BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
.SEASON DUA Part : 127 (Kejutan buat Bu Ratih)


__ADS_3

Bu Ratih kaget dengan siapa kini dia berhadapan. Dia benar-benar nggak menyangka kalau dia yang menyiapkan ini semua.


"Sayang,,! Kamu kok disini? ucap Bu Ratih seraya berlari memeluk kearah suaminya.


Gavin langsung membalas pelukan istrinya. Mereka berpelukan melepas rindu. Bu Ratih akhirnya menangis dipelukan suaminya. Setelah beberapa hari nggak ketemu.


"Aku kangen sama kamu, sayang." ucap Gavin seraya membelai wajah istrinya.


"Aku juga kangen banget." jawab Bu Ratih.


"Aku ingin sama kamu, jangan pernah tinggalin aku lagi." ucap Gavin sambil mengajak Bu Ratih untuk duduk ditempat yang sudah disediakan.


"Iya, sayang. Aku besok sudah balik ke Jakarta." jawab Bu Ratih.


"Makanya aku nggak sabar untuk menunggu besok. Aku putuskan untuk menjemput kamu." jawab Gavin.


"Berarti semalam kamu telpon aku itu sudah di Surabaya?" tanya Bu Ratih.


"Iya, itu aku baru saja sampai. Aku langsung cari Hotel untuk menginap. Sengaja aku nggak mencari kamu disini. Karena aku berencana bikin kejutan buat kamu." jelas Gavin.


"Kamu memang suami terbaikku." ucap Bu Ratih sambil mencubit hidung Gavin.


"Makasih sayang.," ucap Gavin sembari mengecup kening istrinya.


"Kamu yang memesan ini semua.?" tanya Bu Ratih.


"Iya, aku yang pesan ini semua. Ayo kita makan dulu. Kamu pasti sudah lapar?" ucap Gavin.


Akhirnya mereka ngobrol-ngobrol sambil menikmati makan. Gavin tak henti-hentinya memandangi wajah istrinya. Demikian pula dengan Bu Ratih dia selalu memandangi Gavin.


"Gimana ceritanya kamu bisa sampai disini, sayang." ucap Bu Ratih.


"Kemarin selepas kerja aku suntuk dikantor. Kamu nggak ada dirumah, akhir nya aku putuskan untuk menyusul kamu ke Surabaya. Aku kangen banget sama kamu. Aku nggak bisa dirumah terus sama Kasih, sayang.!" jelas Gavin.


"Terus kamu apa sudah pamit sama Kasih?" tanya Bu Ratih.


"Aku hanya kirim pesan, tapi belum ada balasan." jawab Gavin.


"Ya sudah, kalau gitu." jawab Bu Ratih.


Akhirnya mereka selesai juga makannya. Kemudian dilanjut dengan jalan-jalan dengan mobil yang dibuat jemput Bu Ratih dari Hotel tadi pagi. Dia sengaja menyewa mobil beserta sopirnya sekalian untuk mengantarkan keliling Surabaya.


Setelah seharian berkeliling, tak terasa hari semakin gelap. Bu Ratih dan Gavin akhirnya menuju Hotel guna beristirahat. Pak Dirga menuju Hotel dimana dia tadi menjemput Bu Ratih.


Keduanya melangkah menuju kamar Bu Ratih. Gavin merebahkan tubuhnya dikasur. Dia kelihatan capek banget. Kemarin dia sampai Surabaya malam hari. Bu Ratih ikut merebahkan tubuhnya disamping suaminya.


"Sayang, aku pingin terus berduaan sama kamu." ucap Gavin sambil memandangi istrinya.


"Iya, sayang. Tapi, kamu sekarang punya dua istri. Jadi harus bisa membagi waktu buat istri-istrimu." jawab Bu Ratih.


"Sayang, tolong jangan bicara soal itu kalau kita lagi berduaan gini, dong.?" ucap Gavin sambil cemberut.


"Lho kenapa, sayang. Kan memang benar." tanya Bu Ratih.


"Iya, cuma kalau kita lagi berduaan gini jangan bahas istri kedua. Nanti menghilangkan mood aku." jawab Gavin.


"Baiklah kalau begitu." jawab Bu Ratih.


"Aku ingin menikmati malam ini berduaan sama kamu. Sayang." ucap Gavin sambil mendekatkan wajahnya kearah Bu Ratih.


Gavin mendekatkan tubuhnya ke Bu Ratih. Mereka saling berhadapan sambil posisi tidur miring. Gavin mulai menciumi wajah istrinya sambi membelai rambut Bu Ratih. Kini posisi mereka berganti duduk berhadapan dan berpelukan.

__ADS_1


Kemudian Gavin mencium bibir Bu Ratih dengan lembut. Bu Ratih memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman suaminya. Semakin lama ciuman itu menjadi panas. Kini menurun menuju leher jenjang Bu Ratih.


Kini tangan Gavin mulai membuka kancing baju Bu Ratih satu persatu. Demikian juga dengan Bu Ratih dia melakukan hal yang sama. Mereka berdua mulai menikmati malam yang indah ini dengan penuh kemesraan. Keduanya mulai memasuki dimensi yang berbeda.


Adegan itu berlangsung kurang lebih dua sampai tiga jam. Keduanya kemudian kecapekan dan ketiduran dengan tubuh yang masih terbalut selimut. Bu Ratih tertidur sengan posisi dipeluk suaminya.


Sekitar jam empat pagi Bu Ratih terbangun. Dia mendapati suaminya masih tidur pulas. Dia pandangi suaminya, begitu tampan memang wajah suaminya ini. Dia sangat beruntung mendapatkan suami yang begitu baik seperti Gavin.


.


.


.


Pagi harinya mereka bersiap-siap untuk balik Jakarta. Setelah selesai Bu Ratih dan Gavin langsung keluar kamar dan menunggu Pak Reyhan.


Tak lama kemudian Pak Reyhan muncul dan mendekati Pak Reyhan dan Bu Ratih.


Pak Reyhan kemudian menyalami Gavin. Bu Ratih menjelaskan sama Pak Reyhan kalau suaminya menyusul dirinya ke Surabaya. Akhirnya mereka pun berangkat ke Bandara dengan dijemput mobil sewaan Gavin.


.


.


.


★ JAKARTA ★


Bu Ratih dan Pak Reyhan pisah di Bandara dengan menaiki taksi sendiri-sendiri. Bu Ratih dan Gavin sengaja nggak minta jemput, mereka ingin naik taksi saja.


Akhirnya mereka sampai juga dirumah. Gavin dan Bu Ratih masuk kedalam rumah disambut oleh Bibi.


"Maaf Non Ratih, Bibi nggak sempat bantuin bawa tasnya kedalam." ucap Bibi sambil ketakutan.


"Lho, kok Den Gavin bisa sama-sama dengan Non Ratih.?" tanya Bibi bingung.


"Iya, kemarin Gavin nyusul saya ke Surabaya." jawab Bu Ratih.


"Oh, pantesan dua hari ini saya nggak lihat Den Gavin pulang." jawab Bibi.


"Apa Bibi nggak dikasih tahu sama, Kasih?" tanya Bu Ratih.


"Enggak, Non. Malah dua hari yang lalu, saat pertama Den Gavin nggak pulang, itu Kasih nungguin sampai ketiduran di ruang tengah." jawab Bibi.


"Sekarang, Kasihnya kemana?" tanya Bu Ratih.


"Ada, Non. Dia lagi diatas." jawab Bibi.


"Oh ya sudah. Saya mau ke kamar dulu, ya Bi. Hari ini saya sama Pak Gavin libur." ucap Bu Ratih.


"Baik, Non." jawab Bibi.


Bu Ratih masuk kedalam kamarnya. Dan ternyata mendapati suaminya sudah tertidur dikamar. Bu Ratih hanya tersenyum saja melihat wajah suaminya.


---------Tiga bulan kemudian-------


Hari ini sudah tiga bulan Kasih dan Gavin menikah. Kasih sudah dinyatakan posistif hamil. Dan usia kandungannya kini baru masuk usia delapan minggu.


Pertama kali orang yang dikasih tahu kalau dirinya hamil adalah Bu Ratih.


Hari ini waktunya periksa ke Dokter, dia diantar sama Bu Ratih dan Gavin. Karena Gavin nggak mau kalau mengantar sendirian. Keluarga besar pun tahu kalau Kasih sudah hamil. Pak Indra dan Bu Hesty pun senang mendengar kabar ini.

__ADS_1


Bu Ratih sangat perhatian sama Kasih soal kehamilannya. Dia selalu membelikan semua kebutuhan Kasih dari vitamin, susu sampai buah-buahan. Kasih juga senang sekali mendapatkan perhatian dari Bu Ratih, sampai-sampai dia merasa nggak enak sendiri.


Seperti halnya hari ini, Bu Ratih sudah menyiapkan makanan ringan buat camilan Kasih. Karena orang hamil kadang pingin nyemil .


"Kasih, ini makanan buat kamu. Kamu nggak boleh mengerjakan apapun dirumah ini." ucap Bu Ratih.


"Iya, Mbak. Saya kok selalu pingin rebahan saja, ya. Bawaannya nggak mau gerak Mbak." jawab Kasih.


"Nggak apa-apa. Memang hamil muda gitu. Nanti kalau sudah mendekati bulan ke tiga atau empat bulan, akan biasa kembali." jawab Bu Ratih.


(***)


---------lima bulan kemudian---------


Hari berganti hari, minggu berganti minggu sampai bulan berganti bulan, kini usia kandungan Kasih sudah memasuki bulan ke tujuh jalan ke delapan. Sebentar lagi dia akan melahirkan.


Gavin dan Bu Ratih sudah menyiapkan semua perlengkapan bayi. Dari pakaian, tempat tidur, mainan sampai namapun sudah mereka persiapkan.


Selama Kasih hamil, Gavin memberi perhatian yang lebih. Dia juga sekarang tanpa segan sudah berani mengantar periksa sendiri kerumah sakit, jadi sudah nggak malu lagi kalau terlihat jalan berdua sama Kasih.


Sama halnya hari ini, dia periksa diantar sama Gavin sendiri, karena Bu Ratih ada kerjaan. Sesampainya dirumah sakit, dia langsung menemui Dokter biasanya.


"Maaf, Pak Gavin. Tiba-tiba istri Bapak HBnya tinggi. Jadi harus dirawat." ucap Dokter itu sama Gavin. Sedangkan Kasih masih diatas tempat tidur.


"Apa,! Terus istri saya nggak kenapa-kenapa, Dok?" tanya Gavin cemas.


"Mudah-mudahan nggak apa-apa. Makanya sekarang dia harus tinggal untuk dirawat untuk memantau HB nya." jawab Dokter.


"Baiklah, Dok. Saya akan kabari keluarga yang dirumah." ucap Gavin.


Setelah Gavin ngabari, akhirnya Bu Hesty dan Pak Indra datang kerumah sakit. Bu Ratih masih ada dikampus. Ibunya Kasih juga belum datang.


Setelah seharian menunggu Kasih dirumah sakit, Gavin semakin cemas dan nggak tenang.


"Maaf, suami pasien mana, ya?" tanya Dokter yang baru keluar dari kamar.


"Saya, Dok suaminya." jawab Gavin.


"Maaf, Pak. Tekanan darah istri Bapak sudah stabil. Jadi disarankan untuk di segera caesar saja untuk mengambil bayinya, secara berat bayinya sudah cukup untuk diambil. karena takutnya tekanan bisa naik lagi." ucap Dokter.


"Kalau memang itu solusi terbaik saya ngikut saja, Dok." jawab Gavin.


Akhirnya hari ini bayi Kasih lahir dengan jalan dicaesar. Semua keluarga sudah datang untuk menunggui Kasih melahirkan. Gavin dan Bu Ratih kelihatan cemas.


"Sayang, gimana ini. Aku kok takut, ya?" ucap Gavin.


"Kamu tenang saja. Kita sama-sama berdoa minta keselamatam buat Ibu dan bayinya." jawab Bu Ratih.


Kasih sudah dibawah keruang operasi. Sekitar jam empat sore dia sudah masuk ruangan. Semua keluarga menunggu diluar ruangan operasi.


Setelah menunggu kurang lebih tiga jam, akhirnya bayinya keluar juga. Dokter keluar mengabari.


"Maaf, operasinya sudah selesai. Bayinya lahir normal berjenis laki-laki, dengan berat 3,1kg dengan tinggi 52cm. Untuk Ibunya masih menunggu sadar dulu." ucap Dokter.


Gavin dan Bu Ratih tersenyum gembira. Disusul dengan keluarga lainnya. Mereka senang karena bayinya terlahir selamat dan berjenis laki-laki. Pak Indra terharu karena sia sekarang punya seorang cucu laki-laki.


Saat mereka lagi senang mendengar informasi dari Dokter bahwa bayinya sehat dan normal, tiba-tiba seorang perawat keluar ruangan dengan wajah panik.


"Dokter,! maaf, pasien drop.!" ucap Perawat itu.


----------------------------------

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2