
....................................
Seno kayak kesetanan, teriak-teriak dalam mobil. Pikirannya benar-benar kalut dan membuat dirinya hilang keseimbangan dan akhirnya..
BRAAAAAK.!!
Mobilnya menabrak sebuah pembatas jalan, dan dari arah berlawanan melintas sebuah minibus dan langsung membuat kedua kendaraan itu bertabrakan.
Seketika bantuan berdatangan, penduduk sekitar mulai mendekati kecelakaan itu. Tak lama kemudian Polisi datang diikuti sebuah Ambulans. Semua korban langsung diangkut menuju rumah sakit.
.
.
.
Seminggu kemudian, kabar berita tentang kecelakaan yang menimpa Seno akhirnya tercium keluarga Bu Ratih dan Gavin.
"Mas, Emang Mas Bagas tahu dari mana kalau Seno kecelakaan.?" tanya Bu Ratih.
"Teman Mas Bagas yang kasih tahu. Sudah seminggu, Tih. Sekaramg keadaannya belum sadar, karena kecelakaannya memang hebat." ucap Bagas.
"Kasihan, juga Mas. Baru saja dia keluar penjara dan meminta maaf sama Ratih. Eh.., nggak tahunya musibah menantinya." ucap Bu Ratih.
"Kamu, jangan sok baik. Itu sudah menjadi hukuman dan karma bagi orang seperti Seno itu." jawab Bagas dengan nada tinggi.
"Iya, juga sih, Mas. Tapi, kita kan punya hati. Tetap aja menyimpan rasa kasihan." jawab Bu Ratih.
"Memang, bener. Tapi, kamu jangan sampai kemakan omongannya Seno." kini suara Bagas sedikit kalem.
"Iya, Mas. Aku tahu itu." jawab Bu Ratih.
"Kamu, hari ini nggak kemana-mana, kan?" tanya Bagas.
"Enggak, Mas. Kenapa emang?" tanya Bu Ratih.
"Bantuin Mbak mu, dia hari ini ada pesanan nasi box tiga ratus porsi."jawab Bagas.
"Baik, Mas." ucap Bu Ratih lirih.
Bagas kemudian meninggalkan Bu Ratih sendirian yang duduk di ruang tengah. Kesibukan Bu Ratih selain ngajar di kampus, kalau libur biasanya dirumah saja.
Kini Kakak iparnya punya usaha cathering jadi, dia punya kegiatan baru. Mamanya dan Winda selama ini adalah teman dia dikala lagi di rumah, kini setelah Kakaknya menikah, temannya jadi bertambah. Bentar lagi Bu Ratih akan menikah dengan Gavin. Mudah-mudahan dilancarkan sampai hari H.
.
.
.
"Vin, kamu sudah dengar kabar, kalau Seno habis kecelakaan.?" tanya Pak Indra.
"Ya ampun, Pa! kapan?" tanya Gavin.
sambil mendaratkan badannya disofa.
"Kecelakaannya, sih seminggu yang lalu. Tapi, sampai sekarang dia masih belum sadar." jawab Pak Indra.
__ADS_1
"Sebenarnya, sebagai manusia yang punya hati, kasihan juga melihat Seno yang seperti sekarang." ucap Gavin.
"Iya, Nak. Tapi, apa yang sudah dilakukan terhadap calon istrimu dulu, Papa merasa harga diri anak Papa diinjak-injak. Untung anak Papa ini bijak, jadi tidak akan mempermasalahkan hal buruk yang sudah menimpa kekasihnya." ucap Pak Indra seraya menepuk pundak Gavin.
"Pa, Kak Mahen dan Kak Kinan keluar, ya? tadi Gavin melihat mobilnya keluar garasi." tanya Gavindra sembari matanya melihat keluar.
"Iya, Katanya sih mau ke Butiq. Hunting baju buat acara nikahan kamu. Mumpung ada waktu, jadi dicicil mulai sekarang." jawab Pak Indra.
"Oh, gitu." jawab Gavin datar.
"Soal kantor, gimana? aman kan?" tanya Pak Indra.
"Aman, Pa. Soal proyek di Bandung sudah berjalan, meskipun baru sepuluh persen." jawab Gavin.
"Bagus. Kamu mulai terbiasa sekarang. Papa harap, nantinya kamu menjadi pengganti, Papa." sahut Pak Indra.
"Iya, Pa. Tapi, Gavin masih tetep perlu bimbingan dari Papa." ucap Gavin.
"Itu tentu, Nak. Papa nggak mungkin ngelepasin kamu begitu saja. Dulu Kakakmu juga gitu. Setelah Papa rasa sudah cukup mumpuni, akhirnya Papa lepas." jelas Pak Indra.
"Iya, Pa." jawabnya.
Gavin membuka ponselnya, ada pesan masuk dari Bu Ratih.
'Sayang, apa sudah dengar kabar kalau Seno kecelakaan?'
'Iya, barusan Papaku cerita.'
'Oh, ya sudah. Kirain belum tahu.'
'Kenapa, kita jenguk dia, yuk?'
'Enggak. kenapa, emang?'
'Kirain kamu benci, sama dia?'
'Tapi, kalau sekarang dia sudah terbaring di rumah sakit seperti itu, dia bisa apa?'
'Iya, juga sih.'
'Ya sudah, setengah jam lagi aku jemput, siap-siaplah. Kita jenguk Seno'
Gavin menutup kembali ponselnya, lalu beranjak berdiri.
"Mau, kemana Vin?" tanya Pak Indra.
"Mau ke rumah Ratih, Pa." jawab Gavin.
Pak Indra tersenyum sambil mengangguk pelan.
Gavin naik ke atas untuk mengambil kunci mobilnya.
Dia menyalahkan mesin mobilnya sesampainya dia di garasi. Sekitar sepuluh menit kusia Gavin mengeluarkan mobilnya dan melajukan menyusuri jalan raya.
.
Dirumah Bu Ratih, Gavin memarkirkan seperti biasa, tapi setelah keluar mobil, Bu Ratih keluar menuju halaman.
__ADS_1
"Kita, langsung berangkat?" tanya Gavin.
"Iya, nggak apa-apa." jawab Bu Ratih.
Gavindra membuka pintu buat Bu Ratih. Kemudian dia masuk dan melajukan lagi mobilnya. Bu Ratih mendapat info dari Bagas tentang dimana Seno dirawat, jadi mereka tidak kesulitan untuk mencari info.
Sesampainya di rumah sakit, Gavin dan Bu Ratih menuju ruang rawat dimana Seno dirawat. Setelah tiba diruangan, mereka melihat Seno terbaring lemah dengan beberapa alat bantu yang menempel di tubuhnya.
Sedangkan tak seorang pun yang menjaganya. Bu Ratih menatap ke arah Gavin. Kemudian mereka masuk.
Ditatapnya wajah Seno yang lemah tak berdaya.
Tiba-tiba masuklah seorang Dokter dan Perawat. Mereka melempar senyum kearah Gavin dan Bu Ratih.
"Maaf, kalian keluarganya?" tanya Dokter itu.
"Emm, bukan Dok. Kami temannya." jawab Bu Ratih.
"Oh, kirain keluarganya. Kasihan pasien ini, sejak kejadian seminggu yang lalu, baru sekali dia dijenguk keluarganya. Itupun hanya ngurusi soal administrasinya saja, setelah itu dia nggak muncul lagi." ucap Dokter itu.
"Masa sih, Dok." sahut Gavin seraya menoleh ke arah Bu Ratih.
"Iya, Mas. Pasien ini koma, karena begitu hebat kecelakaan yang menimpanya, sehingga membuatnya dia seperti ini. Hanya keajaiban yang Kuasa dia bisa sadar kembali.
Kami pihak rumah sakit sudah menjelaskan sama pihak keluarga, alat bantu ini dilepas atau tetap seperti ini. Karena kalau tetap dipasang dia tetap saja seperti ini dan memakan banyak biaya. Tapi, kalau dilepas, ya kita harus mengikhlaskannya." terang Dokter itu.
Bu Ratih kaget sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tak terasa matanya berkaca-kaca mendengar penjelasan dari Dokter ith. Gavin melihat wajah kekasihnya itu berubah merah, langsung saja menarik pundaknya dan memeluknya.
"Terima kasih, Dok. Telah membantu teman kami" ucap Gavin.
"Iya, sama-sama, karena ini sudah menjadi tugas kami." jawab Dokter itu sambil mengecek keadaan Seno.
Kemudian Dokter itu pamitan keluar lagi. Gavin dan Bu Ratih mengangguk dan tersenyum.
"Sayang, kasihan Seno, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya, sayang. Meskipun dia sudah jahat sama kita, tapi dia juga manusia biasa. Tidak sempurna." jawab Gavin.
"Aku mau bilang sesuatu, tapi kamu jangan marah, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya, bilang aja." sahut Gavin.
"Sebenernya, waktu kamu di Bandung. Dia pernah menemuiku di kampus. Dia meminta maaf dan mohon ampun karena telah berbuat salah sama aku. Awalnya aku nggak mau, tapi setelah dia memohon terus akhirnya saya mau menemui dan memaafkan dia. Maaf aku takut kalau bilang sama kamu." terang Bu Ratih.
Gavin hanya tersenyum kecil, dan mengangguk sambil memeluk Bu Ratih.
"Kenapa mesti marah, sayang. Aku percaya penuh sama kamu." jawab Gavin.
"Terima kasih, sayang. Aku beruntung sekali mempunyai kamu." ucap Bu Ratih.
Kemudian Gavin memcium kening kekasihnya itu, lalu mengajaknya keluar dari situ.
"Ayo, kita pulang." ajak Gavin.
Bu Ratih mengangguk lalu mereka melangkah keluar. Ketika mereka ebuka pintu, tiba-tiba diluar mereka berpapasan dengan seorang gadis yang hendak masuk ke kamar Seno.
Gavin agak lupa siapa gadis itu. Tapi, lain halnya dengan Gadis itu dia langsung menyapa Gavindra.
__ADS_1
"Mas Gavindra..!"
Next..................(48).