BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 69 (Duh..Gavin)


__ADS_3

Pak Indra seketika lemas setelah mendengar kabar bahwa Gavin masuk rumah sakit. Sedangkan ponsel masih nyala, Bu Hesty langsung menyambar ponsel tersebut.


"Hallo, maaf ini Mamanya Gavin. Ada apa sebenarnya, ya?" tanya Bu Hesty.


"Iya, maaf Bu. Ini Bayu satpam proyek. Pak Gavin dirumah sakit karena tadi ada insiden sedikit. Beliau dikeroyok orang dilokasi proyek. Ini saya disuruh hubungi Pak Indra. Ponselnya Pak Gavin saya pegang." jelas satpam itu.


"Tapi, Anak saya tidak apa-apa, kan?" tanya Bu Hesty.


"InsyaAllah nggak apa-apa. Karena Pak Gavin masih sadar saat dibawa kerumah sakit. Hanya memar dan sedikit luka di pelipisnya." jawabnya.


"Sekarang Pak Bayu masih sama anak saya, kan?" tanya Bu Hesty lagi.


"Iya, Bu. Ini saya masih dirumah sakit." jawab satpam itu.


"Ya sudah, sekarang tolong, nitip Pak Gavin dulu. Untuk yang jaga proyek, kamu koordinasi sama teman kamu yang lain. Soal uang saku gampang saya yang akan tanggung." jelas Bu Hesty.


"Iya, Bu siap! saya akan kabari lagi kalau ada perkembangan." ucapnya.


"Makasih, ya Pak Bayu."


"Sama-sama, Bu Indra."


Bu Hesty lalu mematikan telponnya. Kini dia melihat kearah suaminya yang duduk terdiam.


"Pa, Papa tenang saja. Barusan Mama sudah bicara panjang lebar sama Bayu satpam proyek yang menolong Gavin. Katanya luka Gavin nggak ada yang serius, kok. Nanti kita tunggu kabar selanjutnya dari dia." jelas Bu Hesty.


"Syukurlah, Ma. Papa rasanya mau pingsan setelah mendengar kabar itu. Kenapa musibah datang bertubi-tubi, ya Ma?" ucap Pak Indra.


"Kita harus sabar, Pa. Mungkin ini memang sudah jadi ujian buat keluarga kita. Yang penting kita tetap berdoa supaya dijauhkan dari segala marah bahaya." Bu Ratoh bserucap seraya membelai rambut suaminya itu.


"Ayo, kita masuk dulu. Nanti kita bahas lagi gimana selanjutnya" sahut Pak Indra sambil mengajak istrinya masuk.


Mereka kemudian masuk rumah, kebetulan Bu Ratih turun tangga dari kamarnya.


"Ratih, suami kamu masih belum bisa balik Jakarta. Ini tadi barusan ada insiden kecil yang mengharuskan Gavin dirawat. Tapi, kamu nggak usah kawatir karena Gavin tidak apa-apa" terang Bu Hesty.


"Apa! terus sekarang sudah nggak apa-apa, kan Ma?" tanya Bu Ratih.


"Iya, Nak. Jadi, kamu nggak usah panik dan kawatir, ya sayang?" ucap Bu Hesty.


"Baik, Ma." sahutnya.


Bu Hesty menuntun suaminya ke kamar. Sedangkan Bu Ratih kedepan untuk sekedar mencari angin, karena cuaca sore hari ini begitu cerah.


Dia berjalan-jalan ditaman depan rumah. Kemudian duduk di kursi ditengah taman. Tak lama kemudian ada mobil masuk pelataran rumah. Ternyata mobil Mahen.


Bu Ratih kemudian menyusul Kakak iparnya itu dan menunggunya di teras. Mahen masih memarkirkan mobilnya, kemudian dia masuk.


"Ratih, Papa mana?" tanya Mahen.


"Ada didalam, Kak. Sebentar Ratih panggilkan.!" seru Bu Ratih sambil melangkah masuk rumah.


Mahen mengikutinya dibelakang. Kemudian dia berhenti diruang tengah lalu duduk disofa.

__ADS_1


Bu Ratih menuju kamar Ibu mertuanya itu lalu mengetuknya. Tak lama kemudian Bu Hesty keluar, Bu Ratih memberi tahu kalau ada Mahen.


Kemudian kedua perempuan itu berjalan mendekati Mahen yang tengah duduk disofa.


"Gimana Papa, Ma?" tanya Mahen.


"Papamu Mama suruh istirahat. Kamu sudah dengar kabar soal Gavin?" tanya Bu Hesty.


"Lho, emang Gavin kenapa, Ma?" tanya Mahen antusias.


"Adikmu kini di rumah sakit, tapi, keadaannya sudah nggak apa-apa. Ada beberapa preman apa orang nggak dikenal mencoba menyelakai Kakakmu saat dilokasi proyek. Tapi, syukurlah ada satpam proyek yang menolong dia. Tadi, Mama sudah pesan sama dia untuk tetap menjaga Adikmu." terang Bu Hesty.


"Ya ampun, Mahen belum tahu kabar itu, Ma. Tadi Papa cuma telpon soal masalah orang yang bawa kabur dana proyek itu saja." sahut Mahen.


"Sekarang gini saja, sekarang kamu susul Adikmu ke Bandung dan lihat keadaannya. Jika sudah baikan dan boleh dibawah pulang, langsung kamu bawa pulang ke Jakarta. Ajak Pak Narto buat nanti yang bawa mobil Gavin." ucap Mamanya.


"Ma, Ratih boleh ikut, ya Ma. Ratih juga ingin tahu bagaimana keadaan Gavin sekarang." ucap Bu Ratih dengan wajah memohon.


"Apa kamu nggak capek, sayang." tanya Bu Hesty.


"Nggak apa-apa, Ma. Ratih kuat, kok." jawabnya.


"Ya sudah, kamu siap-siap sana, nanti kamu ikut dengan Kakakmu." ucap Bu Hesty.


Seketika wajah Bu Ratih jadi sumringah. Dan sia langsung nanik keatas untuk siap-siap.


"Terus istri kamu gimana, apa nggak kamu suruh kesini saja." tanya Mamanya.


"Sejak Kinanti hamil, Mahen sewa asisten rumah tangga, Ma. Biar bisa bantu-bantu Kinan urus rumah." jawab Mahen.


Bu Ratih sudah siap, kini dia memakai celana jeans dan kaos dilapisi sweater tebal. Bamdung biasanya udaranya dingin.


"Kak Mahen, Ratih sudah siap." ucap Bu Ratih.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Pak Narto biar Mahen panggil dulu." seru Mahen.


Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk menjemput Gavin ke Bandung. Kali ini membawa mobil Mahen. Pak Narto yang memegang kemudi.


(*******)


Bandung..


Setelah sampai di Bandung Mahen mencoba menghubungi posel Gavin yang tadi Mamanya bilang dipegang satpam yang bernama Bayu. Setelah mendapat info rumah sakit, kini mereka menuju rumah sakit.


Sampailah mereka di sebuah rumah sakit. Pak Narto memarkirkan mobil. Setalah mobil terparkir, kini mereka bertiga masuk dan bertanya dibagian resepsionis. Setelah mendapatkan info kamarnya, kini mereka menuju kamar tersebut.


Setibanya di depan sebuah kamar, ada seorang laki-laki yang tengah duduk dikursi.


"Pak Bayu.!" seru Mahen setibanya di depan kamar perawatan.


"Iya saya sendiri, Anda yang barusan telpon saya.?" tanyanya balik.


"Iya saya Mahen, Kakaknya Pak Gavin, ini Ratih istri Gavin dan ini Pak Narto sopir saya." ucap Mahen sambil menyalami laki-laki itu.

__ADS_1


Kemudian mereka menyalami laki-laki itu, dan Pak Bayu lalu menyerahkan ponsel Gavin yang dibawanya.


"Apa sudah boleh dijenguk, Pak?" tanya Mahen.


"Sudah, Pak. Tadi, saya sudah masuk." jawab Pak Bayu.


Akhinya mereka masuk kedalam kamar dimana Gavin dirawat.


Setelah masuk Bu Ratih kaget dengan keadaan suaminya. Tangannya di perban dan dibagian wajahnya ada sedikit luka lebam.


Tangan Bu Ratih mengelus pipi Gavin lalu dagunya. Dia merapikan selang infus yang terpasang dilengan Gavin. Setelah memastikan semua aman, dia membungkuk dan mengecup kening suaminya.


"Sayang, ini aku Ratih, Kak Mahen dan Pak Narto menjemputmu pulang. Cepat bangun, ya?" ucap Bu Ratih.


"Pak Gavin tadi sudah sadar, kok Bu. Mungkin beliau masih dibawah pengaruh obat, jadi tidur lagi." ucap Pak Bayu.


"Tapi, kira-kira boleh dibawa pulang, kan Pak?" tanya Bu Ratih.


"Kata Dokter sih, Pak Gavin sudah boleh dibawa pulang. Nunggu beliaunya bangun dulu." jawabnya.


"Kak, berarti besok pagi saja kita bawa pulang. Biar malam ini kita bermalam disini." ucap Bu Ratih seraya menoleh kearah Mahen.


"Iya, Tih." jawab Mahen.


"Oh ya, Pak Bayu. Mobil Adik saya sekarang dimana?" tanya Gavin pada satpam itu.


"Ada disini Pak. Saya yang membawanya buat mengangkut Pak Gavin kerumah sakit. Kuncinya ada dilaci meja itu disebelah tempat tidur Pak Gavin." tukas Pak Bayu.


"Oh ya sudah. Kalau malam ini Pak Bayu mau pulang silahkan. Biar Pak Gavin kami yang jaga. Tapi, tolong, besok pagi Pak Bayu kesini lagi, ya?" ucap Mahen.


"Baik Pak. Saya permisi dulu." ucap Pak Bayu.


Kemudian dia meninggalkan ruangan itu, kini diruangan hanya ada mereka berempat. Pak Narto, Mahen, Bu Ratih dan Gavin.


Mahen memerintahkan Pak Narto buat membeli makanan buat camilan. Bu Ratih duduk dikursi dekat tempat tidur Gavin. Mahen rebahan di sofa. Kamar itu dilengkapi dengan springbed dan sofa.


"Ratih, kalau kamu capek mendingan istirahat aja dulu." ucap Mahen.


"Iya, Kak. Nanti kalau Ratih sudah capek, Ratih akan istirahat.


"Ya sudah, kalau gitu." jawab Mahen.


Ketika Bu Ratih lagi ngobrol dengan Mahen. Tiba-tiba Tangan Gavin bergerak. Bu Ratih dan Mahen lalu mendekatinya.


Gavin mencoba membuka matanya dan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Ketika dia mendapati ada wajah istri dan Kakaknya, Gavin kemudian tersenyum.


"Sayang, kamu kok disini.?" ucap Gavin.


"Sssttt..! sudah jangan bicara dulu, kamu istirahat aja." ucap Bu Ratih seraya membelai wajah suaminya itu.


Tiba-tiba Pak Narto masuk dengan membawa bungkusan dengan tergopoh-gopoh.


"Pak Mahen diluar ada yang mau ketemu Pak Gavin!" ucap Pak Narto.

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung.......


__ADS_2