BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 166 (Gazi kritis)


__ADS_3

Rahman langsung mengangkat anaknya ke dalam mobil itu. Kasih langsung ikut naik dibelakang suaminya.


"Mas Rahman, dibawa kerumah sakit mana?" tanya Bram.


"Yang terdekat saja, Bram." jawab Rahman dengan memangku Gazi.


"Baiklah."


Kemudian mereka menuju rumah sakit terdekat. Kasih menangis terus sambil melihati anaknya yang kepalanya terus mengeluarkan darah.


"Maafin Bunda, ya Nak. Nggak seharusnya Bunda bertengkar didepan kamu." ucap Kasih sambil membelai wajah Gazi.


"Makanya lain kali itu kalau ngomong dijaga. Kamu sih mancing emosi orang saja." sahut Rahman yang masih menggendong Gazi.


Kasih terdiam dan nggak berani membantah omongan suaminya. Dia hanya memandangi anaknya tanpa menoleh ke suaminya. Tak lama kemudian mereka sampai juga di rumah sakit.


"Suster, tolong anak saya.!" seru Rahman.


"Baik Pak. Tunggu disini, ya?" jawab Susuter itu lalu membawa Gazi ke dalam UGD.


"Baik, Sus."


Kasih dan Rahman menunggu didepan UGD. Kemudian mereka duduk dikursi. Lalu Bram mendekati Rahman.


"Mas, apa Budhe Sari sudah dikabari?" tanya Bram.


"Belum sempat. Aku sama Mbakmu nggak bawa apa-apa. Semuanya dirumah." jawab Rahman.


"Biar aku yang hubungi rumah. Ada siapa disana?" tanya Bram.


"Ada Bapak. Iya tolong telpon Ibu suruh Bapak bawa tasnya Kasih dan ponselku." jawab Rahman.


"Iya, Mas." jawab Bram.


Kemudian Bram menjauh untuk menghubungi Ibunya Rahman. Setelah lima menit kemudian, dia kembali ke Rahman dan Kasih.


"Sudah aku hubungi, Mas. Sebentar lagi Budhe Sari Pakde Budi kesini." jawab Bram.


"Makasih, ya Bram.?"


"Iya, sama-sama. Tapi, aku nggak bisa lama-lama disini, Mas. Karena aku ada janji sama bos aku urusi soal kerjaan." ucap Bram.


"Hari minggu kok masih urusi kerjaan, Bram." tanya Rahman.


"Iya, Mas. Soalnya mau ada proyek baru." jawab Bram.


"Oke, hati-hati dijalan. Sekali lagi makasih sudah diantarkan." sahut Rahman.


Kemudian Bram pergi meninggalkan Kasih dan Rahman. Sambil jalan menuju parkiran dia mengeluarkan ponselnya karena ada telpon masuk.


"Hallo, iya Pak. Maaf saya barusan ada musibah kecil. Setengah jam saya pasti sudah sampai tempat." jawab Bram.


"....."


"Oke, Pak."


Akhirnya Bram melajukan mobilnya menuju tempat dimana dia janjian sama Bos nya. Setelah setengah jam akhirnya dia sampai juga disebuah cafe kecil yang pengunjungnya nggak begitu ramai.


"Sudah menunggu lama, Pak?" tanya Bram.


"Sudah sepuluh menit yang lalu." Jawab Bos nya itu.


"Tadi ada anaknya saudara saya tertabrak motor, lalu saya mengantarkan kerumah sakit dulu, Pak." jawab Bram.

__ADS_1


Ketika mereka lagi ngobrol, tiba-tiba ponsel Bram bunyi.


"Iya, Hallo Pakde. Ada apa?"


"....."


"Bram lagi sama Bos ini, ada urusan kerjaan. Ada apa, ya?"


"....."


"Oh gitu. Iya-iya. Nanti kalau sudah pulang dari sini saja, biar Bram mampir ke rumah sakit.?"


Kemudian Bram menutup kembali ponselnya. Kemudian dia melanjutkan kembali obrolannya dengan bosnya.


"Lho, tadi kok kamu menyebut nama kamu, Bram?" tanya Bos nya itu.


"Iya, Pak. Nama saya kan Fajar bramantyo. Keluarga saya memanggilnya Bram. Kalau ditempat kerja biasanya ya Fajar." jawabnya.


Ternyata Bram adalah Pak Fajar asisten Gavin di kantor. Hari ini dia ketemu dengan Gavin untuk membicarakan soal perombakan karyawan dan sedikit bicara dari hati ke hati.


Gavin dan Pak Fajar akhirmya melanjutkan obrolannya soal Hotel dan Resto. Mereka berdua akan merubah semua kebijakan yang lama yang dianggap sudah nggak bisa lagi dipakai.


.


.


.


Dirumah sakit, keadaan Gazi masih kritis. Dokter belum keluar juga dan membuat Rahman dan Kasih masih panik dan nggak bisa tenang.


"Maaf, orang tua pasien?" ucap Dokter saat keluar ruangan.


"Maaf, Pak. Anda Ayahnya, tolong bisa diperiksa darahnya, karena anak Bapak butuh darah yang banyak sekali." tukas Dokter itu.


"Maaf, gimana ini.?" seru Dokter itu.


"Apa golongan darahnya.?" tanya Kasih.


"O.," jawab Dokter itu.


Kasih kaget, dia golongan darahnya A, berarti Gazi golongan darahnya sama dengan Gavin. Batinnya.


"Tapi, golongan darah saya A. Dan maaf suami saya golongan darahnya A juga. Karena memang dia bukan Ayah kandungnya, Dok." jawab Kasih pelan.


"Terus Ayah kandungnya mana.?"


"Kami sudah lama pisah, Dok.!"


"Apa persediaan golongan darah O disini habis, Dok?" tanya Rahman.


"Iya, Pak. Maaf. Kebetulan kosong. Nggak tahu lagi kalau dirumah sakit besar. Coba saya usahakan dulu, ya?" ucap Dokter.


"Iya, Dok."


Akhirnya Dokter itu pergi meninggalkan Rahman dan Kasih. Kini kembali mereka berdua.


"Apa kamu masih tetap kekeh nggak mau menghubungi Ayahnya Gazi.?" tanya Rahman.


"Kamu ini bicara apa, sih Mas. Kan Dokternya masih mengusahakan untuk mencarikan darah buat Gazi." jawab Kasih.


"Ya sekedar buat jaga-jaga, Sih. Kali aja pas habis juga. Ini juga demi keselamatan Gazi." ucap Rahman.


"Aku nggak mau kalau dia tahu Gazi adalah anaknya." jawab Kasih keras.

__ADS_1


"Kalau gitu kamu yang tanggung resikonya. Dia itu Ayahnya, dan berhak tahu kalau anaknya sekarang butuh darah." sahut Rahman dengan nada tinggi.


Pertengkaran mereka dihentikan Suster yang datang menghampiri keduanya.


"Maaf, Pak. Persediaan darah dengan golongan O di PMI ada. Tapi Bapak harus mengambilnya sendiri diantar pihak sini." ucap Suster.


"Baik, Sus. Biar kami yang mengambilnya." sahut Kasih.


"Sebaiknya salah satu saja, soalnya biar ada yang jagain anaknya disini?" jawab Suster.


"Kalau gitu biar saya saja, nanti suami saya yang urus disini." jawab Kasih.


"Baiklah, Ibu ikut saya." jawab Suster.


Rahman terdiam karena Kasih mengatakan kalau dia sendiri yang mengambilnya.


.


.


.


Hari semakin siang, dan diCafe dimana Gavin dan Pak Fajar ketemuan tadi kini sudah selesai. Mereka akan pulang.


Lalu ponsel Pak Fajar bunyi lagi.


"Hallo, Mas. ada apa?"


"....."


"Apa! iya aku sekarang kesana?"


Pak Fajar mematikan kembali lalu bicara dengan Gavin.


"Pak, anaknya saudara saya tadi kritis, dia lagi butuh darah!" ucap Pak Fajar.


"Emang nggak ada persediaan, apa?" tanya Gavin.


"Katanya dirumah sakit itu habis. Istrinya lagi ambil di PMI sama pihak RS tapi sampai sekarang belum kembali." jawab Pak Fajar.


"Emang apa golongan darahnya.?"


"Golongan darahnya O."


"Kebetulan golongan darah saya, O. Ayo kesana, saya mau mendonorkan darah saya. Tapi, tolong dijaga rahasia nama saya, karena saya nggak mau keluarga anak itu merasa hutang budi." ucap Gavin.


"Iya, Pak. Saya akan rahasiakan." jawab Pak Fajar.


Akhirnya keduanya meninggalkan Cafe dan menuju rumah sakit. Mereka ngebut dan nggak sampai setengah jam mereka sampai di rumah sakit.


Pak Fajar menuju ruangan UGD dan hanya mendapati orang tuanya Rahman saja. "Budhe, mana Mas Rahman?" tanya Pak Fajar.


"Masmu mengantar mertuanya pulang kerumah Budhe sebentar ambil pakaian Gazi." jawab Bu Sari.


"Ini Budhe, bos nya Bram mau menyumbangkan darah buat Gazi." ucap Pak Fajar.


"Oh iya, makasih. Antarkan ke ruangan Dokter." ucap Bu Sari.


Akhirnya Pak Fajar mengantar Gavin menemui Dokter yang menangani Gazi.


--------------------------------


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2