
Kasih masih diam belum berani menjawab. Dia takut karena ada Bu Hesty dari tadi memperhatikannya. Pak Indra yang melihat istrinya memandangi Kasih seperti dia mau memangsanya saja. Kasih jadi ketakutan.
"Kasih, kamu nggak usah takut. Kalau kamu setuju jawab saja "iya". Jika sebaliknya kamu bilang "tidak", sudah beres." tanya Pak Indra.
"Maafkan saya, Bu Ratih dan Pak Gavin, untuk saat ini saya belum bisa memenuhi permintaan kalian. Saya belum siap." jawab Kasih sambil menunduk.
Matanya pun kini mulai berembun. Dia sebenarnya tidak mau mengecewakan majikannya itu, tapi gimana lagi. Bu Hesty sepertinya tidak menyukainya. Batinnya.
Bu Ratih dan Gavin terdiam, bagaimanapun juga mereka harus menghormati keputusan Kasih. Bu Hesty kelihatan gembira, dia langsung sumringah setelah mendengar jawaban dari Kasih.
"Baiklah Kasih, kami juga nggak bisa memaksa kamu. Kami menghargai keputusan kamu." ucap Bu Ratih.
"Kasih, kalau memang itu keputusan kamu. Saya juga menghargainya." sahut Pak Indra.
"Okey, berarti fix kan. Tiara lah yang akan menjadi calon tunggal Gavin.!" seru Bu Hesty.
"Enggak.! sekali nggak ya tetap nggak!" jawab Gavin keras.
"Mama ini kenapa, sih. Gavin sudah bilang nggak mau kok Mama tetap saja ngeyel!" cetus Pak Indra.
"Pokonya Mama tetap pada pendirian Mama.!" sahutnya.
"Terserah Mama, yang jelas Gavin nggak mau! Ayo sayang, kita pergi dari sini, dari pada pusing." ajak Gavin pada istrinya.
Kemudian mereka berdua melangkah pergi. Kini Pak Indra dan istrinya yang masih dimeja makan. Kasih dan Bibi belum berani beranjak sebelum diperintahkan pergi.
"Bi, tolong, beresin ini semua, ya. Maaf jika suasananya kacau. Kasih, kamu boleh kembali ke kamar kamu." ucap Pak Indra sembari meninggalkan meja makan.
Bibi dibantu Kasih membereskan meja makan. Bu Hesty yang kini tinggal sendirian dimeja makan, masih memperhatikan Kasih. Tapi, setelah itu dia pergi juga.
"Mbak Kasih, Bibi tadi takut banget melihat Den Gavin yang bertengkar dengan Mamanya" ucap Bibi.
"Iya, Bi. Kasih juga. Apalagi Kasih terlibat dengan masalah ini." sahut Kasih sambil membawa piring-piring ke dapur.
"Bibi jadi kasihan sama Non Ratih, Sih. Kenapa kamu menolak Sih?" tanya Bibi.
"Kasih belum siap, Bi." jawab Kasih.
Akhirnya mereka melanjutkan pekerjaannya sambil ngobrol-ngobrol. Sampai akhirnya mereka selesai juga, dan kembali ke kamarnya masing-masing.
(*****)
"Sayang, ayo cepatan dikit, dong. Aku mau ada meeting dengan klien." teriak Gavin ketika diluar kamarnya.
"Iya, sayang. Ini aku sudah siap." jawab Bu Ratih.
"Oke. Kita berangkat.!" seru Gavin.
"Bu.., Bu Ratih.!" teriak kasih.
__ADS_1
"Iya, Sih. Ada apa?" tanya Bu Ratih.
"Ini saya siapin buat sarapan. Bu Ratih, kan belum sarapan" ucapnya sambil menyodorkan sebuah box makan.
"Makasih Sih..," jawab Bu Ratih.
"Sama-sama, Bu." jawab Kasih.
Kemudian mereka pergi untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Pak Indra hari ini juga mau ke kantor, tapi dia berangkat belakangan.
.
.
.
Setibanya dikantor, Gavin langsung menyiapkan berkas untuk meeting sama team Marketing. Karena akhir minggu ini ada jadwalnya lounching sebuah perumahan elite dikawasan pinggiran kota. Proyek yang sudah lama dikerjakan, kini sudah selesai dan akan siap dilounching.
Sekitar pukul sembilan, Pak Indra datang ke kantor. Semua kaget, tumben-tumbenan Bos besar kekantor. Semua karyawan langsung menunduk hormat ketika Pak Indra lewat.
Dia kemudian menuju ruangan Direktur utama, yang tak lain ruangan Gavin yang juga ruangannya dulu. Bu Yolanda menunduk ketika melihat Pak Indra melewati mejanya.
Kemudian tak lama kemudian, Pak Bima menuju ruangan itu.
"Apa kabar Pak Bima.?" seru Pak Indra.
"Baik, Pak. Gimana dengan Pak Indra sendiri?" ucap Pak Bima.
"Oh iya, sebenarnya masalah gadis yang melamar kemarin itu, seharusnya saya nggak harus turun tangan. Berhubung ini agak rumit, dan Gavin juga nggak mau urus. Biar saya yang urus." jelas Pak Indra.
"Iya, Pak. Kemarin Pak Gavin sudah bilang sama saya, kalau Pak Indra yang mengurus ini. Saya menyuruhnya kesini lagi jam sepuluh." ucap Pak Bima.
"Baiklah, masih jam setengah sepuluh. Saya pingin keliling dulu, menyapa anak-anak. Nanti Pak Bima tinggal tepon saya" ucap Pak Indra.
"Siap, Pak.!" jawabnya.
Akhirnya mereka keluar. Pak Indra berkeliling kepenjuru kantor. Sedangkan Pak Bima kembali ke ruangannya.
Pak Indra masih berkeliling, banyak karyawan yang kangen dengan dia, karena Pak Indra terkenal dengan sikapnya yang mengayomi, ramah dan baik.
Saat dia berada didepan, tepatnya didekatnya meja resepsionis, dia duduk dikursi ruang tunggu. Dia nyantai sambil memainkan ponselnya. Tak selang lama, dia dikagetkan dengan suara rame-rame didepan pintu.
Seorang wanita muda, usianya sekitaran dua tiga atau dua empatan lah. Perawakannya tinggi putih. Dia memakai rok dibawah lutut kira-kira lima sentian. Dengan atasan putih dibalut blazer warna senada.
Dia sedang marah sama salah satu office boy. Ternyata wanita itu tidak melihat ada tanda bahwa lantai masih basah, ternyata dia hampir jatuh gara-gara lantainya basah.
Pak Indra memperhatikannya dari jauh, siapa wanita itu kok berani-beraninya kasar sama karyawanku, sudah tahu salah malah ngeyel. batinnya.
Tak lama kemudian, dia ke meja resepsionis dan bilang kalau mau ketemu dengan Pak Bima. Sama petugasnya disuruh tunggu dulu, nanti dipanggil. Kemudian dia duduk dikursi yang nggak jauh dari Pak Indra.
__ADS_1
Tak lama kemudian ponsel Pak Indra berbunyi. Dia sedang bicara sama seseorang, kemudian tak lama Pak Indra beranjak dan melangkah menuju ruangannya.
"Tok..tok..tok..!"
"Iya, masuk." sahut Pak Indra dari dalam.
Kemudian pintu pun terbuka, dilihatnya Pak Bima dengan wanita tadi yang marah-marah didepan. Pak Bima kemudian masuk dan menyuruh duduk wanita itu.
"Silahkan duduk.!" ucap Pak Gavin.
Wanita itu terlihat nggak senang. Kenapa kok ada orang tua ini, sedangkan Gavin kemana. Gumamalnya. Mukanya dari tadi ditekuk.
"Maaf, apa benar Anda yang bernama Tiara, putrinya Pak Handoko?" tanya Pak Indra.
"Iya, Benar. Kenapa Anda tanya-tanya terus. Mana Gavin, saya mau bertemu dia dan menanyakan kira-kira kapan saya mulai kerjanya." celetuknya.
Degh.!
Pak Indra langsung kaget, sikapnya benar-benar diluar dugaan. Pantesan Gavin ogah dengan gadis ini. Wong sikapnya kayar preman. nggak sopan. Batin Pak Indra.
"Anda sudah pernah bekerja sebelumnya?"
"Belum!"
"Yang membuat Anda berkeinginan untuk melamar kerja diperusahaan saya ini, apa ya?" tanya Pak Indra.
Wanita itu melotot. Apa yang barusan Pak Indra katakan membuat dia keder. Tapi, tak lama kemudian berdiri.
"Kenapa Bapak bercanda. Emangnya siapa Bapak ngaku-ngaku pemilik perusahaan ini. Pasti Anda hanya seorang sopir kantor yang disuruh Gavin untuk menemui saya.!" serunya.
"Buat apa saya bercanda, nggak ada untungnya jika saya bercanda dengan Anda.!" jawab Pak Indra.
Pak Bima sedikit kawatir jika mereka terus bertengkar, bisa bahaya. Batinnya.
"Pak, sudahlah cukup bercandanya. Saya sudah capek ini nunggu terus kapan diterima kerjanya." ucap Tiara sambil berdiri dan mendekati Pak Indra.
"Maaf, Mbak Tiara. Beliau ini memang pemilik Wijaya's Group" sahut Pak Bima.
"Pak Bima pasti juga sekongkol. Saya tahu, Gavin memang tidak suka sama saya. Tapi, jangan buat sandiwara yang konyol seperti ini. Nanti saya telponkan Tante Hesty baru tahu rasa kalian.!" ancamnya.
"Silahkan saja kalau Anda berani." kata Pak Indra.
"Siapa takut.!" jawabnya.
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Tak lama kemudian dia mencari nama Bu Hesty.
Tapi sebelum menelpon, tiba-tiba datang seseorang.
"Anda nggak perlu telpon-telpon.!!"
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung...