
Semua yang hadir di ruangan itu ontak kaget setelah mendengar Cindy menyebutkan nama Gazi meskipun dengan terbata. Sarah langsung mendekati adiknya dan langsung memeluknya.
"Alhamdulilah, kamu sudah siuman. Coba lihat siapa yang hadir disini. Banyak orang-orang yang menyayangimu, jadi kamu harus kuat ya,?" ucap Sarah.
"Cin, kamu sudah sadar? Kamu yang kuat ya,?" kini Gazi ikut menyaut sambil memegang tangannya.
Cindy mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Dia mendapati ada dokter, perawat, lalu ada Papa dan Mamanya Gazi. Dia kemudian menoleh ke sebelah kanannya ada Zahra dan seorang laki-laki.
Kemudian dia kembali menatap Sarah dan Gazi. Mungkin dia bertanya-tanya ada apa ini. "Kak, ada apa ini."
"Cindy, lihatlah.. kamu hari ini sudah sah menjadi istri Gazi. Dia memenuhi janjinya sama kamu untuk selalu mendampingi kamu, asalkan kamu harus tetap bertahan dan berjuang melawan penyakit kamu." jelas Sarah.
Cindy lalu melihat sebuah kerudung putih menempel di kepalanya. Tak lama kemudian dia melihat tangannya ya g di pegangi oleh Gazi. Ada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
Lalu dia menoleh ke Zahra yang berdiri di dekat Pak Ustad. Kemudian memandangi Gazi. Bagaimanapun juga sekarang dia sah menjadi Gazi.
"Zi, benarkah ini. Apa aku nggak mimpi,?" tanya Cindy dengan senyum meskipun sedikit di paksa.
"Enggak, beneran Cin. Kita sudah menikah, itu ada Papa dan Mamaku juga." jawab Gazi.
__ADS_1
"Lalu, Zahra gimana.?"
"Sudahlah Cin, kamu nggak usah mikirin aku dulu. Yang penting sekarang kamu sehat dan bisa kembali aktivitas." sahut Zahra dengan mendekati Cindy dan Gazi.
"Kamu gadis yang baik. Pantas Gazi memilihmu sebagai kekasihmu dari pada aku. Kamu memang baik sekali."
"Ssstt, sudah jangan banyak bicara dulu. Yang penting sekarang kan Gazi sudah memilihmu menjadi istrinya. Jadi sekarang kamu harus kuat dan sehat kembali." jawab Zahra.
"Makasih Zahra, kamu sudah merekalan Gazi untuk menikahiku." jawab Cindy.
Zahra hanya tersenyum dan memegang tangannya Cindy dan Gazi. Kemudian dia keluar ruangan itu dengan matanya yang sudah mengembun. Gazi hanya melihat gadis yang di cintainya kini keluar ruangan itu, dia tidak bisa apa-apa karena sekarang ada hati yang harus dia jaga yaitu istrinya Cindy.
Memang alasannya karena wanita itu lagi sakit, tapi bagaimanapun juga dia seorang wanita yang punya hati dan perasaan. Saat ini hatinya sangat hancur berkeping-keping, dia juga nggak mau bohongi hatinya sendiri.
Tak lama kemudian Bu Ratih mendekatinya dan duduk disampingnya. Buru-buru dia mengusap air matanya yang sudah menetes di pipinya.
"Zahra, kamu pasti sedih ya.?"
Zahra tersenyum kearah Bu Ratih, "Tante.!"
__ADS_1
"Tante ngerti gimana perasaan kamu saat ini, bagaimanapun juga Gazi adalah kekasih kamu. Tapi, Tante percaya kalau kamu bisa menghadapi ini." ucap Bu Ratih.
"Iya Tante, Zahra sebenarnya juga nggak apa-apa. Tapi Zahra tidak bisa membohongi hati Zahra sendiri. Kasihan Cindy, dia memang sangat membutuhkan Gazi." jawab Zahra.
"Betul Nak, kamu harus mengerti akan hal itu." ucap Bu Ratih.
Ketika mereka berdua lagi ngobrol-ngobrol, Gazi tiba-tiba muncul dan ikut bergabung dengan Mamanya dan Zahra.
"Sayang, kamu menangis,?" tanya Gazi.
"Nggak kok Bie, aku hanya terharu saja melihat Cindy." jawabnya.
"Zahra, semua ini juga bukan kehendakku. Aku melakukan ini hanya demi menyenangkan Cindy di sisa umurnya yang mu gkin nggak lama lagi." ucap Gazi sambil memegang tangan Zahra.
"Aku nggak apa-apa kok, ini tadi aku terharu karena melihat Cindy yang berjuang melawan penyakitnya. Kamu temani dia, karena saat ini dia lebih membutuhkanmu dari pada aku." jawab Zahra.
"Makasih ya sayang, kamu sangat pengertian banget. Aku janji, suatu hari nanti aku akan membuatmu bahagia." jawab Gazi.
-------------------------------
__ADS_1
Bersambung...