
Tak terasa waktupun cepat berlalu. Setahun sudah Raka dilahirkan didunia ini. Hari ini adalah hari ulang tahun Raka yang ke satu. Selama satu tahun kebelakang, hidup Raka sangatlah bahagia. Dia dikelilingi orang-orang yang sangat menyanyanginya. Gavin dan Bu Ratih selalu memberikan semua kebutuhan Raka.
Selama ini Bu Ratih merawat Raka dibantu dengan Babysitter. Bukannya dia nggak bisa mengurus sendiri, tapi karena memang kerjaan dia yang nggak memungkinkan untuk merawat Raka sendiri. Tapi, babysitter nya hanya bekerja dari hari senin sampai jumat, dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Setelah itu Bu Ratih mengurus Raka sendiri.
Pokoknya sebisa mungkin Bu Ratih meluangkan waktunya buat mengurus Raka. Selama setahun setelah ditinggal Kasih, Raka sudah terbiasa dengan Mama Ratih. Sejak pindah, Kasih hanya tiga kali menemui Raka di Jakarta. Sedangkan Gavin hampir tiap bulan berkunjung ke tempat tinggal Kasih.
Hari ini rencananya Kasih juga datang dihari ulang tahunnya Raka. Bu Ratih dan Gavin sudah mempersiapkan semua keperluan Raka. Dari kue, dekorasi, seragam serta MC nya pun sudah siap. Gavin memang sengaja membuat acara ini semeriah mungkin demi anak semata wayangnya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Sedangkan acara dimulai pukul sepuluh pagi. Semua sudah siap dan keluarga sudah kumpul. Tinggal menunggu tetangga serta anak yatim piatu. Gavin mengundang beberapa anak yatim piatu dari yayasan Kakak iparnya untuk mendoakan Raka.
Ketika semua berkumpul diruang tamu yang sekarang disulap menjadi arena bermain, tiba-tiba ada taksi masuk kehalaman rumah Pak Indra. Bu Ratih dan Gavin saling pandang, apakah ini Kasih. Batin Gavin.
Tak lama kemudian keluarlah seseorang dari taksi tersebut. Dia seorang wanita berpakaian gamis syar'i warna dusty pink lengkap dengan jilbab ceruti nya. Dia keliahatan anggun dan cantik banget. Dia melangkah masuk kerumah.
"Assalamuailaikum., " serunya dari luar.
"Wa'alaikumsalam.," jawab Gavin dan Bu Ratih bersamaan.
"Apa kabar Mbak Ratih." sapanya.
"Kasih,! Ya ampuun.?" seru Bu Ratih seraya memeluk tubuh Kasih.
Mereka pun saling berpelukan. Bu Ratih matanya berkaca-kaca begitu pula dengan Kasih, dia menangis sambil memeluk Bu Ratih. Gavin yang melihat kedua istrinya berpelukan hanya tersenyum simpul.
Kasih kemudian menyalami semua anggota keluarga besar. Ada Pak Indra dan istri. Mahen dan Kinan, serta keluarga dari Bu Ratih semuanya disalami.
"Kasih, kamu nginap sini, kan?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Tapi, besok langsung balik." jawab Kasih.
Gavin kemudian keluar dengan menggendong Raka. Dia memakai celana jeans dengan t-shirt dibalut rompi rajut. Raka keliatan ganteng dan lucu. Kasih yang melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang lucu dan ganteng langsung mendekatinya dan menggendongnya.
Tapi, Raka langsung nangis ketika Kasih mencoba menggendongnya. Dia nggak mau melihat kearah Kasih, hanya memeluk Papanya sambil menangis. Kasih matanya berkaca-kaca karena anaknya nggak mau digendong olehnya.
__ADS_1
Bu Ratih mencoba menenangkan Raka yang sekarang menangis digendongan Gavin. Dia ambil alih Raka dari tangan Gavin.
"Raka, sayang. Cup..cup..! anak Mama nggak boleh nangis, ya. Itu Ibu Kasih cuma pingin gendong Raka, Nak" ucap Bu Ratih sambil menggendong Raka.
Seketika Raka terdiam, dia memandangi Kasih sambil masih sesenggukan. Kasih tersenyum mendekati kearah Raka. Tak lama kemudian Kasih mencoba mendekatkan tangannya untuk meraih tubuh Raka. Ternyata dia diam saja saat Kasih meraih tubuhnya untuk digendong.
Sekarang Raka sudah berada digendongan Kasih. Semua yang hadir disitu jadi terharu melihat pemandangan dihadapan mereka. Sekarang Raka masih terdiam.
Tak lama kemudian dia menangis lagi, akhirnya diberikan lagi sama Bu Ratih. Seketika Raka langsung terdiam. Mungkin memang sudah terbiasa dengan Bu Ratih. Kemudian Gavin mencoba menarik tangan Kasih untuk menjauh dari mereka. Bu Ratih sibuk menenangkan Raka dengan mengajaknya bermain.
"Ada apa, Mas. Kamu kok mengajakku kesini?" tanya Kasih.
"Kamu pasti sedih sekali saat Raka menangis ketika kamu gendong." ucap Gavin.
"Iya, Mas. Tapi, aku faham betul dengan semua ini. Dari kecil Mbak Ratih yang merawat dia. Dia sudah terbiasa dengan Mbak Ratih." jawab Kasih.
"Apa kamu nggak cemburu dengan Ratih karena Raka lebih nyaman dengannya?" tanya Gavin sembati memegang pundak istrinya itu.
"Enggak, Mas. Aku maklum kok." jawab Kasih.
"Oh iya, Mas. Aku ada hadiah buat Raka. Tadi sudah aku suruh Bibi membawanya ke kamarnya." ucap Kasih.
"Kasih, apa kamu nggak pingin balik lagi ke Jakarta?" tanya Gavin tiba-tiba.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Mas. Aku nggak bisa." jawab Kasih.
"Nggak apa-apa, Sih. Aku hanya ingin kamu juga bisa dekat dengan Raka." ucap Gavin.
"Sudahlah Mas. Jangan bahas itu lagi. Jangan bikin aku jadi goyah lagi. Karena aku sudah mantap untuk hidup disana." sahut Kasih.
"Ya sudahlah, kalau itu memang mau kamu." ucap Gavin.
Setelah itu datanglah para undangan yang dihadiri oleh tetangga serta anak yatim. Gavin akhirnya mengajak Kasih untuk bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Mereka akhirnya membaur jadi satu dengan semua keluarga dan yang lainnya. Tak terasa acarapun akan segera dimulai. MC yang disewa Gavin untuk memandu acara ini juga sudah datang.
Tak lama kemudian akhirnya acara pun dimulai. MC nya memandu semua acara dari awal sampai akhir. Kini Tiba acara tiup lilin dan potong kue. Raka yang didampingi Bu Ratih dan Gavin untuk meniup lilinnya. Akhirnya padam juga lilinnya dan sekarang waktunya potong kue.
Setelah itu Bu Ratih muter membagikan kue kepada para tamu undangan, dan semua keluarga yang ada disitu. Kasih yang dapat potongan kue pertama dari Raka sempat meneteskan air mata.
Sampai akhirnya kini waktunya makan-makan. Semua yang hadir segera dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
Tak terasa acara ulang tahun Raka akhirnya selesai juga. Semua para undangan sudah pulang semua, kini tinggal keluarga besar saja. Raka kecapekan sampai ketiduran digendongan Bu Ratih. Setelah itu Gavin memindahkan Raka ke dalam kamarnya diikuti Bu Ratih.
Jarum jam sudah menunjukan pukul satu siang. Kini semua keluarga disuruh Gavin istirahat dikamar. Diruang tamu yang masih dengan hiasan nuansa super hero kini hanya tinggal Kasih dan Bibi yang membersihkan bekas pesta ulang tahun itu.
"Mbak Kasih sudah istirahat saja dikamar. Biar Bibi aja yang beresin ini." ucap Bibi.
"Nggak apa-apa, Bi. Kasih kangen saja ngerjain ini semua. Kangen masak sama Bibi di dapur." jawab Kasih.
Tak lama kemudian, Gavin keluar dan menyuruh Kasih menghentikan semua itu.
"Sih, sudah jangan diteruskan. Biar Bibi aja yang kerjakan."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa." jawab Kasih.
"Sudah biarkan saja. Kamu ikut aku!" seru Gavin sambil menggandeng tangan Kasih.
Kasih masih bingung, Gavin akan membawanya kemana. Mereka kemudian menuju kamar Kasih dulu yang kini kosong lagi tiada berpenghuni. Kasih jadi canggung kenapa suaminya mengajaknya kekamar ini.
Setibanya didepan pintu kamar, Gavin menghentikan langkahnya dan membuka pintunya.
"Mau ngapain, Mas?" tanya Kasih.
"Ayo masuklah, kamu sekarang istirahat dulu. Perjalanan kamu tadi pasti membuat badanmu capek. Sudah, istirahat dulu sana!" seru Gavin sambil melangkah meninggalkan Kasih di dalam kamar.
"Syukurlah, Mas. Aku pikir kamu akan melakukan hal-hal yang lebih padaku. Secara aku sekarang mulai berusaha untuk tidak terlalu dekat sama kamu." ucap Kasih dalam hati.
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung.....