BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 176 (Sebuah Anugerah)


__ADS_3

Rita melihati Bu Ratih yang begitu tulus membelai wajah anaknya itu. Dalam hatinya dia berkata bahwa perempuan seperti Bu Ratih lah yang pantas mengasuh dan merawat anaknya. Dia yakin suatu saat anaknya akan menjadi orang sukses jika berada dalam asuhan Bu Ratih.


"Kamu kenapa melihati saya seperti itu, Ta?" tanya Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, Mbak. Sepertinya Mbak suka anak kecil." ucap Rita.


"Iya, Ta. Saya suka sekali sama anak kecil. Dan anak kamu ini sangat lucu dan cantik." jawab Bu Ratih.


Ketika mereka ngobrol-ngobrol, terdengar suara ponsel Bu Ratih berdering. Nama Farrel tertera.


"Hallo, Rel. Ada apa?"


"......"


"Oh iya, Nggak apa-apa."


"......."


"Iya, kamu hati-hati. Salam sama Ayahmu?"


"......."


"Okey, Bye.!"


Bu Ratih kembali menutup ponselnya lalu kembali melanjutkan ngobrol-ngobrol sama Rita.


"Oh iya, kamu sudah mandi?" tanya Bu Ratih.


"Maaf, Mbak. Belum karena nggak ada yang jagain si kecil." jawab Rita.


"Oh, sini-sini biar aku yang gendong. Kamu mandi dulu, habis itu kita sarapan bareng-bareng." ucap Bu Ratih.


Bu Ratih mengajak si kecil untuk mencari udara segar di teras samping rumahnya, karena kalau di teras depan ada Santo yang lagi membersihkan mobil takut kena debunya.


Tak lama kemudian, Raka mendekati Mamanya yang lagi menggendong si kecil.


Dia kelihatan senang sekali dengan anak kecil itu. Bu Ratih merasa terharu ketika melihat Raka yang lagi menggoda si kecil. Karena dirinya memang nggak bisa memberikan Raka seorang adik.


"Ma, Nama adiknya siapa?" tanya Raka.


"Lho, Mama juga nggak tahu, Nak. Mama belum sempat tanya sama Tante Rita. Ya nanti saja kita tanya, Tante Rita masih mandi." Jawab Bu Ratih.


"Oh iya, Ma. Selama belum tahu namanya, gimana kalau Raka panggilnya Cantik. Kan dede' nya memang cantik." ucap Raka.

__ADS_1


"Boleh-boleh, Nak. Panggilan yang bagus, kok." jawab Bu Ratih.


Hampir satu jam kok Rita belum juga menyamperi dirinya, Bu Ratih penasaran anak ini kemana. Kemudian dia masuk kedalam rumah untuk mencari Rita. Dia berjalan menuju dapur dan menanyakan ke Fatma, tapi dia juga nggak tahu.


Bu Ratih semakin bingung, dia menuju kamar tamu dimana semalam Rita tidur. Dia mendapati kamarnya kosong nggak berpenghuni. Raka disuruh tanya sama Santo didepan. Saat Bu Ratih mau keluar kamar, dia mendapati surat yang tergelatak diatas tas bayi yang berada ditempat tidur.


Buru-buru dia menyambar surat itu. Kemudian dibacanya.


"Mbak Ratih yang aku hormati. Maaf, jika Rita harus pergi tanpa pamit sama Mbak Ratih. Saya nitip anak saya, Mbak. Tolong, jaga dan rawat dia seperti Mbak Ratih merawat anak Mbak sendiri. Saya ikhlas menyerahkan anak saya sama Mbak karena saya lihat, Mbak orang baik. Saya takut kalau dia masih bersama saya, dia akan menjadi incaram Bis besar. Lagian saya juga belum tentu bisa menjamin masa depannya. Sekali lagi, maafkan saya Mbak. Terima kasih.


"Ya ampun, Rita.!"


"Fatma.,! Pak Santo.,!" teriak Bu Ratih sambil melangkah keluar kamar menuju ruang tamu.


Fatma dan Santo buru-buru menghampiri Bu Ratih yang masih panik dan wajah yang tegang.


"Ada apa, Bu?" tanya Santo.


"Kamu tadi lihat perempuan yang kita tolong semalam?" tanya Bu Ratih.


"Emm, tadi waktu saya membersihkan mobil dia memang keluar, pas saya tanya katanya mau beliin susu anaknya." jawab Santo.


"Nah itu dia, Pak Santo. Mungkin dia nggak mau Pak Santo curiga. Tapi, dia bawa tasnya apa nggak?" Bu Ratih bertanya lagi.


"Ini dia tulis surat buat saya. Isinya dia menitipkan anaknya sama saya untuk saya asuh. Saya harus laporkan ini ke Polisi saja." ucap Bu Ratih.


"Tih, kalau menurutku jangan dulu. Sementara kamu lapor ke Pak RT saja dulu. Minta saran." sahut Fatma.


"Iya, Bu. Benar apa yang dibilang Mbak Fatma. Kita tunggu saja, siapa tahu wanita itu kembali." ucap Santo.


"Iya juga, sih. Tolong, Pak Santo saya dipanggilkan Budhe Rahayu." ucap Bu Ratih.


"Baik, Bu."


"Fatma, bantu aku siapakan mandinya Cantik. Nanti kamu ikut aku ke Mall buat belanja perlengkapan dia." ucap Bu Ratih.


"Baik, Tih."


Akhirnya Bu Ratih menyiapkan mandi dibantu Fatma. Dia menuju kamar tamu untuk mengambil baju dan lainnya. Raka mengikuti Mamanya saat memandikan dan Cantik dikamar mandi.


Akhirnya nggak butuh waktu lama Bu Ratih selesai memandikan dan dandani Cantik. Kini dia sudah wangi dan cantik.


"Ma, Adek Cantik Mamanya kemana?" tanya Raka.

__ADS_1


"Raka, Mamanya adek Cantik pulang, dia menitipkan adek Cantik sama Mama untuk dirawat." jawab Bu Ratih.


"Asyik, berarti Raka sekarang punya adik dong?" ucapnya polos.


"Iya, anggap saja dia adik Raka sendiri. Raka mau kan sayang sama adek Cantik." jawab Bu Ratih.


"Mau, Ma."


Akhirnya Budhe Rahayu datang, dan langsung melihat anak kecil yang kini dipangkuan Bu Ratih.


"Tih, Ini anugerah, Nduk. Gusti Alloh menitipkan anak ini lewat perempuan itu. Kamu harus merawat dan menjaganya dengan baik. Kabari suami dan keluargamu di Jakarta." ucap Budhe Rahayu.


"Tapi, Ratih takut, Budhe. Apa kita nggak laporkan ini sama Polisi." tanya Bu Ratih.


"Kalau itu jelas, Nduk. Tapi, ini harus tetap kamu rawat. Nanti kita laporkan dan urus supaya anak ini sah menjadi anakmu dan Gavin." jawab Budhe.


"Iya, Budhe. Nanti Ratih biar telpon Gavin." jawab Bu Ratih.


"Kapan suamimu pulang ke Jogja?" tanya Budhe Rahayu.


"Katanya besok pagi dia terbang dari Jakarta, sampai Jogja sekitaran siangan Budhe." jawab Bu Ratih.


"Baiklah, kita tunggu suamimu dulu. Dan sekarang belikan semua keperluan anak ini." ucap Budhe Rahayu.


"Iya, Budhe. Tapi, temani Ratih ke Mall sama Fatma juga, ya Budhe." ucap Bu Ratih.


"Iya, Budhe temani. Ayo kita berangkat." jawab Budhenya antusias.


Mereka berempat akhirnya pergi ke Mall. Bu Ratih menyetir sendiri, karena Santo disuruh jagain rumah saja.


Dalam perjalanan ke Mall tak henti-hentinya Budhe mengucap syukur atas anugerah yang menimpa Bu Ratih. Dia tahu kalau Bu Ratih nggak bisa punya anak, makanya Budhe Rahayu ikut senang ketika Bu Ratih dikasih orang anak perempuan.


Tak lama akhir ya mereka sampai juga di Mall. Cantik digendong Fatma sedangkan Bu Ratih menggandeng Raka.


Saat didalam Mall, mereka langsung menuju pakaian baby. Bu Ratih sampai bingung karena pakaian perempuan itu bagus-bagus. Mereka semua ikut berperan penting dalam memilihkan baju buat Cantik. Setelah urusan pakaian sudah selesai, kini Bu Ratih menuju bagian bedak, minyak telon dan semua teman-temannya.


Kini Bu Ratih mengajak ke aksesoris buat belikan pita-pita ataupun gelang mainan dan lainnya. Lalu terakhir mereka mencari makanan pendamping Asi dan susu. Kemarin Rita cerita kalau anaknya ini masuk jalan umur lima bulan.


Akhirnya selesai juga mereka belanja keperluan Cantik. Dan kini mereka semuanya pulang ke rumah. Cantik kini digendong Budhe karena Fatma membantu Bu Ratih membawa barang belanjaannya Cantik.


Dalam perjalanan pulang Bu Ratih sempat bergumam.


"Cantik, kalau memang kamu dianugerahkan Tuhan buat Mama Ratih, jangan kawatir sayang, Mama Ratih akan selalu menjaga dan merawat kamu sampai kamu menjadi orang yang mandiri dan sukses." ucap Bu Ratih dalam hati.

__ADS_1


---------------------------------


__ADS_2