BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
.SEASON DUA Part : 106 (Pergi ke taman)


__ADS_3

Pak Indra langsung beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan Bu Hesty masih tetap ditempatnya. Kini dia merasa tak berdaya dengan kemarahan suaminya. Baru kali ini dia melihat suaminya marah besar.


.


.


.


Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul satu siang. Hari ini terasa panas sekali. Suasana kampus juga begitu, panas dan cerah. Jadwal Bu Ratih tinggal satu kelas saja nanti jam setengah tiga. Kini dia lagi duduk di perpustakaan.


Dia masih memikirkan penolakan Kasih semalam. Mana mungkin dia nggak mau, secara dia itu penurut dan nggak neko-neko. Apa dia sudah punya kekasih, makanya dia nggak mau. Tapi, dia bukan bilang nggak mau, melainkan belum siap.


Bu Ratih masih bingung dengan masalah ini. Apa mungkin nanti suaminya akan disuruh menikah dengan Tiara. Nggak bisa bayangkan kalau semua itu terjadi. Tiara yang bar bar itu mau jadi Ibu dari anak-anak suaminya.


"Boleh ikut duduk disini?" ucap seseorang yang mendekati Bu Ratih.


Seketika Bu Ratih menoleh, ternyata Pak Reyhan. Tumben dia menyapa dan mau keluar ruangan. Biasanya dia selalu menghabiskan waktunya diruang Dosen.


"Oh, silahkan Pak.!" jawab Bu Ratih.


"Saya perhatikan, Bu Ratih tadi kok melamun. Kayak memikirkan sesuatu. Padahal saya udah dari tadi berdiri disitu." ucap Pak Reyhan.


"Oh iya, maaf Pak. Saya nggak tahu." ucap Bu Ratih.


"Iya, nggak apa-apa, Bu." jawab Pak Reyhan.


"Pak Reyhan masih ada kelas apa sudah habis?" tanya Bu Ratih.


"Masih ada nanti jam dua." jawabnya.


"Oh iya, Pak. Kalau Pak Reyhan pindah sini, berarti anak ikut Mamanya?" tanya Bu Ratih basa-basi.


"Saya belum punya anak, Bu." jawab Pak Reyhan singkat.


"Ma..maaf, Pak. Saya nggak tahu," jawab Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, Bu. Saya maklumi itu. Pasti orang nanya anak ikut siapa kalau sudah pisah gini." ucap Pak Reyhan.


"Iya juga, sih Pak. Saya ngerti perasaan Pak Reyhan." jawab Bu Ratih lirih.


"Memang saya yang bermasalah dalam soal anak. Saya divonis Dokter tidak bisa punya keturunan. Saya terpukul saat mengetahui hal itu. Tapi, mau gimana lagi, ini memang sudah takdir saya." jawab Pak Reyhan.


"Terus, sekarang mantan istri Pak Reyhan sudah menikah lagi?" tanya Bu Ratih.

__ADS_1


"Saya dengar kabar, sudah sebulan yang lalu mantan istri saya sudah menikah lagi. Mertua saya memang yang menginginkan keturunan, soalnya mantan istri saya tidak punya saudara. Dulu punya seorang adik laki-laki, tapi meninggal karena kecelakaan. Makanya itu mantan istri saya sekarang jadi anak tunggal. Mau nggak mau mereka menuntut soal anak pada istri saya biar silsilah keluarga tidak berhenti di istri saya. Karena Ayah mertua saya juga anak tunggal." jelas Pak Reyhan.


"Oh gitu, ya Pak.?" jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Setelah saya pikir, mendingan saya yang ngalah. Karena saya juga sadar diri. Kalau saya masih kekeh nggak mau pisah, berarti saya egois karena mementingkan perasaan saya saja. Maka dari itu, saya ikhlas melepaskan istri saya." terang Pak Reyhan.


Bu Ratih menunduk dan terdiam. Dia benar-benar nggak percaya dengan semua cerita Pak Reyhan. Kenapa begitu persis apa yang dialami Pak Reyhan sama dengan yang dia alami. Memang benar apa yang dikatakan Pak Reyhan. Jadi keputusannya kali ini nggak salah dan akan tetap dia laksanakan.


"Bu.., Bu Ratih.!" seru Pak Reyhan.


" Eh iya, maaf Pak." jawabnya.


"Bu Ratih kok melamun lagi. Kenapa?" tanya Pak Reyhan.


"Cerita Pak Reyhan sama persis dengan masalah yang saya hadapi. Cuma disini yang divonis tidak bisa punya anak itu saya. Dan saya juga mengijinkan suami saya untuk menikah lagi, asalkan calonnya saya yang pilihkan." jawab Bu Ratih.


"Apa.! jadi Bu Ratih juga mengalami hal yang sama. Sudah berapa tahun Bu Ratih menikah.?" tanya Pak Reyhan.


"Saya baru saja menikah, Pak. Baru setahunan. Awalnya saya sempat hamil dan kandungan saya lemah, lalu saya keguguran gara-gara habis jatuh ditoilet kampus ini. Setelah itu ada masalah dirahim saya yang mengharuskan rahim saya harus diangkat." jelas Bu Ratih.


"Memang kalau dipihak yang lemah itu susah, ya Bu. Saya juga begitu. Makanya saya dikampus ini banyak diam. Tapi, setelah saya pikir-pikir kalau saya berlarut-larut akan jadi apa hidup saya. Makanya sekarang saya mulai untuk bersosialisasi dan membaur dengan yang lainnya." jelas Pak Reyhan.


"Iya, Pak. Makanya itu, kita harus tetap menjalankan hidup. Dan tetap semangat." ucap Bu Ratih sambil tersenyum.


.


.


.


Sore harinya dia dijemput Gavin seperti biasa. Bu Ratih nggak ingin langsung pulang. Dia minta sama suaminya untuk mampir ke taman kota seperti dulu. Sudah lama mereka ngga mampir kesitu. Beli es teler kesukaannya.


Dengan senang hati Gavin menuruti keingnan istrinya itu. Dilajukannya mobilnya ke arah taman kota. Dilirik istrinya kelihatan senang sekali. Mungkin dia memang rindu sekali jalan-jalam berdua seperti saat pacaran dulu.


Setelah sampai ditaman. Mereka mencari tempat duduk. Setelah menemukan bangku yang dirasa nyaman, mereka akhirnya duduk. Tak lupa Gavin mendekati kedai es langganannya untuk memesan dua porsi.


Kemudian Gavin balik dengan membawa dua gelas es teler ditangannya. Bu Ratih dan Gavin menikmati es itu tanpa memikirkan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Canda tawa yang selama ini hampir nggak terlihat, kini sudah kembali dirasakan oleh mereka berdua.


"Sayang, kalau misal Kasih nanti tetap pada pendiriannya nggak mau menerima tawaranku, gimana?" tanya Bu Ratih.


"Aku sih nggak masalah. Malah enak kan, aku nggak jadi nikah.?" jawab Gavin.


"Kamu kok gitu, sih sayang. Kasihan Mama lho, dia kan pingin cucu dari kamu.?" ucap Bu Ratih.

__ADS_1


"Kamu ini kok masih mikirin Mama sih, Mama aja nggak pernah mikirin perasaan kamu. Dari awal kita mengalami musibah ini, aku sudah bilang kalau aku nggak akan mempermasalahkan soal anak. Kita bisa angkat anak.!" jawab Gavin.


"Bukan gitu, sayang. Itu semua kan aku lakukan buat kita semua. Aku juga sudah mikir segala konsekuensinya." ucap Bu Ratih.


Gavin nggak tega melihat istrinya yang begitu. Dengan mesranya dia lalu memeluk pundak istrinya untuk disandarkan dibahunya. Mereka akhirnya kembali bermesraan seperti sebelumnya. Gavin terus mengelus-elus pundak istrinya kemudian mencium ujung kepala Bu Ratih.


Tak terasa jam sudah menunjukan pukul enam sore. Gavin mengajak istrinya pulang karena hari semakin gelap. Kemudian mereka kembali kerumah.


Sesampainya dirumah, Gavin dan Bu Ratih langsung masuk kamar. Kasih sudah menyiapkan semua keperluan majikannya itu. Dari baju, handuk buat mandi, serta obat dan vitamin yang harus diminum. Setiap sore sebelum Bu Ratih pulang, Kasih sudah rutin melakukan hal itu.


"Kasih, kamu dipanggil istri saya." ucap Gavin ketika melihat Kasih di dapur.


"Baik, Pak.!" jawabnya singkat.


Kemudian dia langsung menuju kamar Bu ratih. Gavin duduk diruang tengah sambil nonton TV. Tak lama kemudian Papanya keluar dari kamarnya.


"Kok baru pulang, Vin.?" tanya Pak Indra.


"Iya, Pa. Ratih tadi minta ditemani ke taman kota bentar. Sudah lama tak kita nggak kesana." jawab Gavin.


"Nggak apa-apa, Vin. Itu memang yang harus kamu lakukan. Sering menyenangkan dan menghibur dia. Kasihan istrimu itu." ucap Pak Indra.


Disaat mereka lagi ngobrol-ngobrol, terdengar bel diluar. Ada tamu mungkin. Dengan sedikit berlari, Bibi keluar membukakan pintunya.


"Maaf, Pak Indranya ada?" tanya orang itu.


" Iya, ada. Kalau boleh tahu dengan Bapak siapa, ya?" tanya Bibi.


"Bilang saja saya temannya dari jaman kuliah. Beliau pasti sudah tahu." jawab orang itu.


"Baiklah, Pak. Silahkan tunggu sebentar. Biar saya panggilkan.!" ucap Bibi.


Kemudian Bibi kembali kedalam untuk memberitahukan pada majikannya.


"Maaf, Pak. Ada yang mencari Pak Indra." ucap Bibi.


"Siapa Bi.?" tanyanya lagi.


"Katanya teman Bapak jaman kuliah." jawab Bibi.


"Siapa, ya?" Gumamnya lirih.


---------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2