BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 213 (Keputusan Kasih_End)


__ADS_3

 


~ PENGUMUMAN ~


 


Untuk semua pembaca setia BDC S 1,2, dan 3. Mungkin part ini akan saya buat part terakhir di season tiga. Untuk part selanjutnya di season empat ceritanya akan saya buat kehidupan anak-anak Bu Ratih dan Kasih.


Untuk judul akan saya buat tetap karena memang disini menunjukan kehidupan Bu Ratih sebagai Dosen dan tidak menutup kemungkinan kehidupan pribadinya pada umumnya.


Untuk tokoh sentralnya tetap Bu Ratih, cuma nantinya yang akan sering tersorot kehidupan kedepannya ketiga anak-anaknya tersebut. Lain kata semacam generasi penerus dari tokoh-tokoh utama itu.


Terima kasih saya ucapkan buat yang masih setia serta dukungannya sampai season tiga ini. Mohon maaf jika masih buanyaaaak sekali typo maupun alur yang kurang sreg dihati kalian semua. Ini karya pertama saya dan pertama kali nulis novel sampai episode ratusan.


Kembali ke cerita selanjutnya..


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Kasih menoleh ke sumber suara tersebut. Dia kaget karena dibelakangnya ternyata Gavin si mantan suaminya. Seketika wajah Kasih seperti gelagapan karena gugup dan kaget.


"Eh, kamu Mas." ucapnya lirih.


"Kenapa kamu menolak ajakan Raka untuk menginap dirumah ini,?" tanya Gavin.


Kasih hanya menatap sejenak lalu menghela nafas panjang, "Aku nggak enak saja, Mas. Secara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." jawab Kasih.


"Tidak ada hubungan apa-apa lagi apa maksudmu.!"


"Beneran, kan. Kita sudah cerai Mas. Apa kata orang kalau mantan istri nginap di rumah mantan suaminya." tukas Kasih.


"Siapa bilang kita nggak ada hubungan apa-apa. Kita punya dua anak, lho! mereka yang akan tetap mengikat kita sampai kita sudah tidak ada umur nanti, Sih." jawab Gavin sambil menatap Kasih lekat-lekat.


"Duh, Mas Gavin jangan menatapku seperti itu, dong. Aku nggak mau kejadian yang sudah puluhan tahun yang lalu itu kembali muncul. Aku sudah mulai terbiasa tanpa tatapanmu itu, namun sekarang aku memperolehnya kembali. Ya Allah.., kuatkan hambaMu ini." ucap Kasih dalam hati.


Kasih buru-buru mengalihkan pandangannya ke objek lain. Gavin pun akhirnya menyudahi tatapannya itu karena dia sendiri juga menyadari hal itu mungkin akan membuat Kasih nggak nyaman.


"Maaf, Mas. Saya bukannya nggak mau, saya hanya tidak ingin ada salah faham dan mencoba menjaga hati saja." jawab Kasih singkat.


"Sih,!"


"Iya, Mas.!"


"Apa benar kamu mencintaiku sebelum aku menikah dengan istriku,?" pertanyaan Gavin membuat Kasih membelalakan matanya dan wajahnya memerah.


"Engg..,ak,! kamu bisa aja, Mas." jawab Kasih terbata.


"Kenapa dulu kamu nggak bilang sama aku." tanya Gavin lagi.


"Bilang soal apa, Mas."


"Soal kalau sebenarnya kamu sudah lama menyimpan perasaan cinta terhadap aku." kini Gavin mencoba berdiri mendekati Kasih.


"Sudahlah, Mas. Nggak usah membahas soal itu lagi, kita sekarang sudah nggak muda lagi, saatnya fokus sama anak-anak. Aku sangat berterima kasih sekali karena sudah membantu melunakan hati Gazi" jawab Kasih.


"Tapi, Sih. Kalau seandainya aku mengajak kamu untuk rujuk kembali, bagaimana menurut kamu?" tanya Gavin.


"Apa, Mas.! kamu jangan sembarangan kalau bicara. Aku masih bersuami, lagian aku juga nggak mau membuat hati Mbak Ratih sedih untuk yang kedua kalinya. Aku nggak bisa, Mas. Maaf.!" jawab Kasih sambil melangkah pergi meninggalkan Gavin sendirian.

__ADS_1


Dia menuju ruang tengah dimana yang lainnya berkumpul. Setelah melakukan pesta tadi, semuanya pada masuk ke ruang tengah untuk duduk santai.


Kasih mendekati Gazi yang tengah main ponsel dan duduk dipojok. " Zi, Bunda mau pulang duluan, ya. Nanti atau besok ajak Kak Raka main ke rumah Nenek. Kalau kamu mau nginap sini nggak apa-apa." ucap Kasih tiba-tiba.


"Lho, Bunda kok buru-buru. Kak Raka aja baru ketemu, Bun." jawab Gazi.


"Makanya itu, besok ajak Kak Raka main kesana, kita jalan-jalam bareng, ya Nak." jawab Kasih.


Tiba-tiba Bu Ratih mendekat karena mendengar obrolan mereka. "Sih, kamu mau pulang?" tanyanya.


"Iya, Mbak. Ibu kasihan sendirian." jawabnya singkat.


"Tapi, kamu baru datang." tanya Bu Ratih heran.


"Nggak apa-apa, Mbak. Besok aja aku ajak jalan-jalan Raka sama Gazi, nggak apa-apa kan, Mbak?" jawab Kasih.


"Ya nggak apa-apa, Sih. Mereka itu kan anak-anak kamu." jawab Bu Ratih.


"Baiklah Mbak, aku pulang dulu." ucapnya sambil pamitan sama yang lainnya.


"Lho, Bun. Kok cepat sekali. Baru aja kita ketemu." seru Raka.


"Iya, Nak. Bunda lupa kalau Nenek kan sendirian. Besok aja kita jalan bareng. Bunda balik Jakarta baru lusa, kok" jawab Kasih.


"Ya sudah, aku antar ya, Bun." tawar Raka.


"Bunda naik taksi aja."


"Nggak usah, Raka antar saja." ucap Raka sambil mencari-cari kunci mobilnya.


"Zi, dimana kunci mobil Kakak?" tanya Raka.


"Aku letakan kembali diatas meja dekat lemari itu, Kak." jawab Gazi sambil menunjuk ke meja yang dimaksud.


Raka menoleh kearah meja itu, dan ternyata benar. Kunci itu ada disana. Dia langsung menyambar kunci mobilnya dan menuju keluar rumah.


Bu Ratih tidak bisa menahan Kasih untuk tetap disini karena memang Kasih bersikeras untuk pulang dan Raka ingin mengantarkan Kasih.


Akhirnya Raka jadi mengantar Kasih. pulang. Dan yang lainnya masih melanjutkan ada dirumah.


Bu Ratih sedikit curiga sama Kasih. Ada apa dia kok tiba-tiba pamit pulang setelah ngobrol sama Gavin di samping. Pasti ada sesuatu, apa mungkin mereka bertengkar soal hak asuh Gazi. Batinnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya, setelah anak-anaknya pulang kuliah, Kasih janjian ketemu lalu jalan bareng. Raka dan Gazi berangkat bareng-bareng setelah pulang kuliah lalu menjemput Bundanya dirumah Nenek.


Setelah Kasih masuk ke mobil, Kasih dan kedua anaknya menuju suatu tempat untuk sekedar ngobrol-ngobrol. Dalam perjalanan menuju tempat tersebut, mereka banyak sekali bercanda dan bersendau gurau.


"Ayo kalian mau pesan apa?" tanya Kasih sesampainya dirumah makan.


"Bunda, aku mau ayam bakar saja." jawab Gazi.


"Kamu apa, Kak?" tanya Kasih.


"Raka mau udang goreng tepung sama tumis kangkung aja, Bun." jawab Raka.


Setelah Kasih memesankan pada pegawainya, kini mereka menunggu pesanannya sambil melanjutkan obrolannya.

__ADS_1


"Raka, Gazi. Bunda mau bilang sesuatu sama kalian. Tapi, ini anggap aja rahasia kita, jangan sampai orang lain tahu." ucap Kasih.


"Apa Bun." Gazi bertanya.


"Iya, Bun. Raka janji akan diam dulu."


"Begini, kalian tahu kan perceraian Bunda dan Papa kalian itu bukan lantaran ada masalah atau kita sudah tidak cocok lagi. Semuanya murni karena memang Bunda nggak mau ada diantara kehidupan Mama Ratih dan Papa Gavin lagi. Setelah Papa kalian tahu kalau Gazi adalah anaknya juga, kemarin pas acara ulang tahun dirumah, Papa kamu ngajak Bunda untuk rujuk kembali." jelas Kasih.


Sontak Raka dan Gazi kaget. Terlebih lagi si Raka. Dia langsung pasang muka tegang dan panik. Kasih yang melihat wajah anaknya seperti mau marah, dia langsung memegang tangan anaknya.


"Raka, Bunda tahu kamu pasti orang pertama yang menolak ini. Tenang saja, Bunda tidak menerima itu dan langsung menolak juga kok, Nak." ucap Kasih.


"Bukannya Raka menolak, Bun. Tapi, Raka tidak mau melihat Mama sedih lagi." jawab Raka.


"Iya, Nak. Bunda faham itu. Bunda juga mengerti karena harus menjaga perasaan Mama kamu. Makanya Bunda nggak mau menerima ajakan rujuk Papa kamu." ucap Kasih.


"Bunda, jawab jujur ya. Apa Bunda masih mencintai Papa?" tanya Raka sambil memegang tangan Kasih.


Kasih kaget karena anaknya bisa bertanya seperti itu. Sontak dia jadi bingung mau jawab apa. Tapi dia harus bisa bersikap bijak didepan anak-anaknya.


"Raka, saat ini Bunda tidak mau bicara soal cinta lagi. Bagi Bunda itu sama saja dengan menguak kisah yang telah lalu. Saat ini yang Bunda harapkan adalah kedua anak Bunda ini bisa sukses dan kelak bisa menjadi kebanggaan orang tua." jawab Kasih.


"Baiklah kalau memang itu yang Bunda inginkan. Raka dan Gazi berjanji akan membuat Bunda bangga." jawab Raka.


"Oh iya, Gazi. Bunda sudah memutuskan sesuatu untuk kamu." ucap Kasih.


"Apa itu, Bun.?"


"Bunda akan membebaskan kamu untuk tinggal. Kalau mau tetap sama Nenek silakan, kalau mau tinggal sama Papa, Bunda juga nggak akan melarang." ucap Kasih.


"Bun, memang aku ingin tinggal sama Papa, tapi aku kasihan sama Nenek, dia sendirian. Meskipun ada Mbak Siti yang membantu, tapi tetap saja mereka perempuan semua." jawab Gazi.


"Iya, juga sih. Tapi intinya Bunda akan mengijinkan kalau sewaktu-waktu kamu boleh tinggal sama Papa.


"Iya, Bun."


"Baiklah, keputusan Bunda sudah bulat untuk mengijinkan kamu tinggal sama Papa. Tapi, untuk keputusan akhir tetap ada sama kamu. Setuju juga nggak apa-apa. Enggak juga nggak apa-apa."


"Iya, Bunda. Makasih sudah mengijinkan Gazi tinggal sama Papa." ucap Gazi.


"Iya, Bun. Raka juga makasih karena sudah mengijinkan Gazi tinggal sama kami." sahut Raka.


"Iya sayang. Sekarang kalian berdua sudah bertemu, Gazi juga begitu sudah bertemu sama Papa kandungnya. Jadi tugas Bunda tinggal satu. Melihat kalian menikah dan sukses." tukas Kasih sambil memegang kedua tangan anak-anaknya itu.


Kasih bahagia karena sudah melihat dan berdekatan dengan kedua anak laki-lakinya itu. Sekarang dirinya tinggal fokus kerja untuk membiayai Gazi sampai lulus. Soal kedepannya mereka mau memutuskan apa, dirinya tinggal merestui saja.


"Ya Allah, terima kasih telah menganugerahi hamba anak-anak yang sholeh dan ganteng-ganteng. Semoga mereka kelak menjadi orang yang sukses dan membanggakan orang tuanya. Amin." ucap Kasih dalam hati.


----------------------------------


Untuk yang Season tiga sampai part ini saja. Untuk part selanjutnya sudah masuk ke Season empat.


Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih. Dan sampai jumpa di Season empat, jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.


Happy reading..


NB: Bersambung... (Season empat)

__ADS_1


__ADS_2