
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mahen kawatir sambil mengusap wajah istrinya.
Kinanti berlari ke kamar mandi, kemudian disitu dia muntah-muntah. Mahen menghampiri istrinya dengan wajah sumringah. Dalam hati Mahen berucap semoga ada kabar baik.
"Sayang, apa ini tanda-tanda kalau kamu--" Mahen belum sempat meneruskan kalimatnya, Kinanti langsung memeluk suaminya itu.
"Iya mungkin, sayang. Bulan ini aku belum dapet." ucap Kinanti sambil tersenyum.
"Apa perlu Aa' belikan tespack.?" tanya Mahen antusias.
"Nggak usah, A'. Besok aja kita ke dokter, sekarang sudah malam." ucap Kinanti.
"Tapi, sekarang kamu sudah nggak apa-apa, kan?" tanya Mahen.
"Sudah mendingan, kok. Ayo kita istirahat aja." ucap Kinanti.
Akhirnya mereka menuju kamar untuk beristirahat. Hari semakin gelap, tapi mata Kinanti tidak mau terpejam. Sedangkan suaminya sudah tergolek pulas. Dalam hati dia berharap, mudah-mudahan ini benar tanda-tanda kehamilan.
****
Keesokan harinya dirumah Pak Indra, semua sibuk karena hari ini Gavin dan istrinya akan memulai beraktivitas seperti biasa. Bibi menyiapkan sarapan buat majikannya.
Seperti biasa, menu sarapan pagi tak jauh-jauh dari nasi goreng dan roti. Minumnya ada susu hangat dan teh manis hangat.
Gavin dan Bu Ratih dengan memakai pakaian kerja masing-masing. Gavin terlihat gagah dengan kemeja warna abu dan stelan jas warna hitam.
Bu Ratih memakai rok selutut dengan atasan putih tidak lupa blazer dengan warna senada.
Pak Indra keluar dari kamarnya diikuti Bu Hesty sambil membawakan tas kerja suaminya. Mereka bertemu di meja makan. Dengan lahap mereka menyantap sarapan pagi dengan senyuman yang hangat.
"Vin, ntar Papa ada meeting dengan semua divisi, guna membicarakan kesejahteraan karyawan Wijaya's Group. Nanti temani Papa, ya?" ucap Pak Indra.
"Siap, Pa. Gavin akan ikuti perintah, Papa.!" jawab Gavin semangat.
"Ya sudah, Papa berangkat dulu, ya? Kamu, kan antar istrimu ke kampus dulu?" ucap Pak Indra.
"Baik, Pa." jawabnya.
Pak Indra melangkah keluar diikuti Bu Hesty, diluar sudah tampak Pak Narto sopir setia Pak Indra yang telah membukakan pintu buat majikannya itu.
"Makasih Pak Narto..," ucap Pak Indra sambil melangkah masuk mobil.
Kemudian Pak Narto kembali menutup pintu mobil. Lalu dilajukannya mobil menyusuri jalanan menuju kantor. Sekitar empat puluh menit, akhirnya sampai juga di kantor Wijaya's Group.
Setelah menurunkan istrinya di kampus, Gavin mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat. Dia nggak mau terlambat masuk kantor, karena hari ini dia kali pertama masuk kerja paskah menikah.
Sampai juga Gavin di kantor. Dia kemudian memarkirkan mobilnya diantara mobil-mobil yang lain. Mobilnya kelihatan beda sendiri, disamping warnanya merah mencolok, mobilnya tergolong mobil sport mewah.
Gavin berjalan menyusuri ruangan yang ada dikantor itu. Kemudian dia naik lift untuk menuju ke ruangannya. Tak lama kemudian dia sampai diruangannya. Pak Indra sudah ada diruangan itu.
__ADS_1
"Pagi, Pa.!" seru Gavin setibanya di ruangan itu.
"Pagi juga, Vin. Oh ya, tolong, kamu siapkan berkas untuk meeting nanti. Soal kebijakan baru dikantor." ucap Pak Indra.
"Baik, Pa. Gavin segera siapkan.!" jawabnya.
Sekitar jam sepuluh meeting dimulai, Pak Indra dan Gavin menuju ruang meeting yang ada didekat ruangan HRD. Semua jajaran Staf setiap divisi hadir di meeting itu.
Saat Gavin berjalan menuju ruang meeting, ditengah jalan dia berpapasan dengan Kasih, Office girl yang pernah menolongnya. Gavin tersenyum saat matanya bertatapan denganya. Demikian sebaliknya, tersenyum kemudian berlalu.
Kasih kemudian berhenti lalu menoleh kearah atasannya tadi. Tapi, tanpa sengaja Gavinpun menoleh dan memergoki Kasih yang lagi memperhatikan dirinya. Gavin menggumam, ada apa dengan Kasih.
Kasih buru-buru meninggalkan tempat itu, karena dia takut kalau atasannya itu akan berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.
Sementara diruang meeting, Gavin duduk bersebelahan dengan Papanya. Disusul Pak Bima sebagai HRD dan Staf yang lainnya. Setelah kumpul semua, Pak Indra memulai meetingnya.
"Selamat pagi..,!"ucap Pak Indra membuka meeting itu.
"Pagi, Pak.!!" jawab serempak yang ada diruangan itu.
"Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh jajaran Staf yang selama ini telah banyak membantu saya di perusahaan ini. Hari ini, saya akan memberikan sedikit kabar gembira pada kalian semua. Perkembangan perusahaan kita setiap tahun makin menunjukan performa yang luar biasa. Itu semua berkat kerja keras kalian dan anak buah kalian juga. Sebagai apresiasi dari saya, bahwa mulai bulan depan reward yang biasanya kalian terima akan saya naikkan sepuluh persen. Jadi, tolong sampaikan kepada team kalian." jelas Pak Indra.
Semua yang hadir diruangan itu serentak bersorak penuh kegembiraan. Ada salah satu dari mereka yang hampir melompat karena senang.
"Terima kasih, Pak Indra. Saya, mewakili teman-teman yang ada disini sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih." ucap Pak Bima selaku HRD disitu.
"Iya, Pak. Itu semua sudah menjadi kewajiban saya." sahut Pak Bima.
"Oh iya, selain itu. Saya akan umumkan sekalian, bahwa habis ini perusahaan akan dipimpin oleh Gavindra, putra saya. Karena, saya akan lebih banyak istirahat dirumah saja. Tapi, sesekali saya akan mengunjungi kantor." tukas Pak Indra seraya melirik Gavindra.
Gavindra sontak kaget, karena Papanya belum pernah membicarakan soal ini sebelumnya. Pernah sih dulu waktu awal-awal paskah kecelakaan, tapi, kan itu hanya sementara. Kali ini, Papanya justru mengumumkan di forum resmi seperti ini.
Pak Indra hanya tersenyum melihat perubahan sikap putranya tersebut. Memamg disengaja karena ini dia anggap sebagai kado pernikahan untuk anaknya.
Semua kemudian serentak bertepuk tangan untuk menyambut pimpinan yang baru. Gavin hanya tersenyum sambil menundukan bandanya sebagai tanda hormat kepada semua anak buahnya.
Sekitar jam satu siang meeting selesai juga, semua kembali ke ruangan masing-masing. Kini tinggal Pak Indra, Gavin dan Pak Bima.
"Papa, kok nggak bilang-bilang sama Gavin, kalau mau ada acara ginian.?" ucap Gavin.
"Papa sengaja, Nak. Karena ini Papa anggap sebagai kado pernikahan kamu." jawab Pak Indra.
Gavin seketika berdiri dari tempat duduknya lalu memeluk Papanya. Pak Bima yang menyaksikan itu jadi ikut terharu melihat sikap Ayah dan anak ini.
"Terima kasih, Pa. Karena sudah mempercayakan ini kepada Gavin." ucap Gavin.
"Iya, Nak. Kamu pantas menerima semua ini." ucap Pak Indra.
Kemudian mereka bertiga meninggalkan ruang meeting. Pak Indra dan Gavin masuk ke ruangan yang sama. Tapi, sebelumnya Pak Indra memanggil Firman Office boy kesayangannya.
__ADS_1
"Pak Indra panggil saya?" ucap Firman sesampainya di ruangan Pak Indra.
"Sini, Fir. Duduk disini dulu, saya mau bicara sesuatu." tukas Pak Indra.
Gavin hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan Papanya. Dia juga nggak tahu. Firman duduk dihadapan Pak Indra.
"Firman, mulai sekarang, tolong, kamu layani Pak Gavin seperti kamu melayani, saya. Karena dia akan menggantikan saya." ucap Pak Indra.
"Oh iya, Pak. Pasti itu. Saya akan memperlakukan Pak Gavin seperti saya memperlakukan Pak Indra." jawab Firman.
"Bagus, Firman. Kamu, memang karyawan yang bisa saya andalkan." jawab Pak Indra.
Setelah selesai, Firman akhirnya meninggalkan ruangan itu.
Gavin kemudian mendekati Papanya.
"Pa, apa nggak berlebihan soal apa yang Papa bicarakan dengan Pak Firman. Gavin kan bukan Papa. Jadi, nggak perlu diperlakukan seperti itu." ucap Gavin.
"Vin, kamu tenang saja. Pak Firman itu sudah lama kerja ikut Papa. Dan, Papa yakin dia itu adalah karyawan yang loyal. Anggap saja dia yang akan jagain kamu disini." tukas Papanya seraya menepuk pundak anaknya itu.
"Ya sudah kalau itu yang Papa inginkan. Gavin ngikut saja." jawab Gavin.
"Oh iya, Papa mau keruangan HRD dulu sebentar. Kamu disini saja." ucap Papanya.
"Baik, Pa." jawab Gavin.
Pak Indra melangkah meninggalkan ruangan itu. Kini Gavin tinggal sendiri diruangan itu. Sekarang dia duduk dikursi pimpinan. Disandarkan tubuhnya dikursi dengan tangan ditaruh dibawah kepalanya.
"Tok...tok...tok..!"
Terdengar suara pintu diketuk.
"Iya, silahkan masuk.,!" seru Gavin dari dalam.
Kemudian masuklah seorang wanita dengan pakaian kerja lengkap sambil membawa beberapa berkas. Wanita itu memandangi Gavin dari atas sampai bawah.
Demikian juga dengan Gavin, dia terdiam setelah mendapati wanita asing yang masuk ruangannya.
"Anda siapa.?" tanya Gavin.
----------------------------------
Bersambung.......
Jangan lupa like and vote nya doooonk...
Salam manis.
Author..
__ADS_1