BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 107 (Tamu dari jauh)


__ADS_3

Pak Indra masih penasaran dengan tamu yang datang. Kemudian dia keluar menemui orang tersebut.


Setelah sampai diruang tamu, Pak Indra kaget dengan siapa yang datang.


Perempuan umurnya kira-kira lima puluhan lebih. Berpakaian sederhana, gamis warna biru dengan memakai hijab.


Perempuan itu menunduk dan tersenyum kearah Pak Indra. Sedangkan Pak Indra sendiri masih mencoba mengingat siapa perempuan yang ada dihadapannya ini.


"Silahkan duduk.!" ucap Pak Indra.


"Terima kasih, Pak." jawab perempuan itu.


"Maaf, Anda siapa, ya? Saya kok lupa." tanya Pak Indra.


"Maaf, Pak. Kenalkan, nama saya Murni. mungkin Bapak sudah tidak mengenali saya lagi. Saya pernah kesini sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Saya kesini sendirian di siang bolong dengan menggendong seorang bayi." jawabnya.


Degh.!


Pak Indra sekarang ingat, dia adalah perempuan yang menitipkan bayi kepadanya. Pak Indra jadi gemetar dengan kehadiran perempuan yang tak lain adalah Ibunya Mahendra. Pak Indra terdiam.


"Maaf, mungkin Bapak kaget dengan kehadiran saya disini. Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin melihat seperti apa putra saya yang saya titipkan dulu." ucap Bu Murni.


"Kenapa Bu Murni tiba-tiba muncul setelah tiga puluh tahun nggak ada kabar. Ibu tahu saat Ibu menitipkan anak Ibu saat itu, saya dan istri saya hampir tiap malam nggak bisa tidur karena memikirkan kok Ibu belum juga menjemput anak Ibu. Sedangkan Ibu kan bilangnya nitip untuk beberapa hari kedepan. Saya menunggu dan bingung harus gimana. Setelah sebulan, saya dan keluarga besar dibantu tetangga dan Pak RT, saya disarankan untuk segera mengadopsinya dan mengurus semua surat-suratnya. Akhirnya saya menyetujuinya, disamping itu memang saya belum punya anak.


Sekarang Ibu tiba-tiba datang bilangnya hanya untuk melihat, kira-kira apa yang saya katakan jika anak itu tahu kalau Ibu ingin melihatnya.!" jelas Pak Indra.


"Iya, Pak. Maafkan saya, memang saat itu saya bingung, saya baru saja ditinggalkan suami saya, dan saya juga belum punya pekerjaan. Rencananya saya memang menitipkan untuk beberapa hari, tapi setelah saya mendapatkan tawaran dari tetangga saya untuk jadi TKW, maka saya meingikhlaskan anak saya untuk tetap disini. Saya sudah sadar kalau sekarang saya sudah tidak punya hak atas anak itu" jawab Bu Murni.


Gavin yang mendengar rame-rame diruang tamu, dia semgaja keluar untuk melihat siapa yang datang. Dengan langkahnya yang tegap dia keluar menuju ruang tamu.


"Ada apa, Pa. Siapa yang datang?" tanya Gavin sambil memandangi perempuan paru baya itu.


Sebaliknya, perempuan itu memandangi Gavin dari atas sampai bawah. Dia tersenyum kemudian beranjak dan mendekati Gavin. Perempuan itu terus mengamati Gavin tanpa kedip sama sekali. Sedangkan Gavin jadi bingung, siapa perempuan ini sebenarnya.


"Siapa dia, Pa?" tanya Gavin.


Pak Indra terdiam, dia bingung mau jawab apa, kalau sebenarnya perempuan ini adalah Ibu kandung dari Kakaknya Mahen.

__ADS_1


"Pak, apa ini anaknya?" tanya Bu Murni.


"Maaf, Bu. Anda siapa?" tanya Gavin pada perempuan itu.


"Vin, dengerin Papa. Ini Bu Murni, dia adalah perempuan yang pernah menitipkan bayi sama Papa tiga puluh tahun yang lalu." jawab Pak Indra.


"Apa.! Berarti dia adalah Ibu kandung--"


"Iya, dia Ibu kandungnya Kakakmu. Mahen." jawab Pak Indra.


Perempuan itu kaget, dia bingung apa yang dikatakan Pak Indra barusan. Jadi ini bukan anak yang dititipkannya dulu.


"Terus, ini siapa Pak?" tanya Bu Murni.


"Ini, anak saya Bu. Anak yang Ibu titipkan ke saya tiga puluh tahun yang lalu sekarang sudah tidak tinggal disini lagi." jawab Pak Indra.


"Lalu dia sekarang dia tinggal dimana, Pak?" tanyanya lagi.


"Dia sekarang sudah punya rumah tangga sendiri. Dia sudah menikah dan baru saja dikasih momongan. Anaknya perempuan dan namanya TIFANY PUTRI WIJAYA. Jadi dia sekarang menyandang nama Wijaya seperti Papanya. Anak yang Ibu Titipkan dulu, saya kasih nama MAHENDRA PUTRA WIJAYA." jelas Pak Indra.


Bu Murni tak bisa memendung air matanya. Dia menangis setelah mendengar cerita Pak Indra. Gavin menyuruh perempuan itu untuk duduk kembali. Dia kasihan dengan perempuan ini. Terlepas dengan apa yang sudah dia lakukan, dia tetap seorang Ibu.


"Bu Murni, kok masih ingat alamat rumah saya ini.?" tanya Pak Indra.


"Iya, Pak. Saya selalu menyimpan alamat rumah Bapak. Awalnya saya masih ragu kalau Bapak masih tinggal dirumah ini. Makanya tadi saya bilang sama pembantu Bapak kalau saya adalah teman kuliah. Siapa tahu saya salah alamat. Tapi, ternyata saya nggak pangling dengan wajah Bapak. Cuma rumah ini sudah banyak perubahan. Beda dengan dulu." jawab Bu Murni.


"Iya, Bu. Saya sudah banyak merenovasinya, karena memang bangunannya sudah mulai usang." sahut Pak Indra.


"Oh iya, Pak. Sekarang Mahendra tinggal dimana?" tanya Bu Murni.


"Maaf, ya Bu Murni. Bukannya saya tidak mau memberi tahu, tapi demi kebaikan semuanya, lebih baik Ibu tidak perlu menemuinya lagi. Karena sampai saat ini Mahen menganggap saya dan istri saya lah orang tua kandungnya. Dan saya tidak mau keadaan yang sudah nyaman menjadi keruh jika dia mengetahui yang sebenarnya." jawab Pak Indra.


"Ya sudah, Pak. Saya juga memaklumi dengan sikap Bapak. Saya memang Ibu yang tidak bertanggung jawab. Tapi, saya setidaknya sudah tenang karena anak saya sudah punya kehidupan sendiri dan mapan." jawab Bu Murni.


"Iya, Bu. Tenang saja, sekarang anak Ibu sudah hidup berkucupan dan tentram dengan keluarga kecilnya. Dia sekarang menjadi pimpinan disalah satu perusahaan saya. Jadi Ibu tidak perlu kawatir soal kesejahteraan hidupnya. Saya yang jamin itu." jawab Pak Indra dengan tegas.


"Iya, Pak. Saya percaya sama Bapak. Dan saya sangat berterima kasih karena telah merawat dan membesarkan anak saya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak sama Bapak." ucap Bu Murni sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Sekarang Bu Murni tinggal dimana, apa masih di Jakarta sini?" tanya Gavin.


"Iya, Nak. Sejak saya sudah nggak jadi TKW, saya membeli rumah sederhana dan membuka warung kecil-kecilan buat mengisi kegiatan, lumayan hasilnya juga buat melanjutkan hidup." jawab Bu Murni.


"Syukurlah kalau begitu, saya ikut senang mendengarnya. Setidaknya Ibu sudah tidak hidup susah seperti dulu." sahut Pak Indra.


" Iya, Pak. Saya juga bersyukur sekali, karena kehidupan saya sekarang sudah jauh lebih baik dibanding dulu." jawab Bu Murni.


Pak Indra kemudian melangkah kedalam. Sedangkan disitu tinggak Gavin dan Bu Murni.


"Kamu tadi namanya siapa, Nak?" tanya Bu Murni.


"Saya Gavindra, Bu. Lengkapnya GAVINDRA PUTRA WIJAYA." jawab Gavin.


"Kamu ganteng, Nak. Pasti Mahen juga ganteng seperti kamu." ucap Bu Murni.


"Kak Mahen memang mirip saya, Bu. Banyak yang bilang kalau kita kembar. Cuma rambut Kak Mahen sedikit ikal, kalau saya lurus." jawab Gavin.


"Kamu pasti sayang sama Kakakmu?" tanya Bu Murni.


"Sangat Bu. Dan saya nggak mau Kak Mahen nantinya pergi ninggalin kita. Makanya waktu ada orang jahat yang mau membongkar rahasia siapa orang tua kandung Kak Mahen, Papa lebih memilih kehilangan satu perusahaan dari pada kehilangan Kak Mahen." terang Gavin.


"Sampai segitunya Pak Indra menyayangi anak Ibu, sampai rela kehilangan hartanya." ucap Bu Murni.


"Iya, Bu. Saya memang sangat menyayangi Mahen. Makanya tolong, jangan ungkit lagi soal asal-usulnya. Kita boleh masih berkomunikasi, tapi jangan sampai mengungkitnya lagi." sahut Pak Indra dari dalam.


"Iya, Pak. Saya janji tidak akan ungkit masalah ini." jawab Bu Murni.


Tak lama kemudian terdengar mobil masuk ke halaman rumah. Gavin keluar mencoba melihat siapa yang datang. Dia terkejut setelah tahu mobil siapa yang datang.


Buru-buru dia masuk kedalam lagi dan memberi tahu Papanya.


"Pa.,!" teriak Gavin


"Apa, Vin.?" jawab Papanya.


"Mobilnya Kak Mahen,!"

__ADS_1


----------------------------------


Bersambung....


__ADS_2