BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Part : 25 (Irene)


__ADS_3

...............................


Irene terlihat tegang disaat Bagas menanyakan ada hubungan apa dengan Pak Ferry. Mukanya sedikit memerah dan


menahan sesuatu.


"Halo., malah bengong.!" tangan Bagas digoyang-goyangkan dimuka Irene. Dia langsung menunduk.


"Maaf, Gas. Aku kerja dengan Pak Ferry. Baru dua bulan aku bergabung dengan perusahaannya." jawab Irene datar.


"Oh.. jadi tadi kamu itu ketemu klien juga bareng-bareng dengan dia.?" Tanya Bagas.


"Tidak, kebetulan Pak Ferry tadi searah, jadi aku dijemput setelah ketemu klien." jawabnya.


Bagas hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Irene.


"Oh ya, tadi sudah aku pesenkan makanan, bentar lagi mungkin sudah selesai.


"Makasih Gas...," ucapnya.


"Ren, bolehkah aku tanya sesuatu sama kamu?" ucap Bagas.


"Tanya apa, Gas?" sahut Irene.


"Beneran kamu nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Ferry maulana.?"


Pertanyaan Bagas membuat muka Irene menjadi merah lagi. Mungkin nahan malu, atau marah.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, aku ti kan sudah bilang kalau Pak Ferry itu hanya Boss aku.! nggak lebih.!" jawabnya ketus.


"Iya, maaf. Soalnya tadi aku sempet liat kamu cipika-cipiki sama dia.?" tanya Bagas lagi.


"Ya.. iya itu hanya sekedar salam biasa." jawab Irene setengah terbata.


"Maksud aku, jika memang kamu nggak ada hubungan apa-apa dengan Pak Ferry, aku ingin mengenalmu lebih jauh." ucap Bagas sambil memandang Irene dengan tatapan yang serius.


Irene sontak membelalakan matanya tanda nggak percaya. Dalam hati dia sangat seneng sekali karena ada laki-laki yang mau mendekatinya. Tapi, sisi lain. Dia masih ada kesepakatan dengan Pak Ferry untuk mendekati Gavindra guna persoalan Bisnis. Cuma dia masih bingung. Kalau dia berhenti di tengah jalan, maka nasib ibunya yang sedang sakit jadi taruhannya. Ibunya sakit dan harus jalani kemoterapi. Dan semua biaya-biaya ditanggung Pak Ferry asalkan dia berhasil mendapatkan Gavin.


"Hallo. kok bengong sih.!" ucap Bagas sambil menjentikan jarinya ke muka Irene.


"Maaf, Gas. Untuk saat ini kita jalani aja pertemanan kita seperti ini. Untuk lebih jauh mungkin belum." jawab Irene.


"Kenapa, Ren? apa aku terlalu tua dimatamu sehingga kamu malu jika aku ingin mengenalmu lebih.?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Enggak, Gas. Kamu baik dan masih keliatan muda kok, meskipun usia kita terpaut jauh. Bukan masalah itu, tapi memang aku belum siap aja menjalin hubungan yang lebih sama seseorang." jawabnya lagi.


"Okelah kalau begitu. Aku nggak maksa. Tapi aku masih boleh ngajak kamu makan atau jalan gitu?" tanya Bagas.


"Boleh dong," jawabnya.


"Gitu dong ceria lagi, kalau cemberut jadi nggak Irene lucu n' imut." ucap Bagas.


Irene tersenyum sambil melihat Bagas. Makananpun datang, kemudian mereka menikmati makanan itu.


"Oh ya, kamu rekan bisnisnya Pak Indra kah? kok waktu itu kamu juga ada di acara nikahannya anknya.?" tanya Irene.


"Iya, aku lagi ada proyek dengan perusahaan Pak Indra." jawab bagas.


"Oh ya, Gas. Anak Pak Indra itu ada dua kan? yang satunya itu namanya siapa ya, aku lupa." ucap Irene.


"Oh. Gavindra. Kenapa emang?"tanya Bagas.


"Nggak apa-apa, dia ganteng. Bakal jadi penerus Pak Indra." jawab Irene.


Bagas semakin yakin kalau memang Pak Ferry dan Irene pynya maksud tertentu.


"Terus, kalau memang dia bakal jadi pewaris, kenapa?" tanya Bagas.


"Oh begitu..!"


"Bentar, aku permisi ke toilet sebentar." ucap Irene.


"Silahkan..." jawab Bagas.


Irene menunggalkan Bagas sendirian. Tiba-tiba ponsel Irene berdering yang ketinggalan diatas meja. Terlihat ada nama My Boss. Siapa. Apa itu Pak Ferry. Bagas semakun penasaran. Dibiarkannya ponsel itu berbunyi sampai akhirnya mati sendiri.


"Maaf, nunggu jadi nunggu." ucap Irene setibanya dimeja.


"Iya, nggak apa-apa." jawab Bagas.


Terlihat Irene membuka ponselnya, kemudian wajahnya menjadi kesal.


Ada apa dengan gadis ini. Mukanya terlihat tertekan.


"Ren, kalau kamu ada masalah. Cerita saja sama aku." ucap Bagas.


Gadis itu kembali menatap Bagas. Wajahnya yang lucu dan imut jadi keliatan jutek kalau lagi merengut.

__ADS_1


"Aku bingung, Gas.! dilema." ucap Irene.


"Bingung kenapa, cerita dong." jawab bagas.


"Gas, kamu tahu Pak Ferry maulana, dia Boss sekaligus orang terdekatku. Dia memang Boss tapi dia juga selama ini berjasa di keluargaku. Aku terjebak dalam situasi yang sulit. Ibuku sakit keras dan perlu kemoterapi. Pak Ferry menawarkan sesuatu. Dia akan menanggung semua biaya perawatan Ibuku, asalkan aku mau melakukan yang disuruh Pak Ferry. Contohnya yaitu aku harus menjadi simpanannya sekaligus orang kepercayaannya. Aku disuruh untuk mendekati Gavindra anak Pak Indra. Mungkin untuk maksud tertentu. Misal Gavin sudah jatuh kepelukannku maka dia akan memanfaatkanku supaya menguras semua harta Pak Indra." jelas Irene dengan mata berkaca-kaca.


"Astaghfirulloh Ren.! posisi kamu begitu sulit. Tapi kalau bisa jangan lanjutin lagi, karena ini sudah termasuk kriminal.


Tindakanmu misal berhasil itu akan merugikan orang lain. Hentikan sebelum kamu menyesal, Ren!" tukas Bagas.


"Aku bingung, Gas. Yang aku fikirkan saat menerima tawaran itu hanyalah nyawa Ibuku." ucap Irene.


"Iya, aku faham dan mengerti posisimu. Aku bisa membantumu keluar dari jeratan Pak Ferry. Asalkan kamu berjanji tidak akan bilang sama Pak Ferry kalau aku yang bantu kamu. Coba fikirkan lagi tawaranku." ucap Bagas serius.


"Tapi, Gas. Kamu belum tahu siapa Pak Ferry. Dia akan melakukan apa saja guna mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Kita Bismillah aja, jika niat kita baik pasti Tuhan merestui." jawab Bagas.


"Caranya gimana, Gas.?" tanya Irene.


"Mulai sekarang, semua pembicaraan kamu dengannya harus kamu rekam.


Apapun itu yang ada hubungannya dengan rencana busuknya." terang Bagas.


"Baik, Gas. Akan kuusahakan." jawab Irene.


"Harus bisa. Demi masa depanmu dan Kesehatan Ibumu." sahut Bagas sambil memegang tangan Irene.


Bagas tanpa sadar menggenggam tangan Irene sekuat mungkin. Irene jadi malu dengan apa yang diperbuat Bagas.


Mukanya merah menahan malu. Ketika Bagas menyadari apa yang dia lakukan, spotan saja melepaskan tangan Irene.


"Maaf, Ren. Aku nggak sengaja. Karena aku antusias untuk membantumu." ucap Bagas.


"Nggak apa-apa, Gas." jawab Irene.


Akhirnya mereka sepakat pulang. Bagas mengantar Irene kembali ke kantor Pak Ferry. Setelah itu dia langsung ke kantornya lagi. Bagas akhirnya lega telah bicara seperti itu sama Irene. Apa yang dipikirkan dua hari ini bener kalau Pak Ferry itu memang punya tujuan nggak baik.


Makanya waktu dia ketemu kali pertama di wedding Mahen, bilang kalau dia harus bener-bener menjaga hubungan Adiknya dengan Gavindra, kalau lengah bakal ada yang menyerobot. apa mungkin memyerobot yang dia maksud adalah si Irene, yang notabene adalah bonekanya untuk menghancurkan bisnis Pak Indra.


Langkah yang harus dilakukan Bagas saat ini adalah menemui Pak Indra, guna memberi tahu masalah ini. Dalam diri Bagas pokonya dia harus membantu Pak Indra.


Next............(26).

__ADS_1


__ADS_2