BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Part : 44 (Makan malam)


__ADS_3

..............................


Bu Ratih seketika keluar dari mobil Seno. Lalu menuju mobil warna hitam yang sudah terparkir diujung. Lalu keluarlah laki-laki dan membukakan pintu mobil buat Bu Ratih.


"Kita, langsung pulang, Non?" tanya sopir itu.


"Iya, Pak. Antarkan saya pulang." jawab Bu Ratih.


Didalam mobil Bu Ratih masih memikirkan kejadian barusan. Kenapa Seno berubah seperti itu, dari segi fisik dia kini agak gemukan dan pake kumis. Keliatan kayak bapak-bapak banget.


Sedangkan sikap dia jadi berubah. Apa memamg dia bener-bener berubah, atau bohongan. Bu Ratih kali ini harus bener-bener waspada. Dia harus menceritakan sama Kakaknya. Dilihatnya cincin yang melingkar dijari manisnya.


Dalam hati dia bergumam, Vin. Aku sudah nggak sabar nunggu hari pernikahan kita. Aku ingin selalu dekat denganmu. Bu Ratih tersenyum sendiri. Sampailah dia dirumahnya.


Setelah dia turun dari mobil, kemudian melangkah menuju rumahnya. Sedangkan mobil yang mengantarnya langsung balik. Orang itu memang sengaja dibayar Gavin untuk antar jemput Bu Ratih beraktivitas. Bu Ratih melangkah gontai seakan tak bertenaga.


"Tih, kamu kenapa?" tanya Bu Rahma.


"Ratih, nggak apa-apa, Ma. Cuma agak pusing aja." jawab Bu Ratih.


"Sini, duduk dulu sama Mama." ucap Bu Rahma.


Bu Ratih mendekati Mamanya yang duduk diruang tengah.


"Kamu, jujur aja, ada apa?" tanya Mamanya.


"Ma., Seno tadi nemuin Ratih, di kampus.!" ucap Bu Ratih.


"Apa,! Seno? bukannya dia dipenjara, Nak?" tanya Bu Rahma.


"Iya, Ma. Dia dapat penangguhan dan wajib lapor. Dia nemuin Ratih di kampus hanya untuk minta maaf. Dia berubah banget, Ma. Lebih gemukan, dan kumisan. Sikapnya juga gitu, lebih kalem dan nggak marah-marah seperti dulu." terang Bu Ratih.


"Tapi, kamu nggak diapa-apain, kan?" tanya Bu Rahma.


"Enggak, Ma. Dia bilang kalau memang Ratih lebih bahagia dengan Gavin, dia ikut bahagia." ucap Bu Ratih.


"Syukurlah, kalau dia sekarang sudah sadar." jawab Bu Rahma.


"Iya, Ma. Ratih rasa, kalau Seno sekarang sudah banyak berubah." ucap Bu Ratih.


"Kamu, sudah bilang sama Mas mu?" tanya Bu Rahma.


"Belum, Ma. Mas Bagas emang sudah pulang?" tanya Bu Ratih balik.


"Belum, kali aja tadi kamu langsung telfon Mas mu." ucap Bu Rahma.


"Nanti aja, Ma. Kalau Mas Bagas sudah pulang. Ratih ke atas dulu, ya Ma?" ucap Bu Ratih.


"Iya, sayang." jawab Bu Rahma.


Bu Ratih melangkah ke kamarnya. Direbahkannya tubuhnya diatas Ranjang. Dia masih kepikiran soal Seno. Dalam hati Bu Ratih ada rasa kawatir dan ketakutan. Cuma Gavin pernah bilang kalau di harus tetap kuat dan tegar. Tidak boleh lemah dan harus percaya diri.


"Tok...tok....tok...." terdengar pintu diketuk.


"Masuk.," jawab Bu Ratih.

__ADS_1


"Mbak, nanti jam tujuh kita diundang makan malam Pak Indra. Barusan Bu hesty telfon Mama." ucap Winda dari balik pintu.


"Iya, mbak mau rebahan bentar." sahut Bu Ratih.


"Iya, Mbak." jawab Winda.


Bu Ratih masih malas-malasan diatas tempat tidur. Tumben Pak Indra mengundang malam malam.


.


Jam setengah tujuh semuanya sudah siap. Bagas dan istrinya, Winda serta Mamanya sudah ngumpul di teras. Tinggal Bu Ratih saja. Selang beberapa menit kemudian, Bu Ratih keluar.


"Sudah siap, semua?" seru Bagas.


"Sudah," jawab Bu Ratih.


Bagas membuka mobilnya, Irene duduk didepan sama Bagas. Sedangkan Bu Ratih ditengah sama Mama dam Winda. Mereka kemudian pergi menuju ke rumah Pak Indra.


Sesampainya dirumah Pak Indra mereka disambut dengan ramah. Semua kumpul kecuali Gavin yang sedang ada kerjaan di Bandung.


"Nak, Ratih. Untuk acara pernikahan kalian nanti, Papa akan selenggarakan di hotel teman Papa." ucap Pak Indra.


"Iya, Pa. Ratih ngikut saja." jawab Bu Ratih.


"Kamu, boleh undang siapa saja teman-teman kamu. Bu Rahma juga, undang semua keluarga dan kolega-kolega Bagas juga undang semua. Karena saya mau adakan secara meriah." tukas Pak Indra.


"Iya, Pak. Rekan bisnis saya hanya beberapa saja, kok Pak." sahut Bagas.


"Persiapkan secara matang, bagi tugas agar bisa tercover dengan baik. Nanti kita adakan meeting buat pembentukan panitia." ucap Pak Indra.


"Tapi, kita tetap pakai WO kan, Pa?" tanya Mahen.


Mereka menikmati makan malam yang sudah disediakan. Keakraban kedua keluarga itu sudah mulai terlihat. Mereka menyatu seperti keluarga sendiri.


Setelah selesai makan malam, mereka ngobrol-ngobrol satu sama lain. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sekitar setengah jam kemudian, keluarga Bagas pamit pulang.


.


.


.


Siang ini udara sangat terik dan begitu membikin kerongkongan mengharap tetesan air. Gavindra mengecek lokasi proyek secara langsung sebelum dia balik ke Jakarta. Rencana sore ini dia kembali sepulang dari lokasi.


Setelah berkeliling ditemani kepala proyek, Gavin kembali ke hotel dimana dia menginap. Dia masuk hotel dengan wajah yang lelah. Dia berjalan menyusuri lorong dihotel itu. Dibukanya pintu kamarnya, kemudian dia rebahan bentar diatas tempat tidur. Dibukanya ponsel yang ada dikantongnya.


'Sayang, aku sore ini balik Jakarta.'


'Oh iya, jam berapa berangkat dari Bamdung?'


'Kira-kira jam empatan aku berangkat.'


'Aku sudah kangen, Vin'


'Iya, sayang. Sama aku juga kangen sama kamu.'

__ADS_1


'Kamu cepat pulang, ya?'


'Iya, tapi kamu disana baik-baik saja, kan?'


'Aku baik-baik, saja kok.'


'Ya sudah, aku mau siap-siap dulu, ya?'


'Okey, ati-ati sayang.'


'Bye..,'


Gavin kemudian menutup ponselnya. Setelah itu dia masuk kamar mandi untuk bersiap-siap.


Sekitar sejam kemudian, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Gavin dan salah satu temannya segera keluar kamar untuk checkout.


Mereka menuju cafe yang ada di hotel itu guna menunggu kendaraan yang diambil oleh sopirnya. Setelah berangkatlah mereka ke Jakarta.


Perjalanan Bandung-Jakarta memang nggak begitu jauh, tapi kondisi tubuh yang sudah capek membuat perjalanan terasa jauh banget. Gavinpun tertidur.


.


.


.


Pukul tujuh malam Gavin sampai Jakarta. Jalanan lumayan macet, dia melangkah gontai memasuki rumahnya. Mama Papanya tengah ngobrol-ngobrol di depan TV.


"Kamu, sudah pulang, Nak.?" tanya Bu Hesty sesampainya Gavin didalam rumah.


"Iya, Ma. Gavin capek banget." jawabnya sembari dia daratkan tubuhnya disofa.


"Macet, ya Vin?" tanya Pak Indra.


" Iya, Pa. Lumayan" jawab Gavin.


"Sudah makan, Nak?" tanya Bu Hesty.


"Sudah, Ma. Tadi, diperjalanan kita berhenti untuk makan." jawab Gavin.


"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu setelah itu langsung istirahat." ucap Bu Hesty.


Gavin berjalan keatas sambil membawa tasnya. Sesampainya diatas dia langsung menaruh tasnya diatas meja.


.


Ditempat yang berbeda, disebuah cafe. Seno terlihat sedang menikmati kopi sendirian. Dari tempat duduknya dia melihat seorang cewek. Tapi anehnya, cewek itu seperti sedang menangis terisak. Didekatinya cewek itu.


"Boleh, saya gabung?" tanya Seno.


Gadis itu mendongakan wajahnya kearah sumber suara.


"Silahkan.,!" jawab Gadis itu. kemudian Seno duduk dikursi depan Gadis itu.


"Kenalin, aku Seno" ucap Seno sembari mengulurkan tangan kearah Gadis itu.

__ADS_1


"Aku, Sasha.!" jawab Gadis itu.


Next.................(45).


__ADS_2