
"Kasih.,!" seru Bu Ratih ketika melihat Kasih ada dikamarnya.
Kasih tersenyum sambil menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat. Dia kemudian mendekat dan menyalami tangan Bu Ratih.
"Iya, Bu. Saya yang akan menjaga Bu Ratih atas permintaan Pak Gavin." jawab Kasih.
Bu Ratih kemudian tersenyum dan mencoba bangun, dengan sigap Kasih langsung membantu Bu Ratih buat bangun.
"Aku senang kalau kamu yang menjagaku, kamu gadis baik dan santun." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu. Saya juga senang bisa bantu Pak Gavin untuk merawat Bu Ratih." jawab Kasih.
"Sayang, terima kasih banyak, ya. Kamu telah memberiku seorang asisten yang baik." ucap Bu Ratih seraya menoleh kearah suaminya.
"Iya, sayang. Aku juga senang kalau kamu juga senang." jawab Gavin sambil mengelus pundaknya.
"Ya sudah, kamu antarkan Kasih ke kamar nya." ucap Bu Ratih.
"Tadi, aku sudah menyuruh Bibi untuk menyiapkan kamar yang diatas. Kan itu ada dua yang kosong, biar diatas ada yang nempati, karena kita sementara pindah kamar ini." jelas Gavin.
"Oh Ya sudah. Aku ngikut saja." jawab Bu Ratih.
"Kasih, mulai sekarang kamu sudah bisa kerja. Nanti Bibi mengantarkanmu ke kamar kamu. Saya, berangkat kerja dulu." ucap Gavin.
"Iya, Pak. Kasih siap.!" jawab Kasih.
Gavin mencium kening istrinya. Kemudian Bu Ratih mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Kemudian dia berangkat kerja.
"Kasih, nanti kamar kamu diatas, ya. Tadinya kamar kami juga diatas, tapi, sejak saya hamil, kami pindah kesini." jelas Bu Ratih.
"Iya, Bu." jawab Kasih.
Tak lama kemudian Bibi masuk ke kamar untuk mengantar Kasih ke atas. Kasih mengikuti Bibi dibelakangnya. Setibanya dikamar, Bibi membukakan kamar itu buat Kasih.
"Silahkan, Mbak Kasih. Ini kamarnya." ucap Bibi.
"Terima kasih, Bi." jawab Kasih.
"Saya permisi dulu, nanti Mbak Kasih langsung temani Non Ratih aja." ucap Bibi seraya meninggalkan Kasih sendirian dikamar itu.
Kasih mengangguk, kemudian dia mulai menyisir tiap sudut ruangan. Kamar ini bagus sekali. Baru kali ini dia melihat kamar sebesar dan sebagus ini. Diamatinya semua yang ada dikamar itu. Tempat tidur yang besar, lemari serta meja rias yang indah. Disudut ada kamar mandi. Dia bakalan menempati kamar ini.
Kasih mulai memasukan bajunya didalam lemari. Setelah itu dia kembali ke kamar Bu Ratih.
"Bu, ada yang bisa Kasih bantu?" tanya Kasih.
"Kasih, kebetulan ini tadi saya sudah dibantu Bibi. Jadi sementara kamu temani saja saya disini." jawab Bu Ratih.
"Baik, Bu." Jawab Kasih.
__ADS_1
"Nanti tugas kamu, bantu semua aktivitas saya. Jangan anggap ini sebagai pekerjaan yang pada umumnya. Jadi, nyantai saja." jelas Bu Ratih.
"Iya, Bu." jawab Kasih.
"Oh iya, ngomong-ngomong, kamu dulu sebelum kerja dikantor suami saya, apa pernah kwrja ditempat lain?" tanya Bu Ratih.
"Saya belum pernah kerja sebelumnya, Bu. Cuma dulu setelah luluh SMA pernah ikut kursus. Tapi, setelah Bapak saya meninggal, saya jadi mengambil alih tugas cari uang bantu Ibu. Saya berhenti kursus dan mulai menjajakan nasi bungkus. Bapak saya dulu hanya pesuruh disebuah Sekolah, sedangkan Ibu jualan nasi bungkus yang saya jajakan dan dititipkan di warung-warung." terang Kasih.
Bu Ratih jadi terharu mendengar penuturan tentang kehidupan keluargannya. Setidaknya, hidupnya lebih beruntung dibanding Kasih.
"Kalau boleh saya tahu, dulu kamu ikut kursus apa?" tanya Bu Ratih.
"Dulu saya ikut kursus akuntansi." jawab Kasih.
"Wuaah, kebetulan. Saya Dosen akuntansi. Nanti kita bisa belajar bersama." tukas Bu Ratih.
"Yang bener, Bu. Saya mau.!" seru Kasih dengan mata berbinar.
"Iya, nanti pas santai kita belajar bersama." jawab Bu Ratih.
Mereka kelihatan sudah akrab. Kasih anaknya selain baik dan santun, dia juga supel. Bu Ratih sangat cocok ngobrol dengan Kasih.
.
.
.
Mobil Gavin masuk pelataran rumah. Dan tak lama kemudian Gavin keluar dari mobilnya dan tersenyum melihat istrinya yang sudah cantik.
"Hai sayang, kamu cantik banget hari ini.?" ucap Gavin sambil mengecup kening istrinya.
"Iya, dong. Kan lagi menyambut kedatangan suami pulang kerja." jawab Bu Ratih.
Kemudian Gavin mengajak istrinya masuk. Mulai hari ini Bu Hesty dan Pak Indra pulang ke rumah Mahen, karena Kinanti sudah mendekati hari H melahirkan.
"Mama sudah berangkat ke rumah Kak Mahen?" tanya Gavin.
"Iya, sudah. Tadi siang mereka berangkat." jawab Bu Ratih.
Gavin menuju kamarnya dan Bu Ratih sendiri berjalan menuju meja makan. Dia melihat Kasih yang sibuk membantu Bibi.
Anak itu memang rajin. Nggak salah suaminya memilih dia untuk menjadi asistennya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul lima sore. Bu Ratih masih duduk-duduk dimeja makan. Sedangkan Bibi sudah selesai masak buat makan malam.
"Kasih, sini!" panggil Bu Ratih.
"Iya, Bu. Ada apa?" jawab Kasih.
__ADS_1
"Tolong, buatin teh hangat buat Bapak, ya?" titah Bu Ratih.
"Baik, Bu." jawabnya.
Kasih kemudian balik ke dapur untuk membuatkan teh hangat buat Gavin. Bu Ratih hanya bisa melihat apa yang dilakukan Kasih. Dimana pekerjaan itu seharusnya ia lakukan.
Andai saja kejadian keguguran itu pasti dia tidak akan selemah ini. Waktu hamil saja keadaan kandungannya sudah lemah, apalagi sekarang dia habis keguguran dan harus di quret. Membuat dia harus banyak istirahat dan nggak boleh capek.
Kasih meletakan gelas yang berisi teh hangat dimeja makan. Kemudian dia kembali ke dapur. Bu Ratih menunggu Gavin nggak keluar-keluar, apa dia ketiduran. Batin Bu Ratih.
"Kasih, saya mau anterin teh hangat dulu buat Bapak, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu." jawabnya.
Bu Ratih berdiri dan mencoba berjalan. Dia ambil gelas itu kemudian berjalan menuju kamarnya. Tapi, tiba-tiba kok perutnya sakit. Akhirnya ditaruh lagi gelas itu dan dia kembali duduk.
"Sih,! tolong, antarkan ini ke kamar buat Bapak, ya. Perut saya tiba-tiba sakit." ucap Bu Ratih.
"Ibu perlu saya ambilkan obat atau gimana?" ucap Kasih.
"Nggak usah, Sih. Nanti saja. Tapi, ini tolong antarkan buat Bapak." jawab Bu Ratih.
"Baik, Bu." jawab kasih sambil mengambil gelas itu.
Kemudian dia mengantarkan teh hangat itu ke kamar Gavin. Setibanya didepan pintu, dia mengetuk pintu kamar itu.
Tak lama kemudian dibukanya dan terlihat Gavin yang habis mandi, dia memakai kaos oblong putih dengan celana pendek.
Dia kelihatan ganteng dengan pakaian seperti itu, nampak lebih muda dan keren. Kasih memandangi majikannya itu dari atas sampai bawah tanpa kedip. Mungkin baru kali ini dia lihat Gavin berpakaian seperti ini.
Gavin jadi senyum sendiri melihat Kasih yang memandanginya seperti ada yang aneh.
"Kenapa.? ada yang salah dengan penampilan, saya?" tukas Gavin.
"Ti..tidak, Pak. Cuma pangling aja." jawab Kasih gugup.
"Masak nggak ketemu dikantor sehari saja sudah pangling?" jawab Gavin sambil mengangkat sebelah alisnya.
Kasih kemudiam ketawa, seketika pipinya merah nahan malu. Setelah itu dia mengasihkan gelas yang berisi teh.
"Ya sudah, ini teh nya, Pak." ucap Kasih.
"Makasih Sih..," jawab Gavin.
Bu Ratih tanpa sengaja melihat obrolan mereka, dia tersenyum melihat keduanya yang akrab. Dia senang karena tugas dia untuk melayani suaminya ada yang bantu. Kasih memang sudah dianggap Gavin seperti adiknya sendiri. Makanya dia percaya sama suaminya dan Kasih.
Saat Kasih menoleh dan melangkah kembali ke belakang, dia melihat Bu Ratih sedang mengamatinya dari ruang tengah.
-----------------------------------
__ADS_1
Bersambung.....