BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 85 (Kekuatan cinta Gavin&Bu ratih)


__ADS_3

Bu Ratih tersenyum disaat memperhatikan mereka berdua. Kasih yang dari tadi sibuk meladeni majikannya, kini dia kembali mengupas buah lagi.


"Bu Ratih, saya suapin, ya. Ini sudah saya kupaskan." titah Kasih.


"Iya, terima kasih, ya Sih. Kamu baik banget." ucap Bu Ratih sambil membuka mulutnya saat Kasih menyuapinya.


Kini Kasih sibuk melayani Bu Ratih, sedangkan Gavin tak terasa sudah mendaratkan tubuhnya disofa. Sampai-sampai tak menyadari kalau sudah terdengar dengkuran halus.


"Kasihan Pak Gavin, Sih. Mungkin dia kecapekan sampai dia ketiduran." ucap Bu Ratih sambil menunjukan ke Kasih suaminya yang ketiduran.


"Iya, Bu. Memang dari pulang kerja dia langsung kesini." jawab Kasih.


"Kamu juga capek, saya minta maaf selalu merepotkan kamu, Sih." ucap Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, Bu. Itukan sudah menjadi tugas saya. Bu Ratih nggak usah sungkan-sungkan." jawab Kasih.


"Kamu nggak capek apa, kalau sudah capek kamu istirahat aja." ucap Bu.


"Iya, Bu. Saya duduk disini aja nemani Bu Ratih." jawabnya.


"Ya sudah kalau gitu." ucap Bu Ratih.


Akhirnya obrolan mereka membuatnya capek dan ngantuk sampai-sampai mereka ketiduran. Kasih duduk dikursi disebelah dengan kepala diletakan di pinggir tempat tidur.


(****)


-------Satu minggu kemudian-------


Semenjak kepulangan Bu Ratih dari rumah sakit, Kasih masih dipekekerjakan karena istrinya masih membutuhkannya. Bu Ratih dapat cuti tiga bulan dari pihak kampus. Meskipun keadaanya sudah agak mendingan, tapi Gavin tetap memberikan pengawasan yang ekstra buat istrinya.


Sementara kalau keluar kontrol atau mau kemana dia memakai kursi roda buat istrinya, untuk menjaga supaya istrinya tidak mudah capek.


Seperti hari ini dia mau kerumah Mamanya untuk menjenguk jagoan Kakaknya yang sudah pulang. Meskipun Gavin awalnya melarang, tapi berhubung dia memaksa, apa boleh buat. Mereka akhirnya berangkat.


Setibanya dirumah Mamanya, Ratih disambut Mama dan keluarganya. Bu Rahma memeluk anaknya yang duduk dikursi roda. Akhirnya mereka pun menangis.


"Maafin, Mama Nak. Yang belum sempat jenguk kamu. Mbak Irene juga membutuhkan Mama. Sedangkan pembantu yang disewa Mas Bagas juga serabutan sambil mengerjakan didapur." jelas Mamanya.


"Iya, Nggak apa-apa Ma, Ratih sudah ada yang merawatnya. Kasih selama ini yang membantu Ratih." jawab Bu Ratih sembari menoleh kearah Kasih.

__ADS_1


"Mama juga sudah dikabari sama suamimu tentang keadaan kamu. Mama ikut prihatin, tapi kamu jangan putus asa. Mudah-mudahan ada jalan buat kamu dan suamimu." ucap Bu Rahma.


"Iya, Ma. Nggak apa-apa. Ratih sudah ikhlas kok." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Jangan kawatir, saya akan menjaga dan merawat Bu Ratih dengan baik." sahut Kasih.


"Terma kasih, Nak." ucap Bu Rahma.


Kemudian mereka dipersilahkan duduk, Kasih dan Gavin membantu Bu Ratih untuk pindah duduk dikursi. Tak lama kemudian Irene dan Bagas keluar dari kamar dengan membawa si kecil.


"Hallo tante, ini Rendra." ucap Bagas sambil mendekatkan Bayinya kepangkuan Bu Ratih.


"Hai Hai cakep., maaf ya, Tante dan Om Gavin baru bisa jenguk." jawab Bu Ratih sambil menggendong ponakannya itu.


"Iya, nggak apa-apa. Mas Bagas ikut prihatin atas musibah yang menimpa kamu." ucap Bagas.


"Iya Mas. Terima kasih." jawab Bu Ratih.


Mereka akhirnya tenggelam dalam obrolan santai, sementara Bu Ratih dan Gavin sejenak melupakan masalah pribadinya. Bu Ratih kelihatan senang sekali dengan bayinya Bagas.


Dari tempat duduknya yang agak jauh, Gavin melihat istrinya yang tertawa ketika bermain dengan bayi Bagas, jadi terharu dan kasihan sama dia. Tanpa sadar mata Gavin berkaca-kaca.


"Vin, kamu yang sabar, ya. Mungkin ini berat buat kalian berdua. Tapi, aku yakin kamu kuat." ucap Bagas.


"Iya, Mas. Aku memang harus kuat biar Ratih juga kuat. Kalau aku lemah itu mungkin membuatnya tambah sedih." jawab Gavin.


"Kalian tidak akan kesepian, nanti kamu bisa kesini buat lihat Rendra. Apalagi Mahen bentar lagi istrinya juga melahirkan. Kalian tidak akan kesepian." jelas Bagas.


"Iya, Mas." jawab Gavin datar.


Tak terasa hari semakin senja, akhirnya Gavin memutuskan untuk mengajak istrinya pulang. Mereka kemudian pamitan dan meninggalkan rumah Bu Rahma.


Setibanya dirumah, Gavin memarkirkan mobilnya. Kasih membantu mendorong kursi rodanya Bu Ratih. Dia minta diantarkan ke kamarnya buat mandi dan ganti baju. Seperti biasa, Kasih meladeni semua kebutuhan Bu Ratih. Kasih bermaksud ikut menunggu didalam kamar mandi, Bu Ratih menolak mungkin juga malu. Akhirnya Kasih menunggu didepan pintu.


Setelah selesai, Bu Ratih membuka pintu dan Kasih membantunya seperti biasa. Dari ganti baju sampai menyisirkan rambut majikannya itu. Kemudian masuklah Gavin ke kamar itu.


"Bu, Kasih kedapur dulu bantu Bibi siapin makan malam." ucap Kasih.


"Iya, Sih. Nanti kalau saya butuh sesuatu, saya panggil kamu." jawab Bu Ratih.

__ADS_1


"Siap, Bu.!" seru Kasih.


Kini tinggal Bu Ratih dengan suaminya. Gavin duduk disamping istrinya yang juga duduk ditepi tempat tidur. Mereka ngobrol-ngobrol.


"Sayang, misalnya Mama dan Papa menginginkan seorang anak dari kamu, gimana?" pertanyaan Bu Ratih sedikit membuat Gavin kaget.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, sayang?" tanya Gavin.


"Ya ini cuma misalkan saja. Perasaan seorang istri kalau dirinya sudah diposisi seperti aku ini, kan mesti sensitif. Jadi wajar saja kalau aku menanyakan hal itu." jawab Bu Ratih.


"Sayang, aku percaya sama orangtuaku. InsyaAllah mereka bakal mengerti. Soal anak, kita bisa mengadopsi kan sama saja!" tukas Gavin.


"Makasih sayang.., aku percaya akan kekuatan cinta kamu sama aku. Karena aku juga wanita biasa dan bukan malaikat, pasti kawatir kalau saja suaminya ingin mendapatkan keturunan dari wanita lain." ucap Bu Ratih.


"Sssttt..!! kamu nggak boleh punya pikiran seperti itu. Aku tidak akan punya niatan seperti itu." jawab Gavin sambil memeluk tubuh istrinya.


"Iya, sayang." jawab Bu Ratih.


"Aku tidak pernah terlintas untuk punya niatan seperti yang kamu katakan tadi." jawab Gavin.


Keduanya kini saling berpelukan. Gavin membelai lembut rambut istrinya dan menciumi kening istrinya. Bu Ratih senang karena mempunyai suami sebaik dan pengertian seperti Gavin.


.


.


.


Kini makan malam telah siap, Bu Ratih duduk disebelah suaminya. Kasih duduk dikursi yang didepannya. Mereka menikmati makan malam yang sungguh luar biasa enak. Menu kali ini beraneka ragam, ada capcay, ayam kecap, tumis kangkung dan udang goreng.


Bu Ratih lahap banget menikmati makan malam itu. Gavin senang mendapati istrinya kembali ceria seperti semula. Sekarang dia mungkin sejenak melupakan kesedihan yang dialaminya.


Hari semakin larut, setelah membantu Bu Ratih untuk minum obat, kini Kasih sudah mulai istirahat dikamarnya. Dia rebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Matanya belum bisa terpejam. Pikirannya masih memikirkan soal Bu Ratih.


Dia menatap keatas dengan tatapan kosong. Dia iba dengan majikannya ini. Secara materi mungkin mereka lebih-lebih dan terbilang lebih dari cukup. Tapi, soal kebahagian yang lainnya mereka tidak seberuntung orang-orang sudah dikaruniai anak.


"Pak Gavin, saya kasihan sama Bapak. Pasti dalam hati Pak Gavin ada keinginan besar buat punya seorang anak." Gumamnya sambil memeluk guling.


---------------------------------

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2