BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part :79 (Paskah keguguran)


__ADS_3

Bu Ratih berteriak sangat histeris, dia terus memukuli tempat tidur itu dengan tangannya. Gavin yang mendapati istrinya yang jadi histeris langsung saja memeluknya dan mencoba menenangkannya.


"Sayang, sudah ya. Kamu yang sabar, pasti dibalik ini semua ada hikmahnya." ucap Gavin sambil memegangi tangan istrinya itu.


"Iya, Nak. Kamu harus kuat, ya. Mudah-mudahan Tuhan menggantinya yang lebih." kini Mamanya berucap.


Gavin seketika langsung memeluk istrinya dengan mesra. Bu Ratih masih menangis dalam pelukan suaminya.


"Tapi, aku kehilangan anakku. Aku sangat mengharapkan dia hadir dalam hidupku." ucapan Bu Ratih semakin membuat Gavin dan Bu Rahma tak bisa membendung air matanya.


"Iya, sayang. Bukan kamu saja yang mengharapkan kehadirannya. Kita semua satu keluarga juga mengharapkan kehadirannya. Tapi, mau gimana lagi, Tuhan berkehendak lain. Kita harus ihklaskan, sayang." tukas Gavin.


Bu Ratih kini terasa lebih tenang. Dia membaringkan tubuhnya lagi ke tempat tidur, yang sebelumnya dia terduduk.


"Sayang, kamu mau minum?" tanya Gavin.


"Iya, aku haus." jawab Bu Ratih.


Kemudian Gavin memberikan minuman ke istrinya. Setelah itu dikembalikannya minuman itu. Gavin mengelus wajah istrinya itu dengan lembut.


Sampai-sampai tak terasa Bu Ratih tertidur juga. Gavin duduk disamping istrinya dengan kepalanya disandarkan ditempat tidur. Bu Rahma tidur disofa. Mereka mungkin kecapekan karena seharian mengurus dan menunggui Bu Ratih.


(****)


Keesokan harinya, siang hari. Dokter datang mengecek keadaan Bu Ratih. Kini dia hanya ditemani Mamanya saja. Gavin pulang kerumah untuk mandi dan berganti pakaian. Dia absen ke kantor karena mengurusi istrinya.


"Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Bu Rahma.


"Sudah tidak ada yang dikawatirkan. Tapi, setelah ini pasien harus bedrest. Karena habis quret membutuhkan banyak istirahat dan nggak boleh capek." terang Dokter.


"Iya, Dok. Makasih..," ucap Bu Rahma.


"Obat yang kemarin harus rutin diminum, ya Bu?" ucap Dokter.


"Iya, Dok. Sudah saya berikan, kok." jawab Bu Rahma lagi.


"Ya sudah, saya permisi dulu. Semoga lekas sembuh." tukas Dokter itu sambil meninggalkan ruangan itu.


Bu Ratih melihat ke arah Mamanya. Bu Rahma tersenyum dan memegangi tangan putrinya itu.


"Sayang, berarti kamu harus minta cuti dari kampus. Dokter bilang kamu harus istirahat total." ucap Mamanya.


"Iya, Ma. Nanti saya pasti minta ijin cuti." jawab Bu Ratih.


"Rencananya kamu nanti tetap pulang ke Mertua kamu, kan? tanya Bu Rahma.


" Iya, Ma. Nanti Ratih tetap ke rumah Gavin aja. Kalau pulang kerumah, kasihan Mama, nanti merawat Ratih dan belum lagi anak Mas Bagas bentar lagi lahir." ucap Bu Ratih.


"Iya, Nak. Tapi, Mas mu bilang tetap akan menyewa asisten rumah tangga buat bantu Mama." jawab Bu Rahma.


"Gavin nanti pasti juga akan menyewa asisten buat merawat Ratih." jawab Bu Ratih.

__ADS_1


Ketika mereka sedang ngobrol-ngobrol, datangah Gavin dengan membawa banyak makanan. Ada buah-buahan dan camilan lainnya.


"Sayang, ini aku belikan makanan dan buah-buahan. Mama juga makan dulu, Gavin sudah belikan sekalian." tukas Gavin.


"Makasih, sayang. Kamu memang suami yang baik." jawab Bu Ratih.


"Iya, Nak. Makasih..," jawab Bu Rahma.


Gavin membantu mengupas buah untuk istrinya, sedangkan Bu Rahma sendiri sedan menikmati makanan yang belikan Gavin.


"Sayang, kata Dokter, setelah ini aku harus bedrest." ucap Bu Ratih disela-sela makan buah.


"Berarti kamu harus mengajukan cuti.?" jawab Gavin.


"Iya, nanti aku ambil cuti." jawab Bu Ratih.


"Sayang, aku boleh minta sesuatu, nggak?" ucap Bu Ratih.


"Iya, boleh. Kamu mau minta apa?" tanya Gavin sambil mengusap kening istrinya.


"Besok kalau pulang dari sini, aku mau kamu sewa asisten buatku, ya. Aku malu kalau nanti dirawat sama Mama kamu." ucap Bu Ratih lirih.


"Ya ampun sayang, aku kira apa. Tentu lah itu, aku memang sudah berencana buat kasih kamu asisten dirumah, malah sejak awal kamu hamil dulu. Tapi, aku urungkan lantaran masih kecil." jawab Gavin.


Bu Ratih mukanya tiba-tiba berubah. Kini jadi muram dan meneteskan air matanya.


"Tapi, sekarang aku sudah tidak hamil lagi." ucapnya sambil menangis.


"Sabar, ya sayang. Kamu harus kuat." ucap Gavin menghibur.


"Iya, sayang. Maafin aku, yang nggak bisa menjaga anak kita." ucap Bu Ratih.


"Ssstt.,! kamu nggak boleh bicara seperti itu. Semua sudah jadi kehendakNya." jawab Gavin sembari merapikan anak rambut yang menjuntai didahi istrinya.


"Makasih sayang..," jawab Bu Ratih.


Gavin dengan telaten merawat istrinya. Dia benar-benar menjadi suami idaman. Saking sayangnya sama istrinya, sampai-sampai dia rela meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu demi menunggui istrinya dirumah sakit.


Kata Dokter, besok sudah boleh pulang. Jadi besok Gavin harus siapkan orang untuk menjadi asisten istrinya dirumah.


(***)


Keesokan harinya, Pagi-pagi Gavin sudah berangkat ke rumah sakit. Kemarin dia nggak ikut jagain istrinya karena tiba-tiba perutnya sakit. Mungkin asam lambungnya naik.


Setibanya dirumah sakit, dia menanyakan kira-kira jam berapa istrinya sudah boleh dibawa pulang. Dia menuju kasir untuk mengurus segala administrasinya. Biar nanti tidak lagi bingung urus dan tinggal pulang aja.


"Sayang, hari ini aku ke kantor bentar, ya. Karena banyak yang harus aku tanda tangani. Semua sudah beres, nanti kalau Dokter sudah mengizinkan pulang, kamu tinggal tepon aku." jelas Gavin sesampainya dikamar.


"Iya, sayang. Kamu hati-hati, ya?" jawab Bu Ratih.


"Okey, sayang." ucap Gavin sambil mengecup kening istrinya kemudian keluar.

__ADS_1


Gavin menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Kini dia melajukan mobilnya menuju kantor. Dalam hatinya masih sedih, karena baru saja kehilangan calon anaknya. Tapi, dia harus ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan ini.


Setibanya dikantor, dia berjalan menuju ruangannya yang ada di lantai tiga. Dia menuju lift. Matanya menatap Kasih yang juga berjalan menuju lift dimana dia juga mau masuk.


Kasih membungkukan badannya dan tersenyum kearah Gavin. Begitupun juga Gavin, dia membalas senyuman Kasih. Kemudian masuklah mereka ke lift menuju lantai atas.


Didalam lift Kasih banyak diam dan tertunduk dan nggak berani menatap Gavin. Tapi, tidak dengan Gavin. Dia memandangi Kasih dengan tatapan yang tidak biasa.


Tersirat dalam benaknya untuk menjadikannya asisten istrinya. Dari pada dia mencari orang baru, kalau belum begitu kenal kan bahaya juga. Kalau, Kasih kan dia sudah kenal, istrinya juga begitu. Kasih gadis yang baik dan santun.


Kasih jadi jengah karena atasannya itu dari tadi menlihatinya. Dia takut kalau nantinya perasaan itu tiba-tiba muncul. Perasaan yang selama ini sudah ia kubur dalam-dalam.


Akhirnya sampai juga dilantai tiga. Gavin keluar kemudian diikuti Kasih. Arah jalan mereka berbeda. Tapi, tiba-tiba Gavin memanggil Kasih.


"Oh iya, Kasih.! habis ini kamu ke ruangan, saya.!" seru Gavin.


"Baik, Pak." jawab Kasih.


Kemudian Gavin kembali berjalan menuju ruangannya. Dilihatnya Bu Yolanda sudah duduk dimejanya. Belum tahu kapan Pak Bima akan memindahkan dia. Tapi, bagi Gavin. Ada atau tidak ada dia juga nggak ngaruh.


Dia duduk dikursinya seperti biasa. Kemudian tak lama lagi terdengar pintu diketuk. Gavin menyautnya dari dalam. Lalu pintu terbuka dan Kasih, ternyata.


"Silahkan duduk, Sih.!" ucap Gavin


"Iya, Pak. Terima kasih." jawab Kasih sambil dia mendaratkan tubuhnya dikursi.


Kini mereka saling berhadapan. Gavin memandangi Kasih yang dari tadi diam.


"Kasih, saya langsung ke inti permasalahannya saja, ya?" ucap Gavin.


"Iya, Pak. Ada apa, ya?" tanya Kasih.


"Begini, istri saya kan baru saja mengalami keguguran, dan harus istirahat total." ucap Gavin pelan.


Kasih kaget mendengar apa yang diucapkan atasannya barusan. Istrinya mengalami keguguran. Seketika tanpa sadar Kasih langsung memegang tangan Gavin.


"Ya Allah, Pak. Saya ikut prihatin, ya. Saya nggak tahu kalau istri Pak Gavin habis keguguran. Yang sabar, ya Pak.!" ucap Kasih dengan tatapan iba.


Gavin menoleh kearah tangan Kasih yang kini menempel diatas tangannya. Saat Kasih tersadar buru-buru dia melepaskannya, dan wajahnya terlihat memerah. Gavin hanya tersenyum.


"Maafin saya, Pak. Saya reflek karena telah mendengar kabar itu." ucap Kasih sambil menunduk.


"Iya, nggak apa-apa. Saya sekarang butuh bantuan, kamu." ucap Gavin.


"Iya, Pak. Apa yang bisa saya bantu.?" tanya Kasih.


"Maukah kamu tinggal dirumahku untuk menjaga dan merawat istriku.?" tanya Gavin seraya wajahnya yang terlihat memohon.


-----------------------------------


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2