BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 218 (Syukuran)


__ADS_3

Malam harinya Bu Ratih bikin syukuran kecil-kecilan untuk kelulusan Cantik. Teman-teman Cantik yang datang hanya beberapa cuma teman dekatnya saja.


Bu Ratih menyiapkan hidangan dan camilan buat nanti. Dia dibantu kedua anaknya itu. Gavin mengeluarkan meja dan kursi yang ada di ruang tamu dibantu Santo. Setelah itu karpetnya digelar karena nanti acaranya dibuat lesehan saja.


Sekitar habis Isha, semua teman Cantik berdatangan. Mereka langsung ngumpul ditempat yang sudah disediakan. Lalu mereka lanjut ngobrol-ngobrol.


Sisil yang datangnya agak terlambat, dia masuk ke rumah sendirian. Diteras dia berpapasan dengan Gazi yang hendak keluar. Gazi sejenak menatap kearah gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.


Sisil tersenyum lembut kearah Gazi, dia membalas menatap Gazi yang sempat menatapnya juga. Mata mereka saling tatap sejenak dan berlangsung kurang lebih satu sampai sepuluh detik.


Ketika menyadari akhirnya Sisil mengakhiri tatapannya itu lalu masuk ke dalam rumah. Gazi yang masih berdiri diluar tetap pada posisinya. Dan setelah itu dia keluar duduk dipos satpam sama Santo.


"Kok Den Gazi nggak ikut gabung?" tanya Santo.


"Enggak ah, Pak. Itu kan acaranya anak-anak abege." jawabnya sambil matanya fokus ke ponsel.


"Den Gazi tinggal bersama Papa Aden sudah hampir dua tahunan ya. Gimana menurut Den Gazi.?" tanya Santo.


"Enak, Pak. Saya kerasan disini tinggal sama Papa dan Mama Ratih." jawabnya senang.


"Iya, Den. Saya juga kerasan. Mereka berdua orangnya baik-baik. Saya sudah dianggap seperti saudaranya sendiri. Malah pertama kali Pak Gavin pindah ke Jogja, Den Raka kan masih kecil sekitar umur sepuluh tahunan lah, Saya malah disuruh tidur kamar atas, yang bersebalahan dengan kamar Den Raka." jelas Santo.


"Oh yang sekarang ditempati Cantik.?" tanya Gazi.


"Iya, berhubung Non Cantik sudah besar, maka dipakai Non Cantik, saya pindah ke tempat tidur dibelakang yang dekat dapur." jawab Santo.


"Iya, Pak. Papa dan Mama memang orangnya baik banget. Saya senang tinggal disini." ucap Gazi.


"Oh iya, Den. Pak Santo boleh nanya sesuatu, Nggak.?"


"Iya, silakan."


"Kenapa Den Gazi nggak kuliah di Jakarta saja. Kan jadi bisa dekat dengan Bu Kasih." tanya Santo.


"Saya nggak mau, Pak. Soalnya Macetnya itu lho bikin pusing." jawabnya singkat.


"Iya, ya Den. Jogja saja kalau sudah jam kerja juga macet." jawab Santo.

__ADS_1


Ketika mereka lagi ngobrol-ngobrol, tiba-tiba diruang tamu rame-rame. Sontak Gazi berdiri laku menuju ruang tamu. Dan ternyata Sisil tangannya kena pisau. Darahnya mengucur sampai menetes ke karpet.


Gazi spontan langsung menyambar tangan Sisil lalu mengelapnya dengan kaos yang dikenakannya saat ini. Kemudian dihisap supaya darahnya berhenti mengalir. Itu spontan dia lakukan karena reflek ingin menolong. Lalu dia berdiri terus keluar untuk membuang darahnya itu.


"Dek, ambilkan kotak P3k segera,!" titah Gazi.


"Baik, Kak.!"


Bu Ratih dan Gavin seketika keluar lalu melihat keadaan Sisil. Dan sepertinya sudah tidak apa-apa. Tinggal diobati saja, dan darahnya juga sudah reda.


"Itu tadi kok bisa sampai gitu.?" tanya Bu Ratih.


"Iya, dia mau iris buah melon bantu Cantik, Ma. Tapi akhirnya malah kena pisaunya." jawab Cantik.


Setelah membuka P3k yang diberikan Cantik, Gazi dengan cekatan membersihkannya dengan alkohol lalu dia kasih obat merah lalu ditutup kassa dan ditutup plester.


Sisil merasa tersanjung karena tindakan Gazi sangat heroik, dan membuatnya salah tingkah.


"Makasih, Kak gazi." ucap Sisil sambil melirik Gazi.


"Sama-sama, lain kali hati-hati." jawab Gazi datar.


Gazi kemudian berdiri dan masuk kedalam rumah. Dia kebelakang untuk mencuci tangannya. Kini dia duduk di ruang tengah bersama Papanya.


"Zi, kenapa kamu nggak keluar maen sama teman-teman kamu. Masa dirumah saja." ucap Gavin.


"Malas aja, Pa. Lagian kalau keluar pastinya nanti mengeluarkan uang juga, sayang menghambur-hamburkan uang yang nggak jelas." jawab Gazi.


"Ya ampun, Zi. Bukannya Papa sombong atau menyuruh kamu boros. Tapi kalau sekedar jalan nongkrong sama teman-teman kan nggak mungkin ngeluarin uang yang banyak, Nak." jawab Gavin.


"Iya juga, sih Pa. Cuma Gazi sudah terlatih sejak kecil untuk hidup hemat seperti yang dibilang Bunda." jawab Gazi.


"Yah, memang Bundamu itu dari dulu orangnya kalem, keibuan dan nggak pernah neko-neko. Dulu waktu dia kerja di kantor Papa sebagai Office girl saja dia bisa membiayai Om Dito sekolah. Dia memang orangnya rajin menabung. Mungkin itu karena dirinya pernah hidup susah, Zi." jelas Gavin.


"Mungkin juga begitu, Pa." jawab Gazi.


"Oh iya, uang yang Papa kasih tiap bulan apa kurang.?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Enggak Pa. Malah lebih-lebih. Kalau ada sisa Gazi tabung." jawab Gazi.


"Beneran, untuk biaya praktek atau apa gitu.?" tanya Gavin lagi.


"Enggak Pa. Semuanya cukup." jawab Gazi.


"Oh iya, apa kamu nggak ingin mobil sendiri.?" tanya Gavin.


"Buat apa, Pa. Mobilnya Kak Raka itu sudah cukup. Lagian kalau nggak dipakai juga sayang bisa rusak karena nganggur." jawab Gazi.


"Ya sudah kalau gitu, nanti kalau memang kamu ingin beli mobil sendiri bilang aja sama Papa." ucap Gavin sambil menepuk pundak anaknya.


"Iya, Pa. Gampang itu. Lagian dirumah itu ada mobil tiga. Mobil Papa, Mama lalu mobil Kak Raka. Misal Gazi punya mobil sendiri apa muat garasinya." jawaban Gazi membuat Gavin tertawa.


"Hehehe., Iya benar juga, Zi. Papa nggak mikir sampai segitu. Yang Papa pikirkan adalah anak-anak Papa punya hak yang sama." jawab Gavin.


"Papa bisa saja. Tenang saja, Gazi pakai mobilnya Kak Raka saja sudah cukup." jawab Gazi.


Sekitar pukul delapan malam, acara sykuran itu sudah mau selesai. Kini tinggal Sisil dan Dio yang masih tinggal dan sekedar membantu beres-beres.


"Nak Dio, Sisil. Nggak usah repot-repot. Nanti biar Tante yang beresin sama Kakaknya." ucap Bu Ratih.


"Nggak apa-apa Tante, nanggung tinggal ini saja. Kita juga belum mau pulang kok." jawab Sisil.


"Gazi, tolong bantuin bentar adiknya ini dong, Nak." panggil Bu Ratih.


"Baik, Ma."


Akhirnya Gazi keluar lalu membantu adiknya membereskan sisa-sisa acara tadi. Ketika melihat Sisil membantu mengangkat piring-piring, spontan Gazi langsung mendekatinya lalu membantu Sisil.


"Tangan kamu kan masih sakit, jangan angkat yang ini. Sini biar Kakak saja." ucap Gazi.


"Oh iya, Kak. Makasih." jawab Sisil.


Akhirnya piring itu diserahkan sama Gazi, kemudian tanpa sengaja tangan keduanya bersentuhan. Seketika mata mereka saling pandang. Gazi menatap matanya Sisil, begitu pula sebaliknya.


--------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2