
☆☆Delapan tahun kemudian☆☆
Hari ini usia Raka pas sepuluh tahun. Dia merayakan ulang tahunnya yang ke sepuluh ini bareng dengan moment dia dikhitan. Gavin dan Bu Ratih menyiapkan semua ini dengan sempurna. Mereka sengaja membuat pesta yang meriah. Semua teman-teman Gavin dan Bu Ratih diundang semua. Kolega bisnis Pak Indra pun diundang. Pak Indra memang membuat pesta ini semeriah mungkin, untuk berbagi kebahagiaan dengan semua kerabat, teman serta rekan bisnis semua.
"Pa, Raka nanti jam berapa di sunatnya?" tanya Raka pada Gavin yang lagi duduk diteras sambil pegang ponselnya.
Gavin membetulkan letak kaca matanya kemudian terseyum kearah jagoannya itu. Kemudian dia meraih tubuh anaknya untuk diletakan dipangkuannya, kemudian mengecup pipinya.
"Sayang, nanti sekitar jam sepuluhan Dokternya datang. Kamu sudah nggak sabar menunggu, ya?" goda Gavin sambil menggelitik pinggang anaknya.
"Aauw.. Geli, Pa! Ya Raka penasaran aja. Teman-teman Raka disekolah yang kebetulan sudah disunat bilangnya kalau sunat itu sakit, tapi ada yang bilang kalau nggak sakit. Jadi, Raka penasaran, Pa" jawab Raka.
"Tenang, sayang. Sunat itu tidak sakit, kok. Kamu percaya deh sama Papa." ucap Gavim sambil mengelus pipi anaknya.
"Oke dech, Pa. Raka siap kok disunat." jawabnya antusias.
"Siipp.,! hebat jagoan Papa." ucap Gavin sambil memegan bahu anaknya itu.
Akhirnya Raka masuk kedalam rumah. Gavin memandangi anaknya yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang pintar. Dia mewarisi perawakan Gavin. Tinggi dan putih. Baru kelas lima SD saja tingginya kayak anak SMP.
"Kasih, anak kamu sekarang sudah tumbuh menjadi besar, hari ini dia akan disunat, seandainya kamu ada disini pasti kamu sangat bahagia. Tapi, sejak perceraian kita dulu kamu seolah menghilang ditelan bumi. Om kamu Pak Firman juga nggak tahu keberadaan kamu di Kediri. Saat Pak Firman aku mintai tolong untuk mencari tahu dimana keberadaan kamu dia bilang, kalau ada yang bilang kamu sekeluarga pindah rumah karena sejak Kakek kamu meninggal, rumah itu dijual." ucap Gavin dalam hati.
Bu Ratih mendapati suaminya yang lagi melamun dia mengurungkan niatannya untuk memanggil suaminya. Dia nggak mau mengganggu suaminya yang mungkin lagi memikirkan Kasih. Bu Ratih tahu sejak pisah dari Kasih, Gavin sering melamun sendiri. Wajar saja, mungkin dia kangen dengan ibu dari anaknya.
"Sayang, aku faham akan kesedihan kamu. Hampir delapan tahun aku sering memergoki kamu selalu melamun kalau sendirian kayak gini. Tapi, aku bisa berbuat apa. Aku diam-diam juga minta bantuan orang lain untuk mencari informasi tentang keberadaan Kasih, tapi hasilnya nihil." ucap Bu Ratih dalam hati sambil memperhatikan suaminya.
"Mama.,!"
Suara Raka mengagetkan Bu Ratih yang lagi berdiri memperhatikan Gavin. Kemudian dia tersenyum kepada anak kesayngannya itu.
"Ada apa, sayang. Raka jangan banyak tingkah dulu. Kan mau disunat." ucap Bu Ratih lembut.
"Oh iya, Ma. Opa tadi bilang kalau nanti teman-teman Raka dari panti yang di yayasannya Budhe Kinan kesini, ya?" tanya Raka antusias.
"Iya, pasti itu sayang. Mereka juga berhak bahagia seperti kamu. Jadi, semuanya diundang." jawab Bu Ratih.
Gavin dan Bu Ratih sejak dini mengajarkan Raka untuk selalu berbagi. Mereka selalu mengajak Raka saat berkunjung ke yayasannya Kinanti, dan mengenalkannya dengan anak-anak seusia nya. Maka dari itu Raka sudah terbiasa menyebut anak-anak yayasan selalu dengan sebutan "teman".
Selain pendidikan formal yang bagus diberikan pada Raka, Gavin dan Bu Ratih juga memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Kasih dulu pernah pesan kalau Gavin harus memberikan ilmu kebaikan pada Raka. Dengan semampu Gavin dan Bu Ratih mereka memberikan yang terbaik buat Raka.
Sekitar jam sepuluh Dokter yang mau mengkhitan Raka datang. Dia masuk kedalam kamar Raka. Kamar yang dulu waktu kecil sampai sekarang masih menjadi kamarnya, hanya furniture nya saja yang sedikit diubah disesuaikan dengan usia Raka sekarang. Gavin dan Bu Ratih kembali ke kamarnya diatas, jadi kamar tamu yang dulu ditempatinya kembali dibuat kamar tamu.
"Mama jangan tinggalin Raka.!" serunya sambil memegang tangan Bu Ratih.
"Iya, sayang. Mama akan tetap disini kok." jawab Bu Ratih.
__ADS_1
Setelah melewati prosesnya, akhirnya Raka selesai disunat. Bu Ratih melihati wajah anaknya yang mungkin sedikit menahan sakit. Tapi, dia kelihatan senang.
Dokter akhirmya pamit permisi keluar dulu. Kini Dikamar tinggal Bu Ratih dan Raka. Tak lama kemudian Gavin masuk, karena dia nggak tega melihat anaknya disunat, makanya dia menunggunya diluar kamar.
"Lihat nih, Pa. Anak kita sudah besar. Dia sudah disunat, dan dia kuat sekali nggak menangis. Benar kan Raka?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Pa. Bener apa yang dibilang Mama. Raka kuat nggak nangis, Pa." ucapnya manis.
"Iya, sayang. Kamu memang anak yang kuat. Kelak kamu pasti jadi orang sukses dan kuat dengan segala macam ujian." ucap Gavin sambil mencium kening Raka.
"Amin.. Makasih, Papa." kini Bu Ratih yang berucap.
Mereka bertiga akhirnya berpelukan. Gavin dan Bu Ratih jadi terharu karena anak yang dipercayakan kepada mereka sekarang tumbuh menjadi anak laki-laki yang beranjak remaja. Bu Ratih meneteskan air mata kebahagiaan karena mendapatkan anugerah dua jagoan dalam hidupnya.
.
.
.
Sore harinya acara pesta sudah akan dimulai. Memang acaranya dimulai agak sorean karena ini pestanya anak kecil jadi biar tidak malam-malam. Semua tempat dari pagi sudah disediakan. Banyak kursi yang tertata dihalaman sampai ke taman. Konsepnya memang dibuat terbuka karena anak-anak biar bisa leluasa bermain.
Tamu undangan satu persatu berdatangan. Gavin dan Bu Ratih serta keluarga yang lain menyambut kedatangan tamu didepan. Mereka semua menggunakan seragam dengan nuansa warna abu. Mereka semua kelihatan kompak dari semua keluarga.
Banyak sekali teman-teman Gavin dan Pak Indra yang diundang. Mereka memang sengaja mengundang biar sekalian reuni karena sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
"Sudah, Pak Gavin. Terakhir istri saya kontak sama dia itu seminggu yang lalu. Malahan saya kasih tahu kalau anaknya sebentar lagi disunat." jawab Pak Firman.
"Tapi, apa dia tahu kalau hari ini Raka disunat." tanya Gavin lagi.
"Kalau istri saya kasih tahu pasti dia tentunya tahu, Pak. Soalnya saya sendiri belum tanya sama istri saya." jawab Pak Firman seraya meninggalkan Gavin karena istri dan anaknya sudah berada ditempat lain.
Lalu datanglah Pak Keanu dengan Tiur istrinya. Mereka akhirnya menikah dan sudah dikaruniai anak perempuan kini usianya lima tahun. Vanya juga datang bersama Farrel yang sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Baru setahun mereka menikah dan belum dikasih momongan.
Kemudian datanglah teman Bu Ratih Bu Silvi dan suami. Mereka datang rame-rame bersama rekan-rekan Dosen yang lainnya. Terlihat Pak Reyhan juga datang tapi dia datang sendiri tanpa didampingi pasangannya. Terakhir Bu Ratih tahu kalau dia mau nikah lagi sama Mahasiswi yang kala itu diceritakan Vanya, tapi nggak jadi karena keluarga cewek itu tahu kalau Pak Reyhan ada masalah dengan kesuburannya, akhirnya mereka putus.
Mungkin memang bukan jodohnya Pak Reyhan. Sebagai teman yang memiliki masalah yang sama, Bu Ratih selalu mensupport Pak Reyhan agar tetap sabar dan semangat. Mungkin suatu saat dia akan menemukan jodohnya.
Tak lama kemudian datanglah Sasha datang dengan seorang wanita muda yang tak lain adalah asistennya. Penampilannya sangat berbeda. Karena bisnisnya sekarang sudah lumayan sukses. Tapi, kenapa sampai sekarang dia betah sendiri dan belum menikah lagi.
"Mbak Ratih?" serunya sambil memeluk Bu Ratih.
"Sasha, kamu semakin cantik saja. Sekarang sudah jadi orang sukses. Oh iya saat Pak Ferry meninggal, maaf ya, kami semua pas lagi di Jepang." ucap Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Nggak apa-apa." jawabnya.
__ADS_1
"Iya, Sha.. kamu tambah keren aja, tapi masih betah aja kamu ngejomblo." sela Gavin.
"Iya, Mas. Beginilah aku sekarang. Kesibukanku membuat aku akan lupa akan diriku. Hehe.." sahutnya sambil ketawa.
"Okelah, lakukan saja apa yang menurut kamu baik. Silahkan masuk dan dinikmati hidangan yang ada." tukas Bu Ratih.
Tak lama kemudian hadir seorang laki-laki sendirian, pakai baju batik lengan panjang kelihatan gagah. Ketika sudah dekat, akhirnya tahu siapa dia. Gavin langsung memeluknya.
"Haii my Bro.. Seto! apa kabarmu sekarang. Sudah lama banget kita nggak ketemu. Sejak lulus kuliah kamu sudah ilang. Aku nikah aja kamu nggak hadir." ucap Gavin sambil memukul lengan sahabatnya saat kuliah.
"Iya, sorry Vin. Aku sibuk banget. Kerjaanku mengharuskan aku harus sering bolak-balik Jakarta-Australia. Aku tahu kalau kamu adain pesta buat anak kamu ini dikasih Tiur. Kita ketemu di sosmed lalu kita kontak-kantakan. Akhirnya kamu nikah juga sama Bu Ratih." ucap Seto sambil melirik Bu Ratih.
"Iya, dong. Kamu dulu malah sangsikan aku kalau aku bisa dapetin dia." jawab Gavin.
"Seto, kamu kok sendirian. Mana pasangan kamu." tanya Bu Ratih.
"Maaf, Bu. Saya masih betah sendiri. Belum ada yang mau sama saya." jawab Seto malu-malu.
"Ish., kamu ini ada-ada aja. Pasti nanti ada yang mau. Sabar aja." ucap Bu Ratih menghibur.
Akhirnya semua tamu-tamu bergantian datang keacara itu. Rekan bisnis dan teman kerja Bu Ratih juga hampir semuanya sudah datang. Pesta ini memang buat ajang reunian semua teman-teman serta saudara yang sudah lama nggak bertemu.
Acara bertambah meriah ketika Anak-anak yatim piatu dari Yayasan Kinanti menampilkan sebuah kreasinya. Ada yang menyanyi, menari bahkan ada yang beratraksi main sulap. Semua bakat-bakat anak yatim piatu tersebut ditampilkan disini.
Bu Ratih dan Gavin berdiri berdampingan sambil melihat semua yang sekarang ada dihalam rumahnya. Sebuah pesta yang meriah tapi nggak harus mahal. Bu Ratih saling pandang dengan suaminya. Mereka tersenyum bahagia melihatnya.
Gavin akhirnya bergabung keteman-temannya untuk menemani mereka. Sedangkan Bu Ratih masih tetap berdiri sambil mengamati mereka.
"Tuhan, aku bahagia dengan apa yang sekarang aku dapatkan. Keluarga, teman, dan semua orang-orang disekelilingku untuk menyupport keberadaanku. Semua itu tak lepas dari campur tanganMU, aku hanya berusaha menjalankan apa yang sudah Engkau gariskan buat aku. Semua masalah dan yang terjadi dihidupku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang masih hidup dengan keterbatasan. Karena itu, aku selalu menanamkan dalam diri anakku sejak dini untuk tetap bersyukur dengan keadaan apapun. Kami memang tidak kekurangan dalam hal materi. Tapi, kalau semua itu tidak diimbangi dengan kebahagiaan batin maka tidak akan lengkap. Tapi, yang masih mengganjal pikiranku selama ini adalah keberadaan Kasih, yang notabene adalah Ibu kandung anakku. Memang posisi kami sulit untuk ditempatkan disatu tempat yang menurut suamiku adalah terbaik. Tapi, kami kaum wanita yang selalu mengandalkan perasaan, selalu merasa nggak enak satu sama lain. Meskipun kami sudah menerima satu sama lain, pasti ada salah satu diantara kami yang akan mundur perlahan karena dengan satu alasan tidak mau ada yang terluka. Itu sikap yang manusiawi karena kami sama-sama wanita yang mengandalkan perasaan. Aku selalu berdoa semoga kelak Kasih menemukan kebahagiaannya meskipun tidak bersama kita. Kasih.., Mbak Ratih kangen sama kamu. Kangen saat-saat kamu merawat aku ketika aku sakit dulu. Kamu menyisir rambutku dan menyiapkan baju serta semuanya kamu lakukan untuk membantuku." ucap Bu Ratih dalam hati.
Bu Ratih meneteskan air mata kebahagiaan disela-sela pesta anaknya malam ini. Kemudian dia ikut membaur jadi satu dengan yang lainnya. Mereka terlihat bahagia dengan semua ini. Bu Ratih dan Gavin saling pegang tangan sambil memperhatikan kebahagiaan orang-orang disekelilingnya.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi hiruk pikuk didalam rumah Pak Indra wijaya. Wajah pemilik mata tersebut tersenyum sayu karena ikut merasakan kebahagiaan meskipun hanya dari kejauhan.
Pak Joni melihat ada wanita yang berdiri didepan pagar rumah majikannya itu, dia tidak mengenalinya. Karena memang kena temaram lampu. Tapi ketika dia hendak menghampirinya, ternyata wanita itu sudah masuk dalam mobil mewah warna hitam yang perlahan berjalan memecah kesunyian malam.
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡
Saya Evy Erviyanti mengucapkan banyak terima kasih pada semua pembaca Bu Dosen Cantik. Maaf karena untuk sementara ceritanya memang sampai disini. InsyaAllah nanti ada sequelnya dengan judul yang berbeda.
Bagi yang senang dan nggak senang cerita ini, saya akan terima semua koment, kritik dan sarannya. Tanpa kalian saya bukan siapa-siapa. Setiap komen dan masukan dari kalian selalu buat penyemangat dan motivasi saya untuk tetap menulis.
Maafkan jika ada salah kata, typo bahkan alur cerita yang kurang bagus, karena saya juga dalam tahap belajar. Jadi mohon dimaklumi adanya.
Sekali lagi saya ucapkan beribu-ribu terima kasih karena telah berpartisipasi untuk tetap setia dengan Bu Dosen Cantik.
__ADS_1
love you all..
♥Author♥