
Suara bariton yang barusan terdengar mengejutkan Kasih dan Bibi yang lagi berbincang. Lebih-labih Kasih sangat terkejut karena takut kalau obrolannya terdengar orang lain. Tapi, ketika mendapati siapa yang barusan datang, dia sedikit lega.
"Eh, Tuan Indra!" seru Bibi.
"Maaf, Pak. Kami lagi duduk-duduk, karena pekerjaan kami sudah beres. Sekali lagi, maaf, Pak!" ucap Kasih sambil menunduk.
"Nggak apa-apa. Saya tadi pulang sendirian, Nyonya masih dirumah Mahen bantu Kinan urus bayinya. Rewel karena habis imunisasi. Lalu saya dapati Gavin tertidur disofa ruang tengah. Makanya saya kesini." tukasnya.
"Mau dibuatin minum, Tuan?" tanya Bibi.
"Buatin teh hangat saja. Nanti bawa kesini, saya mau bicara dengan Kasih sebentar." titah Pak Indra.
"Baik, Tuan. Segera!" jawab Bibi sambil meninggalkan tempat itu menuju dapur.
Kasih jadi takut, apa Pak Indra akan membahas soal omongannya tadi. Atau memarahinya. Batinnya bergejolak.
"Maaf, Sih. Tadi saya nggak sengaja mendengar, kamu cerita sama Bibi kalau kamu pernah mencintai laki-laki yang pernah kamu tolong saat kecelakaan. Apa itu benar?" tanya Pak Indra.
Kasih nggak berani jawab, muka dia jadi tegang karena takut. Dia tetap nggak berani jawab. Bingung mau jawab apa. Takutnya salah faham jika dia bicara jujur.
"Kamu nggak usah takut, bicara saja jujur sama saya. Tenang saja, saya nggak akan marah." ucap Pak Indra.
"Maaf sebelumnya, Pak. Itu hanya cinta monyet saja, itu dulu banget." jawab Kasih bohong.
"Beneran, kamu nggak bohong!" seru Pak Indra.
Kasih masih diam, dia bingung harus jawab apa lagi. Soalnya dia nggak mungkin jujur sama Pak Indra, karena takut salah. Sedangkan Pak Indra semakin curiga sama Kasih, semakin dia diam berarti dia bohong, batinnya.
"Iya, Pak." jawab Kasih sambil matanya berkaca-kaca.
Tiba-tiba Bibi datang mengantarkan teh milik Pak Indra. "Ini Tuan, tehnya" setelah itu Bibi kembali ke dapur.
"Apa laki-laki yang kamu maksud itu adalah anak saya, Gavin?" pertanyaan Pak Indra bagaikan petir memyambar tubuh Kasih.
Degh.!
Kasih mukanya langsung tegang dan memerah. Dia nggak menyangka kalau Pak Indra bakal menanyakan hal ini. Tapi, kenapa Pak Indra bisa bertanya seperti itu. Batin Kasih.
"Kenapa Pak Indra bisa bertanya seperti itu.?" ucap Kasih lirih.
"Kasih,! saya juga pernah muda, saya tahu dari dulu kalau kamu suka sama Gavin. Itu terlihat saat pertama kali Gavin masuk kerja dan ketemu kamu. Cara kamu memperhatikan Gavin dan kamu selalu gugup saat bertemu dengannya. Ditambah Gavin itu pernah melihat kamu tapi dia lupa, makanya setiap dia ketemu sama kamu selalu melihati kamu terus menerus, hingga dia sampai penasaran pernah ketemu kamu dimana. Dan akhirnya kamu menceritakan sama Gavin kalau kamu pernah menolong dia saat kecelakaan dulu. Lalu dia cerita sama saya kalau memang kamulah yang menolong dia saat kecelakaan." jelas Pak Indra.
"Jadi, Pak Gavin cerita sama Bapak kalau sayalah yang menolong dia saat kecelakaan?" tanya Kasih.
__ADS_1
"Iya, Gavin sudah cerita sama, saya. Makanya saat saya mendengar kamu bercerita sama Bibi soal kamu pernah jatuh cinta sama laki-laki yang pernah kamu tolong saat kecelakaan, saya jadi menyimpulkan apakah Gavin lah yang pernah membuatmu jatuh cinta sampai sekarang ini.?" tukas Pak Indra.
"Saya takut, Pak." ucap Kasih.
"Takut kenapa?" tanya Pak Indra.
"Saya takut Pak Gavin dan Bu Ratih marah sama saya, kalau saya bicara jujur." jawab Kasih.
"Baiklah, kalau kamu takut bicara jujur sama mereka, setidaknya bicaralah jujur sama saya" ucap Pak Indra.
"Tapi__"
"Ngga usah takut, saya tidak akan bicara sama siapa-siapa." ucap Pak Indra meyakinkan.
"Baiklah Pak, saya akan bicara jujur. Saya memang mencintai Pak Gavin sejak pertama kali saya bertemu dia saat kecelakan dulu. Saya memang terpesona pada parasnya yang ganteng dan gagah. Tapi, rasa itu saya kubur dalam-dalam ketika saya sudah nggak bertemu dia lagi. Akan tetapi, disaat saya melihat dia dikantor waktu itu, saya keingat kembali akan hal itu. Tapi, setelah saya tahu kalau Pak Gavin adalah atasan saya dan sudah punya pacar, maka rasa itu harus saya hilangkan bahkan saya kubur, karena saya tahu diri sama diri saya ini siapa." jelas Kasih.
Pak Indra tersenyum mendengar pengakuan Kasih. Kemudian dia mencoba menjelaskan sesuatu.
"Kasih, kamu yakin kalau kamu sudah tidak ada hati sama Gavin. Bahkan setelah tahu bahwa Ratih mengingkan kamu untuk menikah dengan suaminya supaya Gavin bisa punya keturuan sama kamu?" tanya Pak Indra.
"Iya, saya akui Pak kalau semua itu nggak muda, apalagi saya sekarang hidup satu atap sama Pak Gavin. Tapi, saya tahu banget kalau saya nggak punya hak atas semua ini. Bahkan saat saya menerima tawaran Bu Raih pun itu, murni karena saya ingin membalas kebaikan Bu Ratih yang selama ini dia berikan sama saya dan keluarga saya. Saya tidak pernah membawa masalah pribadi saya dengan urusan perjodohan ini. Makanya saya ingin masalah ini tidak pernah terungkap, bahkan anggap saja tidak pernah terjadi" jelas Kasih.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan menyimpan rahasia ini. Jika memang kamu menerima perjodohan ini dengan ikhlas dan tulus, saya akan mendukungnya." jawab Pak Indra.
"Baiklah, saya pegang omongan kamu. Setelah ini saya akan membicarakan masalah ini dengan Gavin." sahut Pak Indra.
"Tapi, gimana dengan Bu Hesty, Pak?" tanya Kasih.
"Kamu nggak usah takut, istri saya sudah nurut sama saya. dia tidak akan berani memaksakan kehendaknya lagi." jawab Pak Indra.
"Terima kasih, Pak Indra." ucapnya sambil menundukan kepalanya.
"Saya permisi ke kamar dulu, ya. Kamu lanjutin saja aktivitasmu." ucap Pak Indra sambil berdiri menuju kamarnya.
Kasih sedikit lega akhirnya Pak Indra tidak marah karena sudah mendengar pengakuan darinya. Tapi, dari lubuk hatinya masih ada rasa takut, kalau tiba-tiba ada yang tahu soal perasaannya sama Gavin.
Dia beranjak dari tempat duduknya lalu menuju kamarnya diatas. Tapi, disaat dia melewati ruang tengah, ternyata Gavin sudah bangun dan duduk disofa sambil matanya menatap kosong karena baru bangun tidur.
"Eh, Pak Gavin sudah bangun. Saya siapkan makannya Pak. Tadi Pak Gavin belum sempat sarapan." tawar Kasih.
"Iya, nggak apa-apa. Saya lapar, nih. Sudah jam sepuluh, nggak kerasa." jawab Gavin.
"Baiklah Pak." jawab Kasih.
__ADS_1
Akhirnya Kasih menyiapkan makan buat Gavin. Setelah semua siap, Gavin pun menuju meja makan. Sedangkan Kasih masih telaten meladeni majikannya itu. Dia mengambilkan makanan untuk Gavin. Pemandangan itu ternyata diperhatikan Pak Indra dari jauh, dari kamarnya Pak Indra bisa melihat karena pintunya kebetulan nggak dia tutup.
"Sudah, Sih. Cukup segitu saja. Saya mau lauk yang itu." ucap Gavin sambil menunjuk lauk yang dia inginkan.
Setelah Kasih meladeni majikannya itu, dia beranjak dan mau meninggalkan meja makan itu. Tapi, tiba-tiba Gavin mencegahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Gavin.
"Mau ke kamar, Pak." jawab kasih singkat.
"Kamu mau ninggalin saya sendiri disini, lalu kalau saya sudah selesai makan, ini siapa yang beresin. Saya tadi lihat Bibi keluar sambil bawa gunting rumput. Pasti mau ngerapiin bunga ditaman." tukas Gavin.
"Baiklah Pak. Saya tungguin disini." jawab Kasih sambil mendaratkan tubuhnya dikursi meja makan.
Pak Indra dari kejauhan masih memperhatikan kedua anak manusia itu. Kasih memang gadis baik, nggak salah Ratih kalau memilihnya untuk dijadikan istri kedua suaminya. Ratih juga nggak kalah baik, dia rela berkorban demi kebahgiaan suami dan keluarnya. Batin Pak Indra.
"Sih, gimana barang yang saya belikan buat kamu dari Jepang itu. Kamu suka?" tanya Gavin.
"Saya suka banget, Pak. Saya nggak menyangka kalau bakal punya pasmina yang bagus dan mahal." jawabnya.
"Itu saya pilihkan, saat Pak Galih juga milihkan buat istrinya, karena istrinya juga berhijab persis sama kamu. Makanya saya ingat, kamu pasti suka lalu saya ambil satu." jelas Gavin.
"Iya, Pak. Saya terima kasih banget sama Pak Gavin karena telah membelikan barang yang mahal." jawab Kasih.
"Ah, itu biasa saja. Karena seingat saya kamu kan berhijab. Apa salahnya saya belikan itu untuk kamu. Itung-itung itu hadiah karena selama ini kamu sudah setia merawat istri saya." ucap Gavin.
" Baik, Pak. Sama-sama." jawab kasih.
"Ya sudah, kalau gitu ini tolong diberesin, ya. Saya mau keluar sebentar." ucap Gavin sambil berdiri dari kursi.
Saat beres-bera meja makan, tiba-tiba tersengar suara barang pecah. Gavin seraya menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Kenapa!" tanya Gavin.
"Ini nggak sengaja gelas jatuh, lalu saya bersihin pecahannya lah kok tangan saya kena." jawab Kasih sambil memegangi jarinya yang terluka.
"Coba liat.!" seru Gavin seraya meraih tangan Kasih.
Ada darah keluar dari jari yang terluka tadi. Kasih terkejut karena Gavin tiba-tiba memegang tangannya. Dia tidak menolak karena kejadian itu cepat sekali. Kasih memperhatikan Gavin yang lagi membersihkan darahnya pake tisu. Matanya tak hentinya melihati wajah tampan Gavin. Hatinya kembali berdegub, kali ini dia tidak bisa menyembunyikan rasa senang campur takut.
Tanpa sengaja Gavin pun menoleh, dan mendapati Kasih lagi memperhatikannya tanpa kedip. Gavin pun demikian, mereka akhirnya saling pandang satu sama lain. Kasih seolah lupa bahwa yang ada didepannya kali ini adalah majikannya.
--------------------------------
__ADS_1
Bersambung...