BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 151 (Perkenalan)


__ADS_3

"Oh iya, habis ini saya kesana." jawab Pak Fajar.


"Kenapa, Pak Fajar. Ada masalah apa?" tanya Gavin.


"Belum tahu, Pak. Coba kita lihat." jawab Pak Fajar.


Gavin mengangguk kemudian dia mengikuti Pak Fajar dibelakangnya. Sesampainya ditempat kejadian, dia terkejut karena ternyata yang komplain seorang wanita. Tamu itu lagi memarahi salah satu karyawan Hotel. Gavin heran kenapa ada seorang wanita ngamuk sampai segitunya.


Pak Fajar kemudian mendekati mereka yang sendang beradu argumen.


"Maaf, ada apa sebenarnya ini?" tanya Pak Fajar.


Kemudian tamu Hotel itu menoleh dan memandangi Pak Fajar dari atas sampai bawah. Lalu dia tersenyum sinis kearah Pak Fajar. Gavin sudah geram melihat karyawannya diperlakukan seperti itu. Dia hendak melangkah mendekat tetapi Bu Ratih langsung menghalanginya.


"Jangan dulu. Kamu lihat dulu sampai sejauh mana dia menghandle suatu masalah di Hotel." ucap Bu Ratih.


"Baiklah, kamu ada benarnya juga." jawab Gavin lirih.


Kini Pak Fajar masih berdebat dengan tamu Hotel tadi. Dia dengan sabar dan telaten menghadapi komplain dari tamu yang bicaranya meledak-ledak seperti itu. Gavin hanya melihat dari tempat yang agak jauh.


"Sekali lagi maafkan karyawan saya, ya Bu. Mungkin dia nggak sengaja." ucap Pak Fajar memohon.


Tamu Hotel itu nggak langsung jawab. Dia melihat kearah Pak Fajar yang masih berdiri didepannya. Wajahnya masih menampakan kemarahan, tapi kemudian dia menghela nafas panjang.


"Baiklah, Pak. Untuk kali ini saya maafkan. Tolong, diperingatkan itu karyawannya agar lebih berhati-hati lagi." ucap tamu Hotel itu.


"Makasih, Bu. Saya mewakili jajaran Direksi Hotel ini mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kemurahan hati Ibu. Untuk menebus rasa bersalah kami, Perusahaan akan memberikan bonus voucher menginap gratis selama tiga hari dua malam." ucap Pak Fajar sambil mengulurkan tangan sebagai tanda ucapan maaf dan terima kasih.


Tamu Hotel itu kemudian membalas uluran tangan Pak Fajar sebagai tanda persetujuan antara mereka.


"Baiklah, Pak. Saya terima permintaan maaf Anda. Dan saya juga mengucapkan terima kasih atas bonus yang perusahaan berikan." jawab tamu itu.


Akhirnya permasalahan selesai juga. Tamu itu meninggalkan mereka dan kini tinggal Pak Fajar dan karyawan tadi.


"Vani, Lain kali kamu lebih hati-hati, ya?" ucap Pak Fajar.


"Iya, Pak. Saya minta maaf, ya Pak.?"


"Iya, sama-sama. Ya sudah, kamu kembali ketempat kerjamu lagi." titah Pak Fajar.


Gavin tersenyum melihat kinerja Pak Fajar yang begitu santai, sopan namun tegas. Bu Ratih melirik kearah suaminya, kemudian mereka tersenyum.


"Apa aku bilang, kamu jangan keburu ikut campur. Dilihat dulu apa yang terjadi. Ternyata Pak Fajar mampu mengatasinya." tukas Bu Ratih lirih.


"Kamu benar, Ma. Feeling kamu pas banget." jawab Gavin.


Tak lama kemudian Pak Fajar kembali mendekati Gavin dan keluarganya. Dia menjelaskan permasalahan barusan yang begitu menegangkan. Gavin sangat berterima kasih sekali karena sudah membantu mengurusi Hotel.


"Pak Fajar, Pantas saja Papa begitu percaya dengan Bapak. Ternyata Bapak sangat patut dibanggakan." ucap Gavin.

__ADS_1


"Ah, Pak Gavin bisa saja. Saya hanya menjalankan tugas sesuai dengan kemampuan saya." jawab Pak Fajar malu.


"Oh iya, sudah berapa tahun Anda bergabung dengan Papa saya?" tanya Gavin.


"Saya sudah hampir sepuluh tahun, Pak. Sejak saya masih bujang, dan kini saya sudah punya anak satu." jawab Pak Fajar.


"Ya sudah, saya permisi dulu. Besok saya sudah mulai aktif dikantor. Nanti mohon saya dibantu untuk membangun dan mengembangkan Hotel ini." ucap Gavin.


"Baik Pak Gavin. Saya tunggu kehadirannya di Hotel ini." jawab Pak Fajar.


Kemudian Gavin dan keluarganya meningglakan Hotel dan kembali ke rumahnya. Dia sangat terkesan sekali dengan kinerja Pak Fajar. Tak terasa akhirnya mereka sampai juga dirumah.


"Ma, Raka langsung mandi, ya. Gerah nih!" ucap Raka.


"Iya, sayang." jawab Bu Ratih.


"Sayang, kamu besok juga sudah masuk kuliah?" tanya Gavin.


"Belum, aku baru masuk lusa, kok." jawab Bu Ratih.


"Berarti, besok kamu bisa antar Raka ke sekolah, dong?" tanya Gavin.


"Iya, sayang. Sementara besok aku bisa antar Raka ke sekolah." jawab Bu Ratih.


Malam harinya mereka makan malam bersama. Sementara Budhe Rahayu yang memasakan karena memang belum ada pembantu.


"Ayo kita makan," ucap Budhe.


"Kamu ngomong opo toh nduk. (Kamu bicara apa, sih Nak.) memang disini keluarga kamu cuma Budhe, kan?" ucap Budhe.


Mereka akhirnya melanjutkan makan malam bersama. Sampai akhirnya mereka menyudahi makan malamnya dan kini kembali ke aktivitasnya masing-masing.


Raka mulai menata buku-bukunya dibantu dengan Bu Ratih. Sedangkan Gavin mulai membuka laptop untuk memantau pekerjaan yang di Jakarta. Proyek dengan Pak Ramon akhirnya berjalan lancar dikota Semarang.


(***)


Keesokan harinya Gavin mulai aktif di Hotel, sedangkan Raka sudah mulai masuk sekolah yang baru. Bu Ratih membantu suami dan anaknya untuk mempersiapkan keperluannya. Dari menyiapkan sarapan serta baju yang akan digunakan ke kantor dan sekolah.


Dia kali ini mengerjakannya sendirian karena Budhe Rahayu sudah pulang. Hari ini Budhe juga mau mencarikan asisten rumah tangga buat Gavin dan keluarga. Setelah selesai, kini tinggal berangkat nya saja.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya.?" ucap Gavin.


"Iya, sayang. Hati-hati, ya." jawab Bu Ratih sambil membetulkan dasi suaminya.


Bu Ratih mengantar Gavin kedepan. Diluar sudah ada Santo yang sudah membersihkan dua mobil majikannya itu.


"Santo, nanti tolong antarkan Ibu ke sekolah Raka, ya?" ucap Gavin pada Santo.


"Baik, Pak."

__ADS_1


Akhirnya Gavin masuk mobil dan berangkat ke Hotel. Dia sedikit menghafal jalan yang kemarin sudah dikasih tahu Bu Ratih.


Sedangkan Bu Ratih siap-siap berangkat ke sekolah Raka. Santo sudah menyiapkan mobil untuk mengantarkan Bu Ratih dan Raka. Setelah semuanya memasuki mobil, Santo langsung melajukan mobilnya menuju sekolah Raka.


Sekitar lima belas sampai dua puluh menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga disekolah. Bu Ratih langsung menuju ruang guru sama Raka.


"Selamat pagi.," ucap Bu Ratih.


"Selamat pagi juga." jawab salah satu guru yang ada diruangan itu.


"Maaf, saya mau ketemu Kepala sekolah." ucap Bu Ratih.


"Oh, Ibu ini yang anaknya mau sekolah disini itu, ya. Yang pindahan dari Jakarta?" sahutnya.


"Iya, benar Bu. Saya orang tua Raka yang pindahan dari Jakarta." jawab Bu Ratih.


"Baik, silahkan ikut saya. Biar saya antarkan menemui Bapak kepala sekolahnya." jawab Guru itu.


Bu Ratih mengikuti dibelakang Guru itu. Kemudian sampailah mereka didepan ruangan Kepala sekolah. Setelah diketuk pintunya, dan dibukakan juga, akhirnya Guru itu balik dan meninggalkan Bu Ratih diruangan itu.


"Selamat pagi, Pak?" ucap Bu Ratih.


"Selamat pagi juga, silahkan duduk, Bu.!" jawab Kepala sekolah itu.


Bu Ratih menyalami Kepala sekolah itu, begitu juga Kepala sekolah itu membalas uluran tangan Bu Ratih.


"Kenalkan saya Renhard. Kepala sekolah disini," ucap Pak Renhard.


"Saya Ratih, Mamanya Raka." jawab Bu Ratih.


"Sebentar, nama Anda Ratih.!" ucapnya penuh penekanan.


"Iya, Pak. Ada apa, ya Pak?" tanya Bu Ratih penasaran.


"Ratih putri gayatri, anak Akuntasi lulusan yang dulu masuk sepuluh besar lulusan terbaik?" jawabnya antusias.


Bu Ratih menautkan alisnya tanda dia penasaram dengan orang yang ada dihadapannya kali ini.


"Kok Bapak tahu itu semua. Apa kita sebelumnya sudah saling kenal.?" tanyanya.


"Malah sangat kenal banget, Bu. Saya adalah kakak tingkat Anda yang aktif di organisasi, sama dengan Bu Ratih saat itu." ucapnya lagi.


Bu Ratih mencoba mengingat semua yang dikatakan Pak Renhard. Setelah dia sedikit mengingat, akhirnya dia membulatkan matanya dan tersenyum sumringah.


"Ya Ampuun,! Anda kan dulu yang pernah mengantarkan saya pulang, saat habis rapat organisasi.?" jawab Bu Ratih.


"Betul banget.! Gimana kabar Keanu, dulu kan kayak soulmate. Maaf waktu itu saya sudah nggak tahu kabarnya setelah lulus, saya kuliah lagi diluar negeri." ucap Pak Renhard.


Bu Ratih langsung terdiam dan menundukan kepalanya. Dia seakan dipaksa kembali memutar kenangan yang sudah lama dia simpan. Tak terasa matanya sudah mulai mengembun.

__ADS_1


--------------------------------


Bersambung....


__ADS_2