
Gavin meninggalkan hotel sekitar pukul lima sore. Dia sengaja pulang agak sore karena memang dia menyelesaikan pekerjaannya dulu.
Sekitar kurang lebih tiga puluh menit Gavin sampai rumahnya. Dia turun dari mobil setelah itu menyerahkannya kepada Santo untuk mengurus mobilnya.
"Sore, Pa. Tumben kok pulangnya sorean.?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Ma. Pembangunan resort sudah sembilan puluh persen seleasai, tinggal finishing nya saja." jawab Gavin sambil mendaratkan tubuhnya dikursi.
"Kamu pasti capek, ya?" tanya Bu Ratih.
"Ya, namanya juga kerja, Ma. Pasti capek." jawab Gavin datar.
"Mau mandi pake air hangat apa dingin?" tanya Bu Ratih.
"Dingin saja nggak apa-apa, Ma." jawab Gavin sambil melangkah masuk kamarnya.
Bu Ratih bingung dengan sikap Gavin yang dingin dan menjawab pertanyaan Bu Ratih pun hanya singkat. Dia nggak pernah mendapati suaminya seperti ini. Bu Ratih merasa kalau suaminya menyimpan sesuatu.
Dia mencoba untuk tidak menunjukan sikap curiga supaya Gavin nggak tersinggung. Sikapnya akan seperti biasanya agar Gavin dengan sendirinya bercerita.
"Fatma, tolong siapkan makan malam, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Tih."
Bu Ratih masuk kamarnya untuk melihat suaminya tadi. Sedangkan Fatma menyiapkan makanan buat makan malam.
.
.
.
♥ JAKARTA ♥
Di kediaman rumah Kasih, kini dia lagi duduk santai sama Dito adiknya. Gazi dan Ibunya didalam.
"Dit, Mbak mau cerita sama kamu." ucap Kasih.
"Cerita apa, Mbak?" jawab Dito.
"Mbak Rasa, setelah Mas mu tahu kalau Mbak punya anak selain Gazi, sikapnya jadi berubah." ucap Kasih.
"Berubah gimana, Mbak.?"
"Dia sudah nggak selembut dulu sama Mbak. Tapi, kalau sama Gazi nggak berubah. Yang Mbak rasa sih begitu." jawab kasih.
"Apa mungkin dia kecewa sama, Mbak Kasih?" tanya Dito.
"Mungkin saja. Tapi, herannya dia itu sayang banget sama Gazi. Seperti anaknya sendiri." Kasih berucap sambil membetulkan kerudungnya.
__ADS_1
"Ya kita nggak usah punya fikran negatif dulu. Mungkin saja Mas Rahman hanya kecewa." jawab Dito menenangkan.
"Tapi, dia pernah menyuruh Mbak mengambil Raka dari Mas Gavin dan Mbak Ratih." tukas Kasih.
"Apa, Mas Rahman bilang begitu?" tanya Dito kaget.
"Iya, Dit. Kalau Mbak nggak mau mengambil Raka. Dia menyuruh Mbak kasih tahu kalau Gazi adalah anaknya. Alasan dia menyuruh Mbak, katanya Gazi juga berhak atas kekayaan Ayahnya. Gila nggak pikiran seperti itu?" jelas Kasih.
"Wuaah, Mas Rahman kok punya pikiran seperti itu?" sahut Dito nggak percaya.
"Aku nggak mau, meskipun aku nggak sekaya Mas Gavin. Tapi, aku masih bisa membiayai hidup Gazi. Dia kekeh menyuruh Mbak, karena suatu saat kalau Mbak jatuh miskin, siapa yang nanggung biaya Gazi." jelas Kasih.
"Mas Rahman kok jadi mikirin soal harta, ya. Sejak kapan dia berubah jadi seperti itu." jawab Dito sambil memegang kepalanya.
"Kalau Mbak rasa, dia berpikiran seperti itu ya sejak tahu kalau Ayah kandung Gazi adalah seorang konglomerat." jawab Kasih.
"Sabar saja, Mbak. Suatu saat dia akan lupa." ucapan Dito sedikit melegakan hati Kasih.
"Iya, Dit."
"Oh iya, sekarang Mas Rahman kemana?" tanya Dito tiba-tiba.
"Dia ke Jogja ada urusan kerjaan. Katanya ada temannya menawarkan barang dengan harga miring." jawab Kasih.
"Kok tumben, biasanya dia mengambil barang yang dekat-sekat saja. Kalau nggak gitu dia ada yang kirim dari langganannya." tukas Dito.
"Nggak tahu aku, Dit. Aku biarkan saja, toh selama ini Mbak juga nggak tahu menahu soal usahanya itu." jawab Kasih.
"Makasih, ya Dit."
"Iya Mbak, sama-sama."
Kasih sekarang fokus kerja dan Gazi. Dia sudah nggak mau berfikiran macam-macam soal suaminya. Yang penting dia sebagai istri selalu mendokan yang terbaik buat suaminya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini Bu Ratih kembali beraktivitas di kampus. Dia dengan semangat untuk kembali belajar setelah menikmati liburan semester. Susi jam setengah tujuh pagi sudah datang untuk menjaga Cantik. Gavin berangkat kerja seperti biasa mengendarai mobilnya tanpa di dampingi sopir.
Bu Ratih sudah siap dan sekarang dia masuk mobilnya yang dikendarai Santo seperti biasa. Raka juga sekalian berangkat bersama Mamanya.
Kini Bu Ratih sudah masuk ke semester dua. Kali ini mata kuliahnya adalah tentang penulisan jurnal ilmiah. Setelah menunggu di ruangan, akhirnya Dosen pengajarnya sudah datang. Prof Bambang mengajar mata kuliah tersebut.
"Selamat pagi, semua.!" ucap Prof. Bambang.
"Selamat pagi, Prof.!" jawabnya serempak.
"Hari ini saya akan memberikan materi tentang jurnal ilmiah. Dimana jurnal ilmiah sendiri adalah sebuah publikasi yang diterbitkan secara berkala oleh suatu organisasi profesi atau institusi akademik yang memuat artikel-artikel yang merupakan produk pemikiran ilmiah secara empiris maupun secara logis dalam bidang tertentu." jelas Prof. Bambang.
Semua yang ada diruangan kelas mendengarkan dengan seksama. Termasuk juga dengan Bu Ratih. Dia selalu dengan serius menerima penjelasan dari Prof. Bambang.
__ADS_1
"Apa ada yang ditanyakan?" ucao Prof Bambang.
"Mohon ijin saya bertanya, Prof." seru Bu Ratih sambil mengacungkan tangannya.
"Iya, silahkan."
"Apakah jurnal ilmiah itu dibuat dengan satu alasan, dengan kata lain tujuannya di buatnya jurnal ilmiah itu sendiri apa, Prof?" tanya Bu Ratih.
"Terima kasih telah bertanya. Sedangkan tujuan di buatnya jurnal ilmiah itu sendiri adalah untuk mengembangkan sebuah penelitian yang telah dituliskan serta menjadi acuan untuk para peneliti lainnya yang sedang melakukan penelitian yang sejenis." jawab Prof. Bambang.
"Terima kasih atas penjelasannya, Prof." ucap Bu Ratih.
"Selain itu, jurnal ilmiah itu sendiri pada umumnya berisi sejumlah referensi yang menjadi rujukan penulisan setiap artikel. Jenis artikel yang ditulis tak sebatas laporan penelitian, namun bisa berupa review literatur." terang Prof. Bambang.
Akhirnya jam mata kuliah Prof. Bambang telah habis. Kini jarum jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Semua yang ada di ruangan itu kembali gaduh setelah Prof. Bambang meninggalkan ruangan kelas itu.
Semua mahasiswa khususnya yang mengambil program Doktor S3 hari ini langsung pulang karena memang ada satu mata kuliah saja. Dan Bu Ratih aensiri juga langsung pulang.
.
.
.
Di lain tempat, tepatnya di kerjaan Gavin tengah ngobrol serius dengan Pak Fajar.
"Pak Fajar, kalau boleh saya tahu, apakah Bu Christy itu memang tamu langganan hotel kita ini?" tanya Gavin.
"Iya, Pak. Dia sering menginap disini. Emangnya kenapa, Pak?" jawab Pak Fajar.
"Nggak penting juga, sih. Cuma saya sedikit risih dengan tingkah dan sikapnya, saja." jawab Gavin.
"Wuaduuh gawat, Pak. Jangan ditanggepin, Pak." seru Pak Fajar.
"Iya, tapi saya pemilik hotel, kan harus ramah dengan tamu hotel." ucap Gavin.
"Iya, Pak. Saya tahu dan ngerti akan hal itu. Cuma seperti yang sudah saya bilang sama Bapak saat pertama kali Pak Gavin kesini, jadi Bapak harus hati-hati saja, Pak." jawab Pak Fajar.
"Oke, saya sekarang ngerti apa yang Pak Fajar kawatirkan terhadap saya mengenai Bu Christy." ucap Gavin.
"Syukurlah, akhirnya Pak Gavin bisa peka dengan kalimat saya tadi." ucap Pak Fajar.
"Iya, Pak. Makasih telah mengingatkan saya berkali-kali." ucap Gavin.
"Sama-sama, Pak."
Akhirnya keduanya mengakhiri obrolannya. Kini Gavin lagi sendiri di ruangannya.
"Kenapa sikap Bu Christy begitu sama, aku ya. Ada apa dengannya sampai dia begitu baik dan perhatian sama aku. Dan aku harus hati-hati, siapa tahu ada maksud." ucap Gavin lirih.
__ADS_1
------------------------------
Bersambung...