BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 196 (Teman baru)


__ADS_3

Raka menoleh kearah pemuda itu yang tengah ditanyai oleh Ferdi. Dia juga ikut bersalaman untuk kenalan.


"Oh iya, kenalin. Saya Raka. Dan ini teman saya Ferdi. Kamu ada masalah dengan pemuda itu?" kini Raka ikut bertanya.


"Tidak, Kak. Dia hanya salah faham sama saya. Gara-gara motor saya nempati parkir motornya." jawab Gazi singkat.


"Oh jadi gitu ceritanya. Lain kali kamu hati-hati, ya?" ucap Raka.


"Kamu anak semester berapa?" kini Ferdi yang menanyai.


"Saya semester dua, Kak."


"Oh ya sudah, kamu boleh kembali ke kelas kamu. Sekarang harus lebih hati-hati, ya?" ucap Raka.


"Iya, Kak."


Akhirnya Gazi kembali ke kelasnya. Sedangkan Raka dan Ferdi juga balik ke kelasnya. Mereka melanjutkan kuliah mereka yang masih ada.


.


.


.


Kini di sekolah Cantik, dia lagi mengikuti pelajaran dikelasnya. Kali ini mata pelajaran Bahasa inggris yang diajarkan. Dia mengikuti dan mendengarkan secara detail setiap penjelasan dari Gurunya. Dia memang anak yang pintar dan cerdas.


Cantik anaknya periang, supel tegas serta pemberani. Dia tidak takut dalam menghadapi hal-hal yang pada umumnya anak perempuan takuti. Di sekolahnya dia dijuluki si mungil tapi pemberani. Perawakannya memang kecil dan nggak begitu tinggi.


Kali ini dia lagi dikelas bersama anak-anak yang lainnya. Kebetulan habis pelajaran olah raga, kini mereka santai sambil menunggu jam kepulangan.


"Cantika,!" panggil salah satu temannya.


"Iya, ada apa?" jawabnya santai.


"Kamu nanti pulang sekolah kemana, ikut aku dulu, yuk?" ajak Sari temannya.


"Maaf, Sar. Aku belum bilang sama Mama." jawabnya.


"Kan bisa telpon dulu sebelum berangkat." ucap Sari.


"Nggak ah, lain kali saja. Aku nanti langsung pulang saja." jawab Cantik lagi.


"Oke, kalau gitu aku ajak yang lain saja."


"Maaf, ya Sar."


"Iya, nggak apa-apa, kok."


Tak lama kemudian ponsel Cantik berdering. Ternyata Kakaknya yang menelpon.


"Iya, Kak. Ada apa?"


"......"

__ADS_1


"Habis ini jam setengah dua an."


"......"


"Oh gitu, ya sudah aku tunggu disini."


"......"


"Bye, Kak. Hati-hati."


Cantik menutup kembali ponselnya, ternyata Raka bilang mau jemput karena kuliahnya sudah selesai. Bel pulang pun berdering. Semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing.


Canti juga nggak kalah ketinggalan, dia berlari menuju luar sekolah. Dia berhenti di bawah pohon akasia yang ada didepan pagar sekolahnya. Dia menunggu Raka Kakakmya menjemputnya.


Sambil mengipas-ngipaskan topinya karena kegerahan, dia bediri sendiri menunggu Kakaknya. Tak lama kemudian mobil Kakaknya datang.


"Dek, ayo masuk,!" seriu Raka dari dalam mobil.


Cantik langsung membuka pintu mobil dan lalu masuk kedalam mobil. Dia mengambil tempat duduk didepan dekat Kakaknya. Dalam perjalanan mereka sambil ngborol dan bercanda.


Ketika setelah lima belas menit perjalanan, dipertigaan Raka melihat ada anak muda lagi menuntun motornya. Dan ternyata dia adalah Gazi, anak ekonomi dikampusnya tadi.


Raka langsung menghentikan mobilnya, dan membuka kaca mobilnya.


"Gazi, motor kamu kenapa.?"


Pemuda itu menoleh dan langsung tersenyum saat melihat Raka. "Eh, Kak Raka. Nggak tahu, Kak. Tiba-tiba mesinnya mati."


Raka keluar dari mobilnya dan mendekati pemuda itu. Nggak tahu kenapa dia tiba-tiba begitu peduli dengan anak itu, padahal kenal baru tadi.


"Nggak usah, Kak. Ntar ngerepoti Kakak."


"Nggak apa-apa. Kebetulan didepan ada bengkel. Kamu taruh aja disitu, nanti kamu ambil kalaj sudah selesai." jelas Raka.


"Maaf, Kak. Saya dirumah hanya sama Nenek saja. Nggak ada yang antar untuk ambil lagi kesini. Biar saya tungguin saja." jawab Gazi.


"Oh gitu, ya sudah kalau gitu. Tapi, kamu nggak apa-apa kalau nungguin sendiri." tanya Raka.


"Nggak apa-apa, Kak. Makasih banyak sebelumnya." ucap Gazi.


"Oke, sama-sama. Saya tinggal dulu, ya?" ucap Raka.


Gazi mengangguk kemudian dia memperhatikan Raka sampai masuk mobil. Dia juga membungkuk dan tersenyum saat Cantik juga tersenyum padanya.


Raka kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya.


"Kak, itu tadi siapa?" tanya Cantik.


"Oh itu teman Kakak, kebetulan dia dua tahun dibawah Kakak."


"Kak, mukanya lho mirip Kakak.?" kata Cantik tiba-tiba.


"Kamu ini ada-ada saja, Dek. Ya mungkin tingginya iya sama." jawab Raka dengan pandangan yang masih fokus kedepan.

__ADS_1


"Emm, iya kali, ya." jawab Cantik.


Raka menoleh kearah adeknya, kemudian dia mengacak rambut Cantik. Seketika Cantik langsung sewot. Begitulah keakraban keduanya. Kakak beradik tapi terlahir dari rahim yang berbeda.


Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai rumah. Mama dan Papanya nggak ada dirumah. Gavin belum pulang kerja, sedangkan Bu Ratih baru saja berangkat karena dia dapat juga ngajar satu mata kuliah.


"Kak, Nanti anterin Cantik ke toko buku, ya." ucap Cantik.


"Kenapa nggak bilang dari tadi, Dek. Kan bisa tadi langsung dari sekolah." jawab Raka.


"Cantik lupa, baru ingat ini tadi." ucap Cantik sambil cemberut.


Raka yang melihat Adeknya cemberut gitu jadi nggak tega. Kemudian dia mendekatinya lalu memeluknya.


"Iya, nanti Kakak anterin. Jangan ngambek dong, ntar nggak cantik lagi, lho." ucapnya sambil mengelus kepala adiknya.


"Makasih, ya Kak. Maafin Cantik kalau selalu merepotkan Kak Raka." jawabnya abil memandang kearah Raka.


Raka jadi gemas melihat mimik adeknya yang manyun gitu. Lalu dicubitnya hidup Cantik. "Iya, nggak apa-apa. Kakak malah senang bisa bantu kamu, karena Mama bilang, kalau seorang Kakak harus bisa menjaga adeknya."


"Aku sayang sama Kakak."


"Iya, Dek. Kakak juga sayang sama kamu."


Keduanya memang begitu. Cantik selalu manja sama Raka. Sedangkan Raka juga begitu, dia selalu memanjakan adiknya yang sangat disayanginya.


.


.


.


Ditempat lain, Gazi sudah selesai motornya. Kini dia kembali menuju rumahnya. Setelah sampai dirumah, dia kaget karena ada mobil Bundanya. Berarti Bundanya sudah datang dari Jakarta.


"Bunda,!" seru Gazi.


"Gazi, kamu sudah pulang, Nak.?"


"Iya, Bun. Bunda dari tadi." tanya Gazi.


"Bunda dari tadi, Nak. Kamu kok baru pulang?" tanya Kasih.


"Tadi motor Gazi mogok. Terus aku bawa ke bengkel, jadi nungguin dibenerin dulu baru pulang." jawab Gazi.


"Ya ampun, Nak. Kamu itu sudah waktunya bawa mobil. Tapi, kenapa kamu nggak mau, sih." ucap Kasih.


Malas aja Bun kalau bawa mobil. Parkirnya susah, kalau macet nggak bisa nyelip-nyelip." jawabnya.


"Hemmm, ya nggak harus nyelip dong sayang." jawab Kasih lagi.


"Ya Gazi nggak suka aja bawa mobil. Enakan pakai motor." jawabnya sambil melepas jaket dan sepatunya.


Kasih melihat anaknya sudah besar. Dia mirip ayahnya kalau gini. Dia jadi ingat Raka, pasti dia nggak jauh beda dengan Gazi. Kamu sebenarnya punya Kakak yang juga tampan mirip kamu, Nak. Batin Kasih.

__ADS_1


----------------------------------


Bersambung...


__ADS_2