
"Apa.! Mobilnya Mahen?" jawab Pak Indra.
"Iya, Pa. Mobilnya Kak Mahen." jawab Gavin.
"Bu Murni, tolong Ibu jangan bicara satu patah kata pun, demi kebaikan semua. Terutama kebaikan Mahen sekeluarga, Bu Murni nggak pingin kan kalau dia akan membenci Ibu jika dia tahu kalau Ibunya sudah menelantarkannya. Jadi, saya mohon dengan sangat, Bu Murni diam saja. Kalau Bu Murni pingin lihat, silahkan." jelas Pak Indra.
"Baik, Pak. Saya janji bahwa saya tidak akan bicara macam-macam." jawab Bu Murni.
Tak lama kemudian Mahen datang dengan keluarga kecilnya. Kinanti dan bayinya, serta asisten rumah tangganya dibawah sekalian.
Mereka memasuki rumah Pak Indra. Gavin menyambut kedatangan keponakan tercintanya.
"Hallo princes.., kamu cantik banget, Om Gavin gemes dech!" seru Gavin sambil memegang pipi Tifany.
"Hallo juga Om." ucap Kinanti.
"Pa, Mama mana?" tanya Mahen sambil mencium punggung tangan Papanya.
"Mamamu lagi dikamar. Kamu langsung masuk aja." ucap Pak Indra.
Mahen nggak langsung masuk karena diruang tamu itu ada perempuan yang tak lain adalah Bu Murni tadi. Dia melihat ke arah Bu Murni sambil mengangguk dan tersenyum.
Sedangkan Bu Murni sendiri seolah terhipnotis dengan pemandangan dihadapannya ini. Dia memperhatikan Mahen dari atas sampai bawah tanpa kedip. Kemudian dia melihat ke arah Kinanti dan bayinya.
Dalam hatinya ingin memeluknya tapi dia sudah janji sama Pak Indra kalau dia nggak bakalan bicara macam-macam. Ternyata anak yang selama ini dia titipkan menjelma menjadi seorang laki-laki yang gagah, ganteng serta wibawa. Bayi itu adalah cucuku, batin Bu Murni.
Pak Indra yang melihat sikap Bu Murni yang seperti itu, bisa-bisa dia lupa akan janjinya dan terbawa suasana langsung memeluk Mahen. Batinnya.
"Mahen, bawa anakmu kedalam. Kasihan disini udaranya dingin, kena angin dari luar." ucap Pak Indra mengalihkan perhatian Bu Murni.
"Baik, Pa. Ayo sayang, bawa Tifany kedalam." ucap Mahen pada istrinya.
Tak lama kemudian Mahen dan keluarganya masuk kedalam. Kini diruanga Tamu tinggal Bu Murni dan Pak Indra serta Gavin.
"Ya ampun, Pak. Anak saya ganteng banget. Saya senang karena sudah bisa melihatnya. Terima kasih banyak telah menjadikan anak saya seorang yang gagah dan berwibawa." ucap Bu Murni.
"Iya, Bu. Maaf terpaksa saya melakukan ini karena saya nggak mau nantinya Mahen bisa shok dan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." ucap Pak Indra.
"Iya, Pak. Saya mengerti. Dan maaf jika kedatangan saya mengagetkan Anda sekeluarga. Jadi sekali lagi saya berterima kasih. Sekarang saya mohon pamit dulu." ucap Bu Murni.
"Sebentar Bu, ini sekedar bingkisan buat Ibu untuk keperluan Ibu sehari-hari. Nggak banyak yang penting bisa berguna buat Ibu. Buat menambah usah Ibu, mungkin. Biar usaha Bu Murni semakin besar dan sukses." ucap Pak Indra sambil memberikan sebuah cek kepada Bu Murni.
"Apa ini, Pak. Maaf nggak usah seperti ini, saya sudah bisa melihat Mahen saja saya sudah senang, Pak." jawab Bu Murni sambil menolak pemberian cek dari Pak Indra.
"Nggak apa-apa, Bu. Terimalah ini. Terserah mau Ibu buat apa silahkan saya nggak akan marah. Tolong, terimalah ini Bu, biar saya juga lega." ucap Pak Indra.
__ADS_1
Bu Murni jadi nggak tega ketika melihat Pak Indra yang memohon. Akhirnya dia mau menerima cek pemberian Pak Indra.
"Baiklah, Pak. Ini saya terima. Sekali lagi saya terima kasih banyak kepada Pak Indra." jawab Bu Murni sembari menerima kembali cek itu.
Tak lama kemudian dia pergi meninggalkan rumah Pak Indra. Pak Indra dan Gavin sedikit lega, akhirnya Bu Murni pergi juga. Setelah itu Pak Indra dan Gavin masuk kedalam rumah.
Didalam rumah, Pak Indra langsung membaur dengan cucunya. Bu Hesty dan Bu Ratih pun keluar kamarnya masing-masing. Akhirnya kini keluarga besar Indra wijaya kumpul semua.
Pak Indra merasa senang sekali ketika melihat anak istri serta cucunya berkumpul seperti ini. Apalagi kalau ditambah anak dari Gavin, alangkah senangnya hatinya. Tanpa ia sadari matanya mulai mengembun. Dibalik kaca matanya kini sudah menetes air mata.
Tak lama kemudian Pak Indra berdiri dan beranjak dari tempat itu. Dia menuju ke teras depan. Gavin yang mendapati Papanya seperti itu, dia langsung menghampirinya. Pak Indra kini duduk diteras sendirian.
"Pa, Gavin mengerti perasaan Papa. Makanya tadi Gavin lihat Papa sedih melihat Kak Mahen, Mama dan yang lainnya bercanda dengan Tifany. Pasti Papa pingin itu terjadi sama, Gavin kan?" ucap Gavin yang kini duduk disamping Papanya.
Pak Indra yang dikagetkan dengan kehadiran Gavin, kini tersadar dan tersenyum kearah Gavin.
"Ayah mana sih yang nggak pingin lihat anaknya bahagia. Papa pasti pingin kebahagiaan ini lengkap dengan hadirnya seorang cucu." jawab Pak Indra.
"Itu sebuah keinginan yang wajar, Pa. Gavin memaklumi semua itu. Siapa sih yang nggak pingin keluarganya lengkap dengan hadirnya cucu. Pastinya setelah pernikahan, pasti kehadiran anak selalu dinantikan." ucap Gavin.
"Aku kasihan sama kalian berdua, apalagi istrimu. Dia diposisi yang lemah. Sedangkan laki-laki kalau mengalami hal ini pasti enak, tinggal nikah lagi dengan harapan bisa punya anak. Kalau wanita, pasti perasaannya hancur." jelas Pak Indra.
"Iya juga Pa, makanya Gavin pasrah aja, kalau soal anak Gavin berpikiran akan mengadopsi saja. Tapi, Ratih tiba-tiba punya keinginan seperti itu." jawab Gavin.
"Tapi, Papa curiga dengan istrimu. Kok tiba-tiba dia ingin kamu menikah lagi dengan harapan kamu nantinya bisa memberikan Papa cucu. Pasti dia ada yang menekan atau mendesak.?" tanya Pak Indra.
"Vin, kenapa. Apa ada yang kamu sembunyikan dari, Papa?" tanya Pak Indra.
"Sebenarnya Gavin nggak boleh bicara ini sama Papa dan Mama. Tapi, berhubung Papa curiga. Baiklah Gavin akan ceritakan." jawab Gavin.
Akhirnya Gavin menceritakan bahwa obrolan Papa dan Mamanya malam itu yang membahas soal anak, istrinya tak sengaja mendengarkan dari kamar. Bahwa Mamanya lah yang kekeh mengharapkan seorang anak dari Gavin. Akhirnya Istrinya memutuskan untuk mengijinkan Gavin untuk menikah lagi.
"Oh jadi itu alasan istrimu mengijinkan kamu nikah lagi." tanya Pak Indra.
"Awalnya Gavin juga nggak tahu. Dia cuma bilang kalau Gavin biar punya anak. Gitu aja. Tapi, akhirnya dia ngaku kalau sempat mendengarkan pembicaraan Papa dan Mama." jawab Gavin.
"Papa sih menyerahkan ini semua sama kalian berdua. Jika kalian sudah sepakat dan setuju, Papa tinggal mendukung saja." jawab Pak Indra.
"Makasih Pa.., " ucap Gavin.
"Kalau boleh Papa saranin, jika memang sudah mantap dan fix, lakukan saja." tukas Pak Indra.
"Ratih ingin Kasihlah yang menjadi Ibu dari anak-anak Gavin kelak. Tapi, Mama nggak setuju." ucap Gavin.
"Lakukan saja, nggak usah mendengarkan apa kata Mamamu. Papa juga nggak Ridho kalau Tiara yang akan melahirkan anak-anakmu nanti." ucap Pak Indra.
__ADS_1
"Kalau Gavin mengikuti apa kata Ratih." jawab Gavin.
Tak lama kemudian Mahen keluar dan ikut nimbrung diteras. Kini Pak Indra lagi duduk dengan dua jagoannya.
"Asyik bener nih, ngobrolnya?" sahut Mahen dari dalam.
" Hai Kak. Sini duduk.!" titah Gavin.
"Hen, anakmu dah tidur?" tanya Pak Indra.
"Sudah, Pa. Barusan dibawah kekamar sama Kinan." jawab Mahen.
"Oh iya, Nanti asisten rumah tanggamu biar tidur dikamar atas, kan masih ada satu yang kosong, yang satunya ditempati Kasih." ucap Pak Indra.
"Iya, Pa. Tadi sudah Mahen kasih tahu, kok." jawab Mahen.
"Oh, ya sudah kalau gitu." ucap Pak Indra.
"Oh iya, Pa. Mahen mau nanya. Tadi Ibu-ibu yang datang kemari itu siapa" tanya Mahen.
Pak Indra dan Gavin langsung saling pandang. Mereka kaget tiba-tiba Mahen bertanya seperti itu.
"Oh itu, dia tadi mau melamar pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Tapi, maaf saja, dirumah ini sudah cukup asisten rumah tangganya. Jadi, Papa tolak." jawab Pak Indra bohong.
"Oh kirain siapa, kok tadi ngelihatin Mahen segitunya." ucap Mahen.
"Ya, mungkin dia belum pernah lihat cowok ganteng.!" sahut Gavin asal.
"Kamu tuh ya, masak aku ini jadi seleranya Ibu-ibu." jawab Mahen.
"Oh iya, Pa. Gavin boleh nggak cuti lagi.?" tanya Gavin.
"Boleh saja, selama jadwal nggak benturan sama urusan penting dikantor. Misalnya ada meeting atau janji ketemu sama klien. Pastikan hal-hal semacam
itu sudah selesai. Baru kamu ambil cuti." jawab Pak Indra.
"Baiklah, Pa. Akan Gavin usahakan." ucap Gavin.
"Emangnya, kamu mau kemana sih, Vin?" tanya Mahendra.
"Mau refreshing lah, biar nggak jenuh." jawab Gavin.
Tak lama kemudian, Bu Ratih keluar dengan tergesa-gesa sambil menenteng ponselnya.
"Sayang, barusan Mas Bagas telpon nagabari bahwa Ibunya Mbak Irene meninggal dunia.!"
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung......