
Sore ini, semua keluarga Gavin lagi dirumah. Moment ini akan digunakan oleh Raka untuk mengobati rasa penasarannya soal kejadian di rumah sakit tempo hari.
Gavin dan Bu Ratih lagi duduk diruang tengah, sedangkan Cantik juga nggak ketinggalan ikutan bergabung dengan Papa Mamanya.
"Kak, kenapa muka kamu cemberut gitu?" tanya Bu Ratih.
"Capek, Ma. Tugas di kampus banyak banget." jawab Raka sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
"Eh, nggak boleh mengeluh, gitu. Tugas mahasiswa memang gitu, Nak. Apalagi kamu sudah mendekati semester akhir." jawab Bu Ratih sambil mengelus rambut anak laki-lakinya itu.
"Iya, Kak. Tuh dengerin apa kata Bu Dosen Cantik." sahut Gavin sambil matanya tetap fokus sama ponselnya.
"Hmmm, Papa mesti gitu deh." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, Pa. Raka mau tanya. Sebenarnya ada hubungan apa Papa sama Bundanya Gazi." pertanyaan Raka kini membuat Bu Ratih dan Gavin kaget.
"Maksudnya, Kak?" tanya Gavin pura-pura nggak ngerti.
"Ya kejadian di rumah sakit tempo hari. Raka masih penasaran saja. Kok Ayahnya Gazi bicaranya begitu. Seolah Papa sama dia saling sindir. Raka sebenarnya mau menanyakan hal ini dari kemarin, tapi takut situasinya nggak pas." ucap Raka sambil memandang kearah Gavin dan Bu Ratih.
Gavin dan Bu Ratih saling pandang. Mereka mungkin juga bingung mau bicara apa. Tapi, sebenarnya mereka semalam sempat membahas ini kali aja sewaktu-waktu Raka menanyakan hal ini.
"Kak. Mama sama Papa bisa saja menjelaskan sama kamu. Tapi, Kamu janji sama Papa dan Mama kalau setelah mendengarkan cerita ini tidak boleh marah. Baik sama Papa maupun Tante Kasih." ucap Bu Ratih dengan pelan.
"Kenapa Raka harus marah, Ma?" tanya Raka bingung.
"Ya mungkin saja setelah kamu mendengarkan penjelasan ini, kamu akan menyalahkan salah satu fihak, gitu." jawab Bu Ratih.
"Kalau memang permasalahannya tidak mengada-ada dan alasannya bisa diterima dengan akal sehat mungkin nggak akan marah. Ngapain marah, Ma.!" jawab Raka.
"Pa, Mama yang cerita atau Papa sendiri yang cerita?" tanya Bu Ratih.
"Mama sendiri aja yang cerita."
Bu Ratih kemudian mengangguk pelan sambil tersenyum. "Baiklah, Mama yang akan cerita."
__ADS_1
"Sebenarnya ini mau cerita apa, sih?" sahut Cantik.
"Sssttt,! diam dulu, Dek. Mama mau bicara." ucap Raka sambil menutup bibirnya dengan jari.
"Mungkin saat ini waktunya kalian untuk mengetahui semua yang sebenarnya. Tante Kasih itu dulunya istri kedua Papa kalian. Lalu mereka bercerai. Tapi, sebelum bercerai ternyata Tante Kasih itu mengandung dan anak itu adalah Gazi." ucap Bu Ratih.
Raka dan Cantik saling pandang. Mereka tidak menyangka kalau Gazi yang selama ini menjadi teman Raka adalah saudara mereka.
"Kok istri kedua? Terus, kenapa Papa dan Tante Kasih bercerai." tanya Raka.
Bu Ratih menghela nafas panjang, kemudian dia melanjutkan kalimatnya. "Iya, karena istri Pertama Papa adalah Mama."
"Mama kok mau kalau Papa nikah lagi.?" kini si bungsu Cantik menyaut.
"Mama yang menyuruh Papa untuk nikah lagi." jawab Bu Ratih dengan senyum.
"Kok gitu, sih Ma. Kebanyakan para istri marah kalau suaminya nikah lagi. Tapi, ini Mama malah menyuruh nikah lagi." sahut Raka.
"Kak, Mama melakukan itu karena ada alasannya." jawab Bu Ratih.
"Memang kenapa, Ma?" kini Cantik ikut nimpali pertanyaan.
"Ya begitulah ceritanya, Nak." ucap Bu Ratih sembari menatap kedua anaknya.
Raka dan Cantik yang melihat Mamanya seperti itu mereka langsung memeluk Mamanya dengan hangat. Tangis mereka akhirnya pecah. Tangan Bu Ratih memeluk kedua anaknya. Yang kiri memeluk Cantik, sedangkan tangan kanan dia memeluk Raka.
Gavin yang melihat istri dan anak-anaknya seperti itu. Dia kemudian merangkul dari depan, dan kini mereka berempat saling peluk dan berurai air mata.
Bu Ratih tak henti-hentinya menciumi kening kedua anaknya. Dia begitu menyayangi kedua anaknya itu meskipun keduanya tidak lahir dari rahimnya. Begitu juga sebaliknya, Raka dan Cantik bergantian menciumi pipi Mamanya. Setelah itu mereka juga nggak lupa menciumi tangan Mamanya.
"Sudah-sudah, Mama ngerti kok, kalian begitu menyayangi Mama. Begitu juga Mama, sangat sayang sama kalian berdua." ucap Bu Ratih sambil menatap secara bergantian ke Raka dan Cantik.
"Ma, meskipun Mama bukan Mama yang melahirkan kami berdua, tapi bagi kami adalah tetap Mama yang terbaik." ucap Raka.
"Iya, Ma. Cantik juga. Meskipun Cantik anak angkat, Mama. Cantik nggak marah dan kecewa, kok. Karena kasih sayang Mama dan Papa yang selama ini berikan ke Cantik sudah cukup dan seperti orang tua kandung Cantik." sahut Cantik.
__ADS_1
"Makasih, ya Nak. Kalian berdua harta paling berharga buat Mama." jawab Bu Ratih sambil menyentuh pipi kedua anaknya.
"Oh iya, Kak. Meskipun demikian, kamu tetap harus hormat sama Bunda Kasih. Gazi itu saudara kandung kamu." sahut Gavin.
"Iya, Pa. Makanya sejak pertama kali ketemu sama Gazi, Raka kayak sepertinya dekat. Apa mungkin karena hubungan darah kami, ya?" jawab Raka.
"Iya, mungkin juga Nak." jawab Bu Ratih.
"Ma, kira-kira Ibu Cantik sekarang dimana, ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Mama juga nggak tahu, Nak. Apa kamu pingin ketemu?" tanya Bu Ratih balik.
"Enggak, kok Ma. Kan nggak tahu sekarang dimana." jawabnya.
"Sekarang Mama tanya sekali lagi sama kalian. Apa kalian masih sayang seperti sebelumnya meskipun sekarang kalian sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Bu Ratih.
"Ya tetap dong, Ma. Cantik kan anak Mama. Kalau nggak sayang, lalu Cantik sama siapa" jawab Cantik sambil memeluk Bu Ratih.
"Raka juga lah, Ma. Kan dari kecil Mama yang merawat Raka. Sekarang Mama nggak usah punya pikiran kalau kita bakalan nggak sayang, justru malah sebaliknya, Ma. Kami berdua bertambah sayang sama Mama." kini Raka ikut memberikan jawabannya.
"Baiklah kalau begitu, gimana kalau sekarang Mama masakin capcay dan udang tepung kesukaan kalian?" seru Bu Ratih bersemangat.
"Iya, Ma." ucap Raka.
"Cantik setuju, kita makan malam itu saja." ucapnya.
"Papa juga setuju. Kita nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Kita harus menatap kedepan dengan semangat dan senyuman." ucap Gavin.
"Baiklah, ayo Cantik. Anak Mama yang satu ini bantuin Mama di dapur. Biar nanti kalau sudah dewasa dan menikah, bisa masak buat suami." ucap Bu Ratih.
"Ish, Mama. Kok mikirnya jauh gitu. Masih lama, Ma." jawab Cantik sambil menekuk wajahnya.
Gavin melihat pemandangan seperti itu langsung tersenyum dan bahagia.
"Aku bangga sama kamu, sayang. Bisa membuat kedua anak itu merasa nyaman dan senang. Itu semua buah dari keikhlasan dan kesabaranmu selama ini dalam mengurus anak-anak. Makasih telah menjadi istri dan Ibu buat aku dan anak-anak." ucap Gavin dalam hati.
__ADS_1
-------------------------------
Bersambung...