratih. Secara dia juga mengenal calon istri untuk suaminya.?" jawab Pak Indra.


"Ya caranya, kita ajak dia untuk mencarikan atau memilih wanita yang bakal jadi istri Gavin.!" seru Bu Hesty.


"Apa.,!!"

__ADS_1


-----------------------------------


Bersambung.....


__ADS_2