
.....................................
Mahen terdiam tanpa kata, dia masih berdiri seolah nggak bertenaga. Sedangkan Gavin masih menunggu reaksi Kakaknya itu.
"Kak Mahen, Kak! ada apa?" ucap Gavin sambil mengguncang-guncang bahu Kakaknya. Sedangkan Mahen masih terdiam tak berkutik. Gavin terus menerus menguncang-guncang Kakaknya. Akhirknya Mahen merespon Gavin.
"Papa, Vin. Tadi itu Pak Ginanjar telfon Mama kalau Papa kecelakaan, Vin" jawab Mahen gemetar.
"Ya Tuhan..! terus gimana sekarang keadaan Papa, Kak?" tanya Gavin.
"Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit, dan Pak Ginanjar nungguin Papa di sana." jawab Mahen.
"Kita, terbang ke Semarang, Kak? atau gimana?" tanya Gavin.
"Gini, aja. Kamu tetap di Jakarta. Biar Kakak yang urus Papa. Jadi kamu tetap disini urus perusahaan." jawab mahen.
"Baiklah, kalau begitu. Sekarang Kak Mahen pulang, Mama pasti menunggu" jawab Gavin.
"Iya, Vin. Kamu urus perusahaan, ya? Kak Kinan biar disini aja, bantu Bibi urus kamu dirumah. Kalau ikut, takutnya capek" ucap Mahen.
"Iya, Kak. Hati-hati" ucap Gavin.
Mahen kemudian langsung balik ke rumah. Sementar Gavin balik ke ruangannya nggak jadi makan.
Dia masih memikirkan Papanya. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya.
'Sayang, ada kabar buruk. Papa kecelakaan di Semarang.'
'Ya Tuhan.! Sekarang gimana keadaannya?'
'Belum, tahu. Kak Mahen sekarang terbang kesana, tapi disana ada teman Papa, Pak Ginanjar.'
'Mudah-mudahan Pak Indra nggak apa-apa. Aku ikut prihatin, ya sayang?'
'Iya, sayang. Makasih.'
'Nanti pulang kampus aku ke rumah kamu, ya?'
'Iya, aku jemput?'
'Nggak, usah. Nanti kamu kejauhan, biar aku naik taxi aja.'
'Oke kalau begitu. Makasih sayang.'
'Iya, sama-sama. kamu yang sabar, ya?'
'Iya, sayang.'
Gavin menutup ponselnya. Kemudian dia kembali duduk di kursi dengan pikirannya yang masih tertuju dengan Papanya.
"Pak, Joko. Tolong ke ruangan saya, sebentar" ucap Gavin diujung telefon.
Tak selang beberapa lama, masuklah laki-laki berbadan tinggi, agak kurus.
"Iya, Pak. Ada apa" tanya Pak Joko.
"Begini, Pak. Papa mengalami musibah, beliau kecelakaan di Semarang. Kak Mahen akan terbang kesana urus Papa. Jadi, besok Kak Mahen masih belum bisa aktif di kantor ini. Untyk sementara saya percayakan Pak Joko untuk menghandle semuanya, karena saya harus kembali ke Kantor Pusat." terang Gavin.
"Ya Ampuun! tapi Pak Indra nggak apa-apa kan, Pak? iya. Saya akan mengurus kantor ini. Saya juga doakan supaya tidak apa-apa." jawab Pak Joko kaget.
"Iya, Pak. Makasih. Tapi sejauh ini saya belum bisa memastikan kabar Papa selanjutnya" jawab gavin.
"Iya, Pak Gavin. Saya tunggu kabar selanjutnya tentang Pak Indra. Sekarang Pak Gavin kalau mau pulang dulu, silahkan.!" ucap Pak Joko.
"Iya, Pak. Saya memang akan pulang." ucap Gavin.
Kemudian Pak Joko meninggalkan ruangan Gavin. Sementara Gavin mengeluarkan ponselnya lagi.
__ADS_1
["Sore, Pak Bima. Tolong infokan ke semua karyawan, bahwa hari ini Papa kecelakaan. Mohon bantu doanya."]
["Ya Tuhan, iya, Pak. Segera laksanakan."]
["Terima kasih."]
Gavin siap siap untuk pulang. Dia harus memastikan bahwa Mamanya nggak apa-apa. Setelah selesai membereskan semua yang ada dimeja kerjanya, Gavin langsung menuju parkiran dan berlalu pergi meninggalkan kantor.
Dalam perjalanan dia nggak konsen, sampai-sampai dia nggak menyadari kalau sia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sampailah dia dirumah, ternyata Mamanya dan Mahen belum berangkat, masih siap-siap.
Gavin langsung memeluk Mamanya yang matanya sudah sembab karena menangis.
"Tenang, Ma. Papa, pasti nggak kenapa-kenapa. Berdoa aja. Gavin juga akan mendoakan Papa." ucap Gavin sambil mengelus punggung Mamanya.
"Iya, Nak. Mama pasti kuat. Karena dua jagoan Mama ini selalu sama Mama." jawab Bu Hesty sembari melirik Mahen dan Gavin.
"Sudah siap, Ma?" ucap Mahen.
"Iya, Nak. Gavin, Kinan. Mama pergi dulu" ucap Bu Hesty.
"Iya, Ma"
"Iya, Ma"
Mahen mendekati istrinya, Kinan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Lalu mencium tangan Bu Hesty. Mereka ke bandara diantar Pak Narto.
Setelah masuk mobil, kemudian mobil itu meninggalkan halaman rumah.
Gavin kembali masuk diikuti Kakak iparnya.
"Vin, kamu mandi dulu, habis itu makan. Ntar Kakak siapin." ucap Kinan.
"Iya, Kak. Oh ya, Ratih mungkin bentar lagi kesini." jawab Gavin.
"Iya, Kak." jawab Gavin singkat.
Gavin naik menuju kamarnya. Dia mau bersih-bersih badannya. Sekitar setengah jam kemudian, datanglah Bu Ratih ke rumah Gavin.
"Tok...tok...tok.." terdengar pintu diketuk.
"Masuk.!"
"Den, Gavin. Non Ratih sudah datang." ucap Bibi.
"Iya, Bi. Bentar lagi Gavin turun" jawab Gavin.
"Iya, Den." jawab Bibi.
Kemudian Gavin bersiap-siap. Lalu keluar kamar turun kebawah. Di ruang tengah dilihatnya Bu Ratih yang duduk-duduk dengan Kinanti.
"Hai, sayang. Udah lama?" tanya Gavin.
"Hmm..barusan kok." jawab Bu Ratih.
"Kamu, mandi dulu gih! biar seger badan kamu." ucap Gavin.
"Iya, Tih. Ntar pake baju Kak Kinan aja, badan kita gak jauh beda." Tukas Kinan.
"Iya, sayang. Mandi dulu," sahut Gavin.
"Iya, sudah kalau gitu." jawab Bu Ratih.
"Oke, Kakak ambilkan bajunya dulu." ucap Kinan sembari melangkah menuju kamarnya.
"Bi, tolong, antarkan Non Ratih ke kamar tamu.!" seru Gavin.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bibi keluar mengantar Bu Ratih ke kamar tamu.
"Mari, Non." ucap Bibi.
"Iya, Bi." jawab Bu Ratih.
Mereka melangkah menuju kamar tamu yang letaknya di lantai bawah dekat ruang tamu. Gavin masih duduk-duduk di ruang tengah sambil nonton TV.
Setelah kurang lebih setengah jam, keluarlah Bu Ratih dengan memakai baju dari Kinan. Gavin tersenyum melihat penampilan Kekasihnya itu. Bu Ratih tampak malu-malu diperhatikan terus sama Gavin tanpa kedip.
"Kamu, apaan sih, Vin. Lihatinnya kok gitu?" ucap Bu Ratih.
"Kamu, keliatan imut, sayang. Sumpah! aku aja mungkin kalah muda." ucap Gavin sambil geleng-geleng kepala.
"Hmmm.. Nyindir nih ceritanya." jawab Bu Ratih sewot.
"Aduuuh., tuan putri ngambek nih!" sahut Gavin sambil menarik tangan Bu Ratih.
Kemudian dengan satu gerakan Gavin memeluk kekasihnya itu. Dengan penuh kasih sayang Gavin membelai rambut dan memgucapkan kalimat-kalimat yang romantis.
"Tolong, jangan tinggalin aku, ya Tih? aku membutuhkanmu." ucap Gavin sambil memeluk kekasihnya itu.
"Iya, Vin. Aku akan setia mendampingi kamu." sahut Bu Ratih.
Kemudian Bu Ratih mendongakkan kepalanya ke arah wajah Gavin. Mereka saling beradu pandang sesaat. Dengan lembut Gavin mengecup kening Bu Ratih.
Dua anak manusia itu memang sedang dimabuk asmara. Perjalanan cunta keduanya memang banyak menjumpai kerikil-kerikil tajam. Bahkan taruhan nyawa pun mereka telah jalani. Tak ada seindah kisah kalau bukan kisah mereka.
Perbedaan umur tidak menghalangi keduanya untuk menciptakan keromantisan dua sejoli. Sampai akhirnya mereka tetap memegang janji untuk melangkah yang lebih jauh.
Kali ini Bu Ratih sengaja menemani Gavin yang sedang kena musibah. Papanya kecelakaan diluar kota dan harus dirawat.
Malam ini dia menemani Gavin untuk makan malam serta menghiburnya supaya Gavin tetap tegar.
"Maaf, Den. Makan malamnya sudah siap!" ucap Bibi.
"Iya, Bi. Tolong, panggilin Kak Kinan sekalian." ucap Gavin.
"Baik, Den" jawab Bibi.
Gavin mengajak Bu Ratih menuju ruang makan yang letaknya nggak jauh dari dari ruang tengah. Di meja makan sudah siap makanan yang beraneka ragam. Ada tumis kangkung, ayam goreng, capcay serta rendang.
Makanan ini semua kesukaan papa, Bathin Gavin. Terlihat dia melamun lagi. Bu Ratih yang menyaksikan kekasihnya itu lalu mengelus tangan Gavin.
"Sudah, jangan sedih. Ayo kita makan" ucap Bu Ratih.
"Iya, Vin. Kamu harus makan biar sehat dan bisa mengurus perusahaan." sahut Kinanti sembari melangkah menuju meja makan.
"Iya, makasih." jawab Gavin.
Akhirnya mereka menikmati makan malam. Tak lupa Bibi juga disuruh makan sekalian bareng-bareng mereka. Keluarga Gavin memang menganggap asisten rumah tangganya itu adalah sebagai keluarga sendiri. Jadi cara memperlakukan semua pegawai di rumahnya seperti itu.
Drrrtt......drrrtttt......drrtttt.....
Ponsel Gavin bergetar, terlihat nomor yang tidak dikenal.
["Hallo.. maaf, ini siapa, ya?"]
["...................."]
["Oh, kamu lagi, ada apa telfon saya"]
["...................."]
["Apaa.!!"]
Next..................(36).
__ADS_1