
..................................
"Mas, Gavindra.!" seru gadis itu seraya mengamati Gavin dan Bu Ratih.
Sedangkan Gavin sendiri masih bingung siapa gadis ini.
"Mas, Gavin. Lupa sama, aku?" ucapnya.
"Maaf, kamu siapa, ya"? tanya Gavin balik.
"Aku, Sasha Mas! anaknya Pak Ferry maulana.
Kemudian Bu Ratih menoleh kearah Gavin dengan pandangan penuh tanya.
"Kamu, kenal dia, sayang?" tanya Bu Ratih.
"Mungkin, sayang. Tapi, aku lupa." sahutnya.
"Aku, kan ikut Papaku saat kamu ada janji dengannya direstoran tempo hari, Mas?" jawab Sasha meyakinkan.
Gavin seketika ingat.
"Emm..iya, aku baru ingat sekarang. Tapi, kamu disini ada perlu apa?" tanya Gavin balik.
"Aku, mau jenguk Mas Seno." sahutnya.
"Kamu, kenal Seno, juga?" kini Bu Ratih ikut bersuara.
"Iya, Mbak." jawabnya singkat.
"Tapi, maaf ya? kok sampai kamu yang repot-repot ngurus Seno?" tanya Gavin sembari melihat barang-barang yang dibawa Sasha ke rumah sakit.
"Oh, ini. Iya, waktu kecelakaan memang keluargaku yang urus, kebetulan waktu itu aku dan Mas Seno baru aja ketemu. Saat itu aku kasih kartu nama ke Mas Seno. Sepulang mengantarku pulang, dia mengalami kecelakaan ini. Mungkin orang yang menolong menemukan kartu namaku. Karena ponselnya juga nggak ngerti dimana." terang Sasha.
"Tapi, keluarganya belum tahu tentang hal ini?" tanya Gavin.
"Belum, Mas. Identitas aja nggak ada. Tapi, Papa sudah berusaha mencari soal keluarganya. Katanya sih, sudah dapat." jawab Sasha.
__ADS_1
"Syukurlah, kalau begitu." jawab Gavin.
"Oh iya, Mas. Kalian teman Mas Seno?" tanya Sasha.
"Iya, kebetulan calon istriku ini yang berteman dengan dia." ucap Gavin datar.
"Oh..jadi ini calon istri, Mas Gavin." tanya Sasha sambil melirik kearah Bu Ratih.
"Iya, ini calon istri aku." jawab Gavin tegas.
Terlihat wajah Sasha berubah, tapi tak lama kemudian dia kembali tersenyum.
"Selamat, ya Mas. Mudah-mudahan lancar sampai hari H." ucap Sasha.
"Terima kasih, Sa." jawab Gavin.
"Mas Gavin, sebelumnya Sasha minta maaf, ya?" ucap Sasha sambil menunduk.
Gavin dan Bu Ratih nggak ngerti apa yang dimaksud Sasha. Bu Ratih mengajak Sasha duduk di kursi. Kini mereka bertiga duduk di kursi yang ada di kamarnya Seno.
"Mas Gavin, kalau boleh jujur. Sasha suka sama Mas Gavin sejak pertama kali kita ketemu saat itu. Awalnya Sasha belum menyerah dan harus mendapatkan Mas Gavin. Mas Gavin, masih ingat nggak? saat malam-malam ada yang ngechat Mas Gavin. Itu Sasha Mas. Dan itu pun didukung oleh Papa. Tapi--" Sasha nggak meneruskan kalimatnya.
"Sa, tenangin dirimu. Jangan nangis, ini rumah sakit." ucap Gavin.
"Ada apa, Sa? kamu jangan takut. Kita nggak akan marah, kok." sahut Bu Ratih.
"Papa Mbak, dia terobsesi untuk bisa menjadikan menantu Mas Gavindra. Karena Mas Gavindra adalah bakal penerus perusahaan Pak Indra. Papaku ternyata melakukan ini bukan karena tulus seperti apa yang aku rasakan. Dia melakukannya karena harta dan kekuasaan. Huaaaah.." tangis Sasha seketika pecah. Dia lalu memeluk Bu Ratih.
"Sasha minta maaf, Mbak. Aku bukan bermaksud untuk merebut, tapi sebelum semuanya terjadi. Makanya Sasha nggak meneruskan niatan ini. Papa marah dan akhirnya kami bertengkar. Sasha lari dari rumah dan akhirnya ketemu Mas Seno itu." terang Sasha dengan terisak.
"Sudah, sudah.! Mbak Ratih paham hal itu, kok. Yang penting sekarang kamu sudah sadar kalau Gavindra sudah punya calon Istri, jadi kamu harus bisa menjelaskan sama Papa kamu, kalau apa yang dilakukannya itu adalah salah. Kamu cantik, pasti nantinya kamu mendapatkan jodoh yang baik." ucapan Bu Ratih begitu bijak dam santun.
Gavin tersenyum bangga kearah kekasihnya itu. Dia bisa mengerti dengan keadaan ini.
"Sasha, Kami berdua nggak marah, kok sama kamu." ucap Bu Ratih.
"Iya, Sa. Mas Gavin sudah faham akan tabiat buruk Papamu, maaf kalau aku menyebutkan itu ke kamu. Tapi, memang itu kenyataannya." ucap Gavin.
__ADS_1
"Iya, Mas. Makanya Sasha nggak sefaham dengan Papa. Dia egois dan serakah." ucap Sasha.
"Sssttt..! kamu nggak boleh bicara seperti itu, bagaimanapun juga dia Ayahmu. Tugas kamu sekarang adalah, mengingatkan supaya dia cepat sadar." sahut Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Kamu baik banget, Mas Gavin beruntung punya calon Istri sebaik Mbak Ratih." ucap Sasha.
"Ya sudah, kalau kamu mau nunggu Seno disini, silahkan. Kami berdua permisi dulu. Kamu hati-hati, ya?" ucap Gavin.
"Iya, Mas. Sekali lagi Sasha minta maaf, ya?" ucap Sasha lirih.
"Iya, iya.., nggak usah dibahas lagi." ucap Gavin.
Akhirnya Gavin dan Bu Ratih melangkah meninggalkan ruangan itu. Gavin tak lupa menggandeng tangan Bu Ratih. Perempuan itu tersenyum sembari melihat kearah laki-laki pujaannya itu. Gavinpun juga tak kalah, dia membalasnya melirik.
Kedua sepasang sejoli itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Mereka memang pasangan serasi, sama-sama punya hati yang tulus. Padahal apa yang sudah dilakukan Seno terhadap Bu Ratih itu adalah hal benar-benar memalukan.
Tapi, dengan ketulusan dan keikhlasan hati, mereka melupakan dan menguburnya sebagai masa lalu yang kelam.
.
.
Diruangan Seno dirawat, Sasha dengan telaten merawat dan menungguinya. Gadis itu seolah sudah kenal dekat Seno. Sampai-sampai dia kelelahan dan ketiduran disisi Seno.
Hampir seharian Sasha menjaga Seno di rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Sasha mengamati wajah Seno yang masih terpejam dengan alat bantu yang menempel ke tubuh.
"Mas, Seno. Kenapa ya, Sasha kok seperti sudah kenal dekat sama kamu" ucap Ratih sambil memegangi tangan Seno.
"Mas, Kamu dengerin, Sasha kan? malam itu ketika kamu menceritakan masa lalu kamu yang buruk, Sasha memang kecewa dan kaget, kenapa sampai ketemu dengan orang seperti kamu.
Tapi, setelah melihat kamu bicara dengan tulus kalau kamu sudah menyesal, aku sadar dan percaya kalau itu memang tulus dari hati kamu." Sasha terus mengajak Seno bicara untuk memancing reaksinya. Kali ini ada kemajuan, Seno terlihat meneteskan air matanya.
Ada cairan putih yang luruh dari sudut mata Seno.
Sasha seketika kaget dan mendekatkan wajahnya ke wajah Seno. Mata Sasha lalu berbinar dan reflek memeluk tubuh Seno.
"Ra.a..tih.!"
__ADS_1
Sasha membelalakan matanya ketika Seno membuka mulutnya dengan menyebut nama Ratih.
Next..............(49).