
Akhirnya Budhe Rahayu keluar menemui orang yang mencarinya tadi. Kini Bu Ratih dan Gavin mulai menata barang-barangnya dengan dibantu Santo. Raka juga ikut membantu.
Sedangkan diluar Budhe Rahayu berbicara dengan tamunya tadi. Ternyata Pak RT yang mencarinya tadi.
"Eh Pak RT, silahkan masuk, Pak." ucap Budhe Rahayu.
"Nggak usah, Bu. Saya sebentar aja, kok. Ini tadi saya sudah laporkan datanya Pak Gavin ke Pak RW, nanti selanjutnya nunggu info dari Pak RW." ucap Pak RT.
"Oh iya, Pak. Makasih. Nanti malam jangan lupa datang untuk acara pengajian." ucap Bu Rahayu.
"Iya, Bu. Saya usahakan akan datang." jawab Pak RT.
Akhirnya Pak RT kembai lagi, dan budhe Rahayu masuk lagi ke dalam rumah.
"Gavin,!" seru Budhe Rahayu.
"Iya, Budhe. Ada apa?" jawab Gavin.
"Itu tadi Pak RT ngasih tahu kalau data yang kamu kirimkan ke Budhe sudah di Pak RT. Dia bilang sudah dikasihkan Pak RW, dan nunggu info selanjutnya." jelas Budhe.
"Oh iya, Budhe. Makasih." jawab Gavin.
Kini semuanya sibuk menyiapkan pengajian nanti malam. Pak Narto dan Pak Bari sedang istirahat karena kecapekan nyetir dan nanti jam enam sore langsung balik Jakarta.
.
.
.
Sekitar jam setengah enam Pak Narto dan Pak Bari diantar Santo ke Bandara. Gavin dan Bu Ratih membantu menyiapkan acara.
"Vin, Tolong, kamu antar pakde ambil tikar dirumah. Ini kuncinya, tikarnya ada diruang tamu sudah Budhe siapkan tapi pakde mu lupa membawanya." titah Budhe.
"Baik, Budhe."
Akhirnya Gavin menaiki motor dengan membonceng Pakde. Dirumah semuanya hampir selesai, makanannya pun sudah datang. Budhe memesan semuanya. Tak lama kemudian Gavin datang sambil membawa tikar.
__ADS_1
Akhirnya semuanya beres, kini tinggal menunggu tamu yang sudah diundang. Tak lama kemudian tamu-tamu bergantian datang. Dan acaranya pun dimulai.
Acara pengajian berlangsung sekitar kurang lebih dua jam. Kini waktunya ramah tamah. Hidangan sudah disediakan semuanya. Mereka mengambil sendiri makanannya yang sengaja telah disiapkan dimeja.
"Gavin, ini Pak RT." seru Pakde.
"Oh iya, Pakde. Saya Gavin, Pak. Mohon bantuannya jika saya perlu sesuatu yang memang harus dipenuhi." ucap Gavin.
"Nama saya Bagus. Gampang, Pak Gavin. Sementara perlengkapan administrasinya sudah lengkap." jawab Pak Bagus.
"Terima kasih, Pak. Mohon dikasih tahu jika ada apa-apa yang saya belum tahu." ucap Gavin.
"Iya, Pak Gavin. Saya disini tinggal berdua sama istri saya saja. Anak saya tinggal di Jakarta." ucap Pak Bagus.
"Oh iya, Pak. Senang sekali bisa berkenalan dengan Bapak. Jadi, sekali lagi mohon dibimbing jika disini ada yang belum saya ketahui." ucap Gavin lagi.
Pak RT hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Akhirnya keduanya kembali membaur dengan yang lainnya. Malam semakin larut dan tak terasa jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Tamu-tamu perlahan mulai meninggalkan rumah Gavin. Kini tinggalah mereka berlima. Gavin, Bu Ratih, Raka serta Pakde dan Budhe yang lagi duduk diruang tamu. Tak lama kemudian Santo pulang dan langsung memasukan mobilnya ke garasi.
"Santo, kamu boleh tidur dikamar atas saja dekat kamar Raka. Nanti yang kamar dekat dapur dan kamar mandi bisa ditempati pembantu yang lain." ucap Budhe Rahayu.
"Pak Santo, kita disini satu keluarga, saya juga menganggap Pak Santo sebagai keluarga juga, jadi Pak Santo tidur diatas saja, sekalian jaga Raka." sahut Gavin.
"Iya Pak Santo. Diatas kamar kan nganggur. Sudah barang-barangnya ditaruh situ aja." kini Bu Ratih menimpali.
"Baiklah, Pak." jawab Santo.
Akhirnya selesai juga acara menempati rumah baru. Kini Gavin dan Bu Ratih akan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya di Jogja.
(***)
Hari pertama di Jogja dibuat Gavin untuk menikmati keindahan kota Jogja sebelum besoknya mereka menjalani aktivitasnya masing-masing. Raka minta diajak melihat sekolahannya nanti, sekolah Raka dekat dengan komplek perumahan yang kini mereka tempati, seandainya terpaksa nggak ada yang jemput bisa naik becak yang sudah ada disepanjang jalan depan sekolahan.
Kemudian mereka berlanjut ke kampus yang nantinya Bu Ratih menempuh kuliah S3. Bangunan kampusnya besar sekali, gedung-gedungnya banyak dan halamannya pun luas. Kampus ini memang terkenal di kota Jogja. Banyak Mahasiswa dan Mahasiswi dari berbagai kota di seluruh Indonesia yang kuliah diisini.
Ketika siang hari Gavin mengajak ke sebuah rumah makan khas Jogja untuk makan siang. Rumah makan itu terletak ditengah kota. Pengunjungnya lumayan, tempatnya asri serta halaman parkirnya luas.
__ADS_1
Gavin mengajak anak istrinya mencari tempat yang agak sepi, dan akhirnya dipilihnya meja dipojok dekat taman. Raka senang sekali karena taman itu ada kolam ikannya.
"Pa, Ma. Raka kesana dulu, ya. Mau lihat ikan." ucap Raka sambil menunjuk kolan ikan.
"Iya, sayang." jawab Bu Ratih.
"Pa, kamu senang disini?" tanya Bu Ratih.
"Kelihatannya kita bakal kerasan di Jogja. Pemandangannya bagus dan kotanya bersih." jawab Gavin.
"Iya, Pa. Aku dilahirkan dan besar disini, dan sekarang disaat mendekati masa tuaku, aku ternyata kembali kesini. Sepertinya aku mengulang masa-masa dimana aku tumbuh di kota ini." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, Ma. Berarti teman-teman kamu banyak yang disini?" tanya Gavin.
"Harusnya iya, tapi aku sudah lama putus kontak sama temanku disini. Emm..cuma ada satu teman akrabku yang masih tinggal disini, namanya Fatma. Dia dulu sebangku sama aku di SMU, satu kampung sama aku dan Budhe Rahayu juga. Cuma sejak aku kuliah dan aku sekeluarga pindah ke Jakarta, dia sudah nggak ada kabar. Coba nanti aku tanyakan sama Budhe Rahayu." jelas Bu Ratih.
Tak lama kemudian pesanan makanannya datang. Gavin memanggil Raka untuk kembali gabung dan makan dimejanya. Akhirnya mereka menikmati makan siang ditengah kota. Raka dengan lahapnya makan masakan khas Jogja. Tadi makanan yang dipesan ada Gudeng Jojga, nasi liwet sama sate.
Sekitar hampir satu jam mereka disitu, kini Gavin melanjutkan keliling kota dan mengajak Raka dan Bu Ratih ke Hotel dan restoran yang menjadi usahanya sekarang. Semalam dia sudah menghubungi orang yang menjadi kepercayaan Pak Indra selama ini, untuk bertemu di Hotel.
Sesampainya di Hotel, Gavin takjub dengan bangunan yang berdiri dihadapannya kali ini. Dia kagum sama Papanya karena diam-diam telah membangun usaha yang seperti ini.
"Pak Gavin, ya. Perkenalkan nama saya Fajar." sapa seorang laki-laki setibanya Gavin dipelataran Hotel.
"Iya, saya Gavin. Ini Ratih dan Raka istri dan anak saya." jawab Gavin sembari memperkenalkan anak dan istrinya.
"Senang dengan kedatangan Gavin hari ini. Mari saya ajak melihat-lihat keliling Hotel." ajak Pak Fajar.
"Baiklah, ayo Ma, Raka. Ikut Papa keliling." ucap Gavin.
Kemudian mereka diajak keliling kepenjuru Hotel. Bangunannya begitu megah, dan konsepnya dibuat seperti rumah pedesaan. Ada beberapa kamar yang kelasnya VVIP dibuat seperti rumah kampung. Tapi dalamnya yang perabotnya tak kalah dengan Hotel lainnya.
Gavin sangat senang dengan konsep dan model yang satu ini. Khusus yang kamar ini diletakan disatu titik dan agak jauh dari Hotel yang utama, paling butuh waktu sepuluh menit jalan kaki untuk sampai di kamar VVIP ini.
Ketika Pak Fajar mengantarkan Gavin jalan-jalan mengelilingi Hotel itu, tiba-tiba ada salah satu pelayan Hotel memanggil Pak Fajar.
"Pak Fajar, tolong ada salah satu tamu Hotel yang komplain, sekarang mencari pimpinan Hotel."
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung...