BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 205 (Gazi alvino putra wijaya)


__ADS_3

Semua yang ada di rumah sakit ikut tegang dengan kejadian Gazi drop. Gavin ikut Dokter yang hendak mengoperasi Gazi. Tak lama kemudian Gavin datang dan bergabung dengan yang lainnya.


"Kita harus berdoa untuk kesembuhan Gazi. Kelihatannya agar serius luka di kepalanya" ucap Gavin pelan sambil duduk.


Mereka semua yang ada disitu sekarang diam, suasana semakin hening. Bu Ratih masih menenangkan Kasih yang keadaannya sedikit terguncang.


.


.


.


Ditempat yang berbeda, Raka sepulang kuliah sudah janjian sama Dara untuk melihat Gazi dirumah sakit. Dia bertemu ditempat kerja Dara. Jadi, Raka menjemputnya disana.


"Sorry, Ka. Kamu nunggu lama, ya?" ucqp Dara sampainya dia di mobil Raka.


"Nggak apa-apa, Ra. Aku juga baru lima menit nyampe." jawab Raka.


"Kita berangkat langsung.?"


"Oke, kita langsung ke sana."


Dalam perjalanan ke rumah sakit Raka banyak ngobrol dengan Dara. Mereka kelihatannya semakin akrab. Raka juga sudah menunjukkan care sama Dara.


"Ra, hebat kamu ya, kuliah sambil kerja. Asik kali ya, punya penghasilan sendiri." ucap Raka dalam mobil.


"Ya semuanya memang yang lihat itu pasti bilangnya enak, Ka. Tapi, semua itu tidak seenak yang kamu bilang barusan. Pasti semuanya ada lika-likunya. Tergantung kita nya aja." jawab Dara.


"Iya, juga sih. Tapi, kamu pasti senang menjalaninya." ucap Raka.


"Iya, karena sebuah pekerjaan itu kalau kita jalani dengan ikhlas, pasti hasilnya tidak sia-sia." jawab Dara.


"Kuliahku kan sudah mendekati semester akhir, aku juga ingin nantinya langsung bekerja sambil aku ngelanjutin kuliah S2." ucap Raka dengan pandangan yang masih lurus kedepan.


"Bagus itu. Oh iya, Papamu kan pengusaha, kenapa kamu kuliah ambil Hukum. Apa nantinya kamu nggak ingin melanjutkan usaha Papamu." tanya Dara.


"Sebenarnya juga pingin seperti Papa, tapi aku ingin juga memperdalam ilmu Hukum karena biar ngerti dasar-dasar Hukum negera ini. Pengalaman waktu aku kecil sering mendengar Papaku mendapat masalah dalam pekerjaannya, yang ketipulah, sempat berselisih soal sengketa dan lain sebagainya. Makanya itu kalau aku ngerti, setidaknya bisa bantu Papa. Secara perusahaan Papa pasti butuh seorang pengacara yang bisa membantu dalam menyelsaikan masalah-masalah tersebut. Baru nanti S2 nya aku bisa ambil kuliah bisnis atau manajemen." jelas Raka.


"Wuaah, hebat itu, Ka. Aku salut. Sebagi sahabat aku akan dukung semua yang kamu cita-citakan." jawab Dara.


"Iya, Ra. Makasih supportnya ya." jawab Raka sambil menatap kearah Dara.


Dara yang merasa ditatap Raka, jadi salah tingkah dan malu-malu. Kini dia mengalihkan pandangannya kearah lain. Sedangkan Raka buru-buru mengalihkan pandangannya juga setelah mengetahui Dara salah tingkah.


Tak lama setelah itu mereka sudah sampai rumah sakit. Raka memarkirkan mobilnya ditempat parkir yang sudah disediakan. Dara keluar dari mobil lalu diikuti oleh Raka terus mereka berjalan beriringan masuk kedalam.

__ADS_1


Setelah mendekati kamar Gazi, Raka tiba-tiba berhenti seperti mencari sesuatu.


"Ada apa, Ka."


"Bentar, Ra. Kamu kesana dulu aja, ponselku ketinggalan di mobil." ucap Raka sambil meraba-raba saku celananya.


"Baiklah, aku kesana dulu, ya."


Raka mengangguk lalu membalikan badannya dan keluar lagi menuju mobilnya. Kini Dara langsung menuju kamar dimana Gazi di rawat.


Setibanya disana, Dara melihat Nenek Gazi dan Pak Fajar lagi duduk dikursi. Lalu melihat Bundanya Gazi dan Mamanya Raka. Sedangkan Papanya Raka berdiri agak menjauh.


"Ada apa sebenarnya kok mereka gelisah dan mukanya pada tegang." batin Dara.


"Permisi, semuanya." ucap Dara sambil menyalami semua satu persatu.


"Dara, kamu baru pulang kerja" tanya Nenek Gazi.


"Iya, Nek."


"Oh iya, Dar. Makasih ya sudah mengantar Gazi kerumah sakit." ucap Kasih.


"Iya, Tante. Sama-sama."


"Saya kesini sama teman Dara, Tan."


"Lah mana temanmu sekarang.?" tanya Kasih lagi.


"Dia masih ambil ponselnya ketinggalan di mobil."


Bu Ratih merasa kalau Dara kesini sama anaknya, dia lalu mendekati Gavin dan mengajaknya bicara agak menjauh.


"Pa, Dara kesini jelas sama Raka. Gimana kalau dia tahu kalai Gazi adalah saudra kandungnya. Apakah kita bicara yang sebenarnya?" ucap Bu Ratih.


"Kita nggak usah kasih tahu sekarang, aku nanti tidak akan membahasnya lagi. Belum waktunya kita bicara apa adanya pada Raka. Lagian tempat dan situasinya tidak tepat." jawab Gavin.


"Aku panggil Kasih dulu."


Bu Ratih meninggalkan Gavin, lalu memanggil Kasih dan diajaknya ke tempat Gavin.


"Kasih, aku harap soal Gazi, Raka jangan boleh tahu dulu. Kita akan membahasnya lain waktu kalau memang situasi dan kondisinya sudah memungkinkan. Dara kesini jelas sama Raka. Jadi, tolong nanti kamu kendalikan emosimu saat ketemu Raka. Kamu bersikap biasa aja dulu. Aku ngerti kamu pasti kangen, tapi saat ini belum waktunya kita membahas soal ini. Fokus kita sekarang soal kesembuhan Gazi." jelas Gavin.


"Iya, Mas. Kasih faham akan hal itu. Aku akan usahakan akan bersikap biasa saja." jawab Kasih.


Obrolan mereka berhenti sejenak ketika ada salah suster mencari keluarga pasien.

__ADS_1


"Keluarga Gazi alvino putra wijaya"


Gavin dan Kasih serta Bu Ratih mendekat ketika ada suster yang mencari keluarga pasien.


"Iya, sus saya Bundanya?" jawab Kasih.


"Maaf, Bu. Ini bagian administrasi memberikan info, kalau untuk deposit biaya perawatan sudah menipis." ucap suster itu.


"Oh iya, sus. Makasih sudah dikasih tahu." jawab Kasih.


"Iya sama-sama. Kalau gitu saya permisi."


"Silahkan."


"Oh iya, Mas. Kemarin kamu yang membayar deposit biaya perawatan Gazi. Tadi pagi aku ke bagian administrasinya katanya biayanya sudah beres." tanya Kasih.


"Iya, aku minta tolong Raka untuk mengurusnya, karena aku nggak kuat habis diambil darah badanku lemas. langsung aku pulang minta jemput sopirku. Jadi, yang urus disini Raka sama Dara." jawab Gavin.


"Raka,!" ucapnya kaget.


"Iya, Raka. Kakaknya Gazi."


"Ya sudah makasih atas semuanya, Mas. Ini biar aku yang selesaikan." ujar Kasih.


"Nggak usah. Biar aku yang urus, karena ini adalah tugas dari Ayahnya. Kamu diam saja disini tunggu kabar dari dalam." ucap Gavin.


"Tapi, Mas. Aku juga Ibunya yang berhak mengurus. Kemarin kamu kan sudah. Biarlah sekarang aku saja yang urus." ucap Kasih.


Bu Ratih yang melihat itu, langsung mencoba menengahi. Dia mendekat ke Gavin dan Kasih.


"Pa, biarlah Kasih yang urus." ucap Bu Ratih.


"Baiklah, silahkan." ucap Gavin.


Tapi sebelum Kasih meninggalkan tempat itu untuk menuju ke bagian administrasi, tiba-tiba Raka datang dan memberitahukan bahwa dia baru saja dari bagian administrasi.


"Pa, Raka baru ingat. Kemarin malam pihak administrasi bilang kalau untuk mengecek ke bagian administrasi kali aja deposit sudah menipis. Dan ini tadi Raka barusan dari sana untuk mengisinya." jelas Raka.


Semua yang ada disitu kaget apa yang sudah dilakukan Raka. Terlebih Kasih, dia memandangi Raka tanpa kedip. Kasih matanya berkaca-kaca setelah melihat pemuda yang dihadapinya saat ini, dia begitu tampan dan gagah mirip Papanya waktu masih muda.


Kasih seperti mengalami dejavu saat dulu pertama kali bertemu Gavin, waktu dia menolongnya saat kecelakaan. Saat itulah dia mulai jatuh cinta pada Gavin pada pandangan pertama.


-------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2