BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 201 (Gavin gelisah)


__ADS_3

Gavin dan Bu Ratih kaget setelah mendengar ucapan Cantik tiba-tiba. Seketika Bu Ratih tersenyum dan kemudian meraih tangan anak perempuannya untuk duduk didekatnya.


"Anak cantik Mama kok belum tidur,?" ucap Bu Ratih mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Habis baca buku, Ma. Terus Cantik haus pingin minum. Persediaan air dikamar kebetulan sudah habis." jawab Cantik.


"Oh gitu, di isi kembali saja botolnya, Nak."


"Mama kok belum jawab pertanyaan, Cantik." ucapnya.


Bu Ratih menoleh kearah Gavin. Mereka hanya terdiam. Tak lama kemudoan Bu Ratih tersenyum kepada Cantik.


"Nak, maksud Mama tadi, anak laki-laki Papa ada dua itu, dulu misal Mama nggak keguguran, mungkin anak laki-laki Papa itu ada dua." jawab Bu Ratih bohong.


"Oh jadi Mama sempat keguguran?" jawab Cantik kaget.


"Iya, dulu banget. Sebelum Kak Raka lahir. Jadi misal kalau nggak keguguran, dia jadi Kakak kalian." jawab Bu Ratih lagi.


Cantik mendengarkan apa yang dijelaskan Mamanya. Sedangkan Gavin memandangi wajah Bu Ratih yang nampak sedih. Spontan dia langsung memegang tangan istrinya itu untuk memberikan kekuatan supaya dia tidak teringat dengan kejadian masa lalu yang sedih.


"Ya sudah, Ma. Cantik ambil minum dulu." ucapnya sambil meninggalkan Gavin dan Bu Ratih.


Bu Ratih matanya berkaca-kaca. Gavin yang mendapati istrinya bersedih seperti itu langsung saja memeluknya. Bu Ratih menangis di pelukan Gavin. Sedangkan mereka lupa kalau Cantik masih di dapur untuk ambil air minum. Bu Ratih tiba-tiba melepaskan pelukan Gavin.


"Pa, maaf aku jadi baper. Masih ada Cantik di dapur," ucap Bu Ratih.


"Iya, nggak apa-apa. Kita sebaiknya ke kamar." ajak Gavin.


Keduanya menuju kamar, tapi belum sampai masuk, tiba-tiba Raka berteriak dari luar.


"Mama, Papa.,!"


Spontan Gavin dan Bu Ratih menoleh dan mengurungkan niatnya untuk masuk kamar. Mereka langsung menuju ruang tamu dimana Raka tadi teriak.


"Ada apa, Kak.!"


"Ma, Pa. Kasihan, Raka barusan dapat kabar dari Dara, kalau Gazi kecelakaan." kalimat Raka membuat Gavin lemas demikian juga Bu Ratih.


"Apa.,!" seru Gavin.


"Terus sekarang dimana?" Bu Ratih menimpali.


"Dia dirawat di rumah sakit Medika." jawab Raka.


"Kamu sudah kesana, Kak.?" tanya Bu Ratih.


"Belum Ma. Kan, dari tadi Raka diluar ngerjakan tugas diteras. Dara kirim pesan ngabari kalau Gazi kecelakaan." jawab Raka.


"Ya ampun, iya kamu tadi dirumah." ucap Bu Ratih.


"Besok aja kita kerumah sakit, lagian juga sudah malam juga." ucap Gavin.


"Iya, besok aja pulang kuliah Raka langsung lihat." jawab Raka.


"Papa beneran nggak apa-apa kalau jenguk Gazinya besok aja." tanya Bu Ratih.


"Iya, Ma." jawab Gavin kemudian dia meninggalkan Raka dan Bu Ratih yang masih berdiri.


Raka bingung dengan sikap Papanya yang demikian. "Papa kenapa, Ma.?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, mungkin dia prihatin saja." jawab Bu Ratih.


"Ya sudah, Ma. Kita masuk aja." ajak Raka.


Bu Ratih masuk kamarnya menyusul Gavin yang dari tadi sudah masuk. Dia mendapati suaminya lagi duduk ditepi pembaringan dengan wajah yang gelisah. Bu Ratih spontan mengelus punggung suamimya itu.


"Pa, aku ngerti apa yang kamu rasakan sekarang. Meskipun belum tentu apa yang kita terka-terka tadi benar, namun kemungkinan besar ada benarnya. Dan sekarang apa yang menimpa Gazi membuat kamu gelisah seperti ini." tukas Bu Ratih.


"Ma, jujur perasaanku saat ini ingin sekali melihat keadaan Gazi. Tapi, aku nggak enak sama kamu, Ma." ucapnya sambil matanya berkaca-kaca.


Bu Ratih yang mendapati Gavin jadi sedih seperti itu dia langsung memeluk suaminya itu.


"Ya ampun, Pa. Kamu kenapa punya pikiran seperti itu. Mama nggak apa-apa kalau memang ingin jenguk Gazi sekarang." ucap Bu Ratih sambil memelu suaminya.


"Beneran, Ma.?"


Bu Ratih mengangguk serta tersenyum pada suaminya, "Iya, Pa. Berangkatlah kalau hati Papa ingin kesana."


"Papa ajak Raka, ya.?"


"Iya, Maaf Mama nggak ikut. Besok aja Mama jenguknya." ucap Bu Ratih.


"Iya, Ma. Papa segera kesana. Bentar aja kok, Ma." ucapnya kegirangan.


Gavin langsung ganti baju, Bu Ratih yang melihat suaminya tiba-tiba jadi senang dan semangat untuk menjenguk Gazi ikut terharu dan bisa merasakan apa yang dirasakan suaminya itu.


Kemudian Gavin keluar diikuti oleh Bu Ratih. Dia kemudian membuka pintu depan.


"Kak, Kakak.,!" panggil Bu Ratih dari bawah.


"Iya, Ma. Ada apa?" sahutnya dari atas.


"Apa,? katanya besok saja."


"Sudah turun, ditunggu Papa diluar."


"Iya, Ma."


Raka kemudian masuk kamar ambil jaket serta kunci mobilnya. Setelah itu dia keluar dan menuju garasi.


"Kamu kok lama banget, sih.!"


"Maaf, Pa. Tadi Raka ambil jaket ama kunci mobil dulu." jawabnya.


"Sudah, jangan lelet. Ambil mobil kamu.!"


Raka heran dengan sikap Papanya yang seperti ini. Nggak biasa-biasanya dia marah. Raka hanya diam dan menuruti apa yang Papanya perintahkan.


Bu Ratih menatap Raka dengan senyuman, dia menepuk pundak anaknya supaya sabar untuk menghadapi Papanya kali ini.


Raka mengeluarkan mobilnya, Gavin kemudian mengikuti masuk. Bu Ratih hanya melihat saja ketika mobilnya Raka keluar rumah.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Gavin hanya diam saja. Sedangkan Raka fokus menyetir mobilnya. Dia masih penasaran dengan sikap Papanya.


"Kak.,"


"Iya, Pa."


"Maafin, sikap Papa barusan."

__ADS_1


"Oh, iya Pa. Santai aja."


"Ya sudah, kamu sekarang fokus nyetir."


Sekitar setengah jam akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Raka memarkirkan mobilnya di parkiran. Setelah itu dia menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar. Dan ternyata masih di UGD.


Gavin dan Raka menuju UGD. Disana masih belum ada keluarganya, yang ada hanya seorang laki-laki dan perempuan.


"Dara.!" seru Raka.


"Ka, Om." jawabnya.


"Tadi aku langsung bilang Papa Mamaku kalau Gazi kecelakaan. Kejadiannya gimana, Ra?" tanya Raka.


"Kita tadi habis dari rumah teman. Gazi motoran sendiri, sedangkan aku boncengan sama Tyo ini. Lalu dijalan ada mobil yang kecepatannya cepat sekali mendahului kita. Tapi, pas di dekat Gazi mobil itu oleng, dan kemudian nyenggol setirnya Gazi akhirnya jatuh." jelas Dara.


"Nak, Dara. Apa keluarganya sudah di hubungi.?" tanya Gavin.


"Sudah, Om. Tapi, Gazi kan disini tinggal sama Neneknya saja. Bundanya tinggal di Jakarta, jadi belum bisa kesini. Sedangkan Neneknya belum bisa kesini, nunggu saudaranya gitu." jawab Dara.


Gavin sudah menduga. Benar ini pasti Gazi anaknya Kasih. Wajahnya semakin panik karena dia juga ingin melihat keadaannya Gazi.


"Kira-kira keadaannya gimana, Ra?" sahut Raka.


"Belum tahu, Ka. Dokter belum keluar."


Tak lama kemudian, Dokter keluar lalu mencari keluarga korban.


"Maaf, Pak. Anda Ayah korban.?" tanya Dokter itu.


Gavin nggak langsung jawab, dia hanya bengong karena dia sendiri nggak tahu mau jawab apa. Tiba-tiba Dara yang jawab.


"Iya, Dok. Dia Ayahnya." sahut Dara asal.


"Baiklah, Pak. Saya mohon persetujuaannya untuk dilakukan operasi. Saya butuh jawaban secepatnya biar lekas ditangani untuk menyelamatkan nyawa anak ini." ucap Dokter itu.


"Om, ikut Dara sebentar."


ketika mereka agak jauh dari orang-orang itu, Dara bicara apa adanya soal status Ayahnya Gazi.


"Baiklah, saya mau."


Kemudian Gavin menemui Dokter itu lagi dan mau untuk bertanggung jawab soal operasinya Gazi.


"Iya, Dok. Lakukan sekarang operasinya." ucap Gavin tegas.


"Baiklah, Pak. Makasih."


setelah itu Dokter itu masuk lagi kedalam UGD. Dan kini tinggal mereka berempat lagi.


"Maaf, Om. Tadi saya paksa Om untuk ngaku jadi Ayahnya Gazi. Karena saya sudah tahu keadaan keluarga Gazi seperti apa. Ayahnya sudah menikah lagi dan kini hidup sama istri mudanya. Gazi ikut Neneknya karena Bundanya di Jakarta ngurusi usahanya." jelas Dara.


Gavin kaget apa yang sudah dijelaskan oleh Dara. Kini tubuhnya serasa lemas dan kayak tidak bertenaga. Tapi, dia mencoba untuk bertahan supaya tidak mencurigakan. Matanya berkaca-kaca karena hatinya sedih sekali.


"Ya Tuhan, ini benar Gazi anaknya Kasih. Kalau mendengar cerita Dara sudah nggak salah lagi, ini Gazi pasti anak Kasih. Yang kemungkinan juga anakku." ucap Gavin dalam hati.


---------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2