
Gavin membulatkan matanya dan tersenyum sumringah. "Pa, Pak Ramon bilang kalau proyek yang diluar kota itu tepatnya di Semarang juga. Kebetulan kalau gitu nanti Gavin kan lebih mudah untuk mengawasi." seru Gavin.
"Bagus kalau gitu. Sekarang tunggu apa lagi, kalian semua anak-anak Papa yang Papa banggakan, berkaryalah untuk lebih banyak lagi. Lakukanlah apa yang Papa selama ini ajarkan. Papa sekarang kan sudah mulai rentan dengan penyakit, jadi kalian lah yang akan meneruskan bisnis-bisnis Papa." ucap Pak Indra sembari memeluk kedua anak laki-lakinya.
Bu Hesty tersenyum senang melihat pemandangan dihadapannya ini. Ketiga jagoan yang selama ini dia punya, sekarang semuanya sudah memasuki usia kematangan. Dia sendiri juga nggak terasa kalau sudah mulai memasuki usia yang nggak muda lagi.
Setelah mereka semua berembuk dan membicarakan soal perusahaan. Gavin akan segera memberitahukan kepada Bu Ratih dan anaknya soal ini. Mereka pasti senang sekali kalau mendengar kabar ini.
.
.
.
Malam harinya, Gavin dan Bu Ratih lagi santai diteras depan. Tiba-tiba Raka muncul dan ikut nimbrung sama Papa Mamanya.
"Sayang, tadi Papa Indra memanggil Papa dan Kak Mahen." ucap Gavin.
"Ada apa, Pa?" tanya Bu Ratih.
"Papa Indra memberikan wewenang kepada aku dan Kak Mahen. Selain itu dia juga memberitahukan kalau sebenarnya dia juga punya perusahaan dibidang Perhotelan dan Restoran yang terletak di Semarang dan Jogja. Maka dari itu, Papa Indra memberi mandat kepada aku dan Kak Mahen untuk memimpin masing-masing perusahaan itu. Berhubung kamu kan melanjutkan kuliah lagi di Jogja, makanya perusahaan yang di Semarang dan Jogja diserahkan kepadaku untuk menghandlenya, sedangkan disini biar dipegang Kak Mahen. Papa Indra sudah melegalitaskan semua perusahaan atas nama kita berdua, aku dan Kak Mahen. Jadi biar tidak timbul kecemburuan soal pembagian hak atas perusahaan. Jadi aku dan Kak Mahen punya hak yang sama atas perusahaan Papa Indra." jelas Gavin.
"Bagus itu, Pa. Jadi, kita semua bisa pindah ke Jogja, dan tidak akan terpisahkan." jawab Bu Ratih.
"Iya, Ma. Dan kamu, Raka. Mau kan kalau sekolah kamu pindah ke Jogja?" tanya Gavin.
"Mau Pa. Raka juga ikut senang jika bersama-sama Papa dan Mama." jawab Raka antusias.
"Baiklah, semuanya tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, kan?" tanya Gavin.
"Iya, sayang. Mama juga sudah bilang kepada Pak Dekan kalau aku sudah dapat ijin dari kamu." jawab Bu Ratih.
__ADS_1
"Kita akan tetap bersama-sama lagi, meskipun harus pindah ke luar kota." ucap Gavin sambil memeluk anak dan istrinya.
"Iya, sayang. Kita tak kan terpisahkan." jawab Bu Ratih.
Mereka bertiga berpelukan. Akhirnya ada jalan keluar juga buat masalah ini. Mereka tidak perlu berjauhan lagi. Hanya Raka saja yang harus pindah sekolah.
---------Sebulan kemudian-------
Gavin bersama anak dan istrinya siap-siap untuk pindah ke Jogja. Besok adalah hari keberangkatan mereka. Segala sesuatunya sudah disiapkan. Pak Indra sudah menyuruh orang disana untuk menyiapkan tempat tinggal buat Gavin dan keluarganya.
Untuk mobil sengaja dia membawa sopir dua orang karena mobilnya dua yang akan dibawa ke Jogja. Nanti sopirnya pulangnya biar naik pesawat biar cepat.
Barang-barang seperti pakaian dan keperluan kerja dan kuliah serta sekolah Raka sudah dikirim sebelum keberangkatannya kali ini.
Hari ini, sehari sebelum keberangkatannya Gavin tetap ngantor seperti biasa karena untuk pamitan sama karyawannya. Dia menyuruh Pak Bima untuk mengumpulkan semua karyawan guna berkumpul diruang meeting.
Semua karayawan dari seluruh divisi sudah datang dan berkumpul diruangan itu. Dia didampingi Pak Bima dan sekretarisnya.
"Selamat pagi semuanya,!"ucap Gavin.
"Maaf sebelumnya, karena saya mengganggu waktu kerja kalian. Saya hanya mau menyampaikan sesuatu pada kalian semua. Mulai besok dan seterusnya saya ditugaskan Papa untuk memegang perusahaan yang berada diluar kota, dan tepatnya di Semarang-Jogja. Dan untuk disini akan dipegang oleh Kakak saya, yaitu Mahendra. Mungkin bagi karyawan lama sudah mengenal sosok Kak Mahendra, tapi untuk yang baru, jelas belum kenal. Bila selama dibawah kepemimpinan saya ada salah yang mungkin sengaja atau tidak sengaja saya lakukan, saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian semua. Jadi, pesan saya tetaplah bekerja seperti sebelum-sebelumnya, karena saya dan Kakak saya tidak jauh beda. Saya juga mau ucapkan terima kasih banyak atas kerja samanya selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, terima kasih dan terima kasih." terang Gavin panjang lebar.
Setelah panjang lebar menjelaskan, kini Gavin saatnya ngobrol santai dan diselingi tanya jawab. Semua karyawan merasa kehilangan jika Gavin pindah ke Jogja.
"Pak Gavin, kalau sudah di Jogja, jangan lupa sama kita yang disini, ya Pak?" celetuk dari salah satu karyawan.
"Enggaklah, meskipun saya di Jogja. Saya juga akan tetap memantau perusahaan dari sana, apalagi proyek baru kita itu ada di Semarang. Jadi, saya masih terlibat dalam pekerjaan ini meskipun disini sudah ada Kak Mahen." jawab Gavin.
Tidak itu saja, ada banyak lagi yang bertanya sama Gavin macam-macam sampai nggak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sekitar kurang lebih empat jam mereka ada diruang meeting. Akhirnya Gavin menyudahi pertemuan itu.
.
__ADS_1
.
.
Dihari yang sama dan ditempat berbeda. Kini Di kampus Bu Ratih berpamitan untuk menjalankan tugas yang memberinya kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya di Jogja. Hari ini hari terakhir dia mengajar dikampus itu.
"Pak Reyhan, saya minta maaf kalau selama bekerja sama dengan Bapak dikampus ini saya banyak melakukan kesalahan." ucap Bu Ratih saat ketemu Pak Reyhan di perpustakaan.
"Eh, iya Bu. Saya juga minta maaf jika ada salah ucap dan sikap selama disini." ucap Pak Reyhan.
"Iya, sama-sama, ya Pak. Selama saya di Jogja, nitip Mahasiswa dan Mahasiswi saya, ya Pak. Mungkin Pak Reyhan kedepannya akan ngajar sendiri dimata kuliah kita ini." ucap Bu Ratih.
"Oh iya, Bu. Saya akan berusaha semampu saya untuk menjalankan tugas ini." jawab Pak Reyhan.
Akhirnya mereka melanjutkan ngobrol-ngobrol sampai nggak terasa jam sudah menunjukan pukul dua siang. Bu Ratih ada jadwal satu kelas lagi sebelum pulang.
.
.
.
Kembali ke kantor Gavin. Dia mengajak bebrapa staff untuk makan diluar. Ada sekitar sepuluh orang. Mereka memakai kendaraan Gavin. Maklum mobilnya ukurannya lumayan besar, cukuplah untuk menampung sepuluh orang.
Sekitar kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai direstoran yang lumayan mewah. Gavin beserta jajaran Staff nya turun dan masuk ke restoran tersebut. Gavin mengambil tempat duduk ditengah karena kursinya yang lumayan banyak. Tak lama kemudian dia memanggil pelayan restoran dan memesan semua makanan untuk staff nya.
Mereka akhirnya ngobrol-ngobrol sambil bercanda sesama laki-laki dewasa. Gavin tertawa lepas sampai terpingkal-pingkal karena celetukan salah satu staff nya. Obrolan mereka akhirnya terhenti ketika mendengar gelas yang pecah hingga menimbulkan suara yang nyaring.
Ternyata pelayan restoran yang membawa piring dan gelas kotor menabrak salah satu pengunjung yang lagi berjalan menuju salah satu meja.
"Aduuch,!" seru orang itu.
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung...