BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 125 (Tugas dari Kampus)


__ADS_3

Gavin melangkah meninggalkan Tiara dengan menggandeng tangan Kasih. Dia mau menjelaskan pada Kasih soal apa yang dilihat saat diruangannya tadi.


Setibanya diruangan Gavin. Kasih masih diam dan belum tahu apa yang akan dikatakan oleh suaminya. Gavin mengajaknya duduk di sofa.


"Kasih, kenapa tadi kamu langsung pergi ketika habis menaruh berkas dimeja tadi.?" tanya Gavin sambil menatap Kasih yang masih menunduk.


"Saya takut mengganggu, Mas." jawabnya dengan wajah yang masih menunduk.


"Takut ganggu,! kamu ini aneh, disaat suamimu diganggu wanita lain, kamu bilang takut ganggu. Terus apa kamu nggak cemburu!" seru Gavin.


"Aku bingung, Mas. Takut salah dalam bersikap." jawab Kasih dengan mata berkaca-kaca.


"Ya Ampun, Kasih.,! kamu tahu nggak. Misalnya tadi kamu nggak masuk, bisa-bisa Tiara sudah ngelunjak. Justru kedatangan kamu tadi menyelamatkan aku." jelas Gavin.


"Tiara,! jadi itu tadi yang namanya Tiara? Maafin aku, ya Mas. Aku nggak tahu." ucap Kasih sambil menangis.


Gavin yang melihat Kasih menangis, dia jadi nggak tega. Kemudian dia menghampiri dan menggenggam tangan istrinya itu.


"Maafin aku, ya Sih. Aku tadi cuma emosi campur kawatir kalau kamu nantinya salah faham. Meskipun pernikahan kita bukan didasari dengan cinta. Tapi, aku ingin diantara kita tidak ada salah faham." ucap Gavin.


"Iya, Mas. Aku ngerti. Aku juga minta maaf, karena tadi aku nggak bisa bantu kamu." jawab Kasih.


"Ya sudah, sekarang kamu bisa balik ke rumah minta antar Pak Firman aja. Aku habis ini ada meeting." ucap Gavin sambil memegang pundak Kasih.


"Iya, Mas. Saya pulang dulu, ya?" ucap Kasih.


"Iya, hati-hati." jawab Gavin.


Kasih mencium punggung tangan suaminya, kemudian dia keluar meninggalkan ruangan Gavin. Dia berjalan sambil memikirkan tentang Tiara. Pantesan Pak Gavin nggak mau dengan dia, lah sikapnya kayak gitu. Batin Kasih.


.


.


.


★ KAMPUS ★


Bu Ratih selesai ngajar langsung ke kantin. Hari ini kerasa banget laparnya. Dia berjalan menuju kantin dengan langkahnya yang sedikit dipercepat. Setibanya dikantin dia langsung pesan nasi dan es teh manis.


"Kak,!" seru Farrel tiba-tiba dibelakang Bu Ratih.


"Hai, Rel. Kamu ngagetin Kakak aja." jawab Bu Ratih.


"Kak Ratih, aku ikut sedih ketika mendapat kabar bahwa Mas Gavin sudah nikah sama Kasih." ucap Farrel.


"Iya, Rel. Mau gimana lagi. Kakak juga kasihan sama Mas Gavin. Masa seumur hidupnya dia tidak akan mempuanyai anak dari darah dagingnya sendiri." jawab Bu Ratih.


"Iya juga, sih. Tapi, Kak kasih nggak apa-apa, kan?" tanya Farrel.


"Nggak Rel. Aku nggak apa-apa. Memang ini juga kemauan dari Kak Ratih sendiri." jawab Bu Ratih.

__ADS_1


Kemudian pesanan mereka datang. Kini mereka makan sambil melanjutkan ngobrol-ngobrol.


"Aku salut sama Kak Ratih. Wanita tegar dan kuat." ucap Farrel.


"Makasih Rel, oh iya, Kakak dapat tugas dari Pak Dekan untuk menghadiri Seminar di Surabaya selama seminggu." ucap Bu Ratih.


"Oh iya, aku tadi sempat baca undangannya dimeja. Jadi Kak Ratih yang ditunjuk sama Dekan?" tanya Farrel sambil meminum es tehnya.


"Iya, aku sama Pak Reyhan yang ditunjuk karena ini ada hubungannya dengan mata kuliah yang kami ajarkan." jawab Bu Ratih.


"Oh gitu. Kapan berangkatnya, Kak?" tanya Farrel.


"Besok siang langsung berangkat. Karena lusa langsung Seminarnya dimulai pagi." jawab Bu Ratih.


"Oh gitu. Baiklah kalau gitu. Sukses ya Kak?" ucap Farrel.


Setelah selesai makan siang, Bu Ratih kembali mengajar tinggal satu kelas saja. Kini dia sudah sedikit melupakan keadaan yang dialaminya. Mungkin dengan kesibukannya di Kampus membuat dia jadi sedikit lupa tentang keadaan rumah tangganya.


Akhirnya jam kuliah pun selesai. Dilirik jam tangan yang ada dipergelangan tangannya sudah menunjukan pukul setengah lima. Ternyata sudah sore. Dia langsung menuju tempat biasa dia dijemput.


Bu Ratih melihat mobil suaminya yang sudah standby diparkiran langsung mempercepat langkahnya. Dia pingin segera menyampaikan kabar soal tugasnya dari Kampus yang mengharuskan dia pergi ke Surabaya.


"Sayang, apa sudah dari tadi?" tanya Bu Ratih sesampainya dia didekat mobil Gavin.


"Nggak, barusan kok, sayang. Kamu kelihatan capek banget hari ini?" tanya Gavin sambil memegang wajah istrinya.


"Iya, aku hari ini full. Ngajar ada tiga kelas. Terus tadi Dekan memanggil aku dan Pak Reyhan selaku Dosen Akuntansi untuk mewakili Kampus ini Seminar di Surabaya?" jelas Bu Ratih.


"Apa,! Surabaya? berapa hari, sayang?" tanya Gavin.


"Berarti aku ditinggal sendiri selama satu minggu, nih?" ucap Gavin sambil mencubit hidung istrinya.


"Dulu, waktu aku ditinggal ke Jepang juga sendiri." ucap Bu Ratih sambil mencebikan mulutnya.


"Iya.,iya, sayang. Aku ijinkan selama ini dalam urusan pekerjaan kamu." jawab Gavin.


"Eh, sayang. Aku lupa, sekarang kan sudah ada Kasih. Jadi kalau aku tinggal ke Surabaya, kamu ada yang nemenin." ucap Bu Ratih pelan.


"Sayang, kamu jangan gitu dong." jawab Gavin dengan mukanya ditekuk.


"Iya., iya, maaf. Ayo kita pulang.!" ajak Bu Ratih.


Dalam perjalanan Bu Ratih memikirkan kembali soal kepergiannya ke Surabaya. Tuhan memang adil, disaat suaminya butuh waktu lama untuk berduaan dengan Kasih. Justru dia ada tugas ke luar kota. Jadi dia tidak susah-susah untuk mendekatkannya.


"Sayang, mampir ke minimarket buat beli Fresh*are buat besok perjalanan ke Surabaya." ucap Bu Ratih.


"Siap Bu Bos!" jawab Gavin.


Sesampainya di minimarket, Gavin nggak ikut turun karena istrinya bilang sebentar saja. Memang benar, tak lama kemudian Bu Ratih sudah balik kemudian dia masuk ke mobil lagi.


Sesampainya dirumah, mobil langsung dimasukan di Garasi. Bu Ratih turun diikuti oleh suaminya. Setelah masuk rumah, mereka mendapati Kasih lagi ngepel lantai. Gavin dan Bu Ratih sontak kaget melihat Kasih seperti itu.

__ADS_1


Bu Ratih dan Gavin saling pandang lalu mereka mengangkat bahunya.


"Kasih, kamu seharusnya nggak usah repot-repot gini. Ini tugasnya Bibi." ucap Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, Mbak. Saya soalnya dari tadi nganggur nggak ada kerjaan. Lagian Bibi juga kerjaannya banyak, saya cuma bantu saja." jawab Kasih polos.


"Tapi, Sih. Sekarang kamu itu istri Gavin. Kalau dia nggak suka dengan keadaan kamu seperti ini, gimana. Hormatilah dia selayaknya suamimu. Masak suami pulang kerja, istrinya masih kucel seperti ini." jelas Bu Ratih.


"Iya, maaf Mbak. Kasih nggak mikir sampai sejauh itu. Maafin Kasih, ya Mbak?" jawab Kasih.


"Oke, baiklah sekarang kamu beresin ini. Lalu kamu ladeni suamimu. Belajar untuk lebih dekat dengan Gavin. Misal nanti saya tinggal untuk urusan kerjaan, kasihan dia nggak ada yang urus." jelas Bu Ratih.


"Iya, Mbak. Saya mengerti sekarang." jawab Kasih sambil membereskan alat-alat pelnya tadi.


Bu Ratih kemudian masuk kamar, sedangkan Gavin sudah masuk duluan. Bu Ratih mendapati suaminya yang langsung tergeletak diatas kasur, buru-buru dibangunkan oleh Bu Ratih.


"Jangan biasakan kalau masih pakai baju kerja gini langsung tidur diatas kasur. Nanti spreinya ikut bau kena baju kotor. Banyak kumannya, sayang.!" ucap Bu Ratih seraya menarik tangan suaminya.


"Iya., iya Bu bos. Mulai deh bawelnya?" ucap Gavin sembari mencium pipi istrinya.


Kemudian Gavin melepaskan bajunya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Bu Ratih duduk didepan meja rias untuk menghapus riasannya tadi.


Kasih kini sibuk didapur untuk membuatkan minum untuk Gavin dan Bu Ratih lalu menaruhnya diatas meja diruang tengah. Setelah itu dia naik keatas untuk mandi karena dia nggak mau kalau Bu Ratih menegurnya lagi.


Setelah selesai mandi, Gavin langsung duduk diruang tengah sambil nonton TV. Dia terkejut karena susah ada dua minuman diatas meja. Mungkinkah ini yang buatin si Kasih. Batinnya.


Tak lama kemudian Kasih turun dengan keadaan yang sudah lebih segar dan cantik. Dia memakai gamis santai warna abu lengkap dengan jilbabnya dengan warna senada.


Saat melihat Kasih yang turun dengan penampilan berbeda langsung terkejut. Dia masih menatap Kasih yang kali ini terlihat lebih anggun, cantiknya alami serta enak dipandang.


"Maaf, Mas. Itu tadi minumannya sudah aku buatkan sama Mbak Ratih sekalian." ucap Kasih.


"Oh, i..iya, Sih. Makasih!" jawab Gavin terbata karena kaget dengan penampilannya Kasih.


Gavin masih memandangi Kasih tanpa kedip, sedangkan Kasih masih bingung. Apa ada yang salah dengan penampilannya kali ini. Batin Kasih.


"Apa ada yang salah dengan baju yang aku pakai, Mas?" tanya Kasih.


"Enggak, Sih. Kamu pantes pakai gamis seperti ini. Aku baru lihat kamu pakai gamis seperti ini. Biasanya celana sama blouse lengan panjang gitu aja." jawab Gavin.


"Iya, memang aku baru pakai ini disini. Dulu waktu dirumah aku juga suka pakai gamis. Hanya kalau kerja saja aku pakai celana, karena ada seragamnya." jawab Kasih.


"Kapan-kapan aku ajak kamu ke butik khusus busana muslim, kamu lihat dan pilih yang kamu suka." sahut Gavin.


"Nggak usah, Mas. Gamis aku masih cukup, kok." ucap Kasih.


"Nggak boleh nolak.!" jawab Gavin seraya meminum tehnya.


Bu Ratih yang memperhatikan obrolan mereka ikut senang. Suaminya kini sudah mulai perhatian sama Kasih. Mudah-mudahan mereka lekas akrab dan semakin dekat.


"Ya Allah.. Makasih karena Engkau telah memberiku hati yang kuat, sabar dan tegar dalam menghadapi ujian ini" ucap Bu Ratih dalam hati.

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung......


__ADS_2