BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 186 (Salah faham)


__ADS_3

Malam harinya sekitar habis Isya' ketika Bu Ratih dan Gavin lagi dirumah, mereka duduk-duduk di ruang tengah sambil sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Gavin fokus dengan ponselnya sedangkan Bu Ratih menghadap laptop untuk mengerjakan tugas di kampusnya.


Pemandangan seperti itu memang sudah biasa sejak mereka menikah, karena keduanya memang punya kesibukan. Tapi, yang tidak biasa adalah sikapnya yang berbeda. Nggak banyak bicara, kalau pun ada pembicaraan hanya seperlunya saja.


Memang akhir-akhir ini Gavin mudah marah, sering melamun bahkan pulangnya selalu telat. Bu Ratih sempat curiga ada apa dengan suaminya. Tapi, pikiran itu dibuangnya jauh-jauh karena takutnya nanti malah salah faham.


Sifat Gavin yang satu itu memang nggak bisa dihilangkan, meskipun demikian dia tetap lelaki yang bertanggung jawab. Biasanya kalau seperti ini pasti ada yang menyita pikiran Gavin.


Bu Ratih sesekali melirik ke arah suaminya yang lagi sibuk dengan ponselnya. Tapi, kemudian dia kembali fokus dengan kerjaannya. Begitu terus sampai jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.


"Pa, sudah jam sembilan, aku lihat Cantik dulu, ya?" ucap Bu Ratih sambil menutup laptopnya.


Gavin hanya menoleh sebentar lalu memgangguk, "Hmm., iya. Nanti Papa susul."


Setelah itu dia kembali menatap layar ponselnya. Bu Ratih hanya tersenyum kemudian dia meninggalkan suaminya yang masih di ruang tengah.


Tak lama kemudian Fatma lewat mau kedepan. Ketika mendapati Gavin yang duduk sendiri di ruang tengah, dia kaget nggak biasa-biasanya dia duduk sendiri.


"Maaf, Pak. Apa perlu saya buatin teh?" tanya Fatma.


Gavin menoleh kemudian tersenyum, "Hmm., boleh." jawabnya.


"Tunggu sebentar, ya Pak.?"


Tak selang lama Fatma kembali sambil membawakan teh untuk Gavin. "Ini tehnya, Pak." ucap Fatma.


Dengan sedikit berjongkok dia meletakan gelas tersebut. Gavin memperhatikan saat Fatma meletakan gelas yang berisi teh. Tapi, ketika dia hendak berdiri tiba-tiba keseimbangannya kurang sehingga membuat dia terjatuh dan tersungkur pas dipangkuan Gavin.


Adegan itu seperti di film-film kalau nggak sengaja bertabrakan. Gavin sontak kaget karena sekarang posisi Fatma tepat dipangkuannya dengan posisi telungkup dibagian badannya, sedangkan kakinya masih di lantai.


Tangan Gavin masih memegang ponsel saat Fatma jatuh sehingga membuat dia tidak cukup cepat untuk menahan tubuh Fatma. Sedangkan Fatma sendiri juga kaget, dia sekarang begitu dekat dengan Gavin, dia kini bisa melihat tubuh Gavin dengan jarak beberapa senti saja.


Gavin dan Fatma sempat saling tatap karena mereka berdua bengong dengan kejadian yang baru saja menimpa mereka. Fatma mencium aroma wangi tubuh Gavin sehingga dia tidak lekas bangun.


Ketika sadar, Gavin buru-buru membantu Fatma untuk bangun supaya tidak berlama-lama di pangkuannya.


"Ayo, saya bantu kamu bangun. Lain kali hati-hati.!" seru Gavin.


Gavin akhirnya membantu Fatma untuk bangun dan kini dia kembali berdiri.


"Maaf, Pak. Sekali lagi saya minta maaf, Pak." ucapnya sambik menunduk.

__ADS_1


"Iya, nggak apa-apa. Untung saja teh nya sudah di meja, coba kalau masih kamu pegang, apa tidak kena muka saya,!" ucap Gavin tegas.


"Iya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf." ucapnya ketakutan karena Gavin berbicara dengan suara tinggi.


Tak lama kemudian Bu Ratih keluar karena dia mendengar Gavin bicara sedikit keras. "Ada apa, Pa.?"


"Ini, si Fatma nggak hati-hati. Dia jatuh dan menimpa aku, untung saja dia nggak lagi bawa minuman, kalau bawa ya muka ku ini jelas kesiram teh." jelas Gavin.


"Ya ampun, sekarang gimana, kamu sudah nggak apa-apa, Pa.?"


"Nggak apa-apa.!"


"Lalu, kamu sendiri gimana, Fat?" tanya Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, kok Tih." jawabnya.


"Ya sudah, sekarang kamu kembali ke kamarmu saja, nanti Pak Gavin biar saya yang urus." ucap Bu Ratih.


"Ini tehnya sudah diminum, Pa?" tanya Bu Ratih.


"Belum, Ma."


"Iya, Ma. Aku sampai lupa kalau beaok ada meeting. Makasih sudah mengingatkan aku." jawab Gavin dengan senyuman.


Bu Ratih sedikit lega karena sikap suaminya kembali lembut. Dia ingin bertanya sesuatu mumpung keadaannya lagi hangat.


"Pa, Mama boleh tanya sesuatu, nggak.?"


"Boleh, nanya apa.?"


"Kenapa akhir-akhir ini Papa sering diam, mudah marah bahkan sering melamun.?" tanya Bu Ratih.


"Oh itu, Papa lagi memikirkan hotel. Perkembangannya memang bagus, tapi kadang masalah ada saja. Kapan hari soal tanah yang katanya lagi sengketa, tapi sudah clear masalahnya. Lalu, wanita yang sempat dekat dengan Pak Robby dan kemudian dia juga dekat Pak Alex, tiba-tiba dia datang ke hotel minta maaf karena dia mau tetap bisa menginap di hotel Papa seperti sebelumnya. Kan sebelumnya dia dan Pak Alex Papa larang untuk menginjak hotel lagi." jelas Gavin.


"Ya mungkin dia memang sudah sadar, Pa. Dan dia datang ke hotel memang sebagai tamu dan bukan sebagai simpanannya Pak Alex." jawab Bu Ratih.


"Mungkin juga, Ma." jawab Gavin.


"Kamu tidak tahu, Ma. Kalau sebenarnya bukan itu saja yang Papa pikirin, Papa juga mikirin Kasih. Papa kasihan melihat dia. Suaminya seperti itu." ucap Gavin dalam hati.


"Lho, kok malah melamun." ucap Bu Ratih.

__ADS_1


"Hehe, iya Ma. Maaf, ayo kita istirahat." ajak Gavin.


Akhirnya keduanya masuk dalam kamar, Gavin sudah menduga kalau istrinya pasti akan menanyakan perubahan sikapnya.


Sedangkan di belakang, Fatma lagi melamun sambil senyum-senyum sendiri.


"Ah, aroma tubuh Pak Gavin masih menempel di tubuhku. Ketika berdekatan dengannya tadi aku seneng banget, dia terlihat begitu gagah dan tampan." ucap Fatma lirih.


Sedangkan tiba-tiba Santo muncul dari belakang karena habis membersihkan ruangan yang akan ditempati oleh Susi. Dia tanpa sengaja mendengar apa yang diucapkan oleh Fatma barusan. Santo sudah menduga kalau Fatma menyukai Gavin.


"Ini tidak bisa di diamkan, saya harus laporkan ke Budhe Rahayu. Kalau langsung ke Bu Ratih, takutnya malah salah faham." ucap Santo dalam hati.


Fatma yang mendapati Santo ada dibelakangnya langsung terkejut. Dia lalu pergi meninggalkan Santo yang masih berdiri, dia langsung masuk kamarnya.


Santo melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Kalau dia ke rumah Budhe sekarang takutnya malah mengganggu istirahatnya saja. Akhirnya Santo mengurungkan niatnya, dia lalu menutupi semua pintu dan jendela tanpa terkecuali, lalu dia keatas menuju kamarnya.


.


.


.


Ketika malam hari Bu Ratih kebangung, dan di lihat Gavin tidak ada di sampingnya. Sedangkan box nya Cantik masih ada dan Cantik tidur dengan pulas. Dia melirik jam ternyata sudah jam setengah satu. Hampir dini hari.


Dia keluar kamar menuju dapur karena mau ambil minum. Saat di ruang tengah dia mendapati suaminya tertidur di kursi panjang. Dia tersenyum melihat Gavin yang tidur dengan wajah yang kelelahan.


Bu Ratih lalu menuju dapur, dia sengaja nggak menyalakan lampu dapur karena sudah ada sinar lampu dari ruang tengah.


Perlahan dia mendengar suara pintu dibuka dan langkah kaki. Suara itu terdengar dari kamar Fatma yang kebetulan dekat dengan dapur. Bu Ratih melihat dari dapur, Fatma keluar kamar dengan masih memakai baju tidur yang begitu sexy, dia berjalan melewati dapur dan menuju ruang tengah.


"Itu kan, Fatma. Mau kemana dia malam-malam gini." ucapnya dalam hati.


Bu Ratih kaget ketika dia mendapati Fatma mendekati suaminya yang lagi tertidur pulas. Fatma duduk didekat Gavin dan dia mulai mengelus tangan, wajah kemudian menyentuh dada bidangnya Gavin.


Bu Ratih langsung keluar dapur dan menuju ruang tengah dengan wajah yang tegang.


"Fatma,! mau kamu apain suamiku.,!"


---------------------------------


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2