
Setelah kejadian nggak penting di toilet kemarin, kini Vera dan ganknya di panggil menghadap Dekan. Karena semuanya sudah ngaku dan akhirnya mereka dihukum untuk mendapatkan sebanyak mungkin tanda tangan Dosen se kampus.
Cantika hari ini ada jadwal sampai sore hari. Jadi pulangnya agak telat. Sekitar jam enam sore dia baru keluar kelas untuk ngisi materi kuliah dari Bu Arin. Setelah membereskan semuanya, kini dia berjalan keluar dan mau telpon Pak Santo buat jemput.
"Selamat sore Cantik,!" ucap seseorang dari belakang Cantika.
Spontan Cantika kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Kemudian dia tersenyum setelah mengetahui siapa yang memanggilnya tadi.
"Nunggu siapa.?" tanya Bara sambil senyum-senyum.
Cantika hanya tersenyum malu-malu. Lalu dia menatap kearah laki-laki dihadapannya kali ini.
"Aku nunggu Pak Santo." jawab Cantika.
"Emang sudah di telpon Pak Santo nya.?" tanya Bara sambil menatap lekat ke arah Cantika.
Dia menggelengkan kepalanya, "Belum,!"
"Ya sudah nggak usah ditelpon Pak Santonya. Sama Pak Bara saja." jawab Bara.
"Kak Bara bisa aja.!"
"Ya sudah ayo kita pulang.!" ajak Bara.
Kemudian keduanya masuk mobil, lalu Bara melajukan mobilnya memecah jalanan. Dalam perjalanan pulang mereka banyak ngobrol.
"Kak, kok pertanyaan Cantik yang kemarim belum dijawab.?" tanya Cantika.
"Pertanyaan yang mana.?" jawab Bara pura-pura.
"Kenapa kemarin Kak Bara bilang di depan Bu Arin kalau Kak Bara adalah pacar Cantik.?" tanya Cantika.
Bara melirik kearah gadis mungilnya itu. Dia lalu tersenyum dan masih pandangannya masih lurus kedepan.
"Kalau nggak Kak Bara jawab seperti itu, nanti mereka menganggap kalau kalian memang benar pacaran. Makanya Kak Bara jawab seperti itu." jawab Bara santai.
"Cantik, maafin Kak Bara karena harus membohongimu. Sebenarnya Kak Bara memang mulai sayang sama kamu, tapi untuk saat ini Kak Bara nggak mau mengatakan itu dulu, suatu saat kalau sudah waktunya Kak Bara pasti akan katakan." ucap Bara dalam hati.
Tak terasa akhirnya mereka sudah mendekati rumah Cantika. Bara memasukan mobilnya ke halaman rumah Cantika dan memarkirkan mobilnya seperti biasa.
Bara turun lalu membukakan pintu untuk Cantik. "Silakan tuan putri Cantik.!" seru Bara.
"Makasih Kak,!" jawab Cantika.
Kemudian mereka menuju teras rumah dan duduk di kursi yang ada di teras tersebut. Tak lama kemudian keluarlah seorang laki-laki dari dalam rumah.
"Gadis kecilku yang cantik.,!" seru pemuda itu.
Cantik sontak kaget karena siapa yang memanggilnya kali ini. Matanya membelalak hampir tak percaya karena dihadapannya kali ini ada Raka Kakak kesayangannya.8
"Kak Raka,!"
Sontak Cantika langsung berlari dan berhambur kepelukan Raka yang sudah membentangkan tangannya. Keduanya saling berpelukan dan Raka menciumi pipi adik kesayangannya itu. Cantika juga nggak malu membalas mencium pipi Kakaknya.
Bara yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum saja. Dia diam dan tetap duduk di kursi sambil menunggu Kakak beradik itu melepas kangen.
__ADS_1
"Kok pulang nggak bilang-bilang sih, Kak.?" tanya Cantik.
"Maaf, kalau bilang dulu berarti bukan surpprise, dong!" jawab Raka.
"Cantik kangen , Kak.!" ucap Cantika.
"Sama, Kakak juga kangen." jawab Raka.
Kemudian Raka melihat ke arah Bara, lalu dia tersenyum. Cantika lupa kalau masih ada Bara yang duduk.
"Oh iya, Kak. Ini Kak Bara teman Cantik." ucap Cantika.
Bara lalu berdiri dan menyalami Raka, "Bara, Kak.!" ucap Bara.
"Raka, Kakaknya Cantika." jawab Raka.
"Dek, kalau gitu Kak Bara pulang dulu, ya.?" ucap Bara tiba-tiba.
"Kok buru-buru, Kak.!"
"Iya, kamu kangen-kangenan sama Kakak kamu dulu, besok Kakak jemput seperti biasa, ya.?" jawab Bara.
"Oh gitu, baiklah. Makasih ya Kak.?"
"Iya sama-sama," jawab Cantika.
"Maaf, Kak. Saya permisi pulang dulu." ucap Bara.
"Iya, Bara. Sama-sama." jawab Raka.
"Wuaah, Cantik ketinggalan nih ceritanya.?" seru Cantika.
"Anak Mama yang satu ini sekarang sibuk banget, lho Kak.!' ucap Bu Ratih.
"Ah Mama bisa aja." jawab Cantika.
"Oh iya, kok tumben.?" Raka bertanya sambil memandang kearah Cantika.
"Iya, adikmu sekarang jadi asisten Dosen. Makanya kadang pulangnya telat gini." sahut Gavin.
"Wuuah hebat dong, penerus Mama ini, Pa!" jawab Raka.
"Oh iya, Bara tadi kok nggak ikut masuk, Nak.?" tanya Bu Ratih.
"Nggak tahu, Ma. Katanya biar Cantik melepas kangen dulu sama Kak Raka." jawab Cantika.
"Oh ya udah kalau gitu. Sana mandi dulu, habis ini kita makan diluar." ucap Bu Ratih.
"Horee, oke Ma!"
Akhirnya Cantika naik keatas untuk masuk kamar dan mandi. Kini tinggsl mereka berempat.
"Kak, rencana liburan kamu berapa hari.?" tanya Bu Ratih.
"Mungkin dua minggu, Pa." jawab Raka.
__ADS_1
"Oh iya, Kak Raka. Nanti bisa hadir di pembukaan Cafe aku, Kak." sahut Gazi.
"Oke siap, Kakak pasti hadir." jawab Raka.
Tak lama kemudian Cantika turun dari atas dan bergabung dengan yang lainnya. Kini dia sudah kelihatan segar dan rapi.
"Gimana, tuan putri sudah selesai. Apa kita berangkat sekarang?" tanya Gavin.
"Oke, siap!" jawab Bu Ratih.
"Zi, kamu yang bawa mobilnya, ya. Kakak mau ngobrol-ngobril dulu sama Cantik." ucap Raka.
"Siap, Kak.!"
Akhirnya mereka berlima berangkat. Gazi dan Gavin di depan, sedangkan Raka, Cantika dan Bu Ratih duduk di kursi penumpang.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah menuju sebuah rumah makan. Rencana mereka mau makan malam untuk merayakan kepulangan Raka untuk liburan akademik.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah restoran yang terkenal di kota itu. Gazi memarkirkan mobilnya dan perlahan semuanya masuk menuju rumah makan itu.
Cantik memilih meja yang agak menepi dari yang lainnya. Kemudian pegawai restoran itu menghampiri untuk mencatat semua pesanan mereka. Setelah cukup akhirnya kini ngobrol santai dulu sambil menunggu pesanan.
"Kak, gimana kuliah di Jepang.?" tanya Bu Ratih.
"Ya begitulah, Ma. Mama kan juga pernah kuliah di Jepang." jawab Raka.
"Yang penting kuliah dengan rajin dan bisa menyelesaikannya dengan baik." jawab Gavin.
"Cantik makin kesini makin cantik aja, ya Ma.?" ucap Raka tiba-tiba.
"Ya jelas lah, anak Mama.!" sahut Bu Ratih.
"Cowoknya juga keren, Kak!" celetuk Gazi.
Cantika langsung melototin Kakaknya itu, Bu Ratih dan Gavin hanya ketawa saja ketika melihat anak-anaknya saling ejek.
"Oh jadi yang tadi itu cowoknya Cantik.?"
"Bukan, Kak. Kak Bara hanya teman Cantika saja." jawab Cantika.
"Pacar juga nggak apa-apa, Dek!" sahut Gavin.
"Enggak kok, Pa. Kak Bara itu menganggap Cantika itu hanya sebatas adik saja." jawab Cantika.
"Adik ketemu gede,!" kini Gazi semakin meledeknya.
"Tapi, Kakak setuju kok. Meskipun baru sekali Kakak bertemu, Bara kayaknya laki-laki baik." sahut Raka.
"Gimama kalau sekarang kita panggilkan Bara saja.!" ucap Gavin.
"Papa, apaan sih,!" jawab Cantika malu-malu.
Ketika mereka lagi ngobrol santai, tiba-tiba ponsel Gazi berbunyi. Gazi langsung berdiri dan mengankat telponnya.
----------------------------
__ADS_1
Bersambung...