
Bu Ratih masih berdiri didepan pintu. Tapi, ketika dia hendak berbalik, Bu Ratih dikagetkan dengan seseorang.
"Bu Laksmi,!"
"Kenapa nggak masuk, Nak?" tanya Bu Laksmi sambil memegang tangan Bu Ratih.
Bu Ratih membalas senyuman kemudian mencium tangan perempuan paru baya itu. "Iya, Bu. Ratih mau masuk tapi, momentnya belum tepat." jawabnya.
"Nggak apa-apa, Nak. Masuk aja. Ayo sama Ibu." ajak Bu Laksmi sambil menggandeng tangan Bu Ratih.
Akhirnya mereka pun masuk. Gavin dan Kasih menoleh kearah mereka. Posisi tangan Gavin masih memegang tangan Kasih karena mereka memang lagi bergurau. Seketika Gavin melepaskan tangan Kasih kemudian berdiri.
"Sayang, kamu kok nggak bilang kalau mau kesini. Tahu gitu kan aku jemput!" seru Gavin sambil berdiri mendekati Bu Ratih.
"Nggak apa-apa, sayang. Aku tadi juga ndadak, pas Raka tidur langsung aku kesini." jawab Bu Ratih.
"Mbak, Raka rewel nggak?" tanya Kasih.
"Kemarin kata Mama rewel, tapi sekarang sudah pinter kok. Untung sama aku dia nurut, Sih. Semalam aku keloni dia." jawab Bu Ratih.
"Alhamdulilah kalau sama Mbak Ratih nggak rewel. Aku jadi tenang." ucap Kasih.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Sih. Apa sudah mendingan?" tanya Bu Ratih.
"Sementara ini sudah mendingan, Mbak. Bengkak di kakiku juga nggak sebesar sebelumnya." jawab Kasih.
"Tapi, kenapa wajah kamu masih sedikit bengkak?" ucap Bu Ratih sambil menyentuh wajah Kasih.
"Iya, Mbak. Tadi pagi juga mendingan. Nggak tahu kenapa kok, wajahku masih gini." jawab Kasih.
"Dokter sudah mengecek apa belum." ucap Bu Ratih sambil menoleh ke arah Gavin.
"Tadi pagi sudah, Mbak. Kalau siang ini belum." jawab Kasih.
Tak lama kemudian masuklah Dokter untuk mengecek Kasih. Gavin dan Bu Ratih saling pandang. Setelah menunggu Dokter memeriksa Kasih, akhirnya selesai juga.
"Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Gavin.
"Nggak ada yang perlu dikawatirkan." jawab Dokter.
"Syukurlah kalau begitu. Kira-kira kapan boleh pulang?" tanya Gavin.
"Kita tunggu sampai nanti malam, kalau darah stabil dan bengkak dikaki serta wajahnya mulai hilang, segera mungkin bisa dibawa pulang." jawab Dokter.
Akhirnya Dokter kembali meninggalkan ruangan Kasih dirawat. Kini mereka bernafas lega karena Kasih sudah membaik.
__ADS_1
Setelah lama mereka ngobrol-ngobrol, akhirnya Gavin dan Bu Ratih pamit untuk pulang. Kini Bu Laksmi sendiri yang menjaga Kasih. Gavin pun juga bilang kalau malam ini dia absen ikut jaga Kasih, karena dia ingin tidur sama jagoan kecilnya.
Sepulang mereka, Kasih dan Bu Laksmi melanjutkan ngobrol-ngobrol. Dia tadi sudah bilang sama Gavin kalau pingin kuliah. Gavin pun menyetujuinya. Tapi menunggu tiga bulan lagi sampai sembuh total.
.
.
.
Malam harinya, Gavin dan Bu Ratih tidur dikamar Raka. Mereka berdua sengaja mau keloni Raka bareng-bareng. Asi yang di frezer masih cukup. Jadi mereka tidak akan kawatir soal minumnya Raka.
"Oh iya, sayang. Kasih tadi bilang kalau dia sudah sembuh dan selesai masa nifas, dia ingin kuliah." ucap Gavin.
"Bagus itu, kan dari dulu dia pingin belajar akuntasi sama aku, tapi belum kesampaian karena aku keburu sakit." jawab Bu Ratih.
"Tapi, dia mau kuliahnya ditempat kelahiran Ibunya. Karena Kakek Kasih sekarang sakit-sakitan, jadi Ibunya Kasih disuruh pulang kampung untuk merawatnya dan meneruskan usaha Kakeknya yaitu pengrajin batik tenun ikat khas Kota itu." jelas Gavin.
"Emang dimana tempat kelahiran Ibunya Kasih, sayang!" tanya Bu Ratih.
"Di Kota Kediri Jawa Timur." jawab Gavin.
"Jauh banget, sayang. Terus kalian jadi kepisah dong?" tanya Bu Ratih.
"Kata Kasih, nggak apa-apa untuk sementara. Kan Raka sudah ada kita, gitu bilangnya" ucap Gavin.
"Aku bingung, sayang." ucap Gavin.
"Lho, kamu harus bisa tegas. Kalau memang kamu setuju ya nggak apa-apa. Enggak setuju pun juga nggak apa-apa." jawab Bu Ratih.
"Bu Laksmi juga bilang, kalau memang Kasih ingin kuliah dan mempunyai cita-cita ingin kerja kantoran." ucap Gavin.
"Kita harus mendukungnya, sayang. Bukan berarti aku senang karena Kasih pergi. Tapi, itu kan kemauan dia. Aku nggak bisa melarang." jawab Bu Ratih.
"Aku juga setuju-setuju saja, sayang. Itu juga demi cita-citanya." ucap Gavin.
"Ya sudah, kita bahas lain kali saja. Ayo kita tidur. Tuh lihat, Raka sudah pulas." ucap Bu Ratih.
Akhirnya mereka pun tertidur pulas. Gavin dan Bu Ratih tidur di tempat tidur begitu juga si kecil Raka. Sengaja memang tidak ditidurkan di Box bayinya. Karena Gavin dan Bu Ratih ingin tidur sambil memeluk anaknya.
(***)
-------Tiga bulan kemudian--------
Setelah melalui rundingam keluarga besar Gavin, baik Pak Indra dan istri maupun Bu Laksmi dan Pak Firman. Mereka akhirnya memutuskan untuk menyetujui Kasih untuk melanjutkan kuliah. meskipun dia lulus SMU sudah tiga tahun yang lalu, tapi dia masih bersikukuh pingin kuliah.
__ADS_1
Kenapa harus keluar kota, karena Ibunya Kasih diberi mandat oleh Kakeknya untuk meneruskan usahanya. Kasih juga berkeinginan untuk mengembangkan usaha tersebut, makanya dia akan menempuh kuliah supaya bisa membantu Ibunya dalam meneruskan usaha Kakeknya.
Meskipun tanpa kuliah dia juga bisa langsung membantu Ibunya, tapi dia berkeinginan supaya ilmu yang dia peroleh, nantinya bisa membuat usaha Kakeknya tambah maju.
Awalnya Gavin agak berat melepaskan istrinya untuk pergi ke Kota itu. Tapi, Kasih memang bersikukuh untuk tetap mengikuti Ibunya. Soal Raka, dia kan sudah janji diawal pernikahan kalau dia telah menyetujui persyaratan yang diberikan oleh Bu Ratih, jadi dia serahkan Raka pada Bu Ratih dan Gavin.
Soal status hubungan mereka tetap saja sebagai suami istri, dan Gavin setuju kalau tiap minggu dia pulang ke Kasih. Dan Bu Ratih pun menyetujuinya. Tapi, Kasihnya yang nggak setuju, karena kasihan Gavin. Jadi kalau mau menemui dia ke Kota itu, selonggarnya saja.
Sempat terjadi perdebatan antara Gavin dan Kasih. Akhirnya Pak Indra menengahi, biar adil, dalam satu bulan antara Kasih dan Gavin siapa yang mempunyai waktu luang, dialah yang akan datang menemui. Setidaknya Kasih juga kan pingin lihat anaknya.
Akhirnya mereka berdua setuju. Dan untuk urusan biaya kepindahan Kasih dan keluarganya semuanya diurus Pak Indra. Nanti perginya naik pesawat saja biar nyaman. Soal barang-barang akan dikirim lewat cargo. Untuk soal tempat tinggal disana, kalau memang sudah ada rumah yang sudah layak, maka Pak Indra akan menyewa orang untuk membantu mengurus Kakek Kasih biar Bu Laksmi tidak kesulitan.
Pokonya nanti disana Kasih tidak boleh kekurangan sesuatu apapun. Baik secara financial maupun kenyamanan. Pokoknya segala sesuatunya diurus dan dijamin oleh Papa mertuanya. Tugas Kasih hanya kuliah dan sesekali membantu Ibunya tidak apa-apa.
Disana akan ditempatkan satu sopir dan satu asisten rumah tangga buat membantu Kasih dan Ibunya. Soal mobil juga nanti akan disiapkan oleh Pak Indra. Kasih juga dikasih kartu kredit dan tabungan buat belanja kebutuhan dia sehari-hari.
.
.
.
Hari ini Kasih terakhir tinggal di Ibukota ini. Besok dia dan Ibunya sudah berangkat ke kota Kediri. Dia kini ada dikamar sambil menyusui Raka. Ibunya sekarang dirumahnya sendiri untuk mempersiapkan keberangkatan besok.
"Maafkan aku, Mas Gavin. Bukannya aku tega sama kamu dan anak kita. Tapi, aku harus melakukan ini karena dari awal aku memang nggak akan lama-lama dikehidupan kamu dan Mbak Ratih. Aku sayang sama kalian semua, tapi aku harus tahu diri kalau aku nggak boleh terlalu lama diantara kalian. Aku nggak tega jika melihat Mbak Ratih terus-terusan menahan rasa sakit, mendingan aku yang mengalah karena aku hanya orang baru bagi kalian. Raka baik-baik sama Mama Ratih, ya. Ibu mau pergi untuk melanjutkan sekolah, biar bisa jadi orang sukses seperti Papa Gavin." ucap Kasih dalam hati.
Tak lama kemudian Pak Indra dan Bu Hesty masuk untuk melihat cucunya sudah tidur apa belum.
"Kasih, kamu belum tidur, Nak?" tanya Bu Hesty.
"Belum, Ma. Ini Raka masih menyusu." jawab Kasih.
"Sih, Papa bangga sama kamu. Kamu masih muda dan masa depanmu masih panjang, Papa dan Mama hanya memberi restu saja kalau memang keputusan kamu itu sudah bulat." ucap Pak Indra.
"Iya, Pa. Kasih sudah mantap dan siap kok." jawab Kasih.
"Apa sudah kamu mulai kasih susu formula pada Raka, biar nantinya kalau pas kamu tinggal dia sudah terbiasa." tanya Bu Hesty.
"Sudah, Ma. Dia senang kok meakioun minum susu formula. Dia pinter sekali karena nggak rewel." jawab Kasih.
"Sih, selain kamu pingin mengejar cita-cita kamu, apa ada alasan lain kenapa kamu harus meninggalkan kami semua?" tanya Pak Indra.
Seketika Kasih terdiam dan nggak berani menjawab. Dia hanya menunduk dan terdiam.
--------------------------------
__ADS_1
Bersambung......