BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 100 (Titik terang)


__ADS_3

"Memangnya ada apa dengan Nyonya, Pak?" tanya Kasih.


"Belum tahu, tadi Mama menelpon kalau pulang kantor disuruh jemput kamu." jawab Gavin.


"Bu, maaf ya, Kasih harus balik ke rumah Pak Gavin.?" ucapnya.


"Iya, Nak. Ibu nggak apa-apa kok.!" jawab Ibunya.


Gavin akhirnya mengajak Kasih kembali pulang kerumah sesuai permintaan Mamanya tadi. Kemudian mereka pamit dan meninggalkan rumah Kasih.


.


.


.


Ditempat lain, Bu Ratih lagi santai dengan Mama dan keponakan tercinta. Winda lagi dikamar belajar. Sedangkan Irene keluar sama Bagas untuk melihat Ibunya.


"Ma, Ratih pingin cerita sesuatu sama Mama."ucap Bu Ratih.


"Cerita apa, Nak.?" tanya Bu Rahma.


"Ma, akhir-akhir ini Ratih dan Gavin sering beda pendapat." ucap Bu Ratih.


"Memangnya kenapa, lagian suami istri beda pendapat itu wajar." jawab Mamanya.


"Tapi, ini beda, Ma. Ratih sama Gavin sering cekcok masalah anak. Gavin itu nggak pernah mempermasalahkan soal Ratih yang nggak bisa ngasih keturunan buat dia. Tapi, Ratih ini pingin kalau Gavin punya anak sendiri dari darah daging sendiri." ucap Bu Ratih.


"Kamu ini aneh, Tih. Suamimu begitu baik bisa menerima kamu apa adanya, kamu malah pingin sebaliknya. Pasti ada apa-apanya ini, nggak mungkin kalau ini murni keinginan kamu.!" seru Bu Rahma.


Bu Ratih hanya terdiam, dia nggak berani menjawab pertanyaan Mamanya. Sedangkan Bu Rahma bisa merasakan kalau keinginan anaknya ini begitu janggal. Pasti ada yang mendesaknya.


"Ratih hanya pingin Gavin bisa punya anak, Ma. Nggak lebih!" ucapnya lirih.


"Nggak mungkin, Nak. Pasti ada seseorang yang membuat kamu mengambil keputusan seperti ini.!" jawab Bu Rahma.


Bu Ratih menundukan kepalanya nggak berani menatap Mamanya, karena matanya sekarang sudah mulai mengembun. Bu Rahma tahu kalau anaknya ini pasti lagi menangis.


Bu Rahma meraih dagu putrinya itu dan mendongakan biar bisa bertatap muka. Tak salah lagi, kini bulir bening itu sudah jatuh melewati pipinya yang halus. Bu Rahma mengusap pipi anaknya itu.


"Nak, kamu nggak bisa membohongi Mama. Naluri seorang ibu mengatakan kalau kamu ini memang dalam keadaan terjepit. Kamu bicara saja jujur sama Mama, Nak.?" ucap Bu Rahma.


"Ma, awalnya memang kami nggak mempermasalahkan soal hadirnya anak. Gavin bilang kita bisa mengadopsi. Tapi, suatu hari Ratih mendengar pembicaraan Mama Hesty dan Papa indra, kalau sebenarnya Gavin itu anak tunggal. Kalau Mahen itu bukan anak kandung mereka. Makanya disaat tahu Ratih mengalami musibah ini, Mama Hesty itu pingin kalau Gavin itu punya anak, biar keturunan Wijaya bisa terus ada. Misal Gavin nggak punya Anak kan berarti dialah keturunan terakhir dari generasi Wijaya. Makanya setelah Ratih pikir masak-masak, maka Ratih memutuskan untuk mengijinkan Gavin untuk mendapat keturunan dari wanita lain. Degan kata lain menikah lagi." jelas Bu Ratih.


"Ratih.! apa kamu sudah memikirkan matang-matang, Nak. Mama nggak percaya kalau kamu benar-benar bisa menerima kalau suamimu menikah lagi." tanya Bu Rahma.

__ADS_1


"Awalnya memang nggak bisa, Ma. Tapi, setelah Ratih merenung, Ratih nggak boleh egois. Kalau Ratih nggak mengijinkan Gavin menikah lagi, berarti Ratih egois, oleh sebab itu Ratih harus memikirkan perasaan banyak orang bukan perasaan Ratih sendiri, Ma." jawab Bu Ratih.


"Ratih, Mama bangga sama kamu, Nak. Kamu memang benar-benar berhati mulia. Kamu memikirkan banyak orang sedangkan perasaanmu sendiri terluka. Kalau memang kamu memutuskan untuk itu, Mama nggak bisa berbuat apa-apa." jawab Bu Rahma.


"Iya, Ma. Makasih sudah mendukung Ratih untuk hal ini." sahut Bu Ratih sambil memegang tangan Mamanya.


"Iya, Nak. Tapi, jangan lupa kamu bicarakan hal ini sama Mas mu." ucap Bu Rahma.


"Mau bicara soal apa, Ma.?" tiba-tiba Bagas muncul dari ruang tamu.


Bu Ratih mulai menceritakan kepada Bagas seperti apa yang barusan dibahas sama Mamanya. Dia menceritakan dari awal sampai akhir tanpa ada yang tertinggal.


Bagas terdiam dan belum berkata apa-apa. Dia memahami apa yang dirasakan adiknya itu. Tapi, apa yang diinginkan adiknya itu memang masuk akal juga. Cuma disini kembali lagi sama Ratih, dia harus bisa menerima kalau suatu saat harus berbagi suami dengan wanita lain.


Bagas menghela nafas panjang, dia mencoba memulai bicara. Dia mendekati adiknya yang lagi memangku si kecil. Irene mengambil Reindra dari pangkuan Bu Ratih untuk dipindahkan ke kamar. Sementara disitu tinggal bertiga saja.


"Tih, Mas hargai niat baikmu itu. Tapi, semua yang kamu putuskan hari ini, tidak akan bisa diubah di hari esok. Jadi segala konsekuensinya harus bisa kamu tanggung. Mas rasa kamu sudah dewasa, dan seorang Dosen pula, jadi kamu pasti bisa mengerti mana yang baik buat kamu. Jadi, Mas Bagas akan mendukungmu." ucap Bagas.


"Makasih Mas Bagas...," ucap Bu Ratih.


"Oh iya, soal Gavin yang ternyata anak tunggal itu, Mas Bagas sudah tahu dari dulu." ucap Bagas.


"Apa.! kok bisa Mas Bagas tahu.?" seru Bu Ratih.


"Yang benar, Mas. Jadi selama ini Mas Bagas mengetahui rahasia ini.!" seru Bu Ratih.


"Sebenarnya Mas Bagas nggak boleh bilang sama siapa-siapa. Tapi, berhubung ini tadi kamu sudah tahu bahwa Gavin adalah anak tunggal, makanya Mas cerita." jawab Bagas.


"Iya, Mas. Aku sudah mantap soal Gavin yang aku ijinkan untuk menikah lagi." ucap Bu Ratih.


"Ya sudah, kalau ini memang keputusan kamu, aku akan dukung." jawab Bagas.


"Oh iya, Mas. Satu lagi, aku mengajukan syarat kepada Gavin. Seandainya dia nikah dan punya anak, maka anak itu akan menjadi hak asuh aku dan Gavin." ucap Bu Ratih.


"Apa.! terus, apa ada wanita yang mau memenuhi persyaratan itu.?" tanya Bagas kaget.


"Insya Allah ada, dan Ratih sudah menemukan calonnya. Dan Ratih rasa, dia bakal mau memenuhi persyaratan Ratih." jawab Bu Ratih.


"Emang siapa,?" tanya Mamanya.


"Nanti aja, Ma. Kalau sudah fix. Kalian pasti akan tahu sendiri." jawab Bu Ratih.


Akhirnya mereka menyudahi obrolannya. Jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Dan waktunya untuk makan malam. Akhirnya Bu Ratih membantu Mamanya menyiapkan makan malam.


(****)

__ADS_1


Pagi harinya Bu Ratih, pergi ke supermarket sama Mamanya untuk belanja bulanan. Dia naik taksi menuju supermarket itu.


Mereka berdua langsung menuju bagian perlengkapan mandi, kemudian dia beralih kebagian sembako, dan yang terakhir mereka kebagian fresh. Bu Ratih memilih sayuran dan buah-buahan. Sedangkan Bu Rahma menuju dading dan ikan.


Tapi, tak lama kemudian terdengar sesuatu yang jatuh. Bu Ratih menoleh kearah suara itu. Dilihatnya ternyata barang-barang yang dibawah oleh Mamanya terjatuh karena ada seseorang yang menyenggolnya.


Bu Ratih kemudian menghampiri Mamanya, dan ternyata yang menabrak Mamanya adalah Pak Keanu.


"Pak Keanu.!"


"Bu Ratih.!"


"Maaf, ini siapanya Bu Ratih?" tanya Pak Keanu.


"Maaf, Pak. Ini Mama saya. Apa Mama saya yang menyenggol ini, Pak?" ucap Bu Ratih.


"Oh, enggak. Justru saya yang salah, Bu. Tadi nggak sengaja saya menyenggol barang yang dibawah Mamanya Bu Ratih." jawab Pak Keanu.


"Oh gitu. Ngomong-ngomong kesini sama Vanya apa sendiri?" tanya Bu Ratih.


"Sama Vanya, Bu. Kebetulan dia pamit ke toilet bentar." jawab Pak Keanu.


"Oh iya, kuliah libur tiga hari." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Dia minta belanja karena mau memasak sesuatu mumpung libur. Dan kebetulan saya juga nggak ada kerjaan, karena kemarin habis dari Surabaya urus kerjaan yang disana." jelas Pak Keanu.


"Ya sudah, saya mau kekasir dulu mau bayar, Pak. Salam buat Vanya." ucap Bu Ratih.


"Iya, Bu. Silahakan.!" jawab Pak Keanu.


Akhirnya mereka berpisah, Bu Ratih menuju kasir, sedangkan Pak Keanu masih melanjutkan milih-milih. Pak Keanu sempat-sempatnya menoleh untuk mencuri pandang sama Bu Ratih.


Saat dikasir Bu Ratih masih antri panjang, sedangkan Mamanya disuruh menunggu didekat foodcoort. Kemudian kini giliran Bu Ratih membayar ke kasir kemudian menuju dimana Mamanya menunggu.


Akhirnya Bu Ratih mengajak Mamanya untuk mampir ke kedai es teler kesukaannya. Dan tanpa sengaja dia melihat anak kecil yang lagi digendong Ibunya. Bu Ratih memandanginya terus.


Bu Rahma yang melihat anaknya yang terus memperhatikan anak kecil itu dia jadi terharu. Mungkin dia juga pingin seorang anak seperti wanita pada umumnya.


Tak terasa bulir bening menetes melewati pipi Bu Ratih yang halus. Dia menangis sambil menundukan kepalanya. Bu Rahma mencoba menenangkan putrinya itu. Dia mengelus punggung anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Hapus pakai ini, karena wanita cantik nggak boleh menangis nanti bisa nggak cantik lagi.!"


-----------------------------------


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2