
Bu Ratih jadi ikut prihatin setelah mendengar cerita dari Bu Hesty bahwa suami Kasih kini kena stroke dan nggak bisa ngapa-ngapain.
"Papa apa sudah tahu soal ini, Ma.?"
"Papamu sudah tahu, setelah dua atau tiga hari waktu itu Mama lupa, langsung cerita ke Papa." jawab Bu Hesty.
"Tanggapan Papa gimana, Ma.?"
"Dia ya juga berkata sama kamu, ikut prihatin saja." jawab Bu Hesty.
Bu Ratih masih terdiam setelah itu, dia juga nggak bisa menanggapi yang gimana karena memang itu sudah takdirnya Kasih dan suaminya.
"Ma, Sebenarnya Ratih sama Gavin pernah memergoki suami Kasih sama perempuan lain. Tapi, itu lama sekali, sekitaran hampir dua tahun yang lalu. Cuma, kita nggak berani ngomong karena memang bukan urusan kita lagi. Setelah itu kita nggak tahu lagi kabarnya." ucap Bu Ratih.
"Oh iya.! berarti sudah lama itu selingkuhnya. Dia bilang ke Mama ya pas kerumah Mama waktu itu. Ya mungkin itu balasan buat suaminya." jawab Bu Hesty.
"Iya, Ma. Mungkin saja demikian. Dan segera disembuhkan." ucap Bu Ratih.
"Iya, tadinya Mama juga kaget setelah mendengar ceritanya. Lama nggak ketemu, tapi sekali ketemu dia membawa kabar nggak baik."
.
.
.
Sore harinya setelah semuanya selesai mandi, mereka berencana jalan-jalan untuk makan diluar. Semuanya diajak termasuk Budhe dan Pakde.
Gavin menyetir mobil yang dimuati dia dan keluarganya, sedangkan mobil yang satunya di sopir Santo dimuati Pakde dan Budhe serta Susi.
Kali ini Gavin mengajak keluarganya makan disebuah rumah makan dengan nuansa pedesaan. Tempatnya yang alami membuat mereka senang sekali karena sejuk dan alami.
Gavin dan keluarganya kemudian masuk rumah makan itu lalu duduk di meja yang sudah dia pesan. Lalu memesan makanan pada pelayan.
"Vin, kamu kok tahu tempat ini. Bagus lho,!" ucap Pak Indra.
"Iya, ini rumah makan yang merekomendasikan temanku di kantor. Pak Fajar namanya." jawab Gavin.
"Oh gitu, bagus konsepnya, Vin. Kayaknya kamu bisa bikin seperti ini, pasti bakal prospeknya bagus." saran Pak Indra.
"Iya, Pa. Gavin pernah lihat di daerah Ungaran. Waktu itu Gavin istirahat disebuah cafe habis perjalanan dari Semarang. Tempatnya bagus banget, desanya asri dan sejuk. Aku sempat berfikir kalau aku juga akan buat kayak gini di daerah itu." jawab Gavin.
"Nggak apa-apa. Lanjutkan kalau kamu memang sudah ada konsep." seru Pak Indra.
"Iya, Pa. Pelan-pelan dulu. Gabin masih fokus pada pembangunan hotel yang di Semarang." jawab Gavin.
__ADS_1
Tak lama kemudian pesanan makanannya datang. Mereka semua akhirnya menikmati makanan itu. Gavin sibuk dengan makanannya dan yang lainnya juga.
"Tih, Budhe mau ke kamar kecil dulu."
"Iya, Budhe. Biar diantar Susi."
"Baiklah."
Budhe Rahayu dan Susi menuju kamar kecil. Sedangkan yang lainnya masih di meja untuk melanjutkan ngobrol-ngobrol.
Bu Ratih pamit untuk menemani Cantik jalan-jalan ke taman serta Raka. Dia mengikuti Cantik yang ingin main ayunan. Bu Ratih senang melihat kedua buah hatinya itu.
Ketika sedang asyik-asyiknya menemani anaknya, Bu Ratih kaget karena di meja seberang ada rame-rame. Langsung saja dia menggendong anaknya dan menuju mejanya kembali.
"Ada apa, Pa."
"Nggak tahu, itu ada seorang perempuan seumuran Budhe dengan perempuan muda lagi debat sama perempuan paruh baya." jawab Gavin.
"Oalah, kok bertengkar ditempat umum gini, ya?" sahut Bu Ratih.
"Nggak tahu juga."
Tak lama kemudian Budhe Rahayu dan Susi sudah balik dari kamar kecil. Budhe kelihatan ketakutan, mungkin dia mengerti ceritanya.
"Emangnya kenapa, Budhe?" tanya Bu Ratih.
"Kalau Budhe dengar pas lewat tadi, itu Ibunya si perempuan muda lagi ngelabrak perempuan paruh baya yang ternyata pemilik rumah makan ini. Budhe kira mau komplain pelayanannya, eh ternyata dia mau menuntut anak laki-lakinya supaya menikahi anak perempuannya itu." jelas Budhe Rahayu.
"Iya, Bu. Saya tadi juga dengar seperti itu. Saking paniknya sampai saya sama Budhe berhenti nggak berani lewat. Jadi kita mendengarkan semuanya." sahut Susi.
"Kok bisa gitu, ya. Serem juga ceritanya."
Ketika mereka lagi ngobrol, tiba-tiba terdengar suara piring apa gelas jatuh ke lantai.
"Pyaaarr.,!"
"Maaf, Bu. Saya memaklumi kemarahan Ibu. Tapi, mohon kita selesaikan baik-baik dirumah saja. Malu ada banyak orang." ucap pemilik rumah makan ini.
"Saya nggak peduli dengan semua itu. Saya dan anak saya sudah lama bersabar menunggu ini. Hampir dua tahun anak saya diterlantarkan anak Ibu yang nggak bertanggung jawab. Dari dia hamil sampai anaknya sekarang sudah berumur satu tahun, dia nggak ada kabar." jawab Ibu itu.
"Bu, sekali lagi maaf banget. Anak saya sekarang lagi di Jakarta dan kondisi dia sekarang lagi kena stroke. Dan dia tidak bisa ngapa-ngapain. Dia hanya duduk dikursi roda saja. Yang urus dia sekarang ya istrinya. Saya akui anak saya salah, tapi mau gimana lagi keadaan dia sekarang seperti itu, kayak mayat hidup." jawabnya.
Bu Ratih dan keluarganya kaget setelah Ibu itu bilang kalau anaknya sekarang lagi stroke. Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki menengahi pertengkaran itu.
"Pak Fajar," seru Gavin.
__ADS_1
"Kenapa, Pa."
"Itu ada Pak Fajar, Ma. Kan rumah makan ini yang merekomendasikan Pak Fajar. Ada hubungannya dengannya, ya?" ucap Gavin.
"Mungkin saudaranya Pak Fajar.!"
"Mungkin saja, Ma."
Gavin kembali ke mejanya dan bergabung lagi dengan keluarganya. Dan akhirnya pertengkaran itu selesai juga. Gavin ingin menemui Pak Fajar, siapa tahu lagi butuh bantuan.
"Pak Fajar, ada apa kok rame-rame gini?"
"Eh, Pak Gavin. Maaf, Pak. Kalau buat tidak nyaman Pak Gavin sekeluarga." jawab Pak Fajar.
"Apa ada masalah, tadi saya panik karena pertengakaran itu sangat hebat." ucap Gavin.
"Iya, masalah sepupu saya. Ini kan rumah makan punyanya Budhe saya." jawab Pak Fajar.
"Oh gitu, jadi ini punya Budhenya Pak fajar."
"Iya, Pak. Sekali lagi maaf atas ketidak nyamanannya, ya Pak." ucap Pak Fajar.
Tiba-tiba ada wanita paruh baya mendekati Gavin dan Pak Fajar. Katanya kedua perempuan tadi tetap nggak mau pulang minta dijemputkan anaknya, dan sekarang lagi ngamuk di belakang.
Seketika Pak Fajar dan Gavin mengikuti perempuan itu. Lalu ternyata benar, kedua perempuan itu mengobrak-abrik dapurnya.
"Maaf, Bu. Tolong yang tenang, ya. Iya. Nanti saya telponkan sepupu saya." ucap Pak Fajar.
"Kalau si Rahman itu nggak pulang ke Jogja. Akan saya tuntut. Anak saya sudah bela-belain datang kesini buat kasih tahu sama keluarganya Rahman." ucap Ibu itu.
"Bram, tolong kamu telponkan Mbakmu Kasih. Bilang kalau wanita ini kesini." ucap Budhenya.
"Kasih,! apa benar Kasih itu adalah Kasih mantan istrinya" ucap Gavin dalam hati.
"Iya, Budhe."
Gavin mendekati Pak Fajar yang lagi membuka ponselnya guna menelpon Kasih.
"Maaf, Pak. Apa Kasih yang Budhe maksud adalah Kasih andriani yang dulunya pernah punya pabrik batik di Kediri Jawa timur." tanya Gavin.
"Iya benar, Pak. Mbak Kasih memang pernah tinggal di Kediri." jawab Pak Fajar.
--------------------------------
Bersambung..
__ADS_1