
Pak Indra memperhatikan menantunya itu. Sedangkan Kasih masih terdiam. Bu Hesty mendekati dan menatap wajah Kasih.
"Kasih, jawab pertanyaan Papamu. Nggak usah takut." ucap Bu Hesty.
"Maaf, Pa, Ma. Kasih sebelumnya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Papa dan Mama. Disamping memang Kasih ingin kuliah, Sebenarnya Kasih juga ingin pergi dari kehidupan Mbak Ratih dan Mas Gavin. Kasih nggak bisa hidup begini terus diantara mereka berdua. Mereka saling mencintai dan Kasih nggak ingin terus hidup diantara cinta mereka." jelas Kasih.
Pak Indra dan Bu Hesty saling pandang. Mereka sudah menduga kalau Kasih bakal mengalah untuk mundur perlahan. Pak Indra juga nggak bisa memaksanya untuk tetap bertahan, karena dia juga memakluminya, Kasih masih muda dan masa depannya masih panjang.
"Baiklah, Sih. Kalau memang itu yang kamu inginkan. Kami tidak bisa melarangnya." jawab Pak Indra.
"Iya, Pa. Kasih janji akan giat belajar dan supaya bisa menjadi orang sukses seperti Papa." ucap Kasih sambil tersenyum.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja dulu. Kami juga akan istirahat." jawab Bu Hesty.
Malampun semakin larut. Kasih masih terjaga karena dia ingin menghabiskan sisa waktunya bersama Raka. Besok dia akan pindah keluar kota dan tidak akan bertemu anaknya lagi. Dipandanginya wajah Raka yang tidur pulas dihadapannya. Air matanya menetes ketika mengusap wajah malaikat kecilnya itu. Jujur dia berat kalau harus berpisah dengan Raka, tapi mau gimana lagi, keadaan yang mengharuskan dia harus meninggalkan anaknya.
Tanpa disadari jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Raka masih tidur pulas sekali, padahal dia belum minum susu lagi. Terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Kasih pun langsung menoleh.
"Mas Gavin.!"
"Kamu belum tidur?" tanya Gavin seraya ikut duduk didekat anaknya.
"Aku belum bisa tidur, Mas. Aku dari tadi melihati Raka terus. Karena besok aku sudah berangkat." jawab Kasih sambil matanya mengembun.
Gavin lalu mencoba memeluknya dan mengelus kepala istrinya. "Kamu boleh membatalkan niatmu, kok. Jika memang kamu berat meninggalkan Raka." ucap Gavin.
"Enggak, Mas. Aku akan tetap berangkat. Aku sudah janji sama kalian berdua kalau akan menyerahkan Raka sama kamu dan Mbak Ratih." jawab Kasih.
"Maafkan aku, ya Sih. Karena aku tidak bisa mencegahmu untuk pergi. Karena kamu sendiri yang menginginkannya. Aku janji akan berkunjung ketempat tinggalmu yang baru." ucap Gavin sambil melonggarkan pelukannya.
"Terserah kamu, Mas. Kalau memang kamu sibuk, mending aku saja yang kesini." jawab Kasih sambil memegang wajah suaminya.
"Baiklah, kalau memang itu mau kamu. Tapi, ijinkan aku tidur disini sama Kamu dan Raka." ucap Gavin.
Kasih kemudian tersenyum dan mengangguk pelan. "Iya, Mas. Silahkan." jawab Kasih.
Gavin akhirnya tertidur ditempat tidurnya Kasih. Mereka tidur bertiga untuk yang terakhir kalinya.
(***)
Hari ini Kasih berangkat ke luar kota. Dia dan keluarganya pindah ketempat kelahiran Ibunya Kasih karena sesuatu hal. Gavin mengantarkan ke Bandara dengan Bu Ratih. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan.
Akhirnya sampailah di Bandara. "Kamu hati-hati, ya. Jangan lupa langsung kasih kabar kalau sudah sampai." ucap Bu Ratih sambil memeluk Kasih.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Aku percayakan Raka sama Mbak Ratih dan Mas Gavin." ucap Kasih sambil meneteskan airmatanya.
"Iya, Sih. Aku dan Gavin akan merawat dia sampai kelak dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri." jawab Bu Ratih.
Kini Kasih giliran mendekati Gavin. Dari tadi Gavin tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Matanya berkaca-kaca dan nggak berani menatap kearah Kasih.
Kasih memegang lengan suaminya dan mencoba mengarahkan wajahnya pada wajah Gavin untuk menatap wajah suaminya.
"Mas, aku pergi, ya. Tolong, jaga anak kita dan didik dia dengan ilmu dan kebaikan. Aku percaya sama kamu dan Mbak Ratih." ucap Kasih sambil menatap Gavin tanpa kedip.
Gavin yang tidak bisa menahan rasa sedihnya langsung memeluk erat Kasih sambil menangis. Dia sesenggukan dipelukan istrinya. Kasih pun demikian, dia menangis sambil memeluk erat suaminya. Bu Ratih yang menyaksikan pemandangan tersebut ikut menangis dan tak bisa ditahan lagi.
Kasih yang melihat Bu Ratih ikut menangis akhirnya dipeluknya juga, kini mereka bertiga berpelukan sambil menangis. Bu Laksmi yang menyaksikan itu juga ikut menangis. Sampai akhirnya mereka pun menyudahi adegan dramatis itu.
Gavin Dan Bu Ratih kemudian menyalami Bu Laksmi lalu meninggalkan mereka. Karena mereka sebentar lagi berangkat. Tak lama kemudian mereka masuk, lalu Gavin dan Bu Ratih melangkah meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Sore harinya Kasih mengabari kalau dia sudah sampai dengan selamat. Dia telpon kerumah Gavin, yang mengangkat Bu Hesty. Bu Ratih menggendong Raka dan sekarang dia mulai sedikit banyak tingkah. Dia sudah belajar mengangkat kepalanya dan badannya gemuk sekali.
"Tih, kamu mandi dulu gih.! biar Mama yang gendong Raka." ucap Bu Hesty.
Bu Ratih kemudian kekamarnya untuk mandi karena sudah sore. Tak lama kemudian ada mobil masuk.
"Sore adik Raka ganteng,!" seru Mahen saat masuk kedalam rumah.
Mahen dan Kinanti serta Tifany datang berkunjung. Usia anaknya Mahendra sekarang sekitaran setahun setengah. Dia sudah bisa jalan dan tumbuh menjadi anak yang cantik.
"Hallo Kakak Fany. Aku kangen lho." jawab Bu Hesty.
"Mana Ratih, Ma?" tanya Mahen.
"Dia mandi, Gavin sama Papamu keluar dari tadi, katanya mau ngurus soal mobil buat Kasih." jawab Bu Hesty.
"Oh jadi belum dapat mobil. Tahu gitu mobil Mahen aja biar dipakai Kasih disana. Karena Mahen pingin ganti mobil yang lebih besar." ucap Mahen.
"Ya kita lihat Papamu nanti, sudah dapat apa belum?" jawab Bu Hesty.
Tak lama kemudian Gavin dan Pak Indra datang dan berkumpulah sekarang keluarga Indra wijaya lengkap dengan anak menantu serta cucu-cucunya. Situasi seperti inilah yang diimpikan Pak Indra.
__ADS_1
"Vin, kata Mama, tadi kamu sama Papa cari mobil buat dikirim ke Kasih." tanya Mahen.
"Iya, Kak. Aku sama Papa tadi cari mobil buat Kasih." jawab Gavin.
"Sudah dapat mobilnya?" tanya Mahen.
"Sudah, aku minta sama showroom nya dikirim langsung kealamatnya. Soalnnya mereka sekalian mengirim ke cabang di Surabaya." jawab Gavin.
"Oh ya sudah kalau gitu." jawab Mahen.
"Emang ada apa, Kak?" tanya Gavin.
"Tadinya biar mobilku saja yang buat Kasih. Soalnya aku mau ganti mobil. Ya sudah kalau gitu" jawab Mahen.
"Kak Mahen nggak bilang. Ini tadi Papa sudah bayar cash." jawab Gavin.
"Hen, ngapain kamu ganti mobil. Biarkan mobilmu yang lama itu. Kalau kamu kurang leluasa kan masih ada mobil Papa lebih besar. Gavin juga lebih sering pakai mobil Mamamu." jawab Pak Indra.
"Baiklah kalau begitu, Pa." jawab Mahendra.
"Iya, Hen. Tabung aja uangmu buat masa depan anakmu. Soal mobil pakai aja punya Papa, toh Papa sama Mama sering tinggal dirumah kamu." Jawab Pak Indra.
Akhirnya Mahen menyetujui apa yang disarankan Papanya. Kini mereka melanjutkan obrolannya. Gavin dan Bu Ratih tengah asyik sama Raka. Sedangkan Tifany sudah mulai berlarian.
.
.
.
Malampun semakin larut. Mahen dan keluarganya menempati kamar Gavin yang diatas. Karena Kamar Mahen sebelumnya sekarang dipakai kamarnya Raka. Bu Ratih mendampingi Raka tidur dikamarnya. Sedangkan Gavin juga ikut tidur bersama anak dan istrinya.
(***)
★ KEDIRI ★
Malam ini Kasih tidak bisa memejamkan matanya. Dia sementara tidur dengan adiknya si Tio. Rumah yang mereka tinggali lumayan besar karena rumah itu rumah model kuno. Kamarnya ada empat, berhubung yang satu tidak pernah ditempati, jadi perlu dibersihkan dulu. Makanya sekarang sementara Kasih tidur sama adiknya.
"Nak, kamu sekarang pasti sudah tidur dalam pelukan Mama Ratih dan Papa Gavin." ucap Kasih dalam hati.
Dia kangen sama Raka, tapi dia harus berusaha untuk membiasakan karena memang ini yang dia mau. Dia yakin kalau suatu saat dia akan menemukan kebahagiaan juga.
Akhirnya Kasih ketiduran juga, dengan memeluk baju Raka yang sengaja dibawanya untuk mengobati rasa rindunya.
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung.....