
Saat malam menjelang, Gavin dan Bu
Ratih menghabiskan waktunya untuk duduk-duduk di balkon kamarnya. Bu Ratih membawakan makanan kecil serta secangkir kopi susu buat suaminya. Mereka bercerita satu sama lain soal aktivitas masing-masing.
"Sayang, kamu tahu nggak. Tadi dikantor ada Papa mengumumkan sesuatu buat aku." ucap Gavin dengan mata berbinar.
"Memang apa, sayang.?" jawab Bu Ratih.
"Papa mengumumkan kalau suamimu ini akan menggantikannya di kantor tersebut. Karena, dia mau pensiun." ucap Gavin sambil menggenggam tangan istrinya.
"Apa! yang benar, sayang? kamu akan memimpin perusahaan itu?" seru Bu Ratih dengan wajah yang sumringah.
"Iya, sayang. Tapi, Papa juga nggak lepas begitu saja. Sewaktu-waktu juga dia akan berkunjung ke kantor." jelas Gavin.
"Sayang, kira-kira ini apa nggak akan menimbulkan kecemburuan sosial bagi Kak Mahen." tanya Bu Ratih.
"Enggak, sayang. Kak Mahen juga pernah bilang, kalau aku nggak apa-apa jika memegang kantor pusat, sedangkan Kak Mahen hanya di kantor cabang. Karena, dikantor cabang masih banyak karyawan baru. Kalau aku yang pegang, yang notabene juga masih baru nanti bisa-bisa berantakan." jelas Gavin.
"Ya sudah, kalau gitu. Aku hanya kawatir saja." sahut Bu Ratih pelan.
"Kamu tenang saja, suamimu ini akan memegang amanat dengan baik." ucap Gavin.
"Iya, sayang. Ayo minum dulu kopinya." ucap Bu Ratih seraya memberikan kopi ke suaminya.
"Terima kasih, sayang." jawab Gavin.
"Oh iya, sayang. Besok aku kayaknya pulang agak telat, karena ada rapat sama dekan sepulang jam kuliah." ucap Bu Ratih.
"Okey, jadi besok aku nggak langsung jemput, ya. Kamu tinggal telpon aja kalau sudah pulang." ucap Gavin.
"Iya, sayang." jawab Bu Ratih sambil memegang tangan suaminya.
Tak terasa jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam. Mereka keasyikan ngobrol sampai tak terasa kalau sudah larut. Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat karena besok harus kembali beraktivitas.
****
Hari ini dikampus Bu Ratih mengajar seperti biasa. Siang harinya saat jam istirahat, dia menghabiskan waktunya di perpustakaan. Setelah makan siang dia selalu kesitu.
Dia mengambil tempat duduk yang paling pojok dan agak sepi. Dibukanya buku yang dia bawa. Perlahan tapi serius dalam memahami apa isi dalam buku tersebut.
Tak terasa hari pun beranjak sore. Dilihatnya jam yang ada di pergelangan tangannya. Jarum sudah menunjukan pukul tiga sore. Hampir dua jam dia menghabiskan waktu di perpustakaan. Jadwal kelas memang sudah tidak ada. Berhubung hari ini ada rapat sama dekan, jadi Bu Ratih menunggu dengan membaca di perpustakaan.
Dia berjalan menuju ruangan Dosen. Rapat dimulai pukul setengah empat. Dia menuju mejanya bergabung dengan Dosen yang lainnya.
"Bu Ratih, tau nggak, kabarnya ini dekan akan menambah jam kelas bagi para Dosen." ucap Pak Rustam Dosen yang terkenal killer sekampus.
"Oh gitu, ya Pak. Kenapa sampai gitu, ya? tanya Bu Ratih balik.
"Kurang tahu juga, Bu. Mungkin karena mau ada ujian semester." jawab Pak Rustam.
"Bakalan semakin sibuk, kita Pak. Jam kepulangan juga mungkin diundur." sahut Bu Ratih.
Disaat Bu Ratih ngobrol-ngobrol dengan Pak Rustam. Tiba-tiba Bu Silvi datang dengan membawa berita.
"Maaf rekan-rekan semua, rapat diundur sampai jam lima nanti, karena Pak Dekan masih ada urusan." ucap Bu Silvi dengannn suara yang membahana ke seluruh ruangan.
Seketika Bu Ratih menghela nafas panjang. Dalam hatinya dia bergumam, pasti tambah lama saja ini.
"Tuh kan, Bu Ratih. Semakin dibuat sulit aja kerja kita." ucap Pak Rustam lirih.
Bu Ratih hanya tersenyum saat Pak Rustam bicara. Mau gimana lagi, terpaksa harus menunggu lagi sampai jam lima. Pulang malam juga ini jadinya. Bathin Bu Ratih.
__ADS_1
Sementara ditempat berbeda, Gavin sengaja pulang telat karena dirumah juga nggak ada istrinya. Dia masih dibalik layar komputer di meja kerjanya.
Tiba-tiba pintu diketok.
"Tok...tok..tok..!"
"Iya silahkan masuk."sahut Gavin dari dalam.
Setelah pintu dibuka, masuklah seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris baru itu.
Gavin sontak menutup layar komputernya itu dan membetulkan tempat duduknya.
"Ada perlu apa, saya tidak memanggil kamu.!" ucap Gavin.
"Pak Gavin kok belum pulang, ini kan sudah jam empat.?" kini malah dia yang balik bertanya.
"Kamu itu aneh, ya? Saya tanya ada perlu apa, malah kami balik tanya.!" kini suara Gavin nggak begitu enak didengar.
"Iya, maaf Pak. Saya kesini cuma mau nawarim sesuatu, minum misalnya buat nemani Bapak." ucapnya nggak penting.
"Kamu nggak usah repot-repot mengurus, saya. Karena sudah ada OB apa OG, tinggal saya minta tolong sama dia." jawab Gavin datar.
"Pak Gavin jangan marah, dong. Saya, kan disini masih baru, jadi perlu banyak besosialisasi dengan atasan dan karyawan yang lainnya." jawabnya membela diri.
Masuk akal juga sih omongannya, cuma dia nggak suka dengan sikap dan penampilannya kali ini. Rok pendek yang diatas lutut sehingga menujukan jelas kulitnya yang putih membuat jengah mata yang melihatnya. Gumam Gavin.
"Oh ya, mulai besok, kamu jangan pakai pakaian seperti ini lagi. Pakailah yang lebih sopan. Dan kalau memang sudah tidak ada kepentingan lagi, saya mohon tinggalkan ruangan saya." ucap Gavin sambil membukakan pintu buat sekretaris itu.
Saat pintu dibuka, ada Kasih yang mau masuk dengan membawakan secangkir kopi. Wajah Bu Yolanda seketika menampakan rasa tidak suka ketika melihat Kasih yang membawakan secangkir kopi buat atasannya itu.
Kasih kemudian masuk dan meletakan kopi itu diatas meja Gavin. Bu Yolanda sudah meninggalkan mereka berdua diruangan itu. Tapi, saat Kasih mau keluar ruangan, Gavin mamanggilnya.
Seketika Kasih menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Gavin.
"Iya, ada apa, Pak?" jawabnya.
"Makasih kasih, kamu telah menyelamatkan aku dari sekretaris bawel itu. Tadinya aku mau dibawakan minuman, tapi, aku menolak karena aku bilang sudah ada yang melayaniku dikantor ini. Dan kebetulan kamu datang membawakanku minum." jawab Gavin sambil tersenyum.
"Iya, Pak. Saya dibilangin sama Om Firman. Jika saat jam kepulangan kantor, tapi, ruangan Direktur masih ada orangnya, saya wajib mengantarkan minuman buat Bapak. Kali, aja ada lembur." jawabnya sambil menundukan kepala.
"Pak Firman itu om kamu?" tanya Gavin.
"Iya, Pak. Dia juga yang merekomendasikan saya saat mau kerja disini pada Pak Indra." jawabnya.
"Oh gitu. Kamu baik, Kasih. Jadi kerjalah dengan rajin. Dan terima kasih kopinya, ya?" ucap Gavin.
"Saya pamit pulang dulu, ya Pak. Karena jam kantor sudah habis. Pak Gavin hati-hati kerjanya." ucap Kasih.
"Iya, Kasih. Terima kasih." sahut Gavin dan membiarkan Kasih meninggalkan ruangannya.
Gavin masih melihat kepergian Kasih dari tempatnya berdiri. Gadis itu memang baik. Tapi, sayangnya keberuntungan nggak berpihak padanya. Gumam Gavin.
Gavin kembali duduk dan meminum kopi yang baru saja dibuatkan oleh Kasih. Gavin mengecek ponselnya, belum ada tanda-tanda istrinya minta jemput. Dia melirik jam yang ada dimeja kerjanya. Jarum sudah menunjukan pukul lima kurang. Apa dia langsung pulang saja, atau nunggu istrinya.
Akhirnya Gavin memutuskan pulang saja, karena hari mulai petang. Lagian kalau nunggu dikantor jenuh juga.
Dia melangkah meninggalkan ruangannya dan menuju parkiran. Dia menuju mobil sport merah kesayangannya itu. Kemudian dia melajukan mobilnya seperti biasa. Saat keluar pintu gerbang kantor, dia mendapati si Kasih menunggu angkot.
Gavin menghentikan mobilnya pas disamping Kasih berdiri. Gadis itu tiba-tiba kaget saat ada mobil yang berhenti pas didekatnya. Kaca jendela kemudian terbuka.
"Kamu nunggu angkot,?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Iya, Pak. Saya nunggu angkot." jawabnya.
"Kalau sore angkot susah, Sih. Ayo masuk, tak anter pulang." ucap Gavin sambil membukakan pintu dari dalam.
"Tidak usah, Pak. Nanti merepotkan Pak Gavin. Biar saya menunggu angkot saja." jawab Kasih.
"Udah masuk, aja. Nanti keburu hari gelap." ucap Gavin.
Akhirnya Kasih mau dan masuk ke mobil Gavin. Kini mereka berdua didalam mobil. Mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing.
"Kasih, kamu masih kerja tambahan di rumah makan itu?" pertanyaan Gavin memecah kebisuan diantara mereka.
"Iya, masih Pak. Kenapa memangnya?" jawab Kasih.
"Nggak apa-apa. Cuma nanya aja. Apa kamu nggak capek?" tanyanya lagi.
"Mau gimana lagi, Pak. Sudah menjadi tugas karena kebutuhan." jawab Kasih.
Gavin kembali terdiam dan konsentrasi menyetir. Kasih juga begitu, dia masih duduk disamping Gavin dengan wajah tertunduk. Mereka kini benar-benar terdiam tanpa kata.
Kasih kembali tenggelam dalam perasaannya terhadap Gavin. Selama ini dia memang memendam rasa karena dia sadar dengan posisinya. Gavin adalah atasannya dan sudah menikah. Makanya, dia sudah bahagia jika melihat Gavin bahagia.
"Pak, saya turun didepan apotik saja, saya mau beli obat buat Ibu." ucap Kasih.
"Lho, itu kan masih jauh dari gang rumah kamu, Sih?" jawab Gavin.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya jalan kaki saja." jawabnya.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Gavin lagi.
"Iya, Pak. Saya jalan kaki saja, nggak apa-apa." jawabnya lagi.
"Ya sudah, kalau itu mau kamu." ucap Gavin.
Akhirnya tiba juga di depan apotik. Kasih turun dari mobil Gavin. Lalu dia menunduk kearah jendela mobil.
"Sekali lagi, terima kasih Pak Gavin. Saya telah diantar pulang." ucap Kasih sambil senyum
Kali ini senyum Kasih begitu hangat. Dia nampak ayu dengan senyuman itu. Mata Gavin menatap Kasih tanpa kedip. Kasih sedikit gelagapan saat melihat ke arah Gavin.
Kemudian Kasih melangkah meninggalkan mobil Gavin lalu menghilang saat dia masuk ke apotik.
Gavin kemudian kembali melajukan mobilnya. Dia lupa nggak mengecek ponselnya sama sekali.
Dia menghentikan mobilnya ke tepi jalan raya, kemudian membuka ponselnya.
Matanya langsung melotot menatap layar ponsel yang telah banyak pesan dari istrinya.
'Sayang, tolong jemput aku sekarang.'
'Sayang, kamu dimana?'
'Hallo Gaviiiiiin.!!'
'...........'
'...........'
-----------------------------------
Bersambung......
__ADS_1