BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 110 (Persiapan ke Jepang)


__ADS_3

Setelah Ibunya Irene meninggal dunia Bagas dan Irene untuk sementara tinggal dirumah Ibunya dulu sampai empat puluh hari. Asisten rumah tangganya diajak sekalian untuk membantu mengasuh Reindra saat ditinggal bekerja.


(*****)


Satu minggu kemudian, dikantornya Gavin ada tawaran kerja sama dengan perusahaan dari Jepang. Ini sebuah prestasi yang signifikan selama kepemimpinannya. Pak Indra sangat bangga dengan Anaknya ini. Dia sangat ulet dalam bernegoisasi.


"Sayang, lusa aku berangkat ke Jepang guna visit Factory." ucap Gavin saat mau berangkat ke kantor.


"Berapa lama?" tanya Bu Ratih.


"Paling lama satu minggu" jawab Gavin.


"Ya sudah, berarti nggak lama. Nggak mau jauh-jauh sama suamiku." sahut Bu Ratih seraya mencubit hidung suaminya.


"Hmmm.., istriku sekarang genit, ya?" ucap Gavin.


Akhirnya mereka turun dan siap-siap sarapan. Setelah dimeja makan Gavin dan Bu Ratih hanya menyantap roti sama susu saja. Kemudian mereka berangkat beraktivitas.


Saat dikantor, Gavin sibuk menyiapkan data-data buat dibawah ke Jepang. Mudah-mudahan kerja sama kali ini membuat semakin sukses perusahaannya. Memang perusahaan Wijaya's Group adalah perusahaan yang bergerak dibidang Property terbesar di Indonesia.


Waktu dulu masih Pak Indra yang memimpin, semua pengusaha-pengusaha menjulukinya rajanya investor. Karena beliau terkenal dengan selalu menjadi investor perusahaan-perusahaan besar.


Sekarang perusaahaan Wijaya's group semakin melebarkan sayapnya untuk mencoba inovasi baru dengan menerima tawaran kerja sama dengan perusahaan dari jepang yang bergerak dibidang yang sama.


"Tok...tok..tok..." terdengar pintu diketuk.


"Silahkan masuk!" jawab Gavin dari dalam.


Terlihat Pak Galih masuk dengan membawa beberapa berkas.


"Silahkan duduk, Pak." titah Gavin.


"Makasih Pak..," jawabnya.


"Pak Galih, lusa kan kita berangkat ke Jepang untuk menghadiri undangan dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita, jadi data-data yang saya perlukan tolong Bapak siapkan." ucap Gavin.


"Baik, Pak. Ini sudah saya persiapkan sesuai dengan yang Pak Gavin minta." jawab Pak Galih sambil menyerahkan bebrapa berkas ke Gavin.


"Oke, terima kasih Pak Galih.!" jawab Gavin.


"Sama-sama, Pak." jawab Pak Galih.


"Ya sudah, kalau gitu Pak Galih bisa kembali keruangan" ucap Gavin.


Setelah Pak Galih kembali ke ruangannya, Gavin kembali berjibaku dengan berkas-berkasnya.

__ADS_1


Sampai nggak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul setelah dua belas siang.


"Ya ampun, sudah siang, ternyata!" gumamnya.


Gavin mengangkat gagang telpon untuk menelpon Pak Firman, minta tolong untuk dibelikan makan siang.


Tak lama kemudian masuklah Pak Firman.


"Pak, tolong saya dibelikan makan siang di kantin saja, biar Pak Firman nggak usah keluar.!" ucap Gavin.


"Baik, Pak.!" jawabnya.


"Oh iya, Pak Firman belum makan siang, kan?" tanya Gavin.


"Belum Pak." jawabnya.


"Ya sudah, beli dua, ya. Satunya buat Baoak." ucap Gavin.


"Tapi, saya sudah bawa bekal dari rumah, Pak." jawab Pak Firman.


"Ya sudah kalau gitu, tapi nanti makannya bareng saya disini, ya?" ucap Gavin.


"Baik Pak!" jawab Pak Firman.


"Pak, lusa saya pergi ke Jepang. Doakan lancar, ya. Supaya perusahaan ini bisa bertambah sukses." ucap Gavin.


"Oh iya, pasti itu, Pak. Saya selalu mendoakan supaya perusahaan ini selalu sukses dan jaya." jawab Pak Firman.


"Amin.,! makasih doanya, Pak." jawab Gavin.


Tak lama kemudian terdengar ponsel Pak Firman berdering. Kemudian dia berdiri untuk mengangkat telponnya. Pak Firman kelihatannya serius berbicara ditelpon. Setelah itu dia kembali menutup telponnya.


Gavin melihat Pak Firman yang sedikit bingung dan cemas. Pak Firman kemudian kembali ke tempat duduknya sambil melanjutkan makannya.


"Ada apa, Pak. Kok kelihatannya Pak Firman panik." tanya Gavin.


Pak Firman masih terdiam nggak berani menjawab pertanyaan Gavin. Bingung karena Kakaknya barusan telpon mengabari kalau Pak Hardi barusan dari rumahnya.


"Itu tadi Kakak saya yang telpon, Pak." jawab Pak Firman.


"Berarti Ibunya Kasih.?" tanya Gavin lagi.


"Iya, Pak. Dia bilang kalau Kasih belum di lamar juga sama pacarnya, dia yang akan melamar Kasih!" jawab Pak Firman.


"Apa.! Kasih mau dilamar orang?" tanya Gavin kaget.

__ADS_1


"Iya, Pak. Kenapa Pak. Kok Pak Gavin keliahatannya kaget." ucap Pak Firman.


"Oh nggak apa-apa, Pak." jawab Gavin.


"Saya bingung, Pak. Bagaimana lagi, saya kan sekarang pengganti Ayahnya jika Kasih ada masalah, Kakak saya selalu hubungi saya." ucap Pak Firman.


"Oh iya, emangnya ada masalah, apa? tanya Gavin.


"Kapan hari Kasih itu dilamar sama Pak Hardi, duda yang umurnya sudah tua. Dia pantas jadi ayahnya Kasih. Memang Kasih sempat bilang kalau dia sudah punya calon, makanya Pak Hardi itu mundur. Lah sampai sekarang Pak Hardi melihat kok Kasih belum nikah-nikah juga, makanya dia kembali menawarkan keinginannya untuk kembali mempersunting Kasih." jelas Pak Firman.


Gavin jadi curiga, waktu ditanyai dulu katanya dia belum punya pacar. Tapi, kenapa disaat dia mau dilamar orang bilangnya malah sudah punya calon. Apa ini hanya untuk menolak secara halus orang yang hendak melamarnya itu. Apa memang dia sudah pernah mempertimbangkan soal perjodohannya dengan dirinya.


"Kalau boleh saya tahu, apa Pak Firman tahu siapa calon yang dimaksud oleh Kasih.?" tanya Gavin.


Pak Firman diam dan menundukan kepalanya. Dia nggak berani menjawabnya. Gavin semakin curiga apakah Pak Firman sudah mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Jika memang yang dimaksud calon oleh Kasih adalah dirinya, kenapa waktu ditanyain dulu dia bilangnya belum siap. Batin Gavin.


"Pak Firman kan sudah dekat sama Papa dan saya, jika ada sesuatu, bilang saja Pak." ucap Gavin.


"Iya, Pak. Sebenarnya saya sudah tahu semua tentang Kasih dan Pak Gavin." jawabnya sambil menunduk.


"Astaga.,! jadi Pak Firman sudah tahu semuanya. Kenapa Pak Firman nggak bilang sama, saya?" tanya Gavin.


"Saya, nggak berani Pak. Soalnya saya dan Ibunya juga bingung. Karena Kakak saya takutnya kalau Kasih menolak lamaran orang, nantinya bakal sulit jodoh. Makanya setelah Ibunya bilang begitu, Kasih langsung bilang kalau Bu Ratih memintanya untuk menikah sama Pak Gavin. Dan Ibunya mengijinkannya." jelas Pak Firman.


Gavin menghela nafas dalam. Dia menakupkan kedua telapak tangannya kemukanya. Dia bergumam dalam hatinya kenapa jadi seperti ini. Jadi, Kasih mau dilamar duda tua. Gavin nggak habis pikir dengan semua ini. Dia bingung harus bagaimana.


Bu Ratih memang menginginkannya menikah dengan Kasih. Tapi, hati Gavin kadang belum bisa menerimanya, karena memang dia menganggap Kasih sebagai adiknya. Kalau dia mendengar kabar bahwa ada duda tua yang mau melamarnya dia jadi kasihan sama Kasih. Masa dia jadi istri aki-aki.


"Ya sudah, gini aja Pak. Bilang sama Ibunya Kasih. Untuk bersabar soal calonnya Kasih yang sampai sekarang belum melamarnya. Habis saya pulang dari Jepang, kita akan membahas masalah ini." tukas Gavin.


"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan. Maaf lho Pak, saya nggak bermaksud menyuruh Pak Gavin untuk segera menyelesaikan masalah ini. Karena saya sendiri juga bingung harus gimana" jawab Pak Firman.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Saya mengerti posisi Pak Firman." ucap Gavin.


"Kalau gitu, saya permisi dulu." ucap Pak Firman.


Akhirnya kini Gavin kembali sendirian. Dia sempat lupa soal masalah perjodohannya dengan Kasih. Tapi, kalau setelah mendengar alasan Kasih menolak lamaran duda tua itu, dia jadi merasa bersalah. Setidaknya keluarganya punya andil dalam hal ini, karena Bu Ratih yang menginginkannya untuk menikah dengan Gavin.


Gavin harus mencari tahu kenapa Kasih menolak saat ditanyain malam itu, padahal dia sendiri sudah mau dan Ibunya pun sudah mengijinkan. Apa karena dia takut sama Bu Hesty.


"Aku harus cari tahu kebenarannya.!" gumam Gavin.


----------------------------------


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2