BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 241 (Ternyata..)


__ADS_3

Gazi mengernyitkan alisnya karena dia bingung apa yang dimaksud oleh Cindy. Kemudian dia membetulkan letak duduknya lalu kembali menatap Cindy.


"Apa maksud kamu, Cin.?"


"Tapi, kamu janji jangan bilang siapa-siapa ya.?"


"Iya,"


"Zi, kayaknya umurku sudah nggak lama lagi." ucapnya.


"Huuusss,! Kamu bicara apa.?"


"Iya, rasanya aku sudah nggak kuat lagi."


"Kamu sakit? Tapi memang wajah kamu pucat sekali, sebenarnya kamu ini sakit apa, Cin.?"


Tapi sebelum menjawab pertanyaan Gazi, tiba-tiba Cindy sudah jatuh nggak sadarkan diri. Gazi sontak kaget karena dia nggak ngerti kok Cindy jadi seperti ini. Segera dia panggil Heru dan karyawannya.


"Ada apa ini, Zi.?"


"Aku nggak tahu tiba-tiba pingsan!"


"Langsung di bawah ke rumah sakit saja.,"


"Oke, bantu aku membawanya ke mobilku." ucap Gazi.


Kemudian keduanya mengangkat Cindy kedalam mobilnya Gazi. Kemudian Gazi dengan ditemani Heru membawa Cindy ke rumah sakit. Kini Heru yang mengemudikan mobilnya, dan Gazi sibuk menelpon temannya Cindy.


Sekitar dua puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Heru dan Gazi mengangkat Cindy menuju ke IGD. Disitu langsung ditangani oleh fokter yang jaga.


Gazi gelisah karena bingung dengan keadaan Cindy. Meskipun dia gadis yang selama ini selalu mengganggunya dan dia juga nggak pernah cinta sama Cindy, namun tetap saja rasa kasihan dan sebagai sesama teman dia kasihan dan perlu membantunya.


Hampir tiga puluh menit Cindy ditangani di IGD, kemudian tak lama setelah itu datang seorang perempuan dewasa usianya sekitar tiga puluh tahunan menghampiri mereka.


"Maaf, Anda yang bernama Gazi?" tanya perempuan itu.


"Iya, saya Gazi temannya Cindy."


"Kenalkan saya Sarah Kakaknya Cindy, saya tadi dihubungi Nita kalau Cindy masuk rumah sakit."


"Oh iya Kak, saya tadi menghubungi Nita karena saya tidak tahu momor telponnya keluarga Cindy."


"Gimana ceritanya kok bisa adik saya seperti ini? Apa tadi pakai mengeluh dadanya sakit.?" tanya Sarah.


"Tadi dia mampir ke cafe saya, Kak. lalu ngobrol-ngobrol. Lama kok saya lihat wajah dia semakin pucat, lalu saya tanyain katanya nggak apa-apa. Cuma dia selalu bilang kalau umurnya sudah nggak lama lagi. Giliran saya tanya sakit apa dia nggak jawab sampai akhirnya dia pingsan. Langsung saja saya dan teman saya ini membawanya kesini." jelas Gazi.


"Makasih ya Zi, adik saya ini sering mengeluhkan sakit dibagian dadanya, tapi kalau diajak periksa nggak mau." jawab Sarah.


"Sakit apa dia sebenarnya Kak.?"


"Saya sendiri juga nggak tahu, tapi dia sering mengeluh seperti itu."

__ADS_1


"Kita tunggu apa kata dokter saja, Kak.!"


"Iya, Zi."


Tak lama kemudian dokter keluar ruangan dan menemui mereka.


"Maaf, keluarga pasien.?"


"Saya Kakaknya, dok,!"


"Maaf Mbak, adik Mbak ini apa mengonsumsi minuman keras?" tanya dokter.


"Setahu saya nggak pernah, dok!" jawab Sarah lirih sambil melirik Gazi.


"Soalanya jantungnya ini ada pembengkakan. Takutnya kalau nggak segera ditangani akan fatal."


"Apa dok? Jantungnya bengkak.?"


"Iya Mbak. Karena sering mengonsumsi minuman keras, dan mungkin juga dia perokok jadi larinya ke jantung." jelas dokter.


"Maaf dok, dan juga Kak Sarah. Cindy memang pernah meminum minuman keras. Pas diacara pembukaan cafe saya dia pernah ngamuk diparkiran dalam keadaan mabuk." jawab Gazi.


"Serius Zi, Kakak nggak tahu soal ini." jawab Sarah.


"Begini saja, adik Mbak harus dirawat dan minumnya harus ditakar. Sehari hanya boleh meminum nggak lebih dari 600ml. Saya akan bantu dengan minum obat juga supaya bisa mengeluarkan cairan lewat buang air kecil." jelas dokter.


"Baiklah dok saya ngikut saja. Yang penting adik saya segera tertolong."


"Dok..dokter,! gawat dok. pasien kritis.!" teriak salah satu perawat dati dalam.


Seketika dokter langsung menoleh dan berlari kedalam ruangan. Gazi dan yang lainnya semakin panik. Mereka semakin nggak ngerti dengan penyakit Cindy.


Sekitar menunggu kurang lebih lima belas menit, kemudian keluar lagi dokter yang menangani Cindy.


"Yang namanya Gazi siapa, ya.?" tanya dokter itu.


"Saya dok."


"Mas, saya minta tolong dibantu untuk menyemangati pasien. Karena dari pertama sadar dia memanggil yang namanya Gazi." jawab dokter.


"Apa saya boleh masuk juga dok.?" tanya Sarah.


"Iya silakan,!"


Mereka semua masuk untuk melihat Cindy yang lagi kritis. Setelah melihat keadaannya semuanya terkejut karena Cindy dibantu banyak alat medis. Matanya masih merem cuma kadang dia menyebut nama Gazi.


Gazi mendekati Cindy yang tergeletak diatas tempat tidur pasien dengan dibantu alat-alat medis. Gazi mencoba memegang tangan Cindy.


"Cindy, kamu harus kuat ya. Kamu harus semangat. Ingat, kamu masih punya cita-cita." ucap Gazi.


"Zi, gimana ini Cindy. Aku nggak nyangka kalau dia jdi seperti ini." ucap Sarah.

__ADS_1


"Kak, kenapa Cindy jadi seperti ini. Padahal tadi nggak apa-apa."


"Kakak juga nggak tahu. Sebenarnya dia kenapa.?"


"Maaf Kak, apa orang tua sudah dikasih tahu kalau keadaan Cindy seperti ini."


"Maaf Zi, orang tua kami sudah pisah. Papa menikah lagi, sedangkan Mama lari dengan laki-laki lain. Kami dari keluarga broken." jawab Sarah.


"Ya ampun, maaf Kak Sarah. Gazi nggak tahu." jawab Gazi.


Tiba-tiba tangan Cindy bergerak, perlahan dia membuka matanya. Kini dia benar-benar siuman. Matanya diedarkan keseluruh ruangan.


"Ga...zii.!" ucapnya sembari matanya melirik kearah orang-orang yang ada diruangan itu.


"Iya Cin.!" jawab Gazi sambil mendekati Cindy.


"Zi, to..long jang..an ting..galin aa..ku,!" ucapnya terbata.


"Iya, aku disini. Kamu yang kuat dan harus semangat ya.?" jawab Gazi sembari memegang tangan Cindy.


"Cin, ini Kak Sarah. Kamu yang kuat ya. Kita kan janji mau jalan-jalan ke luar negeri, jadi kamu harus sembuh."


"Ga..zi, aku cinta sama kamu!"


"Sssttt,! sudah jangan pikirin soal itu lagi. Yang penting sekarang kamu harus sembuh dulu." jawab Gazi.


"Tolong jangan tinggalkan aku, Zi" Cindy masih meracau nggak karuan.


Gazi hanya bisa memandangi wajah yang kuyuh dan kini lemah tak berdaya. Sedangkan Sarah hanya bisa menangis setelah melihat adiknya yang seperti ini.


"Dok, apa adik saya bisa sembuh.?" tanya Sarah.


"Bisa Mbak, yang penting jangan buat dia mikir berat dan buat senyaman mungkin. Turuti apa yang dia inginkan untuk membantu kesembuahannya." ucap dokter.


"Gazi.,!"


"Iya Cin.!"


"Maukah kau menjadi pacarku.?"


Gazi langsung membulatkan matanya dan menoleh kearah Sarah. Kemudian dia menoleh kembali ke Cindy.


"Cin, sudahlah jangan pikirin soal itu dulu." ucap Gazi.


"Tolong jawab pertanyaanku, Zi!"


"Zi, tolong kabulkan permintaan adiku sekali ini saja. Saya mohon, Zi. Buat dia bahagia." kali ini Sarah benar-benar bingung mau gimana lagi.


Gazi bingung mau menjawab apa. Dia nggak bisa berkata apa-apa. Dalam hatinya dia dilema. Kalau dituruti bagaimana kalau Zahra tahu, sedangkan kalai tidak dituruti bagaimana nasib Cindy.


-----------------------------

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2